[Freelance] Gone

Title                     : Gone

Author                : Tara (iamaltee.wordpress.com)

Main Cast            : Chanyeol and Laura Han (OC)

Aditional Cast     : Seungmi

Genre                  : Marriage life

Rating                 : general

Length                : ficlet

Disclaimer          : Chanyeol belong to god. Laura, Seungmi and the story is mine.

A/N                     : sudah pernah di share di salah satu fanspage fanfiction, jadi kalau ingat pernah baca, adalah tulisan orang yang sama.

 

.

Malam ini, bulan seperti tersenyum. Mengikuti suasana hatiku yang memang jauh dari kesedihan. Menatap wajahnya lagi, menatap seluruh keagungan Tuhan melalui tubuh sempurnanya membuat seluruh dukaku yang nyaris abadi menguap.

 

Senang ketika mengetahui keluarganya baik-baik saja, senang ketika melihatnya dengan keadaan sehat dan luar biasa bisa mengisi bola mataku lagi sebagai titik pandang. Cerukan di pipinya sungguh meyiksaku, membuatku ingin mengulangi seluruh kebiasaan burukku tentang bagaimana kuperlakukan cerukan itu.

 

Ia meraih cangkir tehnya, menyesapnya sekian detik. Matanya tak juga beralih,  masih menatap ke luar tanpa titik pandang. Ia tak seperti biasanya, atau aku yang lupa bagaimana ia biasanya? Ia meletakkan cangkirnya, mendongak ke langit. “Bulannya tidak terang, ya?”

 

Aku ikut mendongak, menatap pada titik yang sama sepertinya. Tak ada yang kutemukan di sana selain gelungan awan yang membayangi jalanan. “Bulan?”

 

“Ya.” Ia mengangguk mantap, kemudian kembali beralih padaku. “Apa dia benar-benar meninggalkan matahari?”

 

Aku memandangnya, menyiratkan sedikit tuntutan penjelasan di wajahku. “Matahari?”

 

“Aku matahari, dan kau bulan. Paham?”

 

“Jadi, aku tidak ada?” Tanyaku, masih dalam ketidakpahaman.

 

Ia mengangguk lagi. “Kau kelihatan redup terakhir kali kita bertemu.” Pandangannya tak pernah begitu sebelumnya, terkesan menilai dan penasaran. Tak kupungkiri, aku sedikit salah tingkah. “Dan sekarang kau benar-benar padam.”

 

Well, bulan memang tidak selalu bersinar, ‘kan? Di siang hari.” Aku masih takut salah berucap, menyadari bahwa sepenuhnya aku tidak memahami maksudnya.

 

“Tidak, bukan begitu. Aku tidak membicarakannya dengan teori astronomi. Tapi, filosopi.”

 

“Aku masih tidak paham.”

 

“Yakin, dari Paris kau seorang diri?”

 

Obrolan ini benar-benar melenceng. Namun aku tetap menjawabnya, sebatas kesopanan. “Ya, kenapa?”

 

“Aku datang ke bandara waktu itu, berniat menjemputmu. Tapi kelihatannya kau tidak sendirian. Wanita itu—“ Tak ada ekspresi di wajahnya.

 

“Wa-wanita?”

 

“Ya. Yang memelukmu. Kau masih belum meninggalkannya atau kau mulai lagi hubungan dengannya?”

 

“Aku…, aku—“

 

“Sudahlah, tidak usah ditutupi.” Tangannya bergerak-gerak, memberi isyarat tidak perlu. Seharusnya tak kubiarkan kau pulang ke Paris. Semua usahaku jadi kelihatan tanpa hasil.”

 

Kuraih cangkirku, menyesap teh yang masih begitu pahit padahal telah kumasukkan tiga bongkah gula ke dalamnya. Oh, bukan! Pahit ini tidak berasal dari tehnya, tapi dari ludahku.

 

“Lebih baik, jelaskan tentang hubungan kalian.”

 

“Kami tidak ada hubungan apa-apa.”

 

“Aku melihatnya di bandara bersamamu. Dia yang dari Paris itu, ‘kan?”

 

Aku menunduk, pertemuan ini tak sesuai keinginanku. “Jadi kau meluangkan waktu, karena ingin memojokkanku?”

 

“Kau pikir untuk apa?”

 

“Hh, kupikir kau akan peduli padaku. Kupikir kau tidak seperti orang lain. Tapi nyatanya—“

 

“Nyatanya kau bilang? Nyatanya aku bagaimana? Nyatanya aku tidak lagi kasihan padamu?” Suaranya naik turun menahan luapan amarah. “Aku tidak terlalu sempurna untuk terus mengasihanimu.”

 

“Kukira kau benar-benar ingin keluar dari duniamu, memijak dunia baru yang ada aku dan Seungmi di dalamnya. Tapi ternyata perkiraanku salah,” Tambahnya.

 

Aku masih terus menuduk, mendengarkan retasan-retasan kekecewaannya. Tubuhku seperti dibakar, seolah setiap untaian kata yang keluar dari mulutnya mengeluarkan begitu banyak bara api. Aku tak tahu harus bagaimana, aku ingin pergi dan ingin lebih jauh darinya.

 

“Laura, sadarkah kau? Banyak orang yang berharap kau menjadi normal lagi. Aku tak bisa terus menutupinya hanya karena aku mencintaimu. Kau harus berusaha mengubah dirimu sendiri.” Nada suaranya sendu.

 

“Aku tahu. Aku tahu itu.” Aku sadar aku bukan wanita yang seharusnya menjadi wanita. Aku menyadari aku tidak harus begini. “Tapi aku tidak bisa berhenti.” Aku kehilangan kendaliku dan aku tidak bisa mengabaikan bagaimana mereka melambai padaku melalui tingkah lakunya yang sama sepertiku. “Berhentilah melindungiku, berhenti menjaga nama baikku. Aku sadar resikoku.”

 

“Berhenti kau bilang? Kau sadar apa yang kau katakan?” Nada suaranya tak percaya. “Kau baru saja mengusirku.”

 

Kuangkat wajahku, menatap matanya. “Ya. Aku sadar.”

 

Ia tersenyum hambar. “Aku tahu akhirnya kau akan begini. Kau sanggup melewatinya sendirian? Jika kau mengusirku—“

 

“Tidak akan lagi ada yang membantuku? Ya. Aku tak butuh bantuan dari siapapun lagi.”

 

“Lalu bagaimana dengan Seungmi?”

 

“Aku menyerahkannya padamu. Kau butuh dia lebih dari aku membutuhkannya. Di lingkunganmu, dia akan jadi anak perempuan yang  sangat hebat.”

 

Wajahnya datar, ia selalu sulit dibaca seperti biasanya. “Baiklah. Surat cerainya akan kuurus besok, kau akan kuhubungi jika sudah siap.”

 

Aku mengangguk dan ia berdiri, melangkah tanpa mengucapkan apapun lagi.

 

“Chanyeol,” aku memanggilnya, mengucapkan namanya dengan seluruh keberatanku tentang kepergiannya. Ia berhenti, menoleh padaku. “Kumohon, jaga Seungmi. Jangan biarkan ia tumbuh sepertiku.”

 

“Pasti.”

 

Suara langkahnya makin senyap, menandakan makin jauh ia dariku.

 

Pada akhirnya, beginilah pertemuanku. Pertemuan yang kupikir dapat menjadi menyenangkan. Bohong jika aku tak ingin menangis, pada kenyataannya air mataku sudah tak lagi berguna dalam keadaanku sekarang.

 

Sang matahari telah pergi, dan bulan ini tak akan lagi bersinar.

 

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s