El Dorado – 3

a fan fiction by qL^^

.

Casts : Park Chanyeol, Choi Bomi, Kim ‘L’ Myungsoo,

Yook Sungjae, Park ‘Joy’ Sooyoung, Byun Baekhyun

Genre : Adventure, Fantasy, Romance

Rating : PG 13- Teen

Length : Multichapter

.

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to agencies. No profit is intended. Please do not copy paste!

Previously on El Dorado : 2

El.jpg

El Dorado

a fiction by qL^^

Bagian 3

This walk will be a legend in the days to come

The El Dorado

(from El Dorado – EXO)

Tidak ada rintangan yang berarti dalam sisa perjalanan tim ekspedisi Park Chanyeol menuju mulut hutan. Perkiraan L lagi-lagi benar saat mereka berhasil mencapai mulut hutan sesaat sebelum matahari terbenam. Jalan tanah basah yang dikelilingi vegetasi lebat khas hutan hujan tropis mulai digantikan dengan jalan tanah padat kering dan gersang seiring padang terbuka yang mengelilingi jalanan.

Jeep yang dikemudikan Chanyeol berguncang sedikit akibat kerikil jalanan. Selama sisa perjalanan sore itu, sama sekali tidak ada yang bicara. Kejutan kecil dari si beruang pembunuh seakan telah mencuri kemampuan humor para anggota tim ekspedisi. Chanyeol melirik Bomi yang berwajah datar dan menatap sekeliling dengan waspada seolah mengantisipasi hewan liar lain yang tiba-tiba melompat muncul entah darimana di hadapan mereka. L yang duduk di sebelahnya juga sedang menilai kondisi sekeliling alih-alih menatap tabletnya yang kini sudah dimatikan. Mungkin menghemat daya, pikir Chanyeol.

Chanyeol mengangkat tangannya, memberi gestur untuk berhenti pada Sungjae yang mengemudikan jeep di belakangnya. Ia melompat turun dari jeep, kemudian disusul oleh Bomi dan L, menuju padang rumput terbuka di sisi jalan.

“Bagaimana kalau kita berkemah di sini?” ia bertanya.

L mengangkat bahu. “Kita masih cukup jauh dari landmark berikutnya. Kurasa istirahat di sini bukan ide buruk,” jawabnya.

Chanyeol menatap Bomi, meminta pendapatnya tapi gadis itu hanya mengangkat bahu, menunjukkan bahwa ia merasa pendapatnya sama sekali tidak valid untuk menjadi masukan penentuan lokasi mereka berkemah.

Sungjae, Joy dan Baekhyun juga sudah tiba di tempat yang sama dan ikut melihat-lihat saat Chanyeol melontarkan pertanyaan yang sama untuk mereka.

Baekhyun berjongkok, memungut sebuah batu, mengamatinya sesaat sebelum kemudian memasukkan batu itu ke dalam botol kaca kecil yang selalu tersedia di sakunya. Chanyeol sudah hafal dengan gestur itu,  yang berarti Baekhyun sedang mengumpulkan sampel batuannya. “Batuan khas padang pasir,” simpulnya, lalu berdiri dan menoleh pada Chanyeol. “Kita sudah dekat dengan landmark berikutnya. Bermalam di sini akan jadi keputusan yang bagus.”

Chanyeol mengangguk, lalu menatap Sungjae.

“Jaraknya cukup jauh dan padang ini terbuka, Hyung. Beruang pembunuh tidak akan mengikuti kita sampai ke sini,” kata Sungjae singkat.

Melihat anggukan Joy, Chanyeol tidak lagi menanyakan pendapat gadis itu. Maka, mereka segera memulai mengatur perkemahan malam itu. Chanyeol, L, Sungjae dan Baekhyun membangun dua tenda, satu untuk para lelaki dan satu untuk para gadis, sedangkan para gadis, Bomi dan Joy menyiapkan bahan makanan mereka malam ini. Mereka hanya makan makanan instan jadi persiapan makan malam tidak terlalu lama.

Padang terbuka itu begitu sunyi dan begitu terbuka sehingga Chanyeol merasa mereka aman karena dapat mengamati sekeliling dengan mudah sekaligus tidak aman karena mereka mudah sekali terlihat. Seluruh anggota tim ekspedisi berkumpul di dalam tenda para lelaki yang lebih besar setelah makan malam. Chanyeol sudah berencana membahas perjalanan mereka besok pagi.

L membentangkan peta kumal pemberian EXO. Jarinya menunjuk pada dataran luas yang memenuhi tiga seperempat peta.

Landmark kita berikutnya,” tunjuk L. “Padang pasir.”

Terlalu luas, terlalu banyak misteri, tapi juga semakin menarik bagi Chanyeol. Ia memperhatikan ekspresi anggota tim yang lain dan mengenali semangat yang sama saat ia melihat Sungjae mengosok-gosokan tangan tak sabar. Bomi melipat tangan dengan ekspresi serius, Joy terlihat khawatir sekaligus antusias, L dengan wajah dingin tanpa ekspresi sedangkan Baekhyun hanya menyeringai.

“Apa yang kita cari di sana?” Bomi, si Kritis, selalu bertanya pertama.

Chanyeol menggelengkan kepala. “Apa pun, yang bisa membuat kunci tembaga ini berguna,” ia mengangkat kunci tembaga yang terkalung di lehernya. Kunci yang sama yang dikirimkan EXO bersmaan dengan peta tersebut.

“Itu bisa berarti benda apa saja,” Joy menyahut dengan nada menerawang. “Pintu, lemari, kotak harta karun….”

Yang lain mengangguk setuju dengan tebakan Joy.

“Tidak ada petunjuk lain?” Bomi bertanya. Nadanya skeptis, seolah ia ragu mereka akan menemukan apa pun itu di padang pasir yang begitu luas. “Jadi, kita akan berjalan tanpa arah di padang pasir hanya berdasarkan peta dari EXO?”

“Bukan seperti itu,” potong Joy mendadak dengan nada kesal mendengar kalimat Bomi. “Pada ekspedisi sebelumnya, EXO memberikan…” kalimatnya yang tadi diucapkan dengan sangat bersemangat terhenti di tengah-tengah. Ia melirik Chanyeol, Sungjae dan Baekhyun bergantian, memberitahu para anggota tim lama bahwa ia ragu meneruskan ucapannya di hadapan Bomi.

Chanyeol mengangguk, memberi kode pada Joy untuk meneruskan ucapannya, tetapi gadis itu menggeleng.

“Tapi, Oppa…”

Matanya melirik curiga pada Bomi dan L yang tidak dipahami Chanyeol mengapa.

Lalu, Chanyeol melihat ekspresi pemahaman melintas di wajah Bomi dan seketika itu juga Chanyeol akhirnya mengerti apa yang dimaksudkan Joy. Tapi terlambat. Bomi sudah melipat tangan di depan dada, berdiri bersedekap dengan ekspresi kecewa.

“Kalian bisa bicara,” ujar Bomi, jelas sekali memaksa bicara dengan nada datar. “Aku akan keluar.”

Dan ia benar-benar pergi sebelum Chanyeol sempat mencegahnya.

L kelihatannya juga telah mengerti apa yang dimaksudkan Joy, tapi reaksinya jauh lebih lunak daripada respon dingin dari Bomi. “Kalau begitu, kurasa aku juga harus keluar,” ia berkata sambil mengangkat bahu. “Aku juga dalam posisi yang sama seperti Dr. Choi,” tambahnya dan ia mengikuti Bomi keluar tenda.

Chanyeol menahan diri untuk mengejar Bomi dan L untuk menjelaskan semuanya. Tapi ia tahu bahwa sebelum itu, ia harus membereskan dulu masalah ini dengan Joy.

“Kau tidak seharusnya bersikap seperti itu, Joy,” tegur Chanyeol tegas.

Joy tersentak, menatap Chanyeol tak percaya. “Apa?”

Baekhyun ikut berbicara. “Kau tidak perlu menahan informasi apa pun mengenai ekspedisi sebelumnya dari Bomi dan L. Mereka berdua juga anggota tim,” ujarnya.

“Anggota tim?” desis Joy pada Baekhyun. “Chanyeol oppa tiba-tiba saja merekrut mereka berdua. Kita bahkan baru bertemu dengan Choi Bomi hanya beberapa jam sebelum keberangkatan! Menurut oppa, mereka itu bisa dipercaya?” ia bertanya. Nada bicaranya naik beberapa oktaf menunjukkan rasa tidak percaya yang kentara.

“Aku mengenal mereka dengan baik,” Chanyeol menjawab diplomatis.

Joy tersenyum sinis. “Oppa mendengarkan semua ucapan Choi Bomi. Apa yang eonni itu berikan sampai oppa sangat mempercayainya? Apakah lebih dari sekedar pelukan?” tanyanya dingin.

“Hentikan, Joy!”

Bahkan kali ini, Sungjae pun tidak bisa menahan diri untuk menegur Joy.

“Joy, kita ini satu tim. Jika tidak saling percaya, kita tidak akan selamat dalam ekspedisi ini. Aku tidak akan menoleransi sikapmu jika kau mengulanginya lagi. Aku menyayangimu seperti adikku, tapi jika kau membahayakan yang lain dengan kecurigaan tanpa dasarmu, aku akan mengambil sikap. Dan kau tidak akan menyukai itu. Kau mengerti?” jelas Chanyeol panjang.

Joy mengigit bibirnya, menahan tangis dan kekesalannya. Chanyeol bisa mengerti dengan reaksi Joy. Gadis itu sudah ikut beberapa kali ekspedisi bersamanya dan selama ini mereka tidak pernah bertengkar seperti ini. Ini pertama kali Chanyeol harus bicara cukup keras pada Joy. Joy bahkan tidak mengangguk atau menggeleng untuk menjawab pertanyaan Chanyeol, tapi Chanyeol tahu gadis itu paham bahwa ucapannya tidak main-main.

Suasana menjadi sedikit canggung setelah itu. Chanyeol hanya bisa menghela napas dan membiarkan Sungjae yang menenangkan Joy yang kini menumpahkan kekesalannya terhadap Chanyeol pada lelaki itu. Chanyeol memberi kode pada Baekhyun untuk menjaga Sungjae dan Joy, lalu meninggalkan tenda untuk menemui Bomi dan L. Ia menyaksikan mereka berdua duduk tak jauh dari tenda, sedang menatap tablet L yang kini sudah dinyalakan kembali sambil berbicara. Chanyeol tidak bisa mempercayai matanya saat melihat sudut bibir Bomi terangkat saat ia mendengarkan entah ucapan apa dari L. Chanyeol tidak pernah melihat Bomi tersenyum sejak mereka memulai ekspedisi dan ia merasa sedikit cemburu pada L karena berhasil membuat gadis itu tersenyum.

“Hei,” sapanya.

Satu sapaan dari Chanyeol dan Bomi berdiri dengan cepat. Ia melangkah pergi, menghindari Chanyeol, tapi lelaki itu menangkap pergelangan tangannya. Sementara L ikut berdiri, seolah siap mengintervensi jika Bomi butuh bantuan untuk kabur dari Chanyeol.

“Kita harus bicara,” kata Chanyeol dengan nada serius.

Bomi mengibaskan pergelangan tangannya sehingga terlepas dari cengkraman Chanyeol. “Tidak perlu, Chanyeol. Kau tidak perlu mengatakan apa pun padaku tentang ekspedisi ini. Cukup panggil aku jika kau butuh bantuan medis.” Dan Chanyeol harus mengakui kehebatan Bomi mengatakan semua itu tanpa disertai ekspresi marah sama sekali.

“Joy tidak bermaksud seperti itu,” jelas Chanyeol berusaha menjelaskan.

“Memang tidak,” tukas Bomi pendek. “Ia hanya ingin mengingatkanku pada deskripsi pekerjaanku dalam tim. Aku akan mengatakan terima kasih padanya nanti.”

Oh, nada sarkastik itu. Sangat khas Bomi.

Kali ini Bomi pergi begitu saja menuju tendanya tanpa berkata apa-apa lagi dan Chanyeol juga tidak memiliki alasan lagi untuk menahannya pergi. Jadi ia hanya bisa menatap punggung Bomi yang berlalu menuju tenda para gadis.

“Kau punya sejarah buruk dengan wanita, Bung,” L berkomentar. Sejak tadi ia hanya mengamati saja interaksi antara Bomi dan Chanyeol dengan ekspresi geli.

Untuk ukuran orang yang selalu bersikap tenang dan nyaris selalu berwajah dingin, ekspresi geli di wajah L cukup mengejutkan Chanyeol. Biasanya ia akan membalas dengan lelucon yang setimpal tapi kali ini ia tidak berniat meladeni lelucon apa pun.

Chanyeol menggelengkan kepala dan menghela napas lelah. “Joy tidak percaya padamu dan Bomi,” ia memberitahu L dengan nada serius yang sama.

Respon L seperti biasa yang sudah diduga Chanyeol, hanya mengangkat bahu tak peduli. “Aku tidak pernah peduli gadis itu percaya padaku atau tidak. Tapi yang jelas aku tahu gadis itu tidak suka pada Bomi. Itu bukan kali pertama  aku melihat ia bersikap seperti itu pada Bomi,” L bercerita.

Alis Chanyeol terangkat mendengar cara L menyebut nama Bomi.

“Sejak kapan kau memanggilnya dengan nama depan?” ia bertanya.

L menyeringai. Seringai yang Chanyeol yakin sudah sering membuat banyak gadis bertekuk lutut dan hampir-hampir menyaingi seringan tampan milik Chanyeol sendiri. “Beberapa menit yang lalu. Aku dan Bomi senasib dan kami punya banyak persamaan, jadi kami cepat akrab,” sahutnya.

“Kami?” ulang Chanyeol lagi dengan alis terangkat.

Tapi L hanya mengangkat bahu, tidak berminat menjelaskan.

Chanyeol tidak suka itu, tapi ia tidak membahasnya lagi. Ia harus fokus menyelesaikan masalah Joy dan Bomi.

“Ceritakan padaku, kapan Joy bersikap ketus seperti itu pada Bomi?” tanya Chanyeol.

“Hari ini. Saat pemberian vaksin di tenda,” jawab L cepat.

Sepertinya L benar-benar mengingat kapan hal tu terjadi yang membuat Chanyeol menggali ingatannya sendiri. Ah, Chanyeol teringat bahwa Joy menyaksikan dirinya berpelukan dengan Bomi saat itu. Ia mengusap pelipisnya, merasa pusing. Kini sudah jelas, bahwa alasan Joy yang sebenarnya adalah ia tidak menyukai Bomi.

L berdecak. “Kau sungguh-sungguh tidak memahami wanita, Chanyeol,” komentarnya prihatin.

“Apa maksudmu?”

“Kau pintar dan ketua tim yang hebat, tapi kau tidak tahu mengapa Joy membenci Bomi, bukan?” L bertanya retoris. “Aku tahu dari Baekhyun bahwa Joy selalu menjadi satu-satunya gadis dalam tim ekspedisimu dan tiba-tiba kau merekrut Bomi. Ditambah lagi, kau bersikap sangat akrab dengannya. Tentu saja Joy akan bereaksi seperti itu.”

“Jangan bertele-tele, L,” potong Chanyeol sebal. “Maksudmu apa?”

“Joy cemburu, Bodoh!” sahut L sama sebalnya. “Dan kau sama sekali tidak menyadarinya.”

Ucapan L benar-benar membuat Chanyeol merasa bodoh.

Seluruh anggota tim bangun sebelum matahari terbit. Kabut fajar menyelimuti daerah sekitar tenda mereka, membuat pandangan terhadapa sekitar terhalang. Sisa-sisa ketegangan akibat situasi semalam masih terasa. Bomi terus menghindari Chanyeol sepanjang sarapan pagi, menggunakan Baekhyun sebagai tameng di antara mereka. Joy sudah meminta maaf pada L yang disambut dengan acuh tak acuh oleh pria itu. Joy berusaha mendekati Bomi saat mereka sedang mengepak barang-barang untuk dimuat dalam jeep.

Chanyeol diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.

“Aku ingin minta maaf,” kata Joy singkat.

“Tidak perlu kalau itu karena Chanyeol yang menyuruhmu,” Bomi bahkan tidak menoleh dari tumpukan kardus berisi makanan yang sedang didatanya untuk menjawab ucapan Joy.

Joy mendengus. “Itu berarti masalah kita selesai, bukan?”

“Kalau menurutmu begitu,” jawab Bomi singkat, masih tanpa menoleh.

Respon dari Bomi membuat Joy menghentakkan kaki dan berlalu pergi menuju jeep dimana Sungjae sudah menunggu. Di sisi lain jeep, Chanyeol bisa melihat Baekhyun sedang tertawa geli karena diam-diam ternyata ia juga mendengarkan percakapan Bomi dan Joy.

Jeep mereka akhirnya berangkat, masih dengan formasi yang sama seperti sebelumnya meskipun kali ini L dan Baekhyun yang menyetir. Bomi sama sekali tidak terlihat ingin protes seperti sebelumnya ketika Chanyeol memutuskan bahwa mereka akan berada dalam jeep yang sama. Ia menutup mulut rapat-rapat dan mengikuti saja instruksi Chanyeol, seolah mengeaskan bahwa ia tidak berhak untuk berkata apa pun di luar yuridiksinya sebagai dokter.

Kabut fajar sudah tersisa menggantung di udara meskipun belum menghilang sepenuhnya karena matahari belum terbit total. Kabut menyebabkan jeep mereka melaju dengan kecepatan sedang dalam jarak pandang yang terbatas pada jalanan yang padat dan kering. Debu-debu halus bertebangan menambah kepekatan kabut.

“Kita akan mencapai padang pasir dalam waktu dua jam,” jelas L pada seluruh anggota tim.

Perlahan-lahan, matahari semakin meninggi dan kabut semakin menipis. Mata Chanyeol menangkap siluet sebuah benda yang dilatarbelakangi matahari terbit di kejauhan. Ia meraih binokular agar bisa melihat lebih jelas. Tapi karena terlahang kabut, ia tetap hanya bisa melihat siluet saja bahkan setelah menggunakan binokular sekali pun.

“Apakah itu hanya khayalanku atau aku memang melihat sesuatu?” tanya Chanyeol sambil menunjuk ke arah kejauhan.

Chanyeol menjulurkan binokular pada Bomi, memberikan isyarat agar gadis itu juga memastikan apa yang dilihatnya. Bomi menerima binokular itu dengan enggan, meskipun akhirnya ia menggunakannya. “Kau benar. Terlihat seperti siluet bangunan bagiku,” katanya.

Dan ucapan Bomi sama persis dengan apa yang dikatakan Baekhyun.

Kabut semakin menipis dan jarak pandang menjadi jauh lebih jelas. Mau tak mau Chanyeol terkejut menyaksikan sebuah gerbang tinggi tak jauh dari mereka yang kini bisa dilihatnya bahkan tanpa bantuan binokular. Dan ia bukan satu-satunya yang terkejut. Bomi dan L juga tersentak kaget. Begitu pula pekik keterkejutan yang didengar Chanyeol dari Sungjae, Joy dan Baekhyun melalui walkie talkie jeep mereka.

“Ya Tuhan!” seru Joy tak percaya. “Itu sebuah kota!”

Jeep mereka berhenti dengan mendadak membuat semua anggota tim nyaris terjungkal. Mereka turun dari jeep dan mulai menggunakan binokular untuk mengamati kota itu dengan lebih baik. L membentangkan kembali peta lusuh dari EXO dan menyamakannya dengan gambaran geografi dari satelit.

“Mustahil…” desis L. “Kota itu tidak terdeteksi satelit dan bahkan tidak ada di peta!”

“Tapi itu bukan El Dorado,” simpul Baekhyun yakin.

Chanyeol menyetujui pendapat Baekhyun.

“Aku juga tidak melihat kota itu saat semalam kita memutuskan berkemah di sekitar sini,” ujar Sungjae menggelengkan kepala tak mengerti. “Hyung, apa menurutmu lebih baik kita mencari jalan lain saja menuju padang pasir tanpa melewati kota itu?” ia bertanya pada Chanyeol.

Pertanyaan Sungjae membuat Chanyeol melirik pada L. “Bagaimana menurutmu?”

“Kita tidak punya pilihan lain, Chanyeol,” sahut L, lalu mengedikkan dagu ke arah gerbang itu. “Kalau kau perhatikan baik-baik gerbang dan tembok itu membentang sejajar dari utara ke selatan menutupi jalur kita. Kecuali kita mau buang-buang waktu menyusuri tembok itu dan mencari ujungnya,” ia menjelaskan.

Chanyeol menghela napas.

“Kita harus ke sana,” putus Chanyeol akhirnya. “Kita akan lihat apakah kota itu cukup aman untuk dilalui.”

“Kalau memang berbahaya?” tanya Sungjae.

Ada binar nakal di sorot mata Sungjae yang mau tak mau membuat Chanyeol menyeringai.

“Kita akan tetap melaluinya,” ia menjawab yang disambut dengan seringai identik Sungjae.

Maka jeep mereka berangkat kembali. Kepulan debu padang pasir yang berterbangan meninggalkan jejak yang mereka lalui. Semakin mendekati gerbang itu, Chanyeol bisa melihat dengan jelas tembok tinggi yang mengapit pintu gerbang, bendera-bendera yang dikibarkan di menara tembok dan beberapa titik-titik kecil yang terlihat seperti penjaga berpatroli di atas tembok.

Tidak butuh sampai lima belas menit hingga akhirnya jeep mereka berhenti tepat di pintu gerbang. Gerbang itu terbuat dari kayu oak setinggi kira-kira dua puluh meter dan dijaga oleh selusin laki-laki bertombak. Pakaian mereka terlihat kuno, sejenis baju perang hitam kaku dilengkapi tameng. Chanyeol tidak bisa mengenali ras mereka dari garis wajah, seolah mereka adalah keturunan Asia, Hindia, Eropa dan Amerika sekaligus. Mata mereka sipit layaknya keturunan Asia, dengan tinggi badan setinggi warga Eropa, kulit mereka segelap bangsa Amerika dengan rambut dan alis yang tebal layaknya keturunan Hindia.

Selusin penjaga itu bergerak maju secara serentak seolah mereka robot dengan komando yang sama. Dengan gerakan patah-patah yang identik, para penjaga mengacungkan tombak tepat di depan jeep mereka yang lagi-lagi akhirnya berhenti.

“Woah, ini lebih parah daripada beruang pembunuh,” gurau Sungjae, meksipun tidak ada yang menganggap kejadian ini lucu.

Salah satu penjaga dengan bentuk baju perang bergerak lebih maju. Chanyeol menduga penjaga itu pastilah kepala atau pemimpin dalam tim penjaga ini. Si penjaga mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti Chanyeol.

“Bahasa apa itu?”

Pertanyaan Chanyeol sebenarnya ditujukan untuk ahli bahasa tim mereka, Joy. Namun betapa terkejutnya Chanyeol saat Bomi menjawab pertanyaan itu bersamaan dengan Joy.

“Latin,” kata Bomi dan Joy bersamaan dengan suara seperti berbisik.

Seluruh anggota tim menatap dua gadis itu.

“Tapi bahasa itu sudah punah,” seru L tak percaya.

“Bukan berarti benar-benar tidak ada yang menggunakannya lagi kan?” sahut Joy retoris.

Chanyeol menatap Bomi. “Bagaimana kau tahu?”

“Istilah kedokteran dan ilmu alam banyak menggunakan bahasa Latin,” Bomi hanya mengangkat bahu.

Si penjaga kini terlihat tak sabar, mulai mengacungkan kembali tombaknya sambil berbicara dengan nada tinggi sementara barisan para penjaga di belakangnya mulai memasang kuda-kuda dan siap menyerang.

“Apa katanya?” tanya Chanyeol tak spesifik pada Joy atau Bomi. Ia tidak akan memilih siapa yang akan menerjemahkan untuk mereka.

Joy melirik Bomi, tapi sang dokter hanya mengangkat alis.

“Kau yang ahli bahasa di sini,” ujar Bomi singkat seolah-olah semuanya sudah sangat jelas.

Ucapan Bomi jelas membuat Joy merasa kesal, namun kemudian gadis itu bicara juga. Ia bicara dengan nada kaku dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Chanyeol.

“Mereka ingin tahu siapa kita dan apa yang kita lakukan di sini. Kukatakan bahwa kita tim ekspedisi dan harus melalui kota mereka untuk mencapai tujuan kita,” kata Joy setelah ia berbicara dengan si penjaga.

Si penjaga mengatakan sesuatu lagi, yang dijawab oleh Joy dengan serius. Kemudian si penjaga berbalik dan masuk ke dalam gerbang, sedangkan barisan sisa penjaga lainnya masih bersiaga dengan tombak mereka.

“Mau kemana dia?” tanya Sungjae bingung.

“Ia akan bertanya pada pemimpin kota sebelum memperbolehkan kita masuk,” Joy memberitahu.

Mereka menunggu dengan cemas. Chanyeol melirik jam tangannya dan melihat sudah sepuluh menit berlalu sejak si penjaga pergi. Hawa gurun mulai terasa menyengat, menyebabkan mereka kehausan, berkeringat dan mulai tak sabar. Sungjae berjalan mondar-mandir, tak peduli dengan tatapan garang dan tombak para penjaga. L hanya diam dengan wajah dinginnya. Ia memberikan topinya untuk dipakai Bomi agar tak kepanasan, satu gestur kecil yang tidak dilewatkan Chanyeol. Joy juga terlihat cemas, berulang kali mengerling Chanyeol. Baekhyun dan Bomi adalah dua orang yang terlihat cukup tenang.

Saat penjaga itu muncul kembali dari gerbang, seluruh anggota tim tanpa sadar menghela napas lega secara bersamaan. Hal yang sangat lucu bagi Chanyeol kalau saja kondisinya tidak seperti ini.

Penjaga itu bicara dan kelihatannya ia membawa kabar baik dinilai dari ekspresi Joy.

“Pemimpin kota mengizinkan kita masuk!” serunya gembira.

Itu kabar paling baik yang didengar Chanyeol sejak ia memulai ekspedisi ini. Mau tak mau ia ikut tersenyum lebar ketika gerbang itu terbuka lebar-lebar menyambut mereka masuk. Semoga kabar baik lain menunggu di dalam sana.

Matahari sudah berada di puncak kepala saat Chanyeol dan anggota tim tiba di depan sebuah tenda besar yang menurut si penjaga telah disiapkan pemimpin kota untuk persinggahan mereka.

Selama memasuki kota tadi, Chanyeol mengamati dengan baik. Ia sungguh heran dengan arsitektur kota itu. Di balik tembok, kota itu sama sekali tidak terlihat seperti sebuah kota, melainkan layaknya lahan persinggahan kaum Gipsi. Tidak ada bangunan solid di dalam kota itu. Sejauh yang terlihat Chanyeol secara langsung (dia masih belum berani menggunakan binokular karena takut dianggap tidak sopan), yang terlihat hanya tenda dengan warna-warna khas Mediteranian dalam beragam ukuran. Bendera merah tua dengan lambang yang setelah diamati Chanyeol dari dekat ternyata sebuah bunga, berkibar di tiang-tiang puncak tenda-tenda besar. Chanyeol juga tidak mendengar ada deru mesin. Benda yang berisik dan menarik perhatian penduduk adalah dua jeep tim mereka saat melintasi kota.

Tenda yang dijadikan sebagai tempat persinggahan mereka berwarna merah tua. Ada beberapa dipan kayu dan kursi-kursi di dalamnya. Juga dilengkapi dengan lampu minyak yang tergantung di langit-langit tenda. Anehnya tenda itu tidak terasa pengap, meskipun udara di luar panas menyengat.

Chanyeol berdiri di mulut tenda, mengamati para penduduk kota. Sama seperti para penjaga, garis wajah penduduk kota juga terlihat bagaikan campuran Asia, Hindia, Eropa dan Amerika sekaligus. Para penduduk kota berpakaian bagus dengan kain ringan dalam warna-warna cerah bagi para wanita dan warna-warna netral bagi para pria. Kota itu terlihat kuno seperti gerbang dan tembok yang mengelilinginya tapi juga terlihat sangat makmur.

Setelah puas mengamati, Chanyeol kembali ke dalam tenda.

“Kita akan segera menyeberangi kota ini begitu para pemimpin mereka memberi izin,” ia memberitahu anggota tim.

Sungjae yang duduk berdekatan dengan Joy bertanya. “Kalau mereka tidak memberi izin?”

“Atau kalau mereka meminta imbalan?” Joy ikut menimpali.

Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Mereka tidak terlihat seperti penduduk dengan budaya memaksa atau memeras,” ujarnya. Entah mengapa Chanyeol begitu yakin dengan pendapatnya kali ini meskipun respon dari anggota tim yang lain terlihat pesimis.

Penjaga yang tadi mengantarkan mereka muncul kembali di mulut tenda. Di belakangnya ada sepasang pria dan wanita yang dikawal sejumlah penjaga. Pasangan itu memasuki tenda dan anggota tim ekspedisi serempak berdiri. Pria itu berwajah tegas dengan garis wajah Eropa yang lebih mendominasi sedangkan si wanita berwajah ramah khas dominasi Asia Tenggara yang terlihat hampir Melayu. Dua-duanya mengenakan pakaian dengan bahan dan warna yang sama, merah dan emas dalam potongan layaknya pakaian bangsawan. Jika saja mereka mengenakan mahkota, maka jelas dua orang ini pastilah raja atau ratu.

“Selamat datang di Admonitus.”

Chanyeol merasa sangat lega mendengar si pria berbicara dalam bahasa Inggris. Setidaknya ia mahir menggunakan bahasa tersebut. Terus menerus membiarkan Joy bicara alih-alih dirinya membuat Chanyeol khawatir kalau gadis itu bisa saja terkena masalah karena harus menerjemahkan ucapannya. Setidaknya dengan begini, Chanyeol bertanggung jawab pada ucapannya sendiri.

“Saya Albertico, pemimpin kota,” pria itu memperkenalkan diri dengan senyum kaku pada wajahnya yang tegas. “Dan wanita ini Marina, penasihat kota,” ia menggesturkan pada wanita yang tersenyum ramah.

Entah hanya perasaan Chanyeol saja, melihat senyum Marina membuat dirinya merasa aman dan percaya.

Chanyeol berdeham dan menjulurkan tangan. Ia balas memperkenalkan diri. “Saya Chanyeol Park, pemimpin tim ekspedisi.” Chanyeol kemudian memperkenalkan anggota tim ekspedisi yang lain. Mau tak mau ia memperhatikan dengan penasaran pandangan Marina dan Albertico yang menatap Bomi lebih lama dibandingkan yang lain. “Terima kasih sudah menerima kami, ….?” Ia ragu harus menyebut pria itu dengan gelar apa. “Maaf, saya tak tahu harus memanggil Anda dengan apa.”

Albertico tertawa mendengar ucapan Chanyeol. “Albertico saja, Anak Muda. Di Admonitus, kami tidak mengenal gelar meskipun saya seorang pemimpin kota. Kami semua sederajat, hanya dibedakan oleh tanggung jawab saja. Seperti Marina yang bisa melihat masa depan menjadikannya penasihat kota,” ia menjelaskan.

“Anda benar-benar bisa melihat masa depan?” Sungjae tidak bisa menahan diri bertanya.

Marina tersenyum tipis. “Masa depan adalah hal rumit yang dipengaruhi berbagai faktor dan konsekuensi dari tindakan masa sekarang. Jadi, ya, secara teknis saya bisa melihat masa depan, meskipun ada kemungkinan masa depan bisa berubah.”

Sungjae terlihat kagum dengan penjelasan Marina yang membuatnya mendapat sikutan di perut dari Joy.

“Kami tidak akan tinggal lama,” Chanyeol berkata lagi. “Admonitus berada dalam jalur tujuan kami, jadi mau tak mau kami harus melewatinya demi menghemat waktu.”

Marina menggelengkan kepala pelan dan tersenyum lagi. “Kalian memang harus melewati Admonitus, jika memang ingin mencapai El Dorado.”

Chanyeol tersentak dan mencuri pandang pada anggota tim yang lain yang memiliki ekspresi bertanya yang sama. Bagaimana wanita itu bisa tahu? Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyebut tentang El Dorado.

“Anda melihat kami di masa depan?” Joy bertanya ragu.

“Ya,” jawab Marina apa adanya. “Dan itu memang tugas kami.”

“Bunga Dahlia sebagai lambang kota dan nama kota ini sendiri seharusnya sudah membuat kalian mengerti,” timpal Albertico tenang.

Rasanya seperti sedang bermain tebak-tebakan rumit dalam bahasa bunga dan Latin.

“Pemberi Peringatan….”

Itu pertama kalinya Chanyeol mendengar Bomi berbicara sejak mereka tiba di kota. Ia memperhatikan Marina dan Albertico sama-sama menatap Bomi dengan penuh ketertarikan yang terasa aneh bagi Chanyeol.

“Itu arti bunga Dahlia dan kata Admonitus,” jelas Bomi yang disambut anggukan dan senyum puas Marina.

“Tapi, bunga Dahlia tidak bisa tumbuh di padang pasir,” sela Baekhyun dengan pengetahuan geologisnya.

Albertico tertawa lagi. “Memang tidak, tapi keadaan cukup berbeda untuk Admonitus.”

“Seperti cara kalian membuat kota ini tak terpeta?” tanya L sinis.

Baik Albertico maupun Marina tidak menjawab pertanyaan L.

Chanyeol tidak melihat tanda-tanda pasangan itu tersinggung dengan ucapan L. Mereka hanya menjadi berwajah lebih serius daripada sebelumnya.

“Perjalanan ini akan menjadi legenda di masa yang akan datang hanya jika kalian bisa bertahan melewati berbagai rintangannya. Sejauh ini kalian sudah berada di jalan yang benar tapi kuperingatkan untuk tetap percaya pada satu-satunya informasi yang kalian punya,” Marina berbicara dengan nada menasehati yang menenangkan. “Tiap-tiap dari kalian punya alasan sendiri untuk menemukan El Dorado tapi hanya mereka yang tulus dan bersungguh-sungguh yang dapat tinggal. Dan jangan lupa, pengorbanan yang besar selalu setimpal dengan pencapaian yang besar,” tambahnya.

Albertico ikut berbicara. “Kalian bisa tinggal dan melanjutkan perjalanan esok hari. Kami akan menjamu kalian dengan baik.”

“Terima kasih. Kami akan berangkat setelah matahari terbit,” Chanyeol memutuskan. Mereka butuh membicarakan rencana baru setelah dikejutkan dengan adanya kota ini.

Albertico mengangguk paham, lalu ia dan Marina pamit dan meninggalkan tenda.

Tepat sebelum Marina keluar dari pintu tenda, wanita Asia itu berbalik. “Kau tidak boleh menghilangkan kunci itu, Chanyeol Park,” ia memperingati dengan nada yang jauh lebih serius dan lebih kelam daripada tadi. Bulu kuduk Chanyeol sampai meremang dan ia mengangguk.

Lalu Marina menoleh pada Bomi.

“Kau juga harus menjaga liontin itu, Dr. Choi,” ujarnya. “Kakakmu juga menjaga liontin itu sepenuh hidupnya.”

Bomi hanya menatap Marina dengan tak percaya. Wanita itu tersenyum lagi, kemudian segera keluar tenda menyusul Albertico. Chanyeol bisa melihat bola mata Bomi mulai berkaca-kaca. Ia mendengar Sungjae bertanya dengan berbisik pada Joy yang mengangkat bahu.

“Apa maksudnya?”

Chanyeol menghela napas.

Rahasia Bomi.

Malam itu Chanyeol menemukan Bomi berdiri di depan tenda. Gadis itu menengadah menatap bintang-bintang di langit yang tidak bisa dinikmati saat mereka berada di Seoul. Tangan kanan Bomi menggengam liontin yang ada di lehernya.

“Bomi…” panggil Chanyeol pelan.

Bomi menoleh dan jantung Chanyeol mencelos saat melihat wajahnya. Mata yang sembab. Ekspresi lelah yang sangat menyedihkan. Chanyeol mendekat dengan hati-hati, takut gadis itu masih marah padanya sekaligus tidak ingin menganggu momen personalnya.

“Chanyeol, oppa sudah berhasil sampai di sini…”

Suara Bomi serak dan Chanyeol hanya bisa mengangguk untuk merespon ucapannya. Mata Bomi mulai berkaca-kaca lagi saat ia bicara.

“Apakah itu berarti aku bisa bertemu oppa lagi?”

Dan Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk merengkuh Bomi ke dalam pelukannya. Ia terpaksa mengabaikan untuk sejenak ucapan L mengenai Joy yang cemburu. Melihat Bomi begitu rapuh membuat Chanyeol ingin melindungi gadis itu. Sedikit banyak ia menyesal mengapa ia begitu keras kepala untuk mengajak Bomi dalam ekspedisi ini.

“Kita akan menemukannya,” ujar Chanyeol memeluk Bomi erat. “Aku sudah berjanji padamu akan berusaha sebaik mungkin.”

Bomi mengangguk dalam pelukan Chanyeol.

Sesaat mereka berada dalam keheningan yang menenangkan.

Namun dalam keheningan itu Chanyeol mendengar suara halus yang berdesing menuju ke arah mereka. Ia bergerak sesuai insting sebagai penjelajah selama bertahun-tahun, berkelit ke samping bersama Bomi menghindari sesuatu. Napas Chanyeol terengah saat menyadari sebuah panah tertancap tepat di tempat ia dan Bomi berpelukan tadi. Ia memastikan Bomi baik-baik saja. Gadis itu sedikit terguncang tapi mentalnya selama beberapa tahun sebagai dokter militer telah melatih gadis itu menjadi lebih kuat.

Perlahan Chanyeol dan Bomi mendekati panah yang tertancap itu. Ada secarik kertas di sana dengan sebaris kalimat.

Kau akan memperlihatkan tandamu.

Chanyeol memegang kertas itu dan menatap Bomi dengan pandangan bertanya. “Apa maksudnya ini?”

“Tanda? Apakah itu semacam simbol?” Bomi balas menatapnya dengan pandangan bertanya yang sama.

Chanyeol tidak mengerti maksud kalimat itu. Lalu tiba-tiba ia merasakan amarah dan emosi yang begitu kuat ketika mengingat panah itu bisa saja membunuhnya atau Bomi. Dan mendadak kertas itu terbakar begitu saja di tangannya.

Kali ini Bomi menatapnya dengan horor.

Api di jari-jari tangan Chanyeol menghanguskan kertas itu.

.

.

.

-bersambung-

© 2016 qL^^

.

.

.

an as promise. please review 🙂

 

 

 

Advertisements

11 thoughts on “El Dorado – 3

  1. akhirnyaaaaaa nongol jugaaakkk >_< tegang bgt aku baca dari awal sampai akhir. ngebayangin kaya di film2 beneran :3 dan di scene akhir pas api keluar dari tangan Chanyeol itu makin bikin tegang. Wah… si Chanyeol Inhuman ya di sini. Mantep dah kekuatanx api. Awalx ga nyangka kalo di ff ini si CY punya kekuatan gitu kaya di MAMA XD asli deh ga kepikiran.
    Untung ya mereka boleh lanjutin perjalanan, aku juga setuju ama Joy, aku kira mereka minta imbalan, apalagi pas Mariana sama Albertico agak tertarik gitu sama Bomi. Aku kira mereka minta Bomi ditinggal di situ biar jadi dokter di kota mereka '–' untungnya enggak ya. hehe
    yang bikin penasaran itu siapa yang manah?? kayanya 'tanda' itu ditujukan buat Chanyeol deh. abis itu kan tangan Chanyeol jadi berapi-api :"
    sama 'Oppa' jugak. aku masih penasaran. dia sebenerx udh meninggal atau masih hidup,hilang, apa gimana? kok Bomi msh pengen nyari oppanya itu. Oke… ini baru chapter 3, masih banyak misteri dan teka-teki. Ditunggu bgt ya lanjutannya ^^

    Makasih udah diposting chapter 3 nya ya Ql ssi~~~ 😀

    ah… btw itu si Chanyeol memang buruk dalam memahami wanita. dan parahnya…. kayanya dia gak sadar kalo dia suka Bomi XD wkkwkwkwkwk semoga romance nya msh ttp ada ya biar gak tegang2 bgt jugak. hehe intermezo~~ ~_~

    1. Ih asik ada yang ngikutin Marvel Agents of SHIELD juga hehehe. Chanyeol pnya kekuatan aja kok tp Alhamdulillah dia ga pnya gen alien yg dorman wkwkwk

      iya, dia emg agak bodoh soal beginian, musti diajarin sama L dulu -___-” hehe misteri yg lain nnti terjawab satu satu yaaa

      makasih niken udah baca dan tetap setia nungguin El Dorado yaaa 🙂

      1. Aku fans berat Agents Of SHIELD Fyi, msh ngikutin sampek sekarang yg season 3 😍😍😍😍 kamu nonton jg ya waahhh pantes tulisannya berbau shield jugak wkwkwkkw keren bgt. Lanjutin terus pokoknya. Aku setia bgt ngikutin apalagi ff nya emang genrenya kesukaan bgt 😁

  2. akhirnya qL update hehe udah nunggu banget El Doradonya, ff ini genrenya jarang banget sih hehe
    makin banyak misterinya uhhh tegangnya juga kerasa haha si Joy sama Sungjae aja sih gausah ganggu Bomi Chanyeol wkwk
    di part terakhir berarti Chanyeol punya kekuatan ya? uhuuuyy kekuatan api 😀
    keep writing 🙂

    1. Hihi ampuun maafkeun ya kak ini updatenya bikin yg nunggu lumutan. Lagi banyak urusan koas yg gtuuu deh

      ahaha kita tunggu kelanjutan antara mereka ber4 yaa. Makasih udah baca kak dan tetap tunggu lanjutannya yaa 🙂

  3. Waa long time no see ya. Jadi kangen el dorado. Romance nya kerasa renyah, gak dibuat2. Natural.
    Oke. Isinya cocok banget. So, next chap, kak qi^^

  4. Daebak mereka punya kekuatan 😲
    keren author jalan ceritanya bener2 nggak mudah ditebak terus mancing(?) Untuk terus baca

    Keep writing….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s