EL Dorado – 2

a fan fiction by qL^^

.

Casts : Park Chanyeol, Choi Bomi, Kim ‘L’ Myungsoo,

Yook Sungjae, Park ‘Joy’ Sooyoung, Byun Baekhyun

Cameo : Lee Yoori (OC)

Genre : Adventure, Fantasy, Romance

Rating : PG 13- Teen

Length : Multichapter

.

Disclaimer : This is work of fan fiction. All mentioned artists belonged to agencies. No profit is intended. Please do not copy paste!

Previously on El Dorado : 1

El

El Dorado

Bagian 2

Into the light that spreads out before us

Toward the future that no one knows of

(from El Dorado – EXO)

Laptop putih itu belum dimatikan sejak dua hari yang lalu. Bunyi dengung mesinnya terdengar jelas, lelah seperti yang dirasakan pemiliknya. Layar digital laptop menampilkan halaman akun surat elektronik milik Choi Bomi di bagian kotak keluar. Artikel kesehatan yang dikerjakannya sejak dua hari yang lalu itu sudah terkirim dengan sempurna kepada editor redaksi majalah tempat ia bekerja paruh waktu. Artikel itu selesai lima hari sebelum jatuh tempo yang diberikan redaksi. Bomi memang bukan tipe orang yang senang menunda pekerjaan, namun menyelesaikan artikel dalam waktu dua hari yang seharusnya jatuh tempo seminggu tetap menjadi rekor pertama.

Itu semua tidak akan terjadi kalau saja kemarin malam Park Chanyeol tidak memutuskan untuk mampir ke apartemennya. Bomi memutuskan melampiaskan kekalutannya pada artikel itu setelah pria itu pulang.

Pikiran Bomi kacau sejak ia mendengar rencana Chanyeol. Menemukan El Dorado?! Padahal Chanyeol lebih mengerti daripada Bomi bahwa kota itu hampir-hampir tidak nyata. Tidak ada yang pernah menemukannya. Chanyeol dan tim ekspedisinya saja sudah berulang kali gagal menemukan kota itu dan sekarang apa? Hanya dengan sepotong petunjuk dari EXO, Chanyeol sudah memutuskan untuk memulai lagi ekspedisi itu.

Lebih gila lagi, Chanyeol berani-beraninya mengajak Bomi untuk menggantikan posisi dokter dalam timnya yang mengundurkan diri. Ia tahu pria itu tidak lupa tentang kebenciannya pada El Dorado sejak kehilangan Oppa. Ia tahu Chanyeol hanya sedang putus asa mencari pengganti anggota tim sekaligus membujuk Bomi agar mau ikut ekspedisi bersamanya. Biar bagaimana pun, Bomi adalah satu-satunya orang yang pernah membaca jurnal milik oppa.

Ah, kening Bomi kembali berdenyut nyeri. Migrainnya kambuh lagi dan bunyi ponselnya yang berdering nyaring sama sekali tidak membuat kepalanya menjadi lebih baik. Ia mengernyit melihat nama yang tertera di layar, kemudian melirik jam. Pukul lima lewat sepuluh menit, ah, memang jam kantor sudah hampir selesai.

“Halo?” sapa Bomi pelan.

“Hei, apa aku tidak salah lihat, Bomi? Kau mengirimkan artikel yang seharusnya kau kirimkan lima hari lagi hanya dua hari sejak kau diberi tugas? Demi Tuhan! Kau ini penulis paruh waktu! Kau harusnya bisa mengirimkan artikel ini kapan-kapan,” suara di seberang menyerang Bomi tanpa jeda. Nada bicaranya frustasi sekali.

“Dengar Editor Lee, justru karena aku masih penulis paruh waktu, aku harus sangat berdedikasi pada pekerjaanku,” jawab Bomi sambil memijat keningnya. Mungkin ia harus minum sebutir aspirin sebelum ia terkapar.

Lee Yoori adalah sahabat sekaligus editor majalah kesehatan tempat Bomi bekerja paruh waktu. Ketika Yoori mendengar bahwa Bomi memutuskan mengundurkan diri dari militer dan Barts, ia menawarkan pekerjaan untuk Bomi. Bukan karena Bomi tidak mampu mencari pekerjaan lain, tapi karena Yoori khawatir dengan sikap Bomi sejak kehilangan kakaknya dan Bomi tahu itu.

Ia mendengar Yoori menghela nafas. “Tapi tetap saja…”

Bomi tidak menjawab apa pun, bersandar di sofa dengan mata terpejam dan ponsel yang masih menempel di telinga.

“Bomi… kau masih di sana?”

“Ya?” ia menjawab lamat-lamat.

“Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Yoori hati-hati.

Apakah sejelas itu? batin Bomi dalam hati. Ia tidak ingin membuat Yoori bertambah khawatir pada keadaannya. Sudah cukup ia membuat perempuan yang lebih tua beberapa tahun darinya itu pusing beberapa waktu yang lalu. Ia tidak ingin bercerita, namun ia tidak punya siapa pun lagi yang bisa dibagi.

“Kemarin malam Chanyeol datang,” akhirnya Bomi menjawab.

“Oh tidak…” bisik Yoori.

Satu kata singkat itu sudah menjelaskan cukup banyak hal mengenai respon Yoori terhadap kedatangan Chanyeol. Jadi, Bomi menceritakan semuanya, termasuk tentang tawaran Chanyeol yang masih belum diputuskannya.

“Apakah aku harusnya pergi saja?” Bomi bertanya. Ia tidak sadar sejak kapan suaranya menjadi serak dan matanya mulai terasa berair. “Mungkin aku benar-benar bisa menemukan Oppa…”

“Bomi…”

Kini suara Yoori juga ikut terdengar serak dan Bomi menduga mungkin bahkan perempuan itu sudah menangis diam-diam di seberang telepon. Mendadak ia merasa bersalah. Yoori juga merasa kehilangan sama seperti dirinya. Wanita itu kehilangan tunangannya dan sekarang Bomi dengan sangat tidak adil malah mengadu mengenai rasa kehilangannya. Tidak seharusnya ia bersikap seperti itu.

“Yoori eonni, maafkan aku,” bisik Bomi. “Aku tidak bermaksud—“

“Tidak apa-apa,” potong Yoori dan Bomi terkejut mendengar suaranya yang terkontrol. “Aku juga merindukan oppa-mu.”

Helaan nafas Yoori terdengar. Bomi masih menunggu wanita itu bicara lagi.

“Aku tidak bisa melarangmu pergi, Bomi, apalagi jika itu memang hal yang kau inginkan,” Yoori berkata dengan lembut. “Pergilah, dan kembali supaya aku tahu apa yang terjadi pada oppamu.”

Kalimat itu mengandung lebih dari sekedar rasa sakit yang dirasakan Yoori. Ada harapan di sana dan keinginan untuk mendapatkan kepastian. Gelombang perasaan itu menghantam Bomi dengan kuat, menghancurkan seluruh pertahanan diri yang belajar dibangunnya sejak di militer dan Barts. Kali ini tangis Bomi tidak bisa dibendung lagi. Ia terisak-isak di telepon dengan pilu, membiarkan Yoori menghiburnya.

Percakapan singkat itu telah membulatkan tekad Bomi bahwa ia akan ikut.

Choi Bomi memang sudah menduga momen sejak ia membuka pintu apartemen dan menemukan Chanyeol yang tersungkur di keset kaki depan pintu apartemennya, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Baik itu dulu ataupun sekarang, Park Chanyeol selalu berhasil membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Perjalanan menuju pegunungan akan memakan waktu tujuh sampai delapan jam berdasarkan perhitungan L dan kecepatan standar penerbangan. Hal itu berarti mereka akan tiba di pegunungan hanya beberapa jam sebelum matahari terbit. Bomi melirik jam tangannya, kemudian menghela nafas lelah.

Lampu di kabin pesawat sudah diredupkan sementara para anggota tim beristirahat. Tadi sebelum berangkat, Bomi sudah melakukan perkenalan singkat dengan para anggota tim. Ia sudah mengenal Baekhyun meski tak selama ia mengenal Chanyeol, tapi itu sama sekali bukan masalah. Ia merasa penasaran pada L, pilot berwajah dingin yang hanya menyeringai saat perkenalan awal mereka. Ia tahu Sungjae dan Joy tidak terlalu percaya padanya dilihat dari tatapan dan cara mereka menyapanya tadi.

Saat ini, Joy sudah tertidur dengan kepala bersandar pada pundak kiri Sungjae sedangkan pipi Sungjae disandarkan di puncak kepala Joy. Mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih muda yang sering ada di kampus dibandingkan anggota tim ekspedisi, apalagi dengan wajah polos seperti itu. Diam-diam ia penasaran hubungan seperti apa yang ada di antara mereka. Baekhyun juga tertidur dengan berselonjor kaki dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kantung tidur. Chanyeol dan L masih berada di kokpit sedangkan Bomi merasa insomnia.

“Kau harusnya tidur…”

Chanyeol berdiri di depan pintu kokpit dengan wajah lelah, namun masih ada sisa semangat dalam ekspresinya. Ia melangkah mendekati kursi dimana Bomi duduk.

Bomi mengangsurkan dua gelas kertas berisi kopi pada Chanyeol. Tadi saat semua anggota tim mulai tertidur, ia menyempatkan diri memeriksa sesisi pesawat dan menemukan bungkusan kopi di antara logistik lainnya.

“Aku membuatkanmu dan L kopi. Aku tidak tahu selera kopi L, tapi kuharap ia suka,” katanya.

Senyum Chanyeol bertambah lebar saat ia mengambil gelas kertas itu dan menghirup aroma kopi. Bomi tahu ia butuh suntikan kafein. “L akan senang,” sahutnya. “Tunggu di sini sebentar,” tambahnya kemudian berjalan kembali ke kokpit untuk menyerahkan gelas kopi pada L.

Saat Chanyeol kembali ke kabin, Bomi masih berada pada posisi yang sama. Chanyeol mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya, memberi Bomi kesempatan untuk memperhatikan wajah pria itu dari dekat. Chanyeol terlalu fokus pada kopinya untuk menyadari tatapan Bomi. Lingkaran hitam tipis mulai muncul di bawah mata Chanyeol membuat Bomi mau tak mau merasa khawatir.

“Seharusnya kau dan L yang butuh istirahat,” Bomi akhirnya berkata, memecah keheningan di antara mereka..

Chanyeol menoleh ke arahnya dan menyeringai nakal. “Apakah itu sisi doktermu yang bicara?” ia bertanya dengan nada menggoda dan Bomi membalasnya dengan dengusan tak percaya membuat Chanyeol tertawa kecil.

“Terlalu banyak adrenalin membuatku tak mengantuk,” jawabnya.

Pesawat berguncang sedikit karena tekanan udara, sesaat menghentikan percakapan mereka. Bomi mengalihkan pandangan untuk mengecek kondisi anggota tim yang lain, namun baik Joy, Sungjae maupun Baekhyun sama sekali tidak terganggu dalam tidur mereka karena guncangan itu. Mereka tertidur nyenyak sekali. Bomi hanya berharap kalau-kalau di masa depan terjadi sesuatu yang gawat, mereka bisa dibangunkan dengan mudah.

Jadi, Bomi kembali membiarkan dirinya menatap Chanyeol.

“Sepuluh bulan yang lalu kau sama sekali tidak pernah berpikir untuk mengajakku dalam ekspedisi,” kata Bomi memulai pembicaraan. Ia kembali teringat pada ekspresi putus asa Chanyeol dan percakapan pilunya dengan Yoori.

Chanyeol menghela nafas, memainkan gelas kertas yang kosong dan sudah remuk dalam genggamannya. “Percayalah. Sepuluh bulan yang lalu tak ada yang lebih aku inginkan daripada memintamu ikut dalam ekspedisi. Tapi aku tahu dengan pekerjaanmu di Barts, kau akan menolakku mentah-mentah,” jelasnya.

“Dan sekarang?”

“Dengan kekurangan anggota tim dan kau tidak lagi di Barts, kurasa aku cukup nekat untuk mengambil risiko mengajakmu,” jawab Chanyeol pelan.

Bomi menghela nafas. “Kenapa kau masih mempercayai EXO?” tanyanya.

Hening sesaat. Bomi mengira Chanyeol tidak ingin menjawab pertanyaannya. Namun pria itu mendesah pelan, memijat tengkuknya dengan lelah.

“EXO adalah satu-satunya organisasi yang terus menerus mengirimi petunjuk dan mendanai ekspedisiku. Tidak peduli itu berhasil atau tidak. Kuakui ekspedisi sepuluh bulan yang lalu sama sekali tidak menyenangkan, tapi aku tidak punya pilihan,” ia menjelaskan. “Terlepas dari masalah percaya atau tidak, tanpa menjalankan ekspedisi kau tidak akan bisa membuktikan petunjuk itu benar atau salah.”

Kali ini Chanyeol menatap gadis itu lekat-lekat, setelah penjelasan panjangnya. “Kuharap kau tidak menyesal telah ikut, Bomi.”

Apakah itu rasa takut dalam sorot mata Chanyeol? Bomi sungguh tak tahu.

“Ekspedisi ini bahkan baru saja dimulai, Chanyeol, aku belum bisa menentukan menyesal atau tidak,” sahutnya getir.

Kelihatannya jawaban Bomi sudah cukup memuaskan untuk Chanyeol. Pria itu mengacak rambut di puncak kepala Bomi perlahan dan penuh rasa sayang, kemudian mengecup kening gadis itu. “Tidurlah,” pesannya. “Kami akan membutuhkan banyak bantuanmu besok, Dok,” ia mengedipkan sebelah mata.

Bomi mencibir melihat sikap Chanyeol yang masih bisa menggodanya dalam situasi seperti itu.

Ketika Chanyeol kembali ke kokpit, Bomi menyamankan posisi tidurnya. Ia meraih ransel yang berisi barang-barangnya. Bomi tidak sempat berkemas banyak tadi sore karena ia terburu-buru mengejar waktu yang diberikan Chanyeol. Ia hanya mengambil barang-barang penting saja. Untunglah pengalaman dalam militer mengajarkan Bomi untuk berkemas dengan efektif dan efisien. Namun ada beberapa barang pribadi yang sebenarnya tak masuk dalam kategori mana pun, baik efektif maupun efisien.

Jurnal tua oppa dan liontin perak.

Bomi selalu membawa jurnal tua itu kemana-mana. Sampulnya terbuat dari kulit berwarna cokelat yang tidak mudah rusak. Jurnal itu tebal dan seluruh halamannya terisi coretan, ilustrasi dan tulisan tangan kakak laki-lakinya. Kertas-kertas di dalamnya masih bagus, tidak menguning karena Bomi merawatnya dengan baik.

Jurnal itu sudah dibaca oleh Bomi hampir puluhan kali tapi ia selalu membacanya lagi dan lagi sampai ia sudah nyaris menghafal seluruh lembar demi lembar isinya. Jurnal tua itu adalah satu dari sedikit hal-hal yang tersisa dan menjadi bukti dari kehidupan kakak laki-lakinya. Tidak ada yang mengetahui keberadaan jurnal itu selain dirinya. Chanyeol beranggapan jurnal itu hilang bersama kakaknya dan Bomi sama sekali tidak berniat mengoreksi informasi tersebut.

Malam ini, Bomi menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada siapa-siapa dan meraih jurnal tua itu. Selama membaca, tangan Bomi meraba rantai liotin perak di balik bajunya. Liontin itu dibuat dari perak dan ditempa dengan bentuk yang unik. Bandul liontin itu berbentuk buku dan bisa dibuka. Bagian dalamnya menyimpan foto terakhir Bomi bersama kakak laki-lakinya. Sama seperti jurnal tua itu, liontin itu juga satu dari sedikit hal yang masih ia miliki tentang oppa.

Membawa dua benda itu bersamanya, membuat Bomi selalu merasa dilindungi oleh kakaknya.

Akhirnya, Bomi membuka halaman yang ditandai pembatas buku dan mulai membaca. Kelihatannya ia akan mengulang membaca jurnal itu dari halaman pertama lagi.

Bagi para pencari harta karun, El Dorado adalah legenda terkenal dari masa ke masa. Kota yang menjanjikan kejayaan bagi siapa pun yang menemukannya. Kota cemerlang yang selalu hilang sebelum kau sempat menginjakkan kaki di sana. Kekayaan dan harta yang berlimpah selalu menjadi target bagi mereka yang mencarinya….

Expedition crews, prepare for landing…”

Suara L bergema dalam badan pesawat melalui pengeras suara. Bomi terbangun dengan kaget, terduduk cepat dan menatap sekeliling dengan liar. Ia hampir saja lupa bahwa saat ini ia masih di pesawat yang disediakan EXO sebagai alat transportasi mereka. Semua anggota tim yang tadi tertidur sudah bangun dan tampak siap. Bomi bisa merasakan pesawat mulai melalukan manuver menukik, siap untuk mendarat. Perut Bomi melilit saat menyadari bahwa sebentar lagi ia menjejak tanah antah berantah yang mereka tak pernah tahu sudah atau belum pernah dikunjungi manusia lain.

Langit masih gelap dan matahari belum terbit saat L dan Chanyeol mendaratkan pesawat di sisi pegunungan sesuai dengan perhitungan L. Hari masih subuh, masih terlalu berbahaya untuk berangkat menembus pegunungan menuju gurun pasir saat masih gelap. Mereka belum mengenal daerah itu dan apa pun bisa saja terjadi. Begitu matahari terbit, Chanyeol memberitahu mereka bahwa mereka akan berangkat.

“Mengapa kita tidak naik pesawat saja sampai gurun pasir?” tanya Joy bingung.

Baekhyun yang menjawab pertanyaan Joy. “Memarkirkan pesawat di tengah gurun pasir bukan keputusan bijaksana, Joy. Itu akan menarik terlalu banyak perhatian. Lagipula menemukan tempat mendarat yang baik di tengah gurun sangat sulit.”

Dan ia mendapatkan acungan jempol dari L atas jawabannya.

Sebagai ganti tidak menggunakan pesawat untuk menuju gurun, mereka telah memuat dua jeep dalam badan pesawat yang maha luas itu. Sungjae yang bertugas mengeluarkan dua jeep itu dan memarkirkannya di luar. Bomi agak khawatir mengenai bahan bakar, tapi Baekhyun bilang jeep itu dilengkapi dengan teknologi panel surya sebagai sumber energi sehingga tidak akan masalah. Joy ikut membantu Baekhyun memuat logistik dan perlengkapan mereka ke dalam jeep. Sedangkan L dan Chanyeol sedang membicarakan jalur yang harus mereka ambil dengan peta yang membentang di hadapan mereka.

Bomi punya tugasnya sendiri. Ia menyiapkan enam ampul yang diletakkannya di atas meja di depan tenda sementara yang mereka bangun. Chanyeol yang telah menyelesaikan obrolan yang dilakukannya dengan L mendekatinya dengan penasaran.

“Apa itu?” ia bertanya.

“Vaksin,” jawab Bomi singkat. “Gurun dengan suhu ekstrim membuat tubuh mudah terserang penyakit. Kau tidak mau kehilangan anggota timmu hanya karena Meningitis bukan?”

Chanyeol mengangkat bahu. “Kau yakin kita benar-benar butuh itu?”

“Aku tak mau mengambil risiko,” Bomi menjawab. “Kau yang pertama?”

Tanpa bertanya lagi, Chanyeol menggulung lengan kanan kaus yang dipakainya, lalu menghadap Bomi. Dokter itu langsung bekerja, membersihkan lengan Chanyeol dengan alcohol swab, lalu menyuntikkan ampul vaksin dan menekan bekas suntikan itu dengan kapas. Chanyeol mengibaskan lengannya, merasa sedikit nyeri, namun tidak berkata apa-apa.

“Rasanya biasa saja,” komentar Chanyeol.

“Sudah kubilang itu vaksin, Chanyeol, bukan suntikan penambah energi,” jawab Bomi menggelengkan kepalanya.

Chanyeol hanya tertawa geli tidak merasa bersalah. Tiba-tiba saja Chanyeol menguap pelan dan hal itu membuat Bomi menyadari satu hal : Chanyeol dan L tidak tidur sejak mereka berangkat dari Seoul! Pantas saja, lingkaran hitam di bawah mata Chanyeol terlihat lebih jelas daripada semalam saat mereka mengobrol di kabin pesawat.

“Masih ada waktu dua jam sebelum matahari terbit, Chanyeol,” kata Bomi. “Kurasa kau dan L benar-benar butuh tidur.”

“Aku tak apa-apa,” jawab Chanyeol cepat, tapi ia menguap lagi. Ia nyengir, merasa bersalah karena tidak mendengarkan Bomi. “Aku hanya butuh kopi, Bomi.”

Bomi menghela nafas. Ia benci kalau harus berdebat dengan Chanyeol. Pria itu keras kepala dan ia memang sering tidak mendengarkan Bomi. Tapi kali ini, Bomi benar-benar khawatir. Daya tahan fisik dan mental bisa terganggu dalam keadaan kurang istirahat. Bomi mengerti mungkin Chanyeol takut sesuatu akan terjadi selama ia tidur, tapi Bomi hanya memintanya beristirahat selama satu jam. Ia yakin anggota tim yang lain bisa melakukan tugas mereka dengan baik jika ditinggal hanya untuk waktu sesingkat itu.

“Tidak, kau harus tidur! Kalau kau tidak bisa menjaga kesehatanmu sendiri, bagaimana kau akan menjaga kami, Chanyeol? Demi Tuhan, kau itu pemimpin ekspedisi ini!” bujuknya, lagi.

Ia memperhatikan Chanyeol menatapnya lekat. Tatapannya tidak seperti tatapn yang biasa ia berikan pada Bomi. Akhirnya Chanyeol tersenyum lebar seolah menganggap semua argumen yang dikatakan Bomi barusan sangat lucu. Tangannya terangkat mengacak rambut Bomi pelan sebelum kemudian menarik Bomi ke dalam pelukannya.

“Asal tahu saja, kali ini aku mendengarkanmu karena itu nasihat sebagai seorang dokter,” bisiknya pelan.

Mau tak mau kali ini Bomi tersenyum miris mendengar ucapan Chanyeol. Ia tidak protes dengan pelukan Chanyeol. Sisa-sisa ketegangan di pesawat masih membuat Bomi merasa perutnya melilit, namun berada di pelukan Chanyeol yang familiar sedikit mencairkan ketegangan itu.

Oh!”

Pelukan Chanyeol dan Bomi terlepas saat Joy memasuki tenda. Gadis itu berdiri di depan pintu tenda dengan mata membulat kaget, mungkin karena melihat mereka berpelukan. Bomi kembali melihat ekspresi tak suka pada wajah Joy. Ia terlihat… cemburu?

“Masuklah,” Bomi berkata, memecahkan kecanggungan di antara mereka. “Kau ingin aku memberimu vaksin sekarang?” ia bertanya.

“Ya,” Joy melangkah mendekat, masih menatap Bomi dan Chanyeol bergantian.

Chanyeol berdeham, lalu mengedikkan kepala ke arah pintu tenda. “Aku akan memanggil L untuk mendapatkan vaksin juga, setelah itu L dan aku akan tidur sebentar sebelum matahari terbit,” ia memberitahu Bomi yang hanya dibalas dengan anggukan, kemudian menghilang di balik pintu tenda.

Bomi menyiapkan ampul vaksin untuk Joy sedangkan gadis itu menatapnya dengan pandangan bertanya. Ia menyuntikkan vaksin dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya pada Chanyeol sebelumnya.

“Bagaimana eonni melakukannya?” Joy bertanya setelah Bomi selesai. “Aku sudah membujuk Chanyeol oppa untuk tidur sejak pesawat mendarat namun ia sama sekali tidak mendengarkanku. Bagaimana eonni bisa melakukannya?”

Sambil membuang ampul kosong ke tempat sampah, Bomi menjawab, “percayalah, Chanyeol juga tidak pernah mau mendengarkanku sebelum ini.”

L yang menyusul masuk tenda mencegah Joy bertanya lebih banyak meski Bomi tahu gadis itu ingin melakukannya. Jadi Joy hanya menggelengkan kepala kemudian segera keluar dari tenda tanpa mengatakan apa-apa lagi.

“Ada apa dengannya?” tanya L bingung, saat Joy melewatinya tanpa menyapa.

Bomi mengangkat bahu. “Siap untuk divaksin?” tanyanya.

Kondisi L sama kacaunya dengan Chanyeol akibat kurang tidur. Pria itu menguap lebar yang tidak ditutupi sambil menggulung lengan bajunya, kemudian menghadapkan lengannya ke arah Bomi.

“All yours, doc.”

Dua jam kemudian, semua anggota tim sudah berkumpul mengelilingi Chanyeol di dekat jeep yang sudah terisi logistik dan perlengkapan. Chanyeol dan L terlihat lebih baik. Benar kan yang dikatakan Bomi, tidur dua jam dapat memperbaiki stamina mereka dengan signifikan.

“Kita akan mengendarai jeep sampai batas maksimal yang bisa dlilalui jeep,” Chanyeol memberi instruksi.

Bomi sudah mengenal Chanyeol lebih dari sepuluh tahun namun melihatnya memberi instruksi seperti ini mau tak mau menyadarkannya bahwa Chanyeol bukan hanya sekedar Chanyeol sahabatnya. Ini sisi lain Chanyeol sebagai pemimpin sebuah tim ekspedisi. Sedikit banyak ia bisa melihat darimana Chanyeol belajar memimpin. Memikirkannya saja sudah membuat air mata tergenang di pelupuk mata Bomi.

“Setiap jeep akan terisi tiga anggota. Aku akan memimpin jalan bersama L,” kata Chanyeol lagi.

Sungjae langsung menyela. “Aku akan tetap bersama Joy.”

Joy mendengus, namun tidak protes. Sekarang hanya Bomi dan Baekhyun yang harus memilih ikut jeep yang mana. Bomi mengerling Baekhyun yang tersenyum kecil memahami maksud Bomi.

“Kurasa aku akan ikut Sungjae dan Joy,” jawab Baekhyun santai. “Kasihan kalau Sungjae harus menjaga dua gadis.”

Bomi menggumamkan terima kasih pada Baekhyun yang dibalas dengan tepukan singkat di bahu oleh pria itu, lalu ia menyusul Chanyeol dan L yang sudah siap di jeep. Ia naik ke kursi penumpang dan meletakkan tas di kursi kosong sebelahnya. Chanyeol yang duduk di kursi pengemudi. Mungkin L sudah cukup lelah sepanjang malam menjadi pilot mereka. Bomi melihat Chanyeol tersenyum puas saat meliriknya, tahu betapa pria itu senang karena Bomi akan terus dalam pengawasannya sedangkan L hanya meliriknya tanpa bicara.

Setelah aba-aba dari Sungjae yang menyatakan jeep mereka sudah siap, Chanyeol memasukkan persneling dan menekan pedal gas. Mereka mulai menembus pegunungan menuju gurun pasir di baliknya.

Pengunungan berisi hutan tropis dengan pepohonan yang padat. Padatnya vegetasi membuat sinar matahari sulit menembus hutan akibatnya pencahayaan sangat remang-remang. Yang membuat Bomi heran adalah sepanjang hutan ada jalur yang cukup luas untuk bisa dilewati oleh jeep mereka. Mau tak mau ia berpikir seseorang pasti sudah pernah membuka jalan dan melewati jalur ini. Bomi hanya berdoa semoga siapa pun itu ia tiba dengan selamat di sisi lain pegunungan.

Bomi mengeluarkan ponselnya. Sejak pesawat mendarat, ia sama sekali lupa dengan benda itu karena Chanyeol telah memberikan tiap anggota tim telepon satelit.

“Tidak ada sinyal ponsel,” keluh Bomi, memasukkan ponselnya yang tidak berguna ke dalam tas.

“Memang tidak ada,” L menjawab. “Tapi setidaknya sinyal satelit berfungsi dengan baik,” ia menambahkan sambil sibuk mencocokkan gambaran satelit di layar tabletnya dengan peta kumal yang diberikan oleh EXO.

Memikirkan kemungkinan tempat ini sangat terisolasi, mau tak mau Bomi berpikir mereka mungkin berada di jalur yang benar.

“Aku mengambil banyak gambaran satelit sebelum kita mendarat,” L memberitahu Chanyeol dan Bomi. “Tapi kelihatannya hutan ini tidak dihuni oleh manusia atau fauna.”

“Jangan terlalu yakin,” kata Chanyeol menggenggam stir lebih erat.

Derum mesin jeep terdengar menggema di seluruh hutan. Bomi melirik ke belakang dimana jeep Sungjae, Joy dan Baekhyun mengikuti mereka dalam jarak lima meter. Pepohonan padat di sekeliling mereka membuat Bomi tidak bisa melihat apa yang ada di kiri kanan jalan. Instingnya seolah-olah mengatakan mereka tidak sendiri dalam hutan di pengunungan itu.

Mendadak dari kejauhan, ia seperti mendengar bunyi geraman yang nyaris tertutupi derum mesin. Dari postur Chanyeol dan L yang mendadak kaku, Bomi tahu suara itu bukan khayalannya. Chanyeol menginjak pedal rem mendadak, membuat L dan Bomi nyaris terjungkal ke depan kalau tidak ditahan oleh sabuk pengaman. Di belakang mereka, jeep Sungjae, Joy dan Baekhyun juga ikut berhenti.

Geraman itu terdengar lagi.

Kali ini dalam suasana sunyi, suara itu terdengar berkali-kali lipat lebih menyeramkan.

“Apa itu?” Joy bertanya.

Alih-alih menjawab, Sungjae mendekati kubangan lumpur di dekat ban belakang jeep Chanyeol. Ia berjongkok mengamati jejak yang tercetak di kubangan lumpur itu dengan seksama. Tidak ada anggota tim yang ahli dalam bidang zoologi, tapi setidaknya Sungjae dengan hobinya mendaki gunung terbiasa mengenali tanda-tanda alam termasuk jejak binatang.

Geraman itu terdengar lagi.

Masih cukup jauh, namun Sungjae memucat.

“Kita harus jalan terus,” ia berkata dengan terburu-buru, menyeret Joy untuk kembali naik ke dalam jeep. “Tadi malam ia ada di sekitar sini, namun sekarang ia berjalan jauh ke arah barat. Suara mesin kita telah menarik perhatiannya dan ia sedang kembali ke sini.”

Tidak perlu diberitahu dua kali, semua anggota tim segera menaiki jeep masing-masing. Chanyeol memacu jeep mereka dengan kecepatan penuh dengan Sungjae mengikuti di belakang. Mesin jeep meraung-raung di antara geraman yang terus terdengar itu.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai gurun?” Sungjae bertanya melalui radio yang terpasang di jeep.

“Dengan kecepatan seperti ini,” L melirik spedometer, “kurasa kita akan tiba sebelum matahari terbenam.”

Desah penuh kelegaan Sungjae terdengar. “Bagus.”

“Ngomong-ngomong, Sungjae,” kali ini suara Baekhyun yang terdengar melalui radio. “Jejak apa yang kaulihat sampai membuatmu pucat?” tanyanya penasaran.

“Kau tidak akan ingin tahu, hyung,” jawab Sungjae singkat.

Chanyeol tertawa. “Oh, ayolah.”

Sungjae menghela nafas. “Beruang pembunuh.”

Radio berdengung tanpa ada yang berbicara. Geraman di kejauhan membuat semua orang terlonjak dan Chanyeol menambah kecepatan mereka hingga maksimal. Bomi tidak tahu mana yang lebih ditakutinya, terbunuh oleh beruang atau kecelakaan karena kecepatan mengemudi Chanyeol. Yang jelas ia tahu, menemukan El Dorado akan sama seperti mencapai cahaya di ujung hutan.

Sebuah masa depan yang tidak bisa dipastikan siapa pun.

.

.

.

-bersambung-

© 2015 qL^^

.

.

.

an masih ada yang nunggu?

oh ya, kalau kalian suka ChanBomi atau El Dorado, ikutan yuk polling di wp pribadiku. Klik aja di sini. Ayo ramaikan hehehe

Advertisements

10 thoughts on “EL Dorado – 2

  1. nice story, sumpah aku jarang banget dapat ff cerita tentang pemburu harta karun dan cerita ini feelnya dapet, aku sampe tegang apalagi pas bagian ngedenger geraman woaaah jinjja daebak
    keep writing 🙂

  2. aku seneng bgt pas liat email trus ada notif ff ini^^
    joy cemburu sm bomi? kok bisa, aku kira joy itu ada hubungan sm sungjae.
    penasaran bgt sm kelanjutannya 😀
    keep writing kak

  3. Semakin lama nungguin lanjutannya semakin liar khayalan aku tentang ff ini -___- imajinasi2 gila mulai muter2 di kepalaki mentang2 ini ff genre nya aku bangett XD
    Heummm… kira2 misi mereka ini berhasil gak ya? aku curiga pasti ada orang lain yg juga memburu el dorado selain Chanyeol CS.

    Ditunggu banget ya QL-ssi lanutannya T.T penasaran tingkat akut banget nih :’3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s