Confession [Milatel Chereville Serviced Apartment] Chapter 4

Confession

Erlinapark (@erlinabatari)

Chapter

Park Chanyeol, Kim Minjung (oc)

Angst, Sad, Family

15+

Disclaimer : EXO milik orang tua nya, saya hanya meminjam Nama nya saja. Kim Minjung itu juga bukan punya saya, saya hanya memakainya dalam ff yang saya buat. Maaf jika ada kesamaan tokoh yang saya buat. Maaf juga banyak typo yang saya tebar.

 

 

Sudah satu bulan setelah lamanya mereka tidak berkontak satu sama lain. Saat pulang dari Jerman keduanya, lebih tepatnya Chanyeol  memisahkan diri dari Minjung dan meninggalkan MInjung sendiri di bandara. Bukankah itu sangat jahat. Minjung dengan lugu mengangguk saat Chanyeol akan meninggalkannya di bandara saat itu. Membuatnya harus pulang dengan seorang diri seperti seorang kehilangan.

Minjung bercerita itu semua pada Jaejin. Tentu itu membuat Jaejin tertegun mendengarnya. Bagaimana bisa seorang Direktur menginggalkan Minjung sendiri di bandara?, pikir Jaejin saat mendnegarkannya.

“Lalu kau tidak menghubunginya mengapa dia meninggalkanmu?” Tanya Jaejin dengan nada sedikit kesal.

“Nomer ponsel saja kau tidak mempunyainya” jawab Minjung santai.

“Kau bodoh sekali Minjung” pekik Jaejin.

Dengan cepat Jaejin mengeluarkan ponselnya dari tas yang dibawanya. Mengotak atik ponsel canggih itu. Tepat beberapa menit Jaejin menaruh ponsel itu tepat ditelinganya.

“Kau mempunyai nomer Direkturmu itu?” tutur Jaejin pada seberang.

“Untuk apa? Apa kau mulai tertarik dengan Direkturku?” jawab disebelah sana.

“Oh Sehun! Jangan membuatku marah dan beri saja nomer Direkturmu itu. Sekarang” balas Jaejin dengan geram.

“Baiklah. Aku akan mengirimnya melalui pesan. Aku tutup”

Jaejin melepas ponsel itu dan menaruhnya pada meja yang ada disebelahnya. Tersenyum miring dengan sangat bangga pada Minjung. Seolah berkata bahwa Jaejin sangat pintar saat ini.

Tring~

Ponsel Jaejin berbunyi dan Jajein pun mengambilnya dari dari meja. Melihat sebuah pesan dari calon tungan yang belum Minjung ketahui itu. Memberikan ponsel yang berisikan nomer hp milik Chanyeol pada Minjung.

“Bukankah aku cukup hebat?” Tanya Jaejin dengan bangga pada Minjung.

“Lalu untuk apa nomer ini?” Tanya MInjung pada Jaejin.

“Kau bodoh apa bagaimana?” geram Jaejin pada Sahabatnya itu. “Ini yang kau butuhkan sekarang dan cari tahu mengapa dia meninggalkanmu saat itu di Bandara” lanjut Jaejin dengan sangat jelas.

“Ahh.. Park Chanyeol?” Tanya Minjung untuk kedua kalinya.

Jaejin mengangguk dengan senyum cantiknya khas seorang Jaejin.

Minjung pun mengambl ponsel milik Jaejin dan mencatat nomer milik Chanyeol itu kedalam ponsel miliknya. “Terima kasih” ucap Minjung dengan senangnya.

“Tak masalah. Aku bahkan akan melakukan apapun selama kau senang Kim Minjung” balas Jaejin.

**

Malam hari yang begitu hangat dirasakan oleh Minjung kali ini. Bukan, MInjung bukan ingin pergi disebuah club malam. Saat kembali dari Jerman bahkan Minjung memberankan diri dating kedalam club malam itu. Tapi saat bertemu dengan atasannya MInjung diusir keluar dan tidak boleh dating lagi kedalam club malam itu. Atasan itu berkata bahwa mInjung tidak diperbolehkan lagi dating oleh pembelinya. Apakah Chanyeol begitu serius dengan Minjung saat ini. Tapi, mengapa Minjung diterlantar seperti anjing kehilangan induknya?.

Minjung bahkan tidak memiliki bahan makanan sama sekali dalam kulkas miliknya. Ramen saja tidak ada. Terpaksa Minjung keluar dari apartermen kecillnya itu untuk pergi kesebuah kedai yang bisa mengisi perutnya. Untung saja Minjung masih memiliki uang tabungan. Tapi mengapa MInjung tidak membeli keperluanya kulkasnya? Entahlah, Minjung hanya malas membelinya malam ini. Mungkin besok tau lusa.

Hanya pakaian santai yang dikenakannya saat ini. Terlalu santai tepatnya. Baju tidur dengan motif kelinci dengan pita dikedua telinganya. Bukan kan itu tidak menunjukkan sisi seorang wanita club malam? Bahkan itu begitu imut saat ini.

Sesampainya pada sebuah kedai yang tidak begitu ramai. Hanya beberapa saja yang ada dalam kedai kecil itu. Minjung pun duduk disalah satu kersu yang kosong.

Dengan suara kerasnya MInjung benyeruakan suaranya. “Tteokbokki dan satu botol soju ahjumma” tutur Minjung pada pada pemilik kedai itu.

Pemilik kedai itu menyaut dengan lantang juga pada MInjung. Kedai ini biasanya menjadi langganan Minjung disaat Minjung sedang bosan membuat makan untuk dirinya sendiri. Minjung melirik sekitarnya. Bahkan mereka berdua dengan teman atau pasangannya saat ini. Minjung hanya mempoud bibirnya dan menunggu pesanannya datang dimejanya.

“Ini pesananmu nona Kim Minjung” kata pemilik kedai itu pada Minjung.

Wajah cerah Minjung tiba-tiba saja terlihat. “Terima kasih Gong ahjumma” jawab Minjung dengan senyumnya.

“Makanlah dengan lahap”

Selang 20 menit pun makanan yang Minjung pesan sudah habis dilahapnya seorang diri dengan soju yang hanya tinggal setengah botol. Minjung pun membayar makannanya dan lanjut keluar dari kedali milik Gong ahjumma itu.

Berjalan kembali kedaerah apartermennya. Seorang diri. Melihat daerah sekitar yang masih dipenuhi oleh pejalan kaki yang baru pulang bekerja atau berkencan.

Hah. Nafas Minjung  terbuang dengan berat kali ini. Minjung tidak tau kenapa tapi Minjung merindukan sosok yang bisa membawanya ke Jerman waktu itu.

Minjung merindukan ketika seorang Park Chanyeol berkata dengan tegas didepan Cologne Cathedra. Jerman kala itu.”Kali ini aku bahkan tidak akan membiarkanmu kesepian” tutur Chanyeol kala itu. Tapi, nayatanya adalah Chanyeol meninggalkan Minjung sendiri dan kesepian. Jujur, Minjung mulai kecewa dengan apa yang Chanyeol  utarakan padanya saat berada di Jerman.

Ponsel Minjung tiba-tiba saja bordering dengan kerasnya didalam saku celana tidurnya. Minjung mengambilnya dan melihat siapa menelponnya. Minjung sedikit tersenyum dengan siapa yang menelponya kali ini.

Warna hijau pun digesarnya dengan cepat.

“Kau tidak merindukanku?” Tanya seseorang diseberang sana pada MInjung.

“Untuk apa aku merindukanmu?” balas Minjung dengan gurauan pada seberang sana.

“Cih, aku bahkan tau jika noona saat ini sedang tersenyum ketika mendapat telpon dariku?” canda seseorang yang sudah diketahui bahwa sang penelon lebih muda dari Minjung dan tentu saja itu laki-laki.

“Percaya dirimu cukup tinggi sekali bocah” jawab Minjung dengan membuka pintu apartermennya,

“Tentu saja. Jika kau tidak percaya diri bagaiamana aku bisa mengejar wanita, wekk” ucap sang penelpon dengan bangga.

“Ya, Song YunHyeong! Berhenti bergurai. Kau harus bersekolah besaok pagi” Minjung dengan lantang menyebutkan nama penelpon dengan keras saat duduk dikursi ruang tengahnya.

“Aku bosan harus bersekolah noona. Apa aku besok boleh bermain di apartermen milik noona?”

“Tidak ! aku tidak ingin kau bodoh dengan membolos bocah” pekik Minjung.

“Namaku Song YunHyeong, noona. Aishh” gusar YunHyeong pada Minjung. “Aku akan tetap datang besok. Selamat malam noona”

Sambungan tiba-tiba saja terputus dengan diakhri oleh YunHyeong. Minjung tertawa dengan nada yang rendah. Merindukan saudara jauhnya yang begitu masih memperhatikannya. Song YunHyeong adalah saudara jauh yang dimiliki oleh Minjung. BahKAN Minjung tidak tau bahwa dirinya masih memiliki saudara meski[un itu jauh. Minjung bersyukur.

Tetapi, mInjung tiba-tiba teringat sebuah nomer yang diambilnya dari ponsel milik Jaejin. Minjung mencari nama kontak itu ‘Pemilik Park Central’ sekiranya itu nama yang MInjung beri pada nomer ponsel milik Chanyeol pada ponselnya.

Dengan ragu dan sedikit takut. Minjung mengklik tombol call pada ponsel miliknya. Tapi hanya beberapa detik kemudian Minjung mematikan ponselnya dan melembar ponsel milikny jauh darinya.

Aku bahkan tidak yakin di akan mengangkat teleponku, MInjung membatin.

**

Seseorang yang Minjung hubungi bahkan saat ini hanya memandang datar ponselnya yang hanya sekejap bordering. Tidak peduli dengan siapa yang menelponnya. Dirinya hanya focus pada laptop yang berada didepan matanya.

Ini sudah malam bahkan sebentar lagi akan lewat tangah malam. Tapi, dirinya masih sibuk dengan apa yang dikerjakannya saat ini. Seolah tidak peduli dengan jarum jam yang terus berputar.

Saat merasakan lelah mentap layar bercahaya itu. Chanyeol membuka kacamata yang bertengger dihidungnya dan memijat pelipisnya pelan.

Chanyeol seoalh lupa dengan seseorang yang begitu Chanyeol sukai saat ini. Pekerjaannya membuatnya terpisah dengan seseorang yang Chanyeol sukai.chanyeol membencinya dengan sangat.

Melihat jam yang melingkar ditangan kirinya. Cukup terkejut. Ini sudah tengah malam. Chanyeol terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu didalam otaknya.

Saat sebuah ide tiba-tiba terlintas dalam otaknya Chanyeol tersenyum dan segera meninggalkan kantornya itu dengan mobil mewahnya yang Chanyeol miliki sendiri.

Mobil mewahnya bergerak dengan santai. Karena jalanan tampak sangat sepi saat ini. Saiapa yang pergi keluar dari rumah tengah malam begini.

Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat disebuah bangunan tinggi saat ini.chanyeol bahkan saat ini sudah terlalu lelah, dan langsung menuju pada tempat tujuannya. Melangkahkan kakinya menaiki tangga yang ada dibangunan tinggi itu.

Saat tepat berada didepan pintu sebuah apartermen. Chanyeol menekan bel yang berada disebelah pintu itu. Hanya empat kali Chanyeol menekan bel apartermen itu. Pemiliknya pun keluar dengan raut datar yang dimilikinya. Sepertinya pemilik dari apartermen itu belum tertidur.

Minjung terkejut dengan siapa yang menekan bel apartermennya. Bahakn sampai ingin menangis. Minjung begitu merindukan Chanyeol yang sudah ada dihadapannya kali ini.

Bahkan Chanyeol ikut terdiam saat melihat raut Minjung yang terkejut saat ini. Juga dengan baju tidur bermotif kelinci berpita itu.

Keduanya bahkan terdiam dengan waktu yang cukup lama. Saling memandang satu sama lainya. Satu bulan lamanya Chanyeol tidak menemuinya dan Chanyeol bahkan lebih focus pada pekerjaan yang menyita waktunya

Tatapan mata mereka seolah menjelaskan bahwa keduanya bahkan sangat merindukan satu sama lainya. Tapi, apa hubungan mereka sampai bisa merindukan seperti itu?

“Seharusnya kau memperbolehkanku masuk nona” akhirnya suara Chanyeol terdengar terlebih dahulu dengan lantangnya. “Kau ingin membuat gosip untuk besok?” lanjut Chanyeol dengan wajah tampannya.

Bahkan, MInjung masih terdiam dengan apa yang dilontarkan Chanyeol saat itu juga. Seolah tuli dan hanya melihat wajah tampan milik ‘pemilik’nya. Minjung mematuk dengan waktu yang cukup lama didepan pintu miliknya.

“Tak seharusnya aku membuatmu seperti ini, bukan?” tutur Chanyeol dengan nada sedikit bergetar dengan wajah yang masih melihat Minjung.

“Ya, tak seharusnya kau berbuat seperti ini padaku” jawab MInjung akhirnya walau sebenarnya ingin menangis. “Tapi aku sadar bahwa sebenarnya aku bukan orang yang berarti dihidupmu. Maafkan aku” lanjut Minjung dengan gugup.

“Kau salah. Pekerjaanku memaksaku untuk melakukan ini”

“Perbolehkan aku masuk. Sekarang”  ucapan terakhirnya penuh dengan sedikit penekanan.

Minjung menggeserkan tubuhnya dan membiarkan Chanyeol untuk masuk kedalam. Dilanjutkan oleh Minjung yang membuntut dibelakangnya. Bahkan Minjung begitu ingin melihat punggung lebih lama lagi saat ini.

“Mengapa kau belum tertidur?” Tanya Chanyeol dengan melihat sekitarnya.

“Aku belum mengantuk” jawab Minjung singkat.

Chanyeol mengedarkan matanya melihat sebuah foto dengan seorang wanita kecil yang dipangku oleh ayahnya dengan pose tersenyum dan gaya busana yang cukup cantik. Sepertinya foto itu diambil saat Minjung masih berumur 6 tahun. Masih terlihat imut dengan rambut kepang yang menjadi dua itu. Gigi taringnya bahkan terlihat akan tumbuh yang memberikan kesan manis padanya.

“Itu kedua orangtua ku.” Tutur Minjung saat tau arah penglihatan Chanyeol yang mengarah pada foto keluarnya dulu. Bahkan Minjung juga ikut memandangi foto itu saat ini.

“Dimana sosok orang tua itu saat ini?” Tanya Chanyeol penasarah dengan kedua orangtua Minjung.

“Berada disisi Tuhan” jawab Minjung dengan hembusan nafas beratnya dan wajah yang tiba-tiba berubah dengan masam.

Chanyeol pun melihat wajah Minjung dan tanpa sadar mulai teringat dengan sosok kedua orangtuanya. “Aku tidak bermaksud-“

“Tak apa. Aku sudah terbiasa dengan itu” potong Minjung dengan cepat kepada Chanyeol.

“Apa aku perlu membuatkan mu air hangat saat ini?” Tanya Minjung dengan wajah yang menatap manik Chanyeol.

“Tak usah” tolak Chanyeol halus.

“Tapi, apa kau tidak merasa lengkat dengan semua itu. Tak apa aku akan membuatkan mu air hangat” tawar Minjung dengan wajah yang cerah. Sepertinya moodnya kembali.

Saat melangkahkan kakinya, tangan Minjung dipenggam oleh Chanyeol. Tantu itu membuat Minjung seketika terdiam dan menatap heran Chanyeol.

“Kita tidur saja. Aku tidak ingin kau memiliki kantung mata.” Tutur Chanyeoldengan memandang Minjung tajam.

Mata Minjung terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Chanyeol. Kata ‘kita’ cukup membuat Minjung tercengan dengan deratan kata tersebut.

Chanyeol lantas tersenyum dengan ringan. Terkejut dengan apa yang lihatnya, ekspresi Minjung begitu lucu untuk dilihat lebih lama lagi. Minjung mungkin sudah terbiasa saat lelaki memintanya untuk tidur bersama, dengan kata lain tidak bersetubuh. Chanyeol mengerti dengan situasi ini.

“Tidak bersetubuh Kim Minjung” tutur Chanyeol selanjutnya dengan senyum renyahnya.

Minjung mengerti maksud dari ucapan Chanyeol kali ini. Tapi, Minjung masih bergitu terkejut dengan apa yang dituturkan Chanyeol. “Tapi tubuhmu? Apa itu tidak lengket?” Tanya Minjung kedua kalinya.

“Jika aku berkata tidak maka selamanya akan tidak” jawab Chanyeol dengan membawa tangan Minjung berdiri dan membawa Minjung untuk tidur sekarang juga. Meskipun, Chanyeol tidak tau pasti dimana letak kamar yang Minjung tempati saat ini

**

Saat ini begitu lampu neon yang bertebaran di Distrik Gangman dengan mewahnya. Billboard berukuran besar juga bertengger diatas gedung berukuran tinggi dengan rapinya dengan warna yang beragam. Bukankah ini menakjupkan untuk dilihat oleh mata telanjang kita. Bahkan masih dikawasan Korea Selatan tapi seperti berada dikawasan New York. Itu sungguh mengagumkan.

Begitu juga dengan Sehun dan Jaejin yang sedang menikmati keindahan malam Distrik Gangnam ini. Jalanan masih ramai oleh semua orang local dan manca Negara. Tapi keduanya tidak memperpedulikan hal itu. Keduanya sibik dengan bercanda dan melirik kesana kemari.

“Apa Chanyeol sekarang sudah memberitahu Minjung tentang Milatel Chereville Serviced Apartment miliknya itu?” Tanya Jaejin pada Sehun yang sedang asik meminum Bubble tea nya itu.

“Aku belum tau. Tapi aku yakin Chanyeol hyung pasti akan memberitahu Minjung masalah apartermen miliknya yang miliyaran harganya itu” jawab Sehun dengan mendudukkan dirinya disebuah bangku taman yang sengaja dilewatinya bersama dengan Jaejin tersebut.

Bahkan saat ini mereka berdua,- Sehun dan Jaejin-, belum tau pasti bahwa Chanyeol sudah memberitahukan semuanya pada Minjung. Tapi sayangnya Minjung tidak memberitahukan kebenaran pada Jaejin sahabatnya itu. Mungkin saja, Minjung tidak ingin Jaejin mengetahuinya.

Hanya saja Chanyeol memberitahu bahwa dirinya adalah Direktur perusahaan Park Central. Tidak untuk apartermen terkenal itu !

Milatel Chereville Serviced Apartment menurutku cukup terkenal dikalangan semua orang. Tapi kenapa sahabatmu itu tidak mengetahui pemilik dari apartermen itu?” bingung Sehun pada calon tunangannya.

Benar juga semua perkataan Sehun. Bagaimana bisa Minjung tidak tau siapa memilik dari apartermen tersebut. Apa iya Minjung acuh tah acuh pada semua informasi terhadap Negara nya. Termasuk dibidang wisata yang dikenal oleh para turis? Tidak masuk akal.

“Aku tidak tau pasti. Aku bahkan tidak berfikir tentang apa yang Minjung pikirkan” jawab Jaejin pada Sehun santai dengan memakan ice cream vanilla yang ada ditangannya.

Sehun mengerti. Tidak selamanya sesama sahabat saling bertukar pikiran dan memberitahukan masalah pribadi mereka sesama sahabat. “Berapa lama kau bersahabat dengan Minjung?” Tanya Sehun penasaran.

Jaejin menghentikan memakan ice cream yang ada ditangannya. Menatap Sehun hanya sebenrat saja. Lalu berbicara. “Saat itu aku berumur 13 aku sedang berjalan disekitar Gangnam dengan mantel tebalku tanpa membawa sepeserpun uang. Jika kau tau aku adalah anak sekolah yang sangat boros tentang uang saku” kekeh Jaejin dengan mengaku pada Sehun yang sudah menahan tawanya. “Minjung datang dengan wajah cantiknya itu tapi juga lesu. Dia menabraku dengan tidak sengaja dan membungkuk dengan sangat ramah. Minjung berkata jika aku adalah orang kaya dan tidak ingin berurusan dengan orang kaya sepertiku” saat itu Minjung tau jika seseorang yang ditabraknya dalah orang kayak arena bren yang tas Jaejin gunakan begitu terkenal diseluruh dunia.

“Lalu apa yang Minjung lakukan saat tau jika orang kaya tersebut tidak membawa uang sepeserpun saat itu?” Tanya Sehun dengan tidak sabaran.

“Aku berkata yang sebenarnya dengan meminta maaf. Tapi Minjung malah tertawa padaku. Setelah itu, Minjung memperkenalkan namanya dengan uluran tangan yang hangat. Aku terkejut saat marga kami sama-sama Kim. Minjung akhirnya mengajak ku untuk makan ramen dan akhirnya MInjung mengantarku pulang kealamat rumahku sampai deapn rumahku. Saat dijalan. Minjung berkata jika dirinya tinggal di daerah Gangnam dalam. Dirinya tinggal dipanti asuhan yang sangat cantik dirinya juga berhenti sekolah saat lulus dari sekolah dasarnya.” Jaejin menjeda perkataan saat suara Sehun terdengar.

“Apa kau pernah dipanti asuhan itu?”

“Tentu pernah. Sejak itulah aku banyak keluar bersama dengan Minjung dan berjalan-jalan saat jam sekolah. Jika seperti itu aku lupa akan segalanya. Minjung begitu membawa perubahan yang sangat pesat bagiku. Minjung mengajakku mengenalkan segalanya. Aku sungguh menyukai hal itu. Tapi ada sedikit kekecewaan saat Minjung berkata jika dirinya bekerja disebuah club malam didaerah Gangnam.” Wajah Jaejin jadi berubah setelahnya dengan cepat. “Aku ingin melarangnya. Tapi Minjung tidak mempunyai pilihan lain selain menerima pekerjaan itu. Aku sebenarnya ingin memberikannya tempat kosong diperusahaan ayah ku. Tapi tidak ada tempat yang kosong. Aku pun dengan terpaksa memperbolehkan MInjung bekerja disana dan menjadi jalang. Aku bahkan ingin menghajar seseorang yang berkata jika sahabatku adalah seorang jalang” Jaejin menangis tanpa terisak. Air matanya tidak bisa berbohong bahwa dirinya tidak ingin melihat MInjung menjadi seseorang seperti itu.

Wajah Jaejin tiba-tiba terangkat dengan keinginannya sendiri. Menatap wajah Sehun yang terlihat serius mendengar apa yang dikatakan oleh Jaejin. Sebuah sautan tiba-tiba terdengar oleh Sehun. “Aku ingin melihat Minjung bahagia” tuturnya dengan wajah penuh air mata.

“Aku bukan Tuhan, sayang” jawab Sehun dengan tatapan penuh pada Jaejin nya itu.

Jaejin menunduk mengerti maksud Sehun pada dirinya. Kemudian mulutnya berucap apa yang sudah Sehun jawab. “Aku mohon beri tahu Chanyeol untuk berbahagia bersama dengan Minjung. Hanya itu harapanku satu-satunya” pinta Jaejin dengan wajah polos juga cantiknya pada Sehun.

Tangan Sehun terulur dengan sendirinya. Merengkuh tubuh Jaejin yang seakan rapuh. Sehun tau bahwa Jaejin sangat menyayangi satu sahabatnya itu. Sehun bahkan mengusap punggung Jaejin dengan penuh kasih sayang. “Kau bisa percaya padaku kali ini” ujar Sehun dengan sangat tenangnya.

Jaejin mengangguk kepalanya yang berada tepat pada dada bidng milik calon tunangannya itu.

Sebuah bangunan tinggi nan menjulang begitu sangat terlihat dengan sangat jelas. Bahkan setiap mata selalu tertuju pada bangunan berwarna latar biru langit itu. Memilik ruang kamar 125 unit itu cukup terkenal dikalangan semua orang berdompet tebal. Siapa yang tidak kenal degan sebuah apartermen yang terkenal diseluruh Distrik Gangnam itu. Milatel Chereville Serviced Apartment. Lokasi yang dekat dengan COEX Mall juga dengan pusat hiburan terkenal Lotte Wordl.

Kaki janjang tampak menapak dengan tegasnya disebuah lantai marmer yang dingin. Sepatu fantofel juga dengan texudo hitam gelapnya. Sangat pas jika dipadukan dengan warna kulitnya yang putih bersih itu. Tatapn hormat juga didapatkannya dari semua pegawainya. Tidakkah itu terlalu sopan? Bahkan sajangnim mereka tidak menghiraukannya sama sekali. Sungguh keterlaluan.

“Bisakah saya tau mengapa Anda datang sangat pagi, sajangnim?” Tanya salah satu karyawan yang cukup Chanyeol percayai dalam mengurus apartermannya ini.

“Aku ingin kau menyiapkan satu kamar dengan fasilitas lengkap yang dimiliki oleh Milatel Chereville Serviced Apartment. Jadi jangan kecewakan aku” jawab Chanyeol dengan wajah datar nan tegas yang dimilikinya.

“Ini tidak seperti tuan Park Chanyeol yang aku kenal? Untuk siapa jika saya boleh tau?”

“Apa jika aku memberitahumu kau akan langsung mengenalinya?”

Karyawan itu tertawa dengan renyahnya. Dia tau bahwa tuan nya sangat tegas jika berucap. Karyawan itu juga sudah kenal dengan karakter yang tertanap pada menilik Milatel Chereville Serviced Apartment itu. “Saya tidak akan membuat Anda kecewa sajangnim” jawab karyawan itu dengan senyum manisnya.

**

Seorang wanita baru saja terbangun dari tidur malamnya. Begitu nyenyak sampai wanita itu tidak tau bahwa pagi sudah tiba dengan cerahnya. Minjung tidak sadar jika pagi sudah datang. Dirinya terfokus pada tidurnya. Bahkan saat ini Minjung masih terlihat ingin tertidur kembali. Tidak ada inisiatif untuk bangun dan membereskan rumah atau membenahi apartermen kecilnya itu.

Dengan sangat berat akhirnya Minjung terbangun dengan mejibak selimut yang berada tepat diatas badannya. Tapi, tunggu ? Minjung jarang memakai selimut saat musim semi telah tiba. Mengapa kali ini Minjung memaki selimut itu sampai pagi itu tiba?.

Minjung ingat jika kemarin malam (?) dirinya tidak sendiri berada dalam apartermen kecilnya. Minjung menduduki tubuhnya dan mengusap wajahnya malas. Memikirkan sebuah sesuatu yang hilang dipikirannya. Sekilas melirik kanan-kiri kamar tidurnya itu. Tidak ada sebuah kode untuk mengingat semalam.

Pikirannya buyar saat sebuah pintu kamarnya terbuka dengan lebar dan menampakkan wajah seorang pria tampan juga tegasnya dengan melirik Minjung dengan senyum transparannya. “Kau tidak ingin membersihkan dirimu dan mulai sarapan?” tuturnya dengan nada yang rendah pada Minjung.

Ahh, sekarang Minjung ingat dengan semuanya. Pria itu menginap di dalam kamar Minjung semalam ini. Tapai, Minjung tidak sadar jika Park Chanyeol sudah bangun terlebih dahulu dari dirinya.

Minjung tertawa dengan sendirinya. Membuat Chanyeol di depannya terlihat bingung dan berkata. “Mengapa kau tertawa?” Tanyanya bingung.

“Aku pikir semalam adalah mimpi” ucap Minjung dengan nada rendahnya dan tatapan tepat kebawah tak lupa wajah datar.

“Kau tidak bermimpi saat ini”

Mata Minjung terbelak kala mendengar apa yang Chanyeol jawab. Jadi dia mendengar apa yang aku katakan, ucap Minjung dalam hatinya dengan melihat wajah Chanyeol yang sedang menertawakan dirinya.

“Cepat mandi. Aku ingin memperkenalkan mu kepada sesuatu” tutur Chanyeol dan meninggalkan Minjung yang masih saja tercenganng.

Tapi, mengapa Chanyeol menggunakan texudo pagi ini?

**

Kali ini mulut Minjung tidak bisa tertutup dengan rapat kala melihat sebuah bangunan menjulang dengan tingginya. Bahkan hanya untuk menelan ludah Minjung tidak bisa. Dirinya tercengan juga mata yang berkedip cepat, dengan bangunan yang ada dihadapannya saat ini.

Bngunan dengan 120 unit itu cukup membuatnya tercengan. Tapi ini tidak berlebihan, bukan?. “Untuk apa kau membawa ku kemari?” Tanya Minjung masih dengan mata yang menatap bangunan tinggi itu dengan sangat takjup.

Milatel Chereville Serviced Apartment. Apa benar ini Milatel Chereville Serviced Apartment yang ada ditelevisi itu?” Tanya Minjung dengan bergantian menatap Chanyeol dan bangunan tinggi itu.

Chanyeol mengangguk meng’iya’kan apa yang Minjung ucapkan padanya. “Kau ingin berdiri dan hanya menatap bangunan ini sepanjang hari?” Tanya Chanyeol akhirnya.

Minjung menggeleng dengan cepat. “Aku dari dulu ingin menatap bangunan ini dengan sedekat ini. Tapi aku tidak mampu jika harus memiliki Milatel Chereville Serviced Apartment.”

“Jika kau ikut dengan ku. Aku yakin kau pasti memiliki satu dari 120 unit kamar yang ada di dalam. Bagaimana?”

“Kau bercanda? Harga dari per-unit saja cukup mahal. Bagaimana bisa pemilik dari Milatel Chereville Serviced Apartment memasang harga dengan sangat tinggi. Cih, aku kecewa” acuh Minjung kala itu.

Mengundang Chanyeol untuk tertawa dengan renyah dan membalas apa yang dikatakan oleh Minjung itu. “Tarif mahal harus sebanding dengan apa yang telah Milatel Chereville Serviced Apartment ini berikan” jawabnya sedikit penuh dengan tekanan di dalamnya.

“Tapi itu begitu mahal untuk sebuah apartermen. Aku bahkan tau jika kau orang kaya dan bisa memiliki apartermen ini dengan mudah”

“Tidak perlu membantah dan ikut dengan ku sekarang!”

Chanyeol mulai melangkah kan kakinya meninggalkan Minjung yang masih tercengan mencerna ucapan dari Chanyeol itu. Tanpa sadar dan rasa takutnya Minjung melangkah kan kainya memasuki bangunan itu. Mulutnya dan masih membuka dengan melihat sekitarnya yang begitu mewah. Mempercepat langkahnya menuju pada Chanyeol yang sudah berada di depan jauh darinya.

Tampa sadar pun Chanyeol berhenti dan Minjung juga ikut berhenti saat itu juga. Minjung berada tepat dibelakang Chanyeol saat ini.

“Anda datang lagi sajang-“ tuturan itu tiba-tiba terputus kala tangan Chanyeol mengisyaratkan karyawannya itu untuk diam dan melihat kebelakang tubuhnya. Sekan berkata ‘diam ada seorang wanita dibelakangku’.

Membuat karyawan kepercayaan Chanyeol terdiam dan mengerti situasi ini. “Selamat pagi tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tutur karyawan itu dengan sangat sopan. Seolah Chanyeol adalah penunggu baru di Milatel Chereville Serviced Apartment itu.

**

Tuan Park tampak sedang menikmati makanan yang telah dihidangkan dihadapannya saat ini. Begitu banyak pilihan makanan yang saji di depannya. Juga tak lupa kopi hitam panas yang ada di sebelah kanan dan Koran yang berada disebelah tangnnya.

“Apa kau tidak ingin memakan sarapanmu suami ku?” Tanya nyonya Park akhirnya pada suaminya saat sudah berada di tempat duduknya.

“Dimana Chanyeol? Mengapa aku tidak melihatnya malam kemarin?” bukannya menjawab tuan Park malah berbalik Tanya pada istri ke-duanya itu.

Membuat nyonya Park tidak tau harus menjawab apa. Pasalnya nyonya Park juga tidak menau tentang dimana keberadaan Chanyeol hari kemarin. “Aku juga tidak tau suami ku. Tapi, aku yakin dia menginap di kantornya. Bukankah saat ini dia sedang mengerjakan proyek baru. Tentunya dirinya harus bekerja keras” jawab nyonya Park asal pada suaminya.]

“Aku bahkan tau jika dia sedang mengerjakan proyek besar. Tapi dirinya tidak sampai tidak pulang ke rumah”

Nyonya Park terdiam dikursinya. Perkataan yang terlontar dari mulut ayah dari Chanyeol itu benar. Jam berapa pun itu Chanyeol pulang bahkan dengan wajah kusamnya. Tidak peduli itu.

“Apa yang dikatan ibu benar. Chanyeol hyung beristirahat di kantor kemarin malam. Jadi tidak perlu khawatir” sambung Sehun saat turun dari tangga menjuj kearah meja makan keluarganya. Sehun mendengarnya dari awal. Bagaimana tuan Park khawatir pada anak kandungnya.

“Apa kau yakin?”

“Chanyeol hyung yang memberitahuku saat tengah malam. Jadi boleh sekarang aku mulai sarapanku?”

Nyonya Park tersenyum kala Sehun menyudahi kekhawatiran yang dibuat oleh tuan Park. Nyonya Park tau bahwa Sehun sedang berbohong pada sarapan kali ini. Tapi nyonya Park tau jika Sehun berbohong untuk menyudahi percakapan tentang Chanyeol, anak tirinya.

“Kau tidak berbohong dengan semua ini?” pekik Minjung kala sudah berada dalam salah satu ruangan apartermen Milatel Chereville Serviced Apartment.  

Hati Minjung bahkan saat ini sangat senang dan tidak dapat tertukar dengan apa pun. Bahkan jika diberi Lamborghini dengan harga fantastic itu. Minjung tidak akan rela jika ditukarkan. Demi apa pun.

“Dulunya kau hanya bisa melihat dari layar tv. Tapi aku sekarang bahkan bisa menyentuh kasur embuk yang dimiliki disini”ujar Minjung sangat senang pada Chanyeol yang sedang menatap dengan tatapan senang bercanbur bahagia. Bibirnya bahkan terangkat walaupun itu sedikit.

“Jika kau tau sering melihatnya dari televisi. Mengapa kau tidak tau siapa pemilik dari Milatel Chereville Serviced Apartment?.”

“Itu tidak penting. Yang aku tau kau adalah pemilik dari perusahaan terkenal Park Central

“Baguslah. Jika kau membutuhkan sesuatu tinggal kau bilang pada Lee ahjumma yang akan mengurusmu ketika aku sibuk bekerja. Kau paham?”

“Kau bahkan menyewakan pelayan untuk ku. Sebenarnya seberapa kayanya diri mu?” Tanya Minjung hati-hati dengan nada yang sangat rendah pada Chanyeol.

“Tidak perlu tau. Yang aku tau kau adalah milik ku saat ini” jawab Chanyeol seidkit membisik dihadapan Minjung. Setelahnya kaki Chanyeol pergi meninggalkan Minjung yang masih mendengus sebal padanya. Membuat sudut bibirnya terangkat dengan sendirinya.

Saat sampai pada hadapan Lee ahjumma, Chanyeol memberhentikan kakinya dan berbisik. “Jaga dia dan biarkan dia mengetahui siapa pemilik sebenarnya dari Milatel Chereville Serviced Apartment ini.” Setelah bertutur seperti itu kaki Chanyeol meninggalkan Lee ahjuma dan Minjung.

.

.

.

TBC

NOTE : HARGAI APA YANG AKU TULIS DONG. JANGAN CUMA JADI SIDER. SAKIT HATI LO AKU NYA.
CHAPTER LIMA AKU PROJEK DAN ITU SUDAH TERTERA DALAM CHAPTER EMPAT. JIKA MASIH TIDAK TAU HUBUNGI AKU YA. AKU CUMA MAU TAU MEMBACA SETIA KU KOK. 
DOA KAN JUGA BIAR NILAU UJIAN AKHIR SEMESTERKU TINGGI DAN MEMUASKAN ^^
Advertisements

7 thoughts on “Confession [Milatel Chereville Serviced Apartment] Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s