Love Actually

a story presented by qL^^

starring Park Chanyeol EXO, You (OC)

lenght ficlet

genre slice of life

rating PG 12 – young adult

in which the reality hits you hard….

Love Actually

“Enak ya, musim dingin begini pasti hangat,” komentar Park Chanyeol penuh rasa iri.

Aku tertawa kecil. “Tentu saja,” jawabku.

Minggu terakhir di bulan November, hawa musim dingin semakin terasa. Angin yang bertiup membuat orang-orang mengigil dan berpakaian lebih tebal, melindung diri mereka dengan berpakaian tertutup dan rapat. Sepatu bot, kaus kaki, celana panjang, kaos lengan panjang, jaket berlapis, coat, syal, sarung tangan, topi dan bahkan penutup telinga. Tentu saja, semuanya masih dalam etika mode. Meskipun ketika suhu semakin menurun, orang-orang yang berlalu lalang tak seramai biasanya. Tapi Park Chanyeol dan aku bukan dua orang yang biasanya.

Kami putus asa, dikejar-kejar waktu untuk mengumpulkan tugas bersama. Aku si mahasiswa pertukaran pelajar yang mati-matian menyesuaikan diri dan Park Chanyeol si artis terkenal yang mati-matian menyesuaikan jadwal selebritis dengan jadwal kuliah. Aku tidak tahu harus bersyukur atau menangis tak terima ketika Professor Han mengambil namaku dalam undian sebagai pasangan tugas Chanyeol.

Ekspresi Chanyeol ketika pertama kali melihatku sungguh lucu. Ia terkejut dan mengerjap-ngerjap, seolah ingin berkata sesuatu namun takut menyinggungku, jadi ia hanya diam sambil mengangguk-angguk. Syukurlah ternyata kendala komunikasi itu hanya terjadi saat pertama kali bertemu. Bahasa Koreaku cukup bagus, jadi semuanya lancar. Kalau tidak kami terpaksa berkomunikasi dengan bahasa tubuh seperti alien. Chanyeol bicara tanpa henti, melucu yang terkadang garing bagiku tapi setidaknya aku tahu bagaimana julukan happy virus itu tercipta.

Tugas Professor Han sebenarnya sudah hampir rampung. Mata kuliah mereka adalah mata kuliah lintas jurusan, itulah sebabnya Chanyeol yang berasal dari jurusan musik bisa bertemu denganku secara acak yang datang dari jurusan jurnalistik. Chanyeol dan aku membuat materi promosi kebudayaan untuk dipresentasikan minggu depan. Riset dikerjakan bersama-sama dan berdebat mengenai bentuk presentasinya. Akhirnya, Chanyeol dan aku sepakat membuatnya dalam bentuk video dan Chanyeol mengaransemen seluruh musiknya sendiri.

Itulah sebabnya kukatakan kami putus asa. Karena di awal musim dingin seperti ini, Chanyeol dan aku harus merekam bagian-bagian kota yang belum termasuk dalam materi promosi.

Chanyeol dan aku duduk di bangku taman dekat patung Jenderal Lee Soon Shin. Tak ada yang mengenali Chanyeol di sini. Ia sering bergurau bahwa orang-orang tidak akan mengenali Chanyeol bila ia sedang pergi bersamaku. Banyak anak kecil yang berlarian di antara air mancur taman. Meskipun mengigil kedinginan, mereka masih bisa terkikik geli dan tertawa senang. Aku tidak bisa menahan diri untuk mengabadikan pipi bulat dan mata sipit yang polos itu dengan kameraku.

“Ini,” Chanyeol menyerahkan sekaleng minuman yang tidak familiar padaku.

Alisku terangkat, bertanya.

Chanyeol mendengus. “Sudah kuperiksa, ada label halalnya,” tambahnya.

Senyumku merekah, menyambut kaleng minuman itu dan mengucapkan terima kasih. Dua bulan saling mengenal dan terlibat dalam tugas bersama, Chanyeol terpaksa belajar banyak hal yang selama ini tak pernah dipikirkannya.

Makanan halal, kewajiban solat, hijab dan … keimanan.

“Kurasa hari ini sudah cukup,” kataku sambil membuang kaleng yang sudah kosong. Musim dingin membuat minum hangat cepat habis. “Manajermu bilang kita cuma boleh pergi sampai jam lima.”

“Masih setengah jam lagi sebelum jam lima saat aku harus pergi dan kau harus solat,” Chanyeol menjawab bahkan tanpa melirik jam tangannya. Aku menahan tawa mendengarnya yang masih kepayahan mengucapkan kata solat. “Biarkan aku pura-pura jadi orang biasa sebentar,” tambahnya.

Aku mencibir, kemudian mengemas peralatan merekam ke dalam tas

Hari ini Chanyeol lebih pendiam daripada biasanya. Buktinya saat ada anak kecil yang terpeleset di dekat air mancur, ia tidak tertawa terbahak-bahak dan melucu seperti biasanya. Melainkan memandang hampa ke arah yang tak jelas. Aku ingin bertanya, namun tidak ingin memancing kegalauannya. Tapi rupa-rupanya memang itu tidak perlu, karena Chanyeol tiba-tiba bertanya.

“Kau yakin tidak ingin memberiku jawaban yang berbeda?”

Sebenarnya aku paham kemana arah pembicaraan ini, namun Chanyeol dan aku sudah membicarakan ini berulang-ulang. Jawabannya akan tetap sama, walaupun Chanyeol bersikeras terus mengulangnya.

“Yeol-ah, masalahnya bukan pada jawaban yang kuberikan. Itu mutlak,” jawabku putus asa.

Putus asa?

Ya, tapi dalam konteks yang berbeda dengan putus asa terhadap tugas Professor Han.

“Tapi aku benar-benar menyukaimu!”

Kalimat itu lagi.

Chanyeol tidak tahu seberapa besar aku ingin membalas perkataannya dengan kalimat yang sama. Ia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Aku tidak akan memberitahunya tentang perasaanku. Aku tidak ingin membesarkan harapannya dengan kalimat yang sama. Karena tidak akan pernah ada ‘kami’ untuk hubungan ini.

“Itu cuma cinta monyet, Chanyeol-ah,” balasku dingin. “Sudah kubilang, dalam waktu beberapa minggu setelah tugas kita selasai dan kita tidak bertemu lagi, kau juga akan lupa padaku. Kau akan sibuk syuting film bersama Tante siapa pun itu atau bahkan ciuman dengannya. Kau akan lupa pernah menyukaiku,” aku mengakhiri argumen itu sambil berjalan menuju persimpangan dimana manajer Chanyeol biasanya akan menjemputnya.

Chanyeol berjalan di sebelahku dengan santai sambil menenteng Mathilda, kotak berisi gitar kesayangannya. Ia jangkung sekali, apa lagi dibandingkan dengan gadis Asia mungil sepertiku. Kacamata menutupi sebagian wajahnya, begitu pula syal.

“Kau menyebut perasaanku sebagai cinta monyet sebanyak 108 kali,” dengusnya kesal. “Lagipula aku juga sudah bilang kalau ciuman itu karena tuntutan pekerjaan, Nona! Dan setiap kali kau membawa-bawa alasan itu, aku selalu mendengar nada cemburu saat kau bicara.”

Ha, mungkin aku memang tidak bisa menyembunyikan perasaanku sebaik itu, tapi aku pura-pura tidak peduli dan terus berjalan.

“Hei,” Chanyeol menarik lenganku untuk menarik perhatianku.

Tapi refleksku bereaksi berlawanan. Aku menepis tangannya.

Chanyeol menatapku terkejut dan aku juga balas menatapnya sama terkejutnya. Ini pertama kalinya ia mencoba menyentuhku setelah kami saling mengenal selama dua bulan ini. Tidak pernah ada kondisi yang menyebabkan kami berkontak fisik. Dan meskipun sentuhannya tadi itu tidak benar-benar fisik karena terhalangan sarung tangan wol dan lengan coat-ku yang tebal, tetap saja itu mengejutkanku.

“Maaf,” bisik Chanyeol, menatap telapak tangannya dengan perasaan bersalah.

Suasana mendadak menjadi canggung. Syukurlah van manajer Chanyeol yang muncul di persimpangan menjadi penyelamat situasi.

“Manajermu sudah menunggu,” aku berkata pelan, mengedikkan kepala ke arah jalan.

Chanyeol hanya mengangguk. Ia mendekati van manajernya, berhenti sebentar seolah ingin mengatakan sesuatu namun akhirnya berjalan lagi, sementara aku naik bus di halte. Aku tahu van itu masih berhenti di dekat halte bus bahkan setelah busku berjalan. Kuhembuskan nafas pelan membuat kaca bis berembun.

Tidak akan pernah ada ‘kami.’

A.

Huruf itu tercetak dalam lembar nilaiku, prestasi yang tidak bisa kudapatkan tanpa bantuan Chanyeol.

Chanyeol tidak pernah masuk kelas lagi setelah presentasi promosi kebudayaan yang sukses besar. Gosip yang beredar mengatakan ia terpaksa pindah ke kelas maya karena kesebiukannya proosi film dan album, artinya prospek kami bertemu benar-benar kecil. Meskipun demikian aku masih mencari-carinya dalam hati, masih berharap ia akan muncul di kelas terakhir Professor Han hari ini. Ia seperti menghilang dari hadapanku dan aku juga tidak mencoba menghubunginya.

Sambil menempelkan ponsel ke telinga, aku menekan tombol lift menuju lantai asrama. Mama menghubungiku, memastikan aku pulang saat liburan akhir tahun.

“Iya, Ma,” kataku di telepon. “Aku pasti pulang. ‘Kan aku sudah bayar tiket.”

“Iya, Tante Sarah udah nggak sabar mau mengenalkan kamu sama Dio,” Mama menjawab dengan bersemangat.

Aku meringis. Ini bukan pertama kali Mama menyebut Dio, anak Tante Sarah yang katanya akan dikenalkan denganku. Meskipun aku tahu maksud kedua ibu itu pasti lebih dari sekedar perkenalan biasa.

“Kamu sudah nggak berhubungan lagi sama si Chan-Chan… siapa itu kan?” tanya Mama curiga.

Mama memang tahu tentang Chanyeol karena aku sempat menceritakan mengenai tugas yang harus kami lakukan bersama. Tapi aku tidak menceritakan detil tentang hubungan kami, apalagi tentang pernyataan Chanyeol. Tekanan darah Mama bisa-bisa naik.

“Enggak, Ma. Tugasnya sudah selesai,” jawabku singkat sambil menelusuri lorong menuju kamarku, sesekali mengangguk pada sesama mahasiswa pertukaran lain yang berpapasan.

Mama terdengar puas sekali saat mendengarnya. “Nah, bagus itu. Mama nggak suka sama artis-artis Korea. Lebih baik kamu dekat dengan anak baik-baik seperti Dio. Yang nggak neko-neko,” tambahnya menasehati.

Chanyeol baik kok, belaku dalam hati, tapi akhirnya aku hanya mengiyakan saja ucapan Mama.

Ada sesuatu yang menarik perhatianku saat berjalan mendekati pintu. Sebuah paket terletak tepat di depan pintu kamarku. Seseorang pasti meletakkannya di sini setelah diantarkan petugas. Kotak dibungkus kertas coklat. Alamat pengirimnya tidak kukenal, tapi aku mengenal nama pengirimnya. Manajer Chanyeol.

Darahku berdesir saat aku membungkuk dan mengambil paket itu.

“Ma, sudah dulu ya. Nanti aku telepon lagi,” kataku.

Setelah mengucapkan salam dan mematikan telepon, aku membuka paket itu. Isinya album baru Chanyeol bersama teman sebandnya dan sekeping DVD. Buru-buru kuputarkan DVD itu dan menontonnya di laptop.

Aku tercengang.

Chanyeol telah mengambil gambarku secara diam-diam saat kami merekam bagian-bagian kota untuk materi promosi. Beberapa potongan gambar itu kusadari, namun aku tidak pernah tahu bahwa ia akan menggunakannya untuk membuat video yang sama sekali berbeda. Dan musik yang melatarbelakanginya….

Suara itu. Petikan gitar itu. Hanya milik Chanyeol.

“Hai,” Chanyeol menyapa di akhir video. Ada Mathilda di pangkuannya. Ia terlihat rapi sekali dengan jas dan dasi. “Aku tahu kau akan tertawa melihatku seperti ini,” ia menggesturkan pada pakaiannya. “Tapi aku ingin terlihat spesial saat ini,” tambahnya.

Aku tertawa kecil. Chanyeol mengingatnya, ia ingat aku sangat suka pria berpakaian rapi.

Chanyeol menghela nafas. “Pada akhirnya, aku tidak tahu hubungan kita apa. Aku menyukaimu, tapi aku sama sekali tidak tahu apakah kau menyukaiku atau tidak.”

Aku menyukaimu, Yeol. Sangat suka.

“Aku ingin menyerah, tapi perasaanku sangat sulit kuubah. Aku tidak bermaksud apa-apa tentang video ini. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mengingatmu seperti itu. Berbeda, namun selalu menarik perhatianku.”

Iya, kita memang berbeda.

“Seperti buku yang pernah kaubacakan padaku, untuk saling menyukai tidak harus saling memiliki. Mungkin aku akan terus menyukaimu dalam diam. Mungkin suatu saat, rasa sukaku akan didengar Tuhan dan ia berbaik hati membiarkan kita bertemu lagi. Sampai saat itu, sampai jumpa lagi, Rania….”

Chanyeol selalu mengucapkan namaku dengan berbeda. La-ni-ya. Tapi aku sangat menyukai cara pengucapannya. Dan ia berhasil membuatku terharu.

Ia melambaikan tangan ke arah kamera sambil tersenyum lebar seperti biasa, meksi aku bisa melihat matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tahu video ini adalah pertemuan terakhir kami. Tidak ada perpisahan yang menyenangkan, tapi aku yakin Dia menyimpan banyak hal indah di balik perpisahan ini.

Chanyeol dan aku.

Kami belajar banyak hal.

Tuhan Memang Satu, Kita yang Tak Sama………..

(Marcell – Peri Cintaku)

.

-selesai-

©2015 qL^^

an. pardon me if this fict is so alay T.T

actually it was inspired by Narin aka whitewind who bravely chose to end her love for Josh

aaaand a review will never hurt, won’t it?

El Dorado’s Chapter II will be posted ASAP

Advertisements

23 thoughts on “Love Actually

  1. Wait… what? WHAT DID YOU SAY?
    I NEVER ENDED MY LOVE TO JOSHUA HONG AS YOU SAID! *english ancor*
    Aku cuma mengakhiri hubungan Ly sama Joshua betewe lol

    Betewe aku nyesek bacanya oi… cinta yang berbeda keyakinan… aahh… sedih… *nangis*

    Nice fic Qi!
    Keep write dear ❤

    1. ups!

      salah yaa, loh kirain pas aku kepo kemarin itu bukan cuma Ly yang nyerah tapi Narin jugaa wkwkwkwk. my bad then, sorry 😦

      itulah nasib kalau cinta sama bias hiiks. untunglah ternyata tidak sealay ituu wkwkwk :p
      makasih udah baca Narin dear. Luuuuv ❤ ❤ ❤

  2. jadi, chanyeol sama rania beda agama? terus itu orang tuanya rani juga ngga setuju kalo rania sama chanyeol soalnya mama nya ngga suka sama artis korea, malah nyuruh rania jauhin gitu. padahal mereka saling suka 😦
    bagus thor ceritanya. keep writing!

    1. iyaa memaaang sengaja
      aku punya temen luar negeri di Prancis, temen postcrossing tapi udah lama ga kirim kartu pos lagi 😦
      yees, thank you gecee )

  3. Ampuuuunnnn suka bangeeettt tapi syeeediiiiihhhhh T.T Nggak bisa bersatu karena perbedaan yang bukan main2.Aduuuhhh nyesek ini gimana ini aku pengen mereka bersatu. Tidak bisa kah mereka disatukan walau hanya dalam sebuah kisah fanfiction? :””( ya ampuunn ChaNia~ T.T

    Suka gaya nulis kamu qL-ssi… sering2 ya posting ff Chanyeol di sini :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s