Comeback to me [Chapter 9] FINAL

Featured image

Tittle : comeback to me

Author : Erlina Park (@erlinabatari)

Length : Chapter

Main cast  : Park Chanyeol (EXO) || Kim Minjung (OC)

Add cast : Kim JoonMyeon (EXO) || Byun Baekhyun (EXO) || Oh Sehun aka Kim Sehun (EXO) || Park Chorong (A-pink) || Byun Mari (OC)

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Married-life, Family

Rating : PG 15+

Disclaimer : EXO milik orang tua nya, saya hanya meminjam Nama nya saja. Kim Minjung itu juga bukan punya saya, saya hanya memakainya dalam ff yang saya buat. Maaf jika ada kesamaan tokoh yang saya buat. Maaf juga banyak typo yang saya tebar.

Minjung POV

Kalian masih ingat siapa aku? Aku Kim..ah tidak marga ku sudah berganti sejak beberapa bulan yang lalu lebih tepatnya Park. Aku sudah menikah dengan seorang lelaki yang bermarga Park. Lelaki itu tampan juga sangat menyayangiku dengan tulus. Aku sudah memiliki seorang putra tampan mirip dengan ayahnya yang tak kalah tampan. Kalian sudah tau kan? Ya dia Park Yun. Lelaki pertama yang aku cintai. Anakku sudah berumur 4 tahun. Tidak terasa aku sudah meninggalkannya selama itu. Baiklah kalian boleh panggil akh ibu yang jahat melupakan darah dagingnya sendiri. Tapi sungguh aku melupakan bahwa aku ini memiliki seorang anak dari hubungan, gelapku, dengan Chanyeol.

Saat ini kami bertiga sedang duduk disalah satu bangku yang ada dipinggiran sungai Han yang indah. Kebetulan saat ini sunset akan segera hadir. Pemandangan yang indah bukan.

“Eomma. Mengapa matahari itu lama thekali yang turun” ucap Yun dengan tidak sabaran.

“Tunggulah. Kau tidak boleh terlalu gegabah. Kau pasti akan tercengang melihat sunset dari arah barat itu” Chanyeol menjawab dengan sangat pelan dan membelai surai milik Yun.

“Apa itu lebih indah dari wajah eomma?” tanya Yun polos pada Chanyeol, lagi.

Tak langsung menjawab. Chanyeol menoleh pada ku yang juga sedang menatap Chanyeol dengan bingung.

“Yun-ah. Setiap ciptaan Tuhan pasti sangat indah. Tidak ada yang jelek ketika Tuhan telah menciptakan sesuatu” jawab ku dengan memberikan ilmu baru pada anakku itu.

“Hmm, themua ciptaan Tuhan pathti thangat indah ya eomma. Tapi mengapa paman Kwang thoo yang bermain dalam running man itu thangat jelek dan menjulang theperti Appa?”

Aku ingin ketawa dengan keras sangat ini. Melihat langsung pada Chanyeol yang sudah gusar mendengar penjelasan yang Yun lontarkan.

“Apa kau tidak ingin tumbuh dengan tinggi seperti Appa-mu?”

“Aku ingin tubuh tinggi tapi tidak theperti Appa, eomma”

“Wah..sunsetnya sudah mulai muncul lihat itu” Chanyeol oppa berusaha mengalihkan pembicaraan dengan sangat cepat. Tapi penuturannya itu benar. Saat ini sunset sudah terlihat dari arah barat.

Bersinar dengan berkilau karena air yang membantunya. Indah. Itu cocok untuk menggambarkan kondisi alam saat ini. Untung saja  hujan tidak turun disore hari ini. Sungguh Tuhan sangat perpihak padanya.

Author POV

Pagi hari datang lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari yang sudah masuk dalam kamar mereka, Minjung dan Chanyeol. Membuat keduanya mengerjamkan matanya bersamaan. Menetralkan cahaya matahati yang masuk dalam matanya. Sialau. Mungkin itu yang mereka pikirkan kala membuka matanya.

Minjung lantas langsung menduduki dirinya dan merenggangkan tubuhnya dalam posisi duduknya. Melirik sedikit pada Chanyeol yang sudah membuka matanya tapi tetap pada posisi tidur. Minjung menghela nafas pelan. Menyentuh tangan Chanyeol.

“Bangunlah. Kau harus bekerja” ucap Minjung kemudian.

Tapi yang diajak bicara masih tetap bertahan dalam posisi tidurnya. Tidak memperdulikan omongan dari Minjung.

“Oppa. Kau harus berkerja dan mengantarkan Yun bersekolah” ucap Minjung lagi pada Chanyeol.

“Tunggu. Aku masih ingin berada dalam kasur. Kau tak tau aku pulang larut malam untuk proyek baruku. Aku lelah changi-ya” lirik Chanyeol pada Minjung dengan menatap mata Minjung.

“Arra! Tapi siapa yang mengantar Yun jika kau masih disini?”

“bibi Jung”

“Oh baiklah aku akan mengantarkan Yun. Jika kau ada butuh apa apa tinggal bilang pada bibi Jung. Arra”

“Baik baik aku akan mengantarkan Yun berangkat sekolah”

Setidaknya itu kalimat yang paling Minjung suka saat Chanyeol tak mau mengantarkan Yun untuk urusan pribadinya padahal dirinya mempunyai banyak urusan bukan untuk dirinya sendiri.

“Sekarang cepat mandi dan cepat berangkat bekerja sajangnim” senyum senang penuh kemenangan kini berpihak pada Minjung.

**

Sarapan pun dimulai dengan cukup tenang. Minjung yang sibuk menyiapkan sarapan dengan bibi Jung didapur. Chanyeol dan Yun yang sudah duduk dibangku mereka masing masing dengan saling bercanda ria.

Sampai akhirnya Minjung selesai dengan masakannya dan menaruh masakan itu diatas piring dan membawanya kemeja maka. Tapi aksinya ditahan dengan suara bibi Jung.

“Biar aku saja. Kau duduklah bersama keluargamu”

Minjung pun dengan cepat menjawab. “Tidak. Aku tidak boleh memperkerjakan orang tua terlalu berlebihan. Selama aku masih bisa. Biar aku saja bi” jawab Minjung tenang.

“Aku disini digaji oleh anak muda itu”

“Anggap saja bibi mendapat gaji buta. Itu lebih menguntungkan untuk mu bi. Jadi biar aku yang mengurusnya”

Baiklah. Anggap Minjung sekarang adalah seorang malaikat yang diturunkan oleh Tuhan tanpa sayang dipunggungnya. Tindakannya kali ini sungguh membuat siapa saja menggeleng. Dia adalah seorang istri dari direktur yang terkenal dan cukup terpandang. Tapi dia tetaplah seorang wanita yang rendah hati pada semua orang.

Minjung akhirnya pun membawa piring berisikan makanan itu dimeja makan. Seraya berucap. “Ayo, cepat makan yang lahap” tak lupa senyum yang indah diwajahnya.

“Yun ingin eomma menyuapi Yun?” tanya Minjung pada anak tampannya itu.

Yun yang mendapat penawaran seperti itu lantas menganggukan kepalanya antusias.

Minjung mengambil sendok yang berisikan nasi dan lauk yang sudah Minjung masak bersama bibi Jung. “Muka mulutmu” Minjung menyodorkan sendok itu kepadanya Yun dan mendapat respon yang baik dari Yun dan melahapnya dengan pelan.

Perlakuan yang Minjung lakukan tentu membuat Chanyeol merasa iri pada anaknya. Padahal dia adalah anak kandungnya mengapa ia harus iri pada anaknya sendiri. Aneh.

“Aku juga ingin disuapi oleh eomma” rengek Chanyeol seperti anak kecil yang meminta suapan pada orang tuanya. Hei. Chanye tak lagi anak kecil yang masih disuapi oleh Minjung, istrinya.

“Kau bukan lagi anak kecil Oppa” jawab Minjung ketus dan menoleh pada Chanyeol.

“Tapi aku ingin disuapi oleh istriku. Oh ayolah perutku sudah lapar”

“Appa tak boleh mengambil eomma dari ku” cibir Yun dengan cepat.

Membuat Chanyeol yang mendengar itu langsung mempoutkan bibirnya. Berpura pura marah pada anaknya. “Baiklah ambil saja eomma mu itu. Appa akan meminta nenek mu untuk menyuapiku”

“Itu bukan ide yang buruk. Thilahkan Appa pergi ke nenek thekarang”

Baiklah kali ini Yun tidak ingin mengalah pada ayahnya sendiri. Minjung sebagai istri juga ibu untuk kedua aorang itu amat terlalu penting untuk keduanya. Sungguh membuat Minjung terkekeh mendengar ocehan yang dibuat oleh keduanya.

“Sudah tidak usah dilanjutkan Oppa” tutur Minjung pada Chanyeol dan melanjutkan. “Aku akan menyuapi kalian berdua jafi berhenti ribut dipagi hari. Mengerti?”

“Baik”

“Baik eomma”

Jawab Chanyeol dan Yun secara bersamaan. Sungguh itu sangat menggemaskan sekali.

“Bukalah mulutmu” kata Minjung pada Chanyeol yang masih mengatupkan kedua bibirnya.

Dengan cepat pun Chanyeol membuka mulutnya dengan sedikit godaan pada Minjung. Bukankah itu terlihat romantis. Chanyeol mengunyah makanan yang sudah masuk dalam mulutnya.

Bergantian dengan Yun yang sudah melebarkan mulutnya untuk diisi makanan oleh ibunya itu.

Chanyeol akhirnya mengantarkan Yun disekolahnya yang terletak 7 kilometer dari rumahnya berada. Cukup jauh, mungkin.

Chanyeol puntutun dan diberengi oleh Yun yang sudah turun dari mobil milik ayahnya itu. Chanyeol mendekat pada anaknya dan memberikan kecupan hangat pada dahi milik anaknya yang tampan itu.

“Masuklah kedalam. Nanti setelah pulang eomma akan menjemput Yun. Jadi Yun todak boleh pulanh sebelum eomma menjemput? Arra?” ucap Chanyeol pada anaknya sebelum memasuki sekolah Pautnya itu.

“Aku mengerti Appa. Annyeong. Hati hati dijalan Appa”

Yun melambailan tangannya pada sang Ayah dan mulai memasuki pekarangan sekolahnya yang sudah disambut oleh obu guru uang mengajar Yun.

Chanyeol pun segera pergi dari tempatnya sekarang dan melaju menuju kantornya untuk bekerja sebagai direktur.

Kembali pada Yun yang disambut oleh gurunya yan bernama Bae Irene yang begitu cantuk dengan rambut pirangnya yang menawan. Yun memberikan salam hormat pada gurunya itu dan dengan senyum yang berasal dari bibirnya.

“Annyeonghaseyo” sapa Yun.

“Annyeong Park Yun. Kau diantar oleh Appa mu? Kemana eomma mu?” tanya Irene heran.

“Eomma thedang memberethkan rumah dan eomma akan menjemputku thaat pulang nanti” jawab Yun.

“Oh baiklah. Cepatlah masuk dan temui teman temanmu yang sudah berada dalam kelas. Selamat harimu senyenangkan sayang” kata Irene manis. Irene juga sangat menyukai anak kecil. Membuatnya bekerja pada sekolah anak yang memang banyak terlihat anak yang manis juga polos yang Irene suka.

Tun sedikit berlari kearah kelasnya dan menyapa teman temannya yang sudah menunggunya juga. Tapi langkah Yun seolah berhenti oleh tatapan yang tidak sama sekali Yun tau itu tatapan apa.

“Jangan lagi berteman dengan kita” pekik salah satu anak lelaki yang berkulait agak hitam pada Yun dengan sedikit berteriak.

“Mengapa? Aku tidak memiliki salah padamu” jawab Yun polos tidak mengetahui maksud dari ucapan temannya itu.

“Kau anak haram jangan lagi bertemen dengan kita”

Deg.

Jantung Yun tiba tiba berdetak dengan cepat. Yun tidak tau ada apa dalam jantungnya mengapa berdetak tidak seperti biasanya.

“Apa itu anak haram?”

“Kau terlahir karena ibu dan ayah mu belum menikah. Dasar anak haram” laki laki itu berujar kembali pada Yun.

Tapi..hei bagaimana bisa anak sekecil iti bisa tau apa maksud dari anak haram itu? Baiklah teknologi mungkin sudah maju tapi tidak dengan kalimat yang begitu haram diucapkan oleh anak seusianya saat ini. Bagaimana orang tuanya mengajarkan anaknya seperti itu untuk mengejek temennya sendiri. Sungguh tidak tau sopan santun. Memalukan.

Yun masih terlalu kecil untuk mengehetahui apa itu anak haram. Hubungan yang belum terjalin antara ayah dan ibu saat melahirkannya. Yun belum ingin tau atau belum tahu apa maksud dari kalimat itu. Yun masih terlalu polos untuk mengetahui semunya.

Dengan terpaksa dan menerimanya dengan lapang dada akhirnya Yun berjalan gontai menuju kursinya. Menunduk sepanjang jalannya. Malu. Tidak Yun tidak malu dengan semunya karena Yun belim mengerti itu. Yun hanya tidak ingin teman temannya menjauhinya karena kalimat yang tidak Yun ketahui apa maknanya.

Sampai pada kursinya Yun masih tetap menunduk dan menaruh tasnya. Sampai satu suara membuat Yun menoleh. “Tidak usah dipikirkan. Tersenyumlah kembali” Jung Jae eun. Gadis dengan rambut bekepang dua yang terletak didepan membuatnya terlihat cantik.

“Mengapa sekarang mereka membenciku karena kalimat anak haram yang mereka lontarkan?” tanya Yun sedikit serak pada Jae eun, gadis kecil berkepang dua itu.

“Entahlah. Jangan bersedih aku masih ingin bertemen denganmu jadi setelah istirahat aku akan membuatmu tersenyum kembali. Kau mau?” tanya Jae eun.

Yun tidak langsung menjawab. Yun menatap wajah Jae eun dengan amat lama. Membuat Jae eun kebingungan dengan tingkah Yun yang menatapnya.

“Ya. Aku mau” jawab Yun yang dibarengi dengan senyuman diwajahnya pada Jae eun yang juga tersenyum pada Yun. Bukan kah itu memang sifat asli yang dimiliki oleh seorang anak kecil.

Bagaikan kilat yang cepat menyambar. Telinga Irene tidak tuli untuk mendengar semua pembicaraan murid kecilnya itu. Ya. Irene sudah mengetahui tentang Yun, anaknya saat disekolah, yang memiliki julukan anak haram. Irene merasa kasian terhadap anak itu, Yun, umur yang masih kecil mengharuskannya mendengar kata haram itu. Irene kasian. Tentu. Anak didiknya tak harus mengucapkan kata itu disaat seperti ini.

Melihat lekat lekat wajah Yun yang betubah dalam sekejap mata karene tindakan yang dilakukan oleh Jae eun. Irene senang melihat Yun kembali tersenyum. Irene buankan lah seorang spikopat yang mengetahui arti dari mimik muka yang diekpresikan oleh setiap mahluk hidup. Jadi Irene hanya memperhatikan Yun dalam diam dan iba.

**

Bel istirahat tanda semua murid kecil itu boleh bermain dan memakan bekal yang telah orang tua mereka siapkan. Termasuk dengan Yun dan Jae eun yang sudah duduk disalah satu bangku depan perosotan yang ada dihalaman sekolahnya.

“Apa yang ibumu masak hari ini?” tanya Jae eun penasaran pada Yun.

“Eomma hanya memasakanku nugget dengan model orang tersenyum” jawab Yun dengan membuka bekalnya pelan.

“Bolehkan aku meminta? Sepertinya itu enak. Eomma hanya membawakanku masakan yang biasa ia buat” ungkap Jae eun.

Tak mau menunggu lama. Yun pun menyuruh Jae eun untuk mengambil makanan yang ada dikotak bekalnya itu. Tangan Jae eun sempat terulur tapi sebuah tangan menghalangnya dan membuang bekal Yun ketanah. Membuat bekal yang Yun bawa tidak lagi bisa dimakan.

Anak itu pun berkata dengan sangat jahat. “Untuk apa kau masih bertemen dengan anak haram ini. Sebaiknya ayo kita bermain bersama dan tinggalkan dia” dengan memegang tangan Jae eun.

“Tidak. Memangnya kenapa kalau aku bermain dengan Yun? Dia temanku!” balas Jae eun tidak kalah sengit dari anak sedikit gendut itu.

Yun yang melihat dan mendengarkan itu pun hanya menunduk, entah malu atau takut, tapi untuk apa Yun malu dan yakut dengan perkataan itu. Yun belum tau apa maksud dari dua kalimat itu.

Dengan keberanian yang cukup terkumpul akhirnya Yun bersuara. “Apa itu anak haram?” tanya Yun penuh penasaran.

“Kau tidak-”

Ucapan itu terputus karena guru dari mereka datang dan menghentikan penuturan yang akan anak sedikit gendut itu lontarkan.

Irene bersuara. “Kalian masuklah. Kelas ibu Jang akan segera dimulai. Dan Yun kau tetap bersama ibu” tutur Irene.

Mereka semua pun termasuk Jae eun juga ikut masuk kedalam kelas tapi sebelum itu mereka meberikan hormat pada Irene. Tapi sepertinya Jae eun tidak ingin meninggalkan Yun bersama dengan Irene.

Membuat Irene sedikit membungkung pada Jae eun. “Kau anak baik kan? Jadi turuti apa yang ibu katakan. Hmm?” suara Irene beranggur dengan lembut.

Membuat Jae eun menatap Yun dengan tatapan iba. Jae eun sungguh kasian karena Yum dijauhui oleh temen temen lainnya.

“Baik bu”

Mari berlari melewati lorong lorong rumah sakit tempat ia bekerja. Sedikit tergesah gesah dengan nafas yang tidak beraturan dan detak jantung yang sudah berdebar dengan sangat kencang.

Mari takut. Satu hal yang membuat Mari berlari dengan kencang. Mendengar sebuah informasi bahwa seseorang paling berharganya masuk dalam rumah sakit kerena menyakit yang kumat dengan lagi lagi meskipum sudah sempat ia tahan dengan segala cara dengan mengobatan alternatis juga resep obat dari dokter.

Sampai disalah satu ruangan VIP dirumsh sakit tempatnya bekerja. Mari tidak berani masuk dalam ruangan itu. Pikirannya kalut juga rasa takut yang mendominan dalam dirinya. Mari sudaj beratus kali memperingati Baekhyun untuk terlalu berfikir terlalu keras dan lelah.

Mari salah dalam menjaga kesehatan kakaknya kali ini. Sekuat tenaga Mari pun masuk dalam ruangan itu dan menggeser pintu itu.

Menampakkan seorang pria yang sedang terlentang dengan mata yang tertutup dan selang ditubuhnya. Mari mendesah pelan. Mengacak rambutnya gusar.

“Oh, kau sudah disini?” tutur nyonya Byun yang sedang menunggu Baekhyun yang tengah koma dengan duduk dikursi. Nyonya Byun pun mendekat kearah anak perempuannya itu. Mengelus punggung Mari dengan memberikan rasa nyaman. “Lihatlah bahkan dia tidak membuka matanya sejak lima jam yang lalu”

Mari menangis. Mengeluarkan air matanya secara perlahan. “Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga Oppa. Aku adalah dokter bodoh yang tidak bisa mengurus kakaknya sendiri sedangkan orang lain berhasil aku rawat sampai sembuh. Maafkan aku eomma. Maafkan aku..hikss..” dengan cepat Mari langsung memelyk ibunya dengan kasih juga merasa bodoh dengan perbuatannya.

Nyonya Byun mengelus punggung anak gadisnya itu dengan lembut. “Tuhan memiliki rencana Mari-ah. Serahkan semuanya pada-Nya. Kita hanya tinggal menunggu apa Oppa mu akan tetap hidup atau tidak” tutur wanita setengah baya itu pada Mari. “Kau sudah memberitahukan hal ini pada Park Chanyeol?” tanya nyonya Byun pada Mari.

Sontak itu membuat Mari terkejut dan melepaskan pelukannya pada ibunya.  “Oppa melarangku mengatakannya pada Chanyeol oppa” kepala Mari tertunduk takut.

Tangan nyonya Byun terulur kebahu milik Mari. “Rahasia mungkin itu lebih baik. Tapi bagaimana jika rahasia penyakit kakakmu sampai ditelinga Chanyeol saat kakakmu sudah tak bernyawa?”

“Eomma. Jangan katakan itu!” pekik Mari tak suka dengan menatap manik mata milik ibunya.

“Maka dari itu beritahu semua ini pada Chanyeol. Sahabat seharusnya tau segala apa yang dimiliki sahabatnya. Termasuk tentang penyakit yang dideritanya!” nyonya Byun membentak Mari dengan nada yang lumayan tinggi.

Kepala Mari kembali tertunduk. Takut untuk mengungkapkannya dengan apa pada Chanyeol. “Tidak hari ini. Tapi aku janji akan memberitahukannya”

**

Restoran yang sedikit renggang dengan pelanggan kini didatangi oleh seorang pemuda tampan juga jangkung. Berkemeja merah jambu dan cenala jeans yang cukup terlihat tampan juga tatanan rambutnya yang sedikit terlihat rapi.

Sehun sedang menunggu seorang yang telah membuat janji dengannya di restoran ini. Tapi ini sudah 10 menit dia menunggu tapi seseorang itu tak kunjung datang.

Sungguh membosankan, pikir Sehun kesal.

Sehun bahkan belum memesan minuman hanya untuk menunggu dan memesan bersama dengan seorang yang telah membuat janji dengannya. Siapa pun itu bantu Sehun untuk menghilangkan rasa bosannha itu.

“Akh..mengapa dia lama sekali. Aigoo..dia menyebalkan sekali. Aku bersumpah untuk menghukumnya karena sudah membuatku menunggu lama. Ugh!” sungguh Sehun mengeluarkan sumpah serapahnya saat ini. Sudah mati bosan dengan menunggu dirinya. “Sepertinya aku salah berdandan seperti ini” katanya. Berpenampilan rapi tapi disuruh menunggu.

“Apa kau berbicara sendiri tadi?” suara itu sukses membuat Sehun menoleh kearahnya. Seseorang yang telah Sehun tunggu dari tadi. Sehun terkejut. Tentu.

“Kau..kau mendengarnya?!” tanya Sehun sambil membelakkan matanya yang hanya setengah itu.

“Pakaianmu? Apa yang salah? Kau tampak rapi saat ini” jawab Mari dengan senyum yang mabis dibibirnya. Ya. Orang yang ditunggu Sehun adalah Byun Mari. Mari juga yang telah membuat janji dengan Sehun. Tapi mengapa Sehun yang disuruh menunggu. Payah.

Sehun meleleh melihat senyum Mari yang begitu membuat jantung Sehun berhenti atau berdetak dengan kencang. Ugh, Sehun menyukai senyum Mari. Catat itu.

“Duduklah” tawar Sehun setelah melihat senyum Mari. Sedangkan Mari hanya berdiri tidak duduk sejak masuk tadi.

Mari pun menuruti perinta Sehun dan menuju pada tempat duduknya, tepat dihadapan Sehun.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang mendesak?” tutur Sehun lagi pada Mari.

Pertanyaan itu membuat Mari tertunduk takut dengan kalimat yang Sehun lontarkan.

“Hei..ada apa? Ceritakan padaku?” tanya Sehun cemas dengan perubahan mimik yang Mari tunjukkan. “Lihat wajahku katakan ada apa!” tanya Sehun lagi. Telapak tangannya kini sudah menggenggam punggung tangan milik Mari.

“Oppa” jawab Mari.

Itu terdengar ambigu ditelinga Sehun. Oppa. Kata itu membuat Sehun kebingungan.

“Ada apa dengan kata ‘Oppa’?”

“Baekhyun Oppa sedang mengalami masa koma sejak hari ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Sehun” jawab Mari dengan nada bergetar ketakutan.

“MWO?” kaget Sehun. “Tapi mengapa?”

“Aku tidak tau. Seorang suster memberitahuku saat aku sedang mengobati pasienku. Apa yang harus ku lakukan saat ini?”  gusar Mari dengan merusak rambutnya yang tertata indah awalnya.

“Bagaimana Chanyeol hyung?”

“Aku belum memberitahukannya”

“Kenapa?”

“Oppa meralangku”

“Aku akan memberitahukannya”

“Apa kau mau lolipop?” tanya Irene akhirnya dengan memecahkan keheningan yang dirinya lakukan bersama dengan Yun.

“Ibu melarangku memakannya. Itu menyebabkan gigiku ruthak nantinya” jawab Yun kepada sang ibu guru cantik itu.

Irene mengerti dengan ucapan Yun. “Baiklah”

“Bu guru?”

“Ya ada apa?”

“Apa itu anak haram?”

Deg

Dada Irene tiba tiba serasa berhenti sejenak pendendengar penuturan dari Yun. “Untuk apa kau tanyakan itu, sayang?”

“Anak anak membenciku karena aku anak haram. Thedangkan aku tidak mengerti apa itu anak haram”

“Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui hal itu” tutur Irene dengan sangat halus pada Yun dan melanjutkan percakapannya. “Suatu saat mungkin kau akan tau apa arti dari semua kata yang tidak lazim didengarkan oleh semua orang. Tapi untuk saat ini kau tidak perlu mengetahuinya. Bersenang-senanglah seperti apa yang dilakukan teman-temanmu”

“Apa kata itu berpengaruh pada Appa dan Eomma ku? Aku tidak ingin mereka mendengar apa yang telah diucapkan oleh teman-temanku itu, bu”

Hati Irene seketika tersentuh mendengar perkataan dari anak kecil yang masih tidak tau begitu banyak masalah seperti ini. “Tenang saja. Appa dan Eomma Yun tidak akan mendengar soal ini”

_

Sehun sudah berdiri dengan tegak didepan gedung pusat tempatnya bekerja. Menatap tatanan nama perusahaan yang berada diatas gedung dengan sangat kokok dan tampak berkilau.

Hah. Sehun mengela nafasnya panjang. Tidak ingin membuang waktu yang cukup lama. Akhirnya kaki Sehun mulai bergerak lagi dan masuk dalam gedung perusahaan itu.

Tentu cukup banyak mata yang melihat kerahnya. Pasalnya ini juga masih jam kerja pagi pekerja. Ini juga pertama kalinya Sehun datang keperusahaan milik kakak iparnya itu. Tentu Sehun tidak tau dimana tempat ruangan milik Chanyeol itu. Sampai akhirnya matanya melihat seorang satpam yang melintas.

“Permisi, Apa kau tau dimana letak ruangan Direktur?” tanya Sehun.

“Ah, kau tinggal naik kelantai 4 setelah itu belok kiri maka kau menemukan ruangan Direktur”

“Oh, terima kasih paman” membungkukkan badannya pada seseoranh yang lebih tua darinya.

Sehun pun langsung melangkahkan kakinya kearah lif yang sudah didepan mata.

Setelah sudah berada dalam lif. Sehun menekan tombol yang berangka 4 itu. Menunggu sampai lif itu terbuka kembali dilantai empat.

Ting~

Pintu lif pun terbuka dengan lebar. Sehun pun berjalan dan langsung menuju kearah ruangan milik Chanyeol.

Sampai akhirnya Sehun menemukan ruanhan itu. Kaki Sehun berhenti, seakan lelah untuk berjalan lagi. Sehun takut jika nantu Chanyeol akan marah dengan kedatangannya tiba-tiba dikantornya.

Sehun pun membuang nafasnya kasar dan langsung meraih knop pintu dengan cekatan. Memutarnya secara berlahan. Sampai akhirnya matanya melihat Chanyeol sedang asik didepan laptopnya sambil membaca sebuah dokumen, yang kelihatanya penting. Bahkan kehadirnya Sehun pun tidak membuatnya berhenti membaca dokumennya itu. Mengesalkan memang.

“Hyung?” saut Sehun masih didepan mintu ruangan Chanyeol.

Sedangkan Chanyeol masih dengan nikmatnya membaca dokumen membosankan itu.

Sehun pun mengulang lagi panggilannya. “Chanyeol hyung?!” disertai dengan sedikit teriakan disuarnya itu.

Dengan suara melengking milik Sehun pun Chanyeol mengalihkan pandanganya pada sebuah pintu yang menghadirkan Sehun disana. Tentu Chanyeol terkejut melihat adik iparnya datang kekantornya.

“Oh, kau kemari? Ada apa?” saut Chanyeol akhirnya dan bngkat dari kursinya. “Sampai kapan kau berdiri diampang pintu itu?”

Oh, Sehun akhirnya mengerti langsung masuk dalam ruangan milik Chanyeol. Mendudukan dirinya pada sofa empuk yang qda dalam ruangan milim Chanyeol tanpa menyuruh Sehun duduk, Sehun sudah lebih dulu melakukanya. Jadi Chanyeol tidak perlu menyuruh Sehun duduk.

“Ada apa kau disini?” tanya Chanyeol akhirnya. “Apa kau ingin tinggal bersama kakakmu?”

“Oh, hyung mengapa kau galak sekali seperti seorang sedang PMS. Aku datang kesini dengan maksud yang baik. Tenanglah” jawab Sehun gamblang dan santai. Ciri dari seorang Sehun.

“Kau tidak lihat pekerjaanku masih banyak dimeja itu. Tentu saja aku menjadi seperti gadis yang sedang mengalami masa mentruasi” kata Chanyeol dengan sedikit tidak suka dengan kedatangan Sehun. “Cepat katakan. Ada apa?”

“Sudah ku katakan. Aku kemari dengan maksud yang baik. Bisakah kau bersikap biasa aja. Aku akan mengadukan ini pada noona ku”

“Adukan saja, aku tidak akan takut”

“Baiklah aku kalah”

“Jadi cepat ceritakan. Ada apa kau kemari saat jam kerja”

“Apa Baekhyun hyung masuk bekerja?” tanya Sehun akhirnya pada Chanyeol dengan cukup serius.

“Tidak. Sudah beberapa hari ini dia sakit. Jadi dia tidak masuk bekerja” jawab Chanyeol dengan agak keheranan.

“Apa kau tidak berencana menjenguknya?”

“Ingin. Tapi saat aku menelpon. Mari mengangkatnya dan berkata jika Baekhyun baik-baik saja. Jadi aku tidak perlu khawatir. Memangnya mengapa?”

“Kau percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Byun Mari?”

Suasana dalam ruangan itu pun mendadak begitu mencengkam. Tataman mata Sehun yang sudah menjadi tajam saat melihat Chanyeol. Bahkan Chanyeol membalas dengan tatapan yang begitu tajam pada Sehun. Tak ayal membuat kedunya tiba-tiba mendadak terdiam.

“Apa kau percaya dengan perkataan dari Byun Mari?” tanya Sehun lagi pada Chanyeol.

“Tentu. Memangnya mengapa?” jawab Chanyeol.

“Mengapa kau mudah sekali percaya pada perkataan seseorang”

“Byun Mari adalah adik dari Baekhyun. Mengapa aku harus curiga pada Mari? Dia juga seorang dokter”

“Argh…apa kalian benar-benar seorang sahabat? Aku tidak bisa percaya”

“Wae? Wae? Wae? Ada yang kalian sembunyikan dariku?”

“Ya! Bakhan sudah lama!” pekik Sehun. Sudah saatnya emosinya itu keluar. Tentu tidak tahan dengan sikao Chanyeol yang begitu tenang menyikapi masalah Baekhyun, sahabatnya. “Kau tidak tau jika Baekhyun hyung mempunyai penyakit selapu otak? Aku pastikan kau tidak mengetahuinya. Karena Baekhyun hyung yang menyuruh Mari untuk tutup mulut dan rahasiakannya darimu. Tapi! Aku tidak ingin melihat Mari menangis padaku lagi karena masalah penyakit yang Baekhyun hyung rahasiakan darimu” perkataan Sehun pun tercekat disana. Sehun mengatur kembali nafanya supaya teratur kembali.

Chanyeol terdiam dan dengan mata yang membulat sempurna. Chanyeol belum mengetahui tentang masalah ini. Tentu saja itu sangat membuat Chanyeol terkejut bukan main. Baekhyuk mengatakan bahwa dia tidak masuk karena dirinya tengah sakit. Chanyeol percaya itu. Tapi saat beberapa hari kemudian. Chanyeol menelpon Baekhyun yang diangkat oleh Mari. Berkata jika Baekhyun baik-baik saja dan mebutuhkan banyak istirhat lalu Chanyeol juga dilarang mendatangi Baekhyun. Jadi Chanyeol hanya bisa menunggu Baekhyun sampai masuk kembali.

Tapi mendengar apa yang telah Sehun ucapkan padanya tentu itu sangat mengejutkan dengan jantung yang tidak bisa berdetak dengan cukup pelan. Chanyeol akui kebodohannya kali ini. Bagaimana bisa dirinya tidak mengetahui ini semua dari dulu. Baekhyun sahabatnya sejak dulu. Tapi mengapa Chanyeol tidak mengetahui ini semua. Penyakit yang telah diderita Baekhyun saja Chanyeol tidak tau. Apa ini masih bisa disebut sebagai sahabat?.

“Dari mana…kau..kau mengetahui ini semua? Sedangkan aku..tidak mengetahui ini secara detail” ujar Chanyeol penuh dengan kegugupan. Chanyeol tidak tau lagi harus berbuat apa lagi.

“Baekhyun hyung yang melarang Mari atau keluarga Byun untuk memberitahumu. Justru itu aku kesini untuk memberitahukan mu”

“Dimana Baekhyun sekarang berada!”

[]

**

Dengan perjalann yang cukup melelahkan. Chanyeol akhirnya sampai pada rumah sakit yang telah Sehun ucapkan tadi. Meletakkan mobil mewahnya pada parkiran yang disediakan khusus oleh rumah sakit itu sendiri. Merasa cukup, akhirnya Chanyeol keluar dari dalam mobilnya dan membanting pintu mobil itu dengan cukup keras. Lantas berlari berlari memasuki gedung kokoh yang bercat putih bersih itu.

Menaiki eskalator pada gedung itu dan menuju kearah kamar yang sudah Sehun sebutkan tadi, Sehun sudah memberitahukan semua kepada Chanyeol termasuk kamar yang ditempati oleh Baekhyun.

Sampai akhirnya mata Chanyeol melihat seluet tubuh Mari yanh sedang menundukkan kepalanya dengan tangannya yang memegang hasil dari pemeriksa pasiennya itu.

Tak ayal Chanyeol pun langsung berlari kearah Mari yang liatnya itu. “Ya! Byun Mari?” pekik Chanyeol dari kejauhan dengan melambaikan tangannya keudara.

Mari yang merasa namanya tersebut lantas mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemanggil namanya itu. Tapi matanya tiba-tiba membulat dengan sendirinya. Terkejut dengan siapa yang menyerukan namanya.

“Chanyeol Oppa” jawab Mari dengan gugup.

“Ya, Mari-ah. Apa yang telah kau lakukan pada sahabatku?” tanya Chanyeol sambil menetralkan nafasnya saat sudah berada dihadapan Mari. “Mengapa kau tidak memberitahuku meskipun Baekhyun sudah melarangmu, oh!” tanya Chanyeol lagi.

Mendadak mata Mari tiba-tiba panas mendengar pertanyaan dari Chanyeol. Ingin rasanya Mari menangis dengan sangat kencang saat ini. Tapi Mari mengetahui dimana tempatnya berada kali ini.

“Hiks..hiks..maafkan..maafkan aku Oppa. Aku memang patut disalahkan olehmu. Maafkan aku..aku tau aku adik yang paling tidak berguna untuk Baekhyun Oppa” jawab Mari disertai dengan suara isak miliknya.

Dengan langkah cepat Chanyeol langsung membawa Mari dalam pelukannya. Membuat Mari merasa nyaman dalam pelukannya sebagai kakak dan adik. Ya, Chanyeol sudah mengangap Mari sebagai adiknya sendiri. Jadi tidak salah menghibur seorang adik yang sedang bersedih bukan?

“Tidak perlu menangis seperti ini. Menangis pun tidak akan membuat Baekhyun sadar dari komanya. Tenanglah Mari-ah” seru Chanyeol dengan mengelus punggung milik Mari yang masih terisak. “Sebaiknya kau antar aku dirungan Baekhyun dirawat” kata Chanyeol lagi pada Mari.

Mari pun langsung melepaskan pelukan dari Chanyeol dan menuntun Chanyeol menuju ruangan tempat Baekhyu dirawat.

“Masuklah. Oppa masih dalam keadaan koma saat ini” tutur Mari saat keduanya berada didepan ruangan rawat milik Baekhyun.

Lantas Chanyeol langsung membuka pintu itu dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Tampak sepi, pikir Chanyeol. Chanyeol sempat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sabahatnya saat ini tengah tertidur dengan selanh infus yang menempel. Chanyeol sangat terkejut. Tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Chanyeol akhirnya mendekati kasur Baekhyun. Dan melihat Baekhyun lekat lekat dengan mata yang tertutup rapat. Juga dengan deruan nafasnya yang teramat pelan. Akhirnya Chanyeol pun duduk disebelah kasur Baekhyun. Chanyeol merasa ingin sekali menangis didepan sahabatnya saat ini karena sudah tidak mengetahui penderitaan yanh telah sahabatnya derita saat ini.

“Ya! Byun Baekhyun. Apa kau masih menganggap ku ini sahabatmu? Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau memiliki penyakit ini? Kau bahkan sudah berhasil membuatku jantungan saat ini” keluh Chanyeol saat dihadapannya Baekhyun masih menutup matanya rapat.

“Sadarlah bajinangan. Jangan kau tinggalkan aku sendiri tanpa seorang sahabat” lanjut Chanyeol masih dengan wajah yang menunduk.

_

Minjung sedang bersantai pada sofa yang terletak pada ruang tengah rumahnya. Minjung baru saja sampai dirumah dengan raut wajah yang begitu lesu dan lelah. Sudah tiga hari ini Minjung berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Minjung menolak kala Chanyeol menyuruhnya untuk masuk dalam perusahaannya untuk menjadi asistennya. Tapi Minjung dengan lembut menolak apa yang disampaikan oleh suaminya itu. Minjung hanya tidak ingin ada koalisi dalam perusahaan milik suaminya itu. Minjung juga bisa mencari pekerjaan untuk dirinya sendiri.

Pintu tiba-tiba saja terbuka dengan lebarnya. Memunculkan dua orang yang bisa membuat Minjung kembali bersemangat. Dengan langkah cepat Minjung pun kembali berdiri dan meyambut kedua orang itu.

Kedua laki laki yang begitu berharga bagi Minjung dalam hidupnya juga seseorang yang amat Minjung cintai. Minjung tidak ingin kehilangan mereka berdua lagi dalam hidupnya dan Minjung tidak lagi ingin berpisah dari kedua jagoan yang sangat ia cintai itu. Minjung ingin hidup berdua dengan keduanya, atau lebih, dengan kebahagian yang Tuhan berikan padanya. Tidak akan ada perpisahan dalam hidupnya lagi. Kecuali oleh maut yang telah Tuhan ciptakan padanya.

END

Yun berlari menuju kearah Minjung dan Chanyeol yang sudah menunggunya digerbang sekolahnya. Yun tampak senang dan gembira saat kedua orang tuanya menjempuntnya secara bersamaan.

Yun tak lagi memikirkan apa itu anak haram atau apa pun itu. Itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Yang terpenting Yun adalah anak dari Kim Minjung dan Park Chanyeol yang amat Yun sayangi.

“Eomma..kau tau aku mendapat nilai thelathus dalam matematika. Aku cukup hebat bukan”

“Wah.. Yun sekarang sudah pintar dalam menghitung. Apa yang kau mau saat ini?”

“Aku ingin melihat matahari terbenam di thungai han”

“Baiklah. Ayo kita berangkat”

“Kau mau menikah denganku?” Joonmyeon tampak sedang melamar Chorong dalam kantir perusahaan. Yang begitu ramai dilihat oleh karyawannya.

“Aku tidak begitu yakin-” jawaban Chorong seolah berhenti kala terdengar desahan kecewa dari penjuru kantin. “Aku tidak yakin aku bisa menolakmu tuan sajangnim” senyum Chorong pun terlihat dengan jelas.

Dengan sorak riah dalam kantin perusahaan itu.

Joonmyeon tampak sangat senang dan lantas langsung mengambil cicin yang dihadapkannya pada Chorong dan menaruh cincin itu pada jari cantik milik Chorong.

Joomyeon pun tak malu saat membawa Chorong dalam pelukannya.

“Aku sungguh mencintaimu”

“Apa Oppa baik-baik saja? Apa aku perlu menyuapimu?”

“Tidak perlu. Aku bisa makan dengan tanganku sendiri”

“Tapi-”

“Suapi saja pacarmu yang sedang menatapku dengan cemburu itu. Cih, dasar anak muda”

Mata Baekhyun mengarah pada Sehun yang berada dalam rungan rawat Baekhyun.

Lantas Sehun pun terseyum pada Baekhyun yang membuatnya lebih dekat lagi dengan Mari.

FIN

NoTE : aku tau kalian nungguin ini sudah kayak nungguin hujan yang lama banget. maaf ya. tugasku numuk banget kakak, adik, teman. maaf. Musim hujan nih tetep jaga kesehatan ya, minum vitamin juga ^^~
makasih sudah setia sama ff yang aku buat pertama kali dengan cahpter ini. ini sudah aku buat sejak tahun lalu ehh baru selesai tahun sekarang. berkat ff ini juga aku kenal sama kalian semua. makasih banyak pokoknya yang mau baca deh.
ketemu di ff yang aku buat ya.

MAKASIH BAGI PEMBACA SETIA.

SARANGHAE..

Advertisements

One thought on “Comeback to me [Chapter 9] FINAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s