[Freelance] If You (Chapter 1)

if you poster

“IF YOU CHAPTER 1”

              Author                             :  Zia

              Main Cast                        : Park Chanyeol and OC

              Aditional Cast                : EXO

              Rating                             :  PG-17

Author Note                    : Ini ff kedua dan ff Park Chanyeol pertama yang pernah saya buat. Terima kasih sudah di post disini. Tiada lagi ucapan yang dapat saya katakan selain terima kasih telah mempublish ff sederhana ini. FF yang amat sangat sederhana dengan bahasa dan alur yang apa adanya. Untuk para pembaca terima kasih telah meluangkan waktu berharganya demi membaca aksara-aksara lugu ini. Semoga anda menikmatinya. Terima kasih. Selamat membaca 😍

 

“Chanyeol”

Kurasakan sebuah telapak tangan menepam pelan bahu kananku. Dari pucuk bibirnya menyembul huruf-huruf menyusun namaku. Kemudian kupalingkan wajahku ke arah suara itu terlantun. Seseorang bertubuh tinggi itu berada tepat dibelakangku dengan senyum yang seolah tak mau disumpal.

“Chanyeol, ada kabar bagus”, ucapnya. Suaranya terdengar antusias. Aku tak ingin tergesa-gesa menyela ucapannya.

“Ada tawaran spektakuler“, sambungnya seraya mengguncang-guncangkan jasadku. Aku mencoba tersenyum semampuku.

“Kau akan bermain dalam sebuah drama”.

Kuanggukan kepalaku beberapa kali hingga pengar mengganjar.

“Apa?”, tanyaku kaku.

“Apa kau tak paham maksudku? Kau akan bermain dalam sebuah drama. Drama ini  mulai produksi sebentar lagi. Dan aku telah mendapatkan telepon bahwa kau berhak menjadi salah satu tokoh utama dalam drama ini. Aku yakin kau pasti setuju”, jelasnya. Mataku tak berpindah, tetap mantap menerawang langit dan awan yang berarak-arakan di dalamnya. Terpatri tak mau meninggalkan kawannya. Aku termenung beberapa waktu. Dan kebisuanku lebur setelah pria itu meniup pelupukku.

“Bagaimana?”, ia bertanya dan terus bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itu berterbangan mengitari angreniku. Aku mengangguk setuju. “Bagus. Kau akan dipasangkan dengan penyanyi pendatang baru dari agensi terbesar setelah agensi tempat kita mengais jutaan won. Kau tahu? YG”, pungkasnya.

Sepasang bola pingpongku terbelalak gegau seolah ingin lari dari griyanya. Tangan pria itu masih tertaut di bahuku. Ia tersenyum sumringah dan menepuk-nepuk keras disitu, lalu meringkik-ringkik menghabiskan isi kotak tertawanya. Sanubariku rasa-rasanya begitu kacuk. Siapa kiranya gadis yang akan dipasangkan dengan pemuda sepertiku? Akankah itu dia, seorang wanita yang sudah sewindu aku kagumi? Namun, kata “Pendatang Baru” seolah menebasnya. Rasanya ingin kusepak istilah itu. Jelasnya, aku masih meraba-raba namamu. Mengautnya dari dasar palung terdalam yang entah sudah menunjam urat bumi rasanya. Nama gadis yang beberapa hari lagi mungkin kupeluk dan kukecup.

 

Sesaat setelahnya pria itu lantas mengantarkanku menuju tempat dimana aku berlindung dari tamparan gerimis dan sengatan rembang. Asrama, tempat dimana aku bertemu dengan 11 saudaraku, saudara beda ayah beda ibu. Walaupun beberapa bulan lalu aku dan ke 9 saudaraku yang lain harus merelakan 2 diantara kita lepas dari sangkar. Lepas dari rengkuhan kami. Aku merelakannya, walau kini aku sadar bahwa lubukku begitu lara bak di tusuk pedang penghianatan dan bernanah akibat perkara dusta yang tak terselesaikan. Kutinggalkan remiling lama yang mesti kubakar. Biarkan itu menghilang dan bersalaman dengan jahanam. Aku sudah tak sudi menyapa secarik kertas berisi wajah kita yang dulu. Selogan kita yang lalu.

 

Aku duduk dengan mata menyoroti komputer yang sedang menyenandungkan beberapa bait syair. Sedikit tercengang mendapati bahwa lagu yang terlantun ini milik seorang gadis sebayaku. Dengan lirik yang menyentuh serta suara malaikatnya yang membunuh, mengepak di angkasa khayalku. Kurasa hatiku telah tertambat padanya. Mungkin, ia hanyalah gadis biasa yang tak pernah memperlihatkan rupanya. Selalu menundukkan kepala. Remanya tergerai menawan, menyuruhku untuk selalu mengaguminya. Gadis yang selalu memetik gitar dengan ruas-ruas jemari lentiknya. Gadis yang selalu mengenakan rok putih serta topi merah jambu, seseorang yang sedang menerima sorot dari kedua netraku. Gadis di hadapanku, tatapanku yang tak mungkin menembus kaca pembatas diantara kau dan aku. Aku sungguh mengagumimu.

 

“Apa yang sedang kau lakukan”, suara yang tak asing lagi di inderaku datang kemudian mempersilahkan tangannya mengusap tengkukku. Aku terperanjat dengan degub jantung yang menjerit-jerit.

“Baekhyun. Pergi sana”, bentakku singkat. Dari sudut mataku kulihat ia sedang menatap takzim kearah layar yang sedari tadi memutar wajahmu, lantunan suara merdumu dan petikan hangat gitarmu. Ujung bibirnya menganga, kata-katanya seakan tertahan di kerongkongannya. Kutampar lengannya untuk menghancurkan sorotan takjubnya. Ia mengaduh, mengelusnya. “Apakah sesakit itu?”, tanyaku padanya. Ia mengedikkan bahu, tanda menjawab pertanyaanku.

“Siapa dia?”, tanyanya tiba-tiba. Menyentak nuraniku untuk menjawab.

“Aku pun tak tahu. Tapi suaranya terdengar begitu manis laksana merepaskan ulu hatiku”, ujarku. Baekhyun terkekeh dengan telapak tangan yang mengunci mulutnya. “Apakah kau menyukainya”?, sekali lagi pria bermata kecil ini bertanya kepadaku. Tak bisa kusangkal, aku pun mengangguk. Lalu ia kembali melanjutkan kekehannya yang tersendat. “Aku kira kau menyukai wanita berdada besar”, gumamnya dengan nada bercanda yang langsung kuhadiahi dengan beberapa kali timpukkan.

“Kepalan tinjuku akan merontokkan gigimu”, inginku menakutinya. Mengepalkan tanganku ke arah mulutnya, mengencangkan tarikanku pada kerah bajunya. Namun, kuurungkan niat bodohku itu. “Maaf aku hanya bercanda”, tandasku.

Pria bermarga Byun yang lebih dari 4 tahun menjadi sahabatku itu pun menarik langkahnya, menjauhi ragaku. Berpaling dan pergi meninggalkan cenai-cenai yang tak sanggup kupandang dengan mata telanjang. Menjauh dan tenggelam bersamaan dengan suara bantingan pintu.

“Kuharap ia merahasiakan perasaanku”, batinku.

Aku memandangimu lagi, sosok yang aku kagumi dalam semu. Sosok yang selalu tersembunyi dalam naungan surai hitam nan anggun itu. Kau mungkin tak pernah paham rasa yang sedari hari bergelayut menunjam relung hatiku. Semoga kita dapat bertemu esok, saat nayaka bangkit dari singgahsananya.

 

Ribuan gadis bergelinjang menyebut-nyebut namaku, berteriak sumbang menyebutku. Akankah mereka lupa menyebut jua asmaMu? Aku berdoa berharap melenyapkan perasaan canggung bertemu dengan para penggemar, gadis-gadis belia yang tanpa sadar telah memasungku. Tapi tanpa mereka aku hanya debu-debu bumi yang terhempas angin seminggu sekali. Ini adalah pertunjukkan kedua grupku setelah beberapa bulan aku telah menemukan celah untuk bernafas. Tempat dimana aku bisa leluasa menarik ulur udara dengan cuma-cuma. Bercengkrama dengan para koloninya.

Kali ini jasadku begitu rapuh, tak ada daya untuk tegak dan berujung simpuh. Aku ingin lari dan bersembunyi, hanya itu yang aku inginkan. Aku butuh tempat dan saat dimana aku dapat menghela nafas kasar, sendirian, merenung dalam naungan jumantara atau dalam dekapanMu.

 

Seoul, 2015.

Seruan mereka menggetarkanku. Nuragaku yang tergerak manakala melihat wajah mereka dengan tatapan nanar penuh kasih sayang yang mereka tampilkan ke arahku dan kami. Air mata yang berguguran membuat hatiku mati seperti dirajam belati. “Kidung yang kami persembahkan untukmu kuharap dapat mengobati luka yang mengiris nadimu tempo lalu. Maafkan kami”, ujarku dalam hati. Walaupun kenyataan selalu menorehkan kisah lain, bahwa kidung kami malah membuat lukamu terkorek kembali. Tragis kisah, mungkin membuatnya semakin dalam.

 

Keringat membasahi ragaku. Beberapa kali kuseka pelipisku namun seakan ia congkak dan tak sudi ditepis dengan segala dayaku. Konser megah kedua kami pun usai dan aku kembali pulang, menjemput mimpi demi esok kudapat menyapamu, wahai “Pendatang Baru” yang segera menjadi lawan mainku dalam sebuah sandiwara kamis-jumat katanya.

 

Mobil kami melaju bagai guruh membelah langit begitu cepat hinggaku tak mengira sudah sampai ditempat dimana kita akan segera bersua. Entah kenapa, hatiku berdebar-debar hingga memaksaku untuk mengurutnya perlahan. Semakin cepat hingga aku lupa membungkukkan tubuhku ketika bertemu dengan sutradara. Kami dituntun menuju lokasi pengambilan gambar. Suatu tempat yang begitu sangsi untuk kedua permataku. “Apa yang kau lihat”, ujar manajerku sembari menepuk pelan punggungku. Aku melemparkan muka dan menunduk malu. “Kudengar lawan mainmu dari agensi besar”?, tanyanya yang kubalas dengan tarikan tulus dibibirku. “Dia sangat cantik. Aku harap kau tidak jatuh cinta padanya”, goda manajerku. Lengannya ia lemparkan diatas pundakku dan mengajakku tertawa bersamanya. Kemudian aku menimpali ucapan jenakanya. “Sebelum aku mengambil hatinya, dia pasti sudah jatuh cinta terlebih dahulu padaku”, tutupku dengan gurauan tiada henti. Kami saling menimpali candaan dan berhenti setelah kami diperkenalkan dengan gadis itu. Gadis yang sudah membuatku sulit menghirup hawa. Gadis yang memerintahkanku untuk membekap jantung selamanya.

“Itu dia pemeran utama wanitanya”, ujar sutradara Kim yang baru kukenal tempo hari. Detik bak berlari semengerikan harimau kumbang yang mencabik mangsa dengan taringnya. Selayaknya aku yang melongo membisu, tegak tanpa dapat menggerakan jemari. Menatapmu dari jauh sudah mampu membuatku sulit untuk menelan ludah. Mengakibatkan kekeringan panjang pada anak-anak sungai di tenggrokan. Gugup dan keringat dingin mengucur. Ini adalah drama keduaku. Aku belum pernah merasa gugup seluar biasa ini sebelumnya.

 

Sutradara Kim lantas menyuruh gadis yang sedang duduk sembari membaca skrip itu untuk berdiri. Kupersiapkan semampuku benak dan jiwaku. Sungguh, aku begitu gugup bertemu dengannya. Kulihat surai legamnya terkibas semilir angin. Dia berdiri. Dan membuang muka ke arahku. Membungkuk, menyapaku. Aku membalas sapaan hangatnya. Kutatap wajah putih pucatnya. Roman muka campuran ala Korea dan negeri barat kurasa. Bola matanya berwarna hijau khas Eropa. Tinggi semampai tubuhnya. Tuhan, jangan lempari aku dengan batu dosa bila anak adam ini terpikat dengannya.

 

Gadis itu merajut langkah demi langkahnya kearahku. Cekungan pembatas kedua pipinya tergerai begitu lapang. Aku tersenyum dengan maksud mengenyahkan gugup yang menjalar merasuki seluruh bilik dalam ragaku. “Hai”, ia menyapaku dengan mengacungkan tangan. Sapaan khas negeri barat tentunya. “Senang bertemu denganmu”, ujarnya dengan logat korea yang kental. Gadis berbaju putih tanpa lengan itupun mengulurkan tangan kanannya, memintaku mengkaitkan tanganku ke telapak tangannya yang berjejer deretan jemari lentik bercincin emas putih di jari manisnya. Kusentuhnya lembut. Derap jantungku tak dapat lagi kutahan dengan bekap ataupun urut. Aku mencoba menarik nafas dengan berat mengganjal. “Aku Chanyeol”, kataku tegas memperkenalkan diri. Senyum simpul mengembang tak terbendung dari bibirku. Gadis itu terlihat riang mendengar kumenyebut namaku.

“Aku Jasmine”, katanya yang membuatku menarik rekatan ditelapak tanganku penghuhung antara telapak tangan lapangku dan telapak tangan lembut gadis didepanku. Senyumku pudar. Mataku belodok. Gadis itu mengedipkan mata, terlihat ganar. Aku tertegun. Senyak beberapa saat. Aku menatap kedua berlian hijaunya dalam-dalam. Membenamkan tatapanku di dalam samuderanya lekat-lekat.

 

Noktah-noktah kecil tempus kanak tersibak. Menjulurkan talinya dan memandatkanku untuk segera menggapainya. Aku terpelanting menuju 13 tahun yang lalu. Masa dimana aku bertemu dengan seorang gadis kecil dengan wajah teduh dan senyum tipis nan menyejukkan kalbu. Gadis itu bernyanyi dengan merdu. Aku termangu kala itu. Ia bernyanyi, menghabisi seluruh nada tinggi. Bernyanyi lagu rohani dengan bahasa yang tak kumengerti. Gaunnya berwarna putih gading seingatku. Remanya ia biarkan jatuh menutupi punggungnya. Aku hanya dapat menikmati segala tarikan nafasnya yang tak berujung itu. Aku yang dulu dengan kemeja sewarna dengan gadis itu dan kaca mata bulat yang telah berjasa membantuku melihatnya, selalu menunggu saat-saat yang tepat untuk dapat berkenalan dan berkawan bila diijinkan dengannya.

 

Kita satu gereja. Kita selalu datang setiap hari yang sama. Gadis kecil itu duduk di bangku depan sayap kiri sedangkan aku terpaku di bangku belakang sayap kanan yang cukup jauh dari jangkauannya. Gadis itu selalu diapit ayah ibunya. Ayahnya dengan wajah asia bermata sipit berbadan tegap sedangkan ibunya dengan rambut pirang ala wanita eropa dan kulit merah khasnya. Gadis bersurai hitam itu selalu memakai gaun-gaun ala Aurora, dengan sepatu hak tinggi menjulang mengikat kedua telapaknya. Dia lumayan tinggi, bahkan lebih tinggi beberapa centi dariku. Saat dimana aku sangat gembira adalah dimana gadis itu menyapaku, dan tahu siapa namaku. Ketika anak laki-laki bengal itu menghajarku, gadis dengan bahasa korea amburadul tersebut dengan tangan kosong bertubi-tubi memukuli tubuh mereka. Menghentak lari mereka. Aku sungguh berterima kasih kala itu. Seingatku gadis cilik rupawan tempo dulu itu mengulurkan tangannya dan berucap. “Aku Jasmine”. Aku tersenyum bahagia. Riang hati kurasa. Ia selalu membawa boneka Rillakuma dimanapun dan kapanpun ia berkelana. Dan katanya, “Aku tak dapat hidup tanpanya”. Aku bertanya “Dimana tempat tinggalmu?”. Dan gadis berjuih tipis itu selalu menjawab dengan bahasa korea yang berantakkan.

“Aku tinggal di distrik Un Pyeong”.

“Distrik yang sama tempatku bermukim”, jawabku. Gadis cilik itu tinggal disebuah perumahan mewah. Ia jua selalu bertanya apa cita-citaku. Kujawab dengan enteng. “Aku ingin menjadi komposer”. Dia tertawa dan selalu tertawa sembari mencubit pipi tembam dan memilin telinga caplangku. “Aku ingin menjadi seorang penyair”, ujarnya dulu. Akan tetapi, baru dapat dihitung dengan 5 jari ia telah pergi meninggalkanku. Di usiaku yang masih muda hatiku sudah diambang gamang. Aku mencari dan menunggunya setiap minggu di gereja tempat kami bersimpuh pada Tuhan. Aku selalu menatap hampa  bangku yang telah gadis itu purnakan. Apakah kau tahu, aku tetap akan menunggumu hingga tak muda lagi usiaku. Dan akan tetap mengingatmu sebagai cinta pertama yang tak pernah tenggelam bersama harum debur gelombang.

 

Surih-surih kenangan lampau 13 tahun silam menguap kembali. Membangkitkan dongeng lama antara aku dan gadis itu. Seolah mengobati kehausanku akan gadis yang sekiranya aku sudah mulai lupa akan bentuk rupanya, gadis anggun dihadapanku pun menyunggingkan senyum terbaiknya dan menatap rapat netraku. Menarik kedua tanganku dan seketika membuyarkan lamunan dan rangkaian ingatan masa lalu yang memohon kepadaku untuk menyulamnya lagi. Gadis itu bertanya, “Apakah kau baik-baik saja”?. Aku memanggut. Iya. Nafasku memburu. Aku mencoba menahan rasa gegau dan ganarku. Kutarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengkaitkan aksara demi aksara agar aku dapat bertanya kepadamu. Kukumpulkan seluruh keberanianku. Dan kata-kata itu mencuat dari ujung juihku.

“Apa sebelumnya kita pernah bertemu”?

 

Bagiamana FFnya? Burukkah? Pasti buruk? Pasti, saya berani bertaruh. Saya menunggu komentar dan masukkan dari kalian. Apakah kelak akan ada lanjutannya atau tidak. Kalau kalian meminta untuk melanjutkan cerita ini akan saya lanjutkan kalau tidak ya sudah berhenti sampai disini. Sumbang sarannya penting bagi saya. Terima kasih

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s