Lampion – Chanyeol

lampion chanyeol by l18hee

Lampion-Chanyeol

Park Chanyeol / OC

Ficlet / AU / lilComedy / Fluff / Romance / G

a present by l18hee

i own the plot

Another Lampion:

Luhan | Xiumin

-RnR Please-

lampion/lam·pi·on/ n lentera yang terbuat dari kertas (penerangannya dengan lilin), dipakai pada pesta (perayaan)

“Mau buat apa sih?” seraya mengambil plastik besar dari kedua tangan gadisnya, Chanyeol melontar tanya. Adara yang merasa terbantu akhirnya bisa mengembus napas lega. Harusnya Chanyeol datang sejak tadi, jadi ia tak perlu membawa plastik berat itu jauh-jauh dari toko.

“Hei, aku bertanya, Nona,” teguran ini menyadarkan Adara akan pertanyaan tak terjawab Chanyeol. Setelah menyempatan diri untuk terkekeh sebentar, akhirnya gadis itu bicara, “Rahasia.” Oke, percuma saja menjawab jika akhir-akhirnya hanya sebuah rahasia.

“Apa itu artinya hari ini kau sibuk?” langkah mereka tepat sampai di depan apartemen Adara kala Chanyeol bertanya-lagi.

“89% iya. Bukannya hari ini kita tidak ada janji ya? Katanya mau futsal?” Adara memasukkan password sebelum membuka pintu. Keduanya masuk ke apartemen, melepas sepatu, dan langsung menuju sofa.

Chanyeol meletakkan belanjaan Adara sebelum menjawab pertanyaan tadi, “Tidak jadi. Diganti besok. Jongin lupa pesan tempat hari ini, huh.” Seakan teringat seuatu, Chanyeol menoleh cepat ke arah Adara yang mengambil salah satu plastik berisi beberapa kotak jus dan camilan, “Besok aku janji menemanimu membeli persedian makanan ya?”

“Iya. Makanya aku hanya beli camilan hari ini,” satu kripik kentang sukses masuk ke mulut Adara.

“Bagaimana jika kita ke supermarket pagi saja?”

“Aku ada kelas, Tuan. Tidak bisa membolos,” melihat air muka Chanyeol yang berubah keruh membuat Adara kembali membuka katup bibir, “Tidak apa-apa aku sendiri saja. Lagipula tim-mu tidak akan lengkap ‘kan kalau kau tidak ikut?”

“Bagaimana kalau belanjanya lusa saja?” Chanyeol menjentikkan jari seakan menemukan ide brilian.

“Kau memintaku makan mie sampai lusa?” jawaban ini membuat ide briliannya seketika luntur. Iya juga sih, Chanyeol tak mungkin membiarkan si gadis menyuplai mie secara berlebih. Huh. Harusnya jadwal tidak berubah seperti ini. Mengesalkan. Chanyeol ingin mencekik Jongin sekarang.

“Aku bisa sendiri kok. Kita bisa belanja lagi saat persedian di apartemenmu habis. Kenapa sangat suka bejanja sih?” Adara sedikit bingung karena Chanyeol terlihat begitu ingin menemaninya belanja. Padahal biasanya lelaki gerah jika diajak belanja.

“Kita ‘kan jadi seperti suami istri sungguhan.”

Adara tersedak.

“Dasar Gila! Pulang sana!” Adara merasa telinganya telah ternoda dengan mendengar penuturan Chanyeol yang justru menebar tawa, “Tidak mau. Aku mau nonton tv saja.” Adara menutar mata dan mengambil plastik berisi beberapa bahan yang baru ia beli. Setelah membaca sebuah majalah berisi artikel tentang pelaksanaan festival lampion di Jepang dia jadi ingin membuat lampion.

Lampion sederhana menjadi sasarannya. Dia tidak terlalu ingin terlalu diributkan oleh lampion rumit. Sedikit bekal di kelas seni rupa di bangku sekolah menjadi modalnya. Oh, jangan lupakan panduan dari internet juga.

Sekian saat kemudian yang terdengar hanya suara pembicaraan kelinci dan tawa Chanyeol saja. Dasar, Adara tidak habis pikir kenapa Chanyeol suka sekali menonton animasi itu. Padahal Adara sendiri yakin Chanyeol tidak bisa bahasa kelinci.

Menggambar pola, mengguntingnya degan teliti, Adara sepertinya tak hanya akan membuat satu lampion. Wah, jika sudah selesai pasti akan bagus sekali. Dia akan menghias apartemen dan menikmati festival lampionnya sendiri. Senyumnya tersungging, dia bahkan ingin tertawa senang. Jangan pedulikan, Adara memang terkadang seperti itu di samping tingkat keganasannya.

Chanyeol yang mencuri pandang saja sudah maklum. Dia bahkan ikut tersenyum sebelum kembali menikmati para kelinci berulah di layar tv sana. Untuk sekian saat lamanya Chanyeol begitu fokus pada tv yang begitu mudahnya membuat ia tergelak bebas. Dia tak mencoba melontar tanya pada Adara karena ia sudah yakin gadis itu tidak ingin diganggu.

Bungkus camilan dan kotak jus sudah tandas, acara animasi sudah berubah jadi gosip-gosip panas baru-baru ini. Chanyeol mulai bosan dan memilih mematikan tv. Kala ia beralih pada Adara untuk melontar tanya, yang terjadi justru keheningan.

“Astaga gadis ini,” Chanyeol berdecak melihat Adara justru tertidur di atas karpet dengan pulasnya. Karpet masih penuh dengan beberapa lampion yang hampir jadi. Padahal ‘kan Chanyeol lapar dan jam makan siang sudah lewat sejak tadi. Ditambah persediaan makanan sudah habis, hanya tinggal dua bungkus ramen ketika Chanyeol menilik lemari dapur. Di lemari pendingin hanya ada kotak susu, beberapa jus, serta satu buah apel. Oke, es batu juga ada. Tapi Chanyeol tidak akan kenyang. Dia bosan makan ramen dan dia tidak mungkin makan es batu.

Maka dari itu setelah memindah gadis tukang tidurnya ke sofa, ia memutuskan pergi mencari makanan.

Yang selanjutnya terdengar hanya detik jam dinding. Kelopak mata Adara perlahan terbuka. Telinganya mulai mendengar suara-suara kelinci animasi berbicara. Ketika sepenuhnya ia membuka mata yang terlihat adalah Chanyeol yang duduk di atas karpet, bersandar pada kaki sofa seraya terkikik geli menunjuk tv.

Adara sadar jika ia ketiduran. Tugas menumpuk yang baru tadi malam ia tuntaskan dan acara mendaki kemarin pasti penyebabnya. Harusnya ia beristirahat saja sejak tadi.

“Kartunnya belum selesai?” suaranya sedikit serak, namun mampu membuat Chanyeol menoleh. Sedikit kaget karena gadisi itu tiba-tiba bangun. Chanyeol kira Adara akan tertidur sampai besok.

“Aku tadi keluar dan beli kasetnya, hehe,” cengiran itu terlihat. Oh, astaga, sebegitu sukanya Chanyeol dengan animasi kelinci itu?

“Oh iya, lampionnya-” ucapan Chanyeol terputus oleh seruan kaget Adara yang langsung terduduk, “Ah, aku lupa! Lampionnya! Tidak kau buang ‘kan? Awas saja kalau dibuang, aku-”

“Mana mungkin aku setega itu,” Chanyeol beranjak, selanjutnya ruangan berubah gelap. Sebelum Adara sempat bertanya, ruangan lebih dulu berubah. Cahaya warna warni mulai muncul dari lampion-lampion yang di pasang di beberapa sudut ruangan.

“Bagus ‘kan? Aku keren ‘kan?” ujar Chanyeol seraya menjatuhkan diri di sofa. “Aku yang membuatnya, tahu,” tentu saja Adara protes. Tapi tetap saja tersenyum lebar. Untung saja gelap, jadi Chanyeol tidak melihat.

“Setidaknya ucapkan terima kasih, nona,” Chanyeol sedikit mencebik. Berpura kesal, tentu saja. Membuat Adara terkekeh pelan, “Iya, iya, terima kasih, Tuan.”

Mereka tenggelam dalam hening. Memilih meneliti satu persatu warna yang ada dengan latar kelinci berbicara.

“Omong-omong…” ini suara Chanyeol.

Adara diam saja, menunggu lontaran kata terucap.

“…ini ‘kan tidak gratis. Sebagai gantinya, belanjanya lusa saja ya?”

Dasar. Selalu ada maunya.

 .

.

.

fin!

Advertisements

6 thoughts on “Lampion – Chanyeol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s