For the First Time [1/2]

FFT by l18hee

-For the First Time-

OC’s Min Gi / Park Chanyeol / Oh Sehun / Kang Seulgi&Other

Twoshot / AU / Fluff / Hurt / Sad / School Life / Romance / T

a present by l18hee

-RnR Please-

Hanya sebuah ingatan mungkin terlalu panjang untuk Min Gi kenang

Ingatan tentang bagaimana ia mencicipi rasa cinta dan sakit hati pertamanya

Cinta pertama.

Adalah serangkaian kata yang mampu membuat sudut bibir Min Gi tertarik beberapa centi ke samping. Setiap kali ditanya ‘siapa cinta pertamamu?’ dia hanya akan menggeleng dan berkata ‘aku lupa’. Berbohong jika dalam hatinya sedang terucap sederet nama. Bukanlah hal yang ingin dibicarakan jika itu menyangkut tentang apa yang orang sebut cinta pertama.

Cinta pertama?

Min Gi tetap akan tersenyum. Kendati kisahnya tak berjalan mulus. Dia tetap tersenyum. Mengingat setiap jengkal perasaan yang dulu begitu asing dalam benak. Mengingat betapa tubuhnya tak bisa dikendalikan dengan baik atas sebuah sensasi yang baru menyapa. Mengingat bagaimana setiap detik yang terlewat dulu begitu berharga.

Cinta pertama…

Oke, Min Gi akan membuka kisahnya lagi. Sekali lagi di depan kepul hangat kopi ini.

Dimulai dari sebuah nama. Oh Sehun. Lelaki kulit putih yang memiliki segaris mata jika tertawa. Berkaki jenjang dan sangat usil. Rekor diamnya hanya tiga detik sekalipun kelas sedang berlangsung. Maniak bubble tea, apalagi yang coklat. Tidak bisa mengucapkan huruf s dengan baik. Sangat suka bermain bola di lapangan sekolah. Kapan pun itu. Entah istirahat, saat terik maupun hujan. Semua masih melekat diingatan Min Gi. Jangan kaget, ingatan seseorang tentang cinta pertama bisa sekuat itu, omong-omong.

Bahkan setiap seluk beluk kejadian bisa Min Gi ingat. Tidak semua, tapi cukup untuk mendeskripsikan bagaimana gilanya orang yang pertama kali jatuh cinta.

Dulu, bahkan untuk sekedar ke kantin sekolah saja Min Gi tak rela. Lebih memilih menyandarkan dagu di rangka jendela memandang lelaki itu mengumbar tawa seraya bermain bola. Baiklah, dia mulai kembali keingatan masa lalunya sekarang.

Menatap Sehun lewat jendela.

“Menonton Oh Sehun lagi?” gadis yang sedang memincingkan mata menatap Min Gi ini Kang Seulgi.

“Aku titip susu kedelai ya?” sama sekali Min Gi tak menoleh. Tentu Seulgi paham dan terbiasa untuk itu. Kantin mungkin asing bagi seorang Ok Min Gi sejak dua bulan yang lalu. Rangka jendela kelas yang menghadap ke lapangan luas lebih menarik menurutnya. Hingga Seulgi menyodorkan sekotak susu kedelai pun Min Gi masih berada di posisi yang sama. Yang bergerak hanya manik matanya.

“Sudah beli kado?” Seulgi memosisikan diri di samping sang karib. Dia dapat melihat karibnya tersenyum simpul. Oh, Seulgi sudah terbiasa dengan kelakuan gadis itu.

“Aku membelikannya jam tangan kemarin. Sudah kubungkus. Apa kaupikir dia akan suka?” nadanya terdengar ragu. Yah, wajar sih. Ini pertama kalinya Min Gi memberikan sebuah kado ulang tahun pada seorang lelaki yang ia suka. Seulgi menghela napas, “Mana aku tahu. Apa salahnya dicoba?”

Benar. Mungkin saja Sehun suka ‘kan?

“Aku akan menyerahkannya besok sepulang sekolah,” degub jantung itu semakin memburu kala netranya menangkap sosok Sehun sedang tertawa. Ah, rasanya dia ingin berteriak girang sekarang. Menanti esok rasanya benar-benar memberi efek gugup pada seluruh inci tubuhnya.

Dan esok yang dinanti akhirnya tiba. Min Gi sudah melewatkan semalam suntuk untuk berlatih bagaimana-cara-menyerahkan-hadiah di depan cermin. Kendati begitu, ia masih merasa gugup saat Seulgi mendorongnya untuk mencipta langkah ke kelas Sehun.

“Aku akan menunggu di gerbang. Semoga beruntung,” hanya ini dan Seulgi langsung berlari pergi. Tepat saat sosok Sehun terlukis di mata Min Gi. Sehun terlihat baru saja menyelesaikan pikietnya.

“Sehun!” Bukan Min Gi yang berseru lantang, sungguh! Mana berani gadis ini berseru pada Sehun. Sekedar mengatakan halo-apa-kabar saja tak sanggup.

“Iya, iya, aku dengar. Besok saja oke? Aku lelah sekarang.” Tentang apa yang kedua insan itu permasalahkan di dalam kelas sama sekali tak dimengerti oleh Min Gi yang hanya bisa mengintip melalui kaca jendela. Sehun tidak sendiri? Ah, mana bisa Min Gi menyerahkan hadiahnya seperti ini!

Katakanlah Min Gi pengecut. Pengecut karena memilih berbalik dan bergegas menuju gerbang sekolah di mana Seulgi sudah menyambutnya. Raut kesal Seulgi jelas tercetak kala sebuah benda kubus berselimut kertas kado hijau muda ada di genggaman erat Min Gi, “Ok Min Gi! Aku menunggumu bukan untuk melihat kau gagal seperti ini!”

“Aku akan menyerahkan langsung ke rumahnya. Di kelas ada orang lain tadi,” Min Gi berusaha membuat Seulgi lebih tenang. Lihat? Karibnya sudah lebih baik sekarang walau dengan dengus napas berat, “Oke. Tapi aku tak bisa mengantarmu. Aku harus mengurus adikku.”

“Tak masalah. Doakan saja aku,” senyum yakin penuh semangat membara Min Gi peta diwajahnya. Menciptakan sebuah toyoran pelan di kepala, “Yang penting kau berani dulu.”

Seulgi sepenuhnya benar. Jika tidak berani untuk apa perjuangan Min Gi selama ini?

Alamat Sehun bukan menjadi masalah bagi stalker handal macam Min Gi. Dia berhasil menyogok Park Chanyeol–tetangga Sehun- untuk membeberkannya. Dan sekarang dia sudah berdiri di depan pintu gerbang dengan tulisan ‘Keluarga Oh’ di depannya. Ia sempat melihat sosok Sehun memasuki rumah beberapa saat yang lalu. Setelah menunggu sekian menit ia masih diam. Oh, mungkin ia harus membaca kata-kata semangat buatan Seulgi sebelum melakukannya.

Terdengar bodoh memang. Tapi ajaibnya sungguh berefek.

Kini jarinya sudah menari di atas layar ponsel yang sebelumnya ia matikan karena takut benda kotak itu menimbulkan masalah. Dia membuka aplikasi percakapan. Seketika segores senyum tercipta. Seulgi memang paling pandai membuat kata-kata semangat. Degub jantung Min Gi semakin menderu kala telunjuknya berhasil memencet bel. Oh, kakinya bahkan gemetaran sekarang. Semua pori-pori tubuhnya seakan mengeluarkan hawa dingin.

Namun getar notifikasi pada ponsel seakan menghancurkan momen gugupnya. Tadinya ia ingin bersikap tak peduli. Tapi pada akhirnya ia kembali memeriksa ponsel.

Beberapa ucapan selamat ulang tahun untuk Sehun bermunculan di grup kelasnya tahun lalu. Tapi tunggu sebentar. Ada sederet kalimat yang menarik perhatian Min Gi.

 

‘Selamat ulang tahun tuan yang baru saja go public ;)’

Segera saja Min Gi mengecek obrolan sebelumnya. Dari deret obrolan itu, hanya satu yang paling membekas dalam benaknya. Milik Jong Jina.

‘Selamat ulang tahun sayang… Aku harap cintamu padaku tak ikut berkurang haha’

Hanya itu.

Yah, hanya itu.

Namun sanggup membuat mata Min Gi buram seketika. Mencerna kata-kata Jina tadi sebagai sebuah ucapan selamat dari seorang kekasih adalah yang Min Gi lakukan. Pikirannya kalut seketika. Sadar atau tidak, kotak kubus dengan kertas kado hijau muda yang semula ia genggam sudah sukses mencium jalanan dengan keras. Mungkin jam tangan yang ia beli dengan susah payah sudah hancur. Sayang, tak mungkin melebihi betapa hancur hatinya. Betapa hancur hati seorang gadis yang kini hanya bisa mencipta langkah untuk pergi. Seharusnya ia bisa lebih cepat mengumpulkan keberanian.

Dan patah hati pertamanya dimulai dari sini. Dari bergerumul rasa sesak yang membelenggu hatinya, satu yang bisa Min Gi simpulkan.

Dia merasa hampa.

Dalam sesak ia merasa hampa. Itu terdengar aneh, namun ia tak punya deskripsi lain untuk menggambarkannya. Hampa kala melihat layar ponsel yang mengingatkannya pada grup kelas. Ditambah beberapa pesan yang sempat ia kirim untuk si lelaki sebelum ini semua terjadi. Betapa bodohnya ia jika mengingat itu. Mana ada gadis yang susah payah mencari nomor lelaki lain kelas hanya untuk bertanya bab fisika? Parahnya adalah balasan yang diterima hanya berisi tanyakan-saja-pada-guru-Song. Itu menyakitkan, oke? Tapi waktu itu Min Gi belum sadar. Dia justru berteriak kegirangan sewaktu balasan dari Sehun masuk ke kotak pesan.

Padahal jika dipikir kembali, betapa memalukannya itu semua. Min Gi ingin tertawa, sungguh. Tapi sekarang hanya akan terdengar tawa hambar saja. Entah kenapa. Semuanya seperti berubah tiba-tiba. Tawa hambar, senyum terpaksa, tatapan kosong, mata sayu. Identik dengan keadaan Min Gi saat ini. Maniknya tak lagi berbinar saat melirik ke lapangan.

Sebut Min Gi bodoh atau bagaimana. Tapi dia memang masih menatap Sehun walau dengan kilat putus asa. Jika Sehun memergokinya ia akan berpaling pelan. Tidak seperti dulu yang justru berpaling cepat untuk menyembunyikan senyum.

Dia malas tersenyum sekarang.

Move on dong,” sebuah susu kotak mendarat di mejanya. Oh, rupanya Seulgi. Min Gi mengangguk pelan, “Sudah kok.”

Butuh waktu lama untuk menyembuhkan hati gadis yang baru saja mengalami patah hati. Hari demi hari semakin menumpuk kisah sedih patah hati pertamanya. Sikap Min Gi kembali normal seperti sebelumnya, walau kadang itu lebih terlihat sebagai benteng pertahanan saja. Dia selalu menekan keinginan untuk memperhatikan Sehun seperti dulu. Jendela kelas sudah tak begitu menarik. Dia lebih sering pergi ke kantin atau perpustakaan jika jam istirahat datang.

Kata hampa masih melekat. Nyeri masih membelenggu. Perih masih mengisi. Tapi dia menekannya kuat. Memendamnya rapat-rapat. Berlakon seolah Sehun adalah sosok lelaki yang hanya lewat sekejap di depan mata.

“Min Gi!”

Dia menoleh demi mendapati Chanyeol menghampirinya sedikit terburu. Tanpa menunggu si gadis berucap, sang lelaki lebih dulu membuka suara, “Nanti di rumahku ‘kan?”

“Eh?” Raut bingung Min Gi segera membuat Chanyeol menepuk dahi, “Oh-maaf, maksudku tugas kita. Kelompok sejarah. Ingat?” Sejenak Min Gi terdiam, dua sekon kemudian ia baru mengangguk pelan, “Oh, oke.” Setelahnya ia melengang pergi, kembali mencipta langkah ke perpustakaan. Novel tebal di tangannya sudah cukup membuat Chanyeol mengerti.

Mengembalikan dan kembali meraih satu novel tebal yang belum pernah ia baca sudah menjadi kebiasaan lagi bagi Min Gi setiap harinya. Dia mengambil tempat duduk di dekat jendela sebelum berfokus pada deretan kata pada lembar kertas di depannya. Menghayati setiap bagian yang menggelitik hati. Melupakan sejenak takdir dunia nyata yang tersemat padanya. Hingga-

“Kau suka novel thiller?”

-sebuah suara terdengar. Namun Min Gi masih diam. Bisa saja itu untuk orang lain ‘kan? Yah, walau yang memegang novel thiller hanya dia di sini. Ah, biar saja. Menoleh bahkan sudah menjadi sebuah kemalasan tersendiri sekarang.

“Hei, nona. Aku bertanya padamu.” Sebuah dorongan pada novel dari depan dan Min Gi akhirnya menurunkan bukunya. Hanya demi membiarkan pupil matanya membesar kala maniknya bertemu dengan milik Sehun. Sekali lagi, MILIK SEHUN!

“Eh-oh- itu- iya, iya aku suka.”Suka padamu. Lanjutan kalimat dalam hati sungguh membuat Min Gi ingin membenturkan kepala ke dinding. Kenapa mereka harus bertemu di sini? Dalam keadaan seperti ini? Saat perasaan Min Gi seperti ini? Sialan! Dan, Ya Tuhan, kenapa Sehun menggores senyum itu? Bisa-bisa Min Gi mimisan sekarang.

“Oh, aku kira para gadis hanya suka novel romansa. Seperti Jina,” dengan santainya Sehun membolak-balik buku di depannya. Tak acuh pada perubahan ekspresi milik Min Gi.

“Tidak semua seperti Jina,” sedikit nada ketus terdengar di sana. Lagi pula mana mau Min Gi membaca kisah roman yang seakan mengejeknya dengan berbagai deskripsi manis tentang cinta! Cih. Dia lebih suka melihat akhir kisah sedih nan tragis sekarang.

“Kata Chanyeol-” ucapan lelaki yang masih berfokus pada buku –yang entah apa judulnya- ini membuat bulu kuduk Min Gi meremang. Rapal doa seketika bertebaran dalam benak. Sendi-sendinya langsung bersiap dengan berbagai kemungkinan terburuk. Seperti-

“-kau yang meminta nomerku padanya.”

-menerima pertanyaan paling memalukan dalam hidup. Tak hanya sampai situ. Bahkan Sehun masih menerusan untaian kata dari katup bibirnya, “Apa hanya untuk bertanya bab fiska yang belum kau pahami?” Kenapa pula Sehun harus membahasnya? Membuat genggaman jemari Min Gi pada tepi buku semakin mengerat. Entah kenapa dia justru ingin menangis. Instingngnya dapat dibilang sangat kuat. Dan detik ini juga dia sangat yakin jika Sehun tahu. Tahu bahwa seorang Ok Min Gi memendam rasa pada lelaki bernama Oh Sehun.

Memalukan.

“Aku juga bertanya pada yang lain kok. Jangan salah paham,” sang gadis beranjak. Tak mencoba melayang pandang ke arah si lelaki. Dia hanya ingin segera pergi dari hadapan Sehun. Sekarang juga. Tanpa menyadari jika sudut mata sang lelaki tertumbuk pada punggungnya yang menjauh. Sedikit senyum tercipta sebelum Sehun menutup buku ensiklopedi –yang demi apapun tak pernah ia baca- dan berjalan keluar perpustakaan. Tak ada yang harus ia lakukan lagi di sini.

.

.

.

tbc

Advertisements

One thought on “For the First Time [1/2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s