Confession [Chapter 3]

Featured image

Confession

Erlinapark (@erlinabatari)

Chapter

Park Chanyeol, Kim Minjung (oc)

Angst, Sad

15+

Disclaimer : EXO milik orang tua nya, saya hanya meminjam Nama nya saja. Kim Minjung itu juga bukan punya saya, saya hanya memakainya dalam ff yang saya buat. Maaf jika ada kesamaan tokoh yang saya buat. Maaf juga banyak typo yang saya tebar.

“Kau menuruti keinginan ku untuk ‘kemana’ ? Jika kau bertanya seperti itu, aku ingin berada di Jerman saat ini”

—-

—-

Satu bulan kemudian.

Minjung terduduk diam menatap sebuah benda yang menjadi titik fokusnya, sebuah benda berbentuk persegi dengan berlapiskan kaca yang dilengkapi dengan pinggiran kayu. Sangat cantik. Pria dan wanita dengan seorang wanita kecil cantik yang berada ditengah tengah mereka berdua.

Minjung meneteskan air matanya. Terlalu sedikit kenangan yang Minjung punya bersama dengan orang tuanya. Umur 7 tahun. Itu begitu sebentar. Singkat. Tapi mereka, mereka sudah berani meninggalkan Minjung yang sama sekali tidak memiliki banyak kenangan bersama dengan kedua orang tuanya. Kasian. Minjung menghina dirinya sendiri, kenapa dirinya tidak bisa seperti anak lain nya yang masih bisa bersenang senang bersama orang tua lengkap mereka. Minjung juga ingin bersama dengan seseorang yang juga mencintai Minjung, seperti orang taunya.

Minjung mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya. Menyeka air matanya yang mengalir deras. Ingatannya begitu kuat tentang orang tuanya.

“hiks..eomma appa. Miss you. Apa kalian tidak ingin berkata jika kalian merindukan ku?” ucap Minjung pada figura yang berisikan fotonya bersama orang tuanya.

“Saat ini tepat 16 tahun, kalian meninggalkan ku. Mengapa? Apa utang kalian itu terlalu berat, hingga kalian dibunuh orang dua orang berjas itu?” ucap Minjung lagi.

Hah.

Minjung menghela nafasnya berat. Masih menatap foto itu. Tidak terima dengan rencana Tuhan, yang begitu, tidak adil padanya.

Hidup nya seperti aspal hitam. Begitu kelam. Tidak ada yang akan menjadi putih, jika tidak dirubahnya. Tapi tetap saja nasi sudah menjadi bubur. Minjung harus menguatkan hatinya seperti batang pohon yang kokoh.

“Apa yang harus kuperbuat? Argg..hidup ini tak adil!” gusar Minjung mengacak rambutnya frustasi. Sangat.

Ting tong~

Bunyi bel apartermen Minjung berbunyi. Membuat Minjung menghentikan aktifitasnya, dan tersadar dengan bunyi bel apartermennya.

Segera bangkit, Minjung berjalan menuju pintu utama apartermennya. Melihat dari lubang kecil yang berada ditengah pintu itu. Tidak ada seseorang, gumam Minjung.

Akhirnya Minjung memberanikan dirinya membuka pintunya. Setelah terbuka Minjung melihat kekanan dan kekiri, mengecek seseorang. Tapi nihil tidak ada seseorang yang berada dilorong apartermennya.

Tapi saat menundukkan kepalanya. Minjung terkejut, bungkusan berbentuk kotak dengan kertas kado berwarna biru soft yang sangat cantik. Dari siapa?, tanya Minjung pada dirinya sendiri.

Minjung berjongkok dan mengambil kotak itu. Menutup pintunya kembali, dan kembali pada ruang tengah aprtermennya. Minjung menaruh bungkusan itu pada kedua pahanya yang memakai trening hijau daun.

Membukanya secara perlahan. Minjung takut, jika sesuatu didalamnya adalah bom. Seperti berita, bahwa bom bisa berbentuk apa saja dan meledak ketika dibuka.

Sedikit tersentak. Minjung menghela nafasnya lega. Didalam nya hanya berupa kertas pink dengan pita cantik diujung kanannya yang berwarna sama. Minjung mengambilnya dan membuka isi surat itu.

“Kau ada waktu? Kita bertemu ditaman dekat kantor Park Central. Jika kau ingin tahu siapa yang mengirim mu surat, maka datanglah”

Cy-

Minjung selesai mmbaca isi dari surat itu. Sepertinya Minjung pernah mendengar perusahaan bernama Park Central. Tapi sayangnya ingatan Minjung begitu pendek. Jadi, Minjung lupa siapa yang menyebutkan kata Park Central tersebut.

“Tidak dicantumkan jam? Bagaimana ini?” kata Minjung bingung.

Benar. dalam surat itu tidak disebutkan jam berapa harus bertemu. Minjung bingung, bagaimana dirinya bisa tau jam berapa harus berada ditaman itu.

“Makan siang. Apa kah itu tepat?” tanya Minjung pada dirinya sendiri.

Kau benar Minjung, jam makan siang para karyawan akan keluar mencari makan. Mungkin yang mengirim surat itu bisa bertemu dengannya saat jam makan siang.

Minjung akhirnya melirik jam dindingnya. “Sudah setengah 11. Sebentar lagi” ucap Minjung.

Sepertinya Minjung tidak tau, sangat, tentang siapa yang mengirimnya surat dengan kotak cantik itu.

Pukul 12 siang hari. Para karyawan sudah mulai keluar dari kantornya. Mencari makan untuk mengisi perutnya. Mulai dari wanita dan pria berjas rapi ditubuhnya.

Minjung sudah berada ditaman dekat perusahaan Park Central yang menjulang tinggi itu. Dengan warna luar perusahaan yang berwarna coklat batang.

Minjung melirik kanan kiri. Sembari menggerakkan kakinya kedepan dan belakang. Rambut yang dikuncir dua kedepan dan setelan celana jeans dan kaos polos ditubuhnya tampak pas ditubuhnya. Oh..jangan lupakan sepatu nya. Minjung bahkan pantas disebut mahasiswi. Bahkan diumurnya yang 23 itu.

“Apa aku salah jam” gumam Minjung pelan.

Saat dirasakannya, tidak ada seseorang yang mendekatinya atau mengahampirinya.

Minjung membuang nafas pelan. Tangan nya sedikit dilonggarkan dari ayunan yang dinaikinya itu. Mengangkat tubuhnya dari ayunan itu. Sebelum akan beranjak, Minjung melirik lagi kekanan dan kekirinya. Tapi tetap saja tidak ada orang yang menghampirinya.

Minjung menunduk dan mulai berjalan keluar dari taman itu. Menaruh tangannya kebelakang, ngerti maksunya bukan. Tapi langkahnya tiba tiba terhenti saat ada sepatu fantofel lelaki yang berada didepannya, tepat didepan sepatu Minjung.

Mendongakkan kepalanya, Minjung menganga. Bertemu dengan seseorang yang berada diclub malam beberapa bulan lalu. Minjung terkejut, rambutnya yang rapi dengan pomade dan jas rapi seperti orang kantoran lainnya. Sungguh terlihat tampan, dan Minjung suka itu.

“Menunggu lama” kata Chanyeol. Memberikan senyum lebarnya.

Tampan, ucap Minjung dalam hatinya.

Sadar, akhirnya Minjung menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Oh, tidak. Aku barusan tiba” bohong. Minjung saat ini tidak sedang berbohong.

“Kau berbohong. Aku melihat wajah mu yang kecewa karena aku tidak kunjung datang” saut Chanyeol.

“Jadi..orang yang mengirimkan surat itu adalah kau?” Ucapnya saat tersadar jika, yang mengirimkan surat itu adalah Chanyeol.

Seseorang yang menarik perhatiannya baru baru ini.

Chanyeol mengangguk. Meng’iya’kan ucapan Minjung yang terkejut. “Jadi, apa kau berniat untuk pulang saat aku sudah datang?” tanya Chanyeol akhirnya.

“Tidak..tidak. Hanya saja, aku tidak suka menunggu terlalu lama” Minjung sedikit mendongakkan kepalanya.

Berbicara dengan seseorang yang lebih tinggi dari padanya, sungguh sulit. Lehernya juga akan sakit jika terlalu lama mendongak.

“Ingin jalan jalan?” ujar Chanyeol.

Minjung terdiam dari jalannya. Mencerna ucapan, Chanyeol. “Bukan kah, 20 menit lagi kau harus kembali kekantor?” tanya Minjung heran dengan melirik jam tangannya.

Chanyeol terlihat gugup seketika. Dirinya terkena skak oleh Minjung. “Tak apa. Aku sudah izin pada atasan ku”

Untuk kedua kalinya Chanyeol berbohong pada Minjung. Tepat dihadapannya.

“Baiklah. Kita ingin kemana?” tanya Minjung pada Chanyeol.

“Kau ingin kemana?”

“Kau yang mengajak ku untuk bertemu, mana mungkin aku yang meminta” balas Minjung.

” Kau wanita, aku akan menurut padamu”

“Kau menuruti keinginan ku untuk ‘kemana’ ? Jika kau bertanya seperti itu, aku ingin berada di Jerman saat ini” gurau Minjung dengan sedikit tertawa pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Minjung. “Baik, kita berangkat hari ini” jawab Chanyeol.

Minjung tertawa, “Aku hanya bercanda” kata Minjung.

“Jika kau bercanda. Maka aku saat ini serius” Chanyeol berkata dengan sangat serius.

Membuat Minjung terdiam dalam jalannya. Kata yang keluar dari mulut Chanyeol sungguh konyol. “Aku bersumpah, itu hanya lelucon” kata Minjung lagi.

“Dan aku serius dengan ucapan ku!” ucapan Chanyeol beeubah menjadi serius kali ini. Sama seperi ucapnnya.

“What?!” pekik Minjung.

Konyol. Itu yang saat ini berada dalam otak Minjung. Tidak mungkin seorang bawahan membawanya kebenua Eropa itu. Mustahil.

“Diam disini!” perintah Chanyeol pada Minjung.

Chanyeol akhinya meninggalkan Minjung. Hanya benerapa langkah saja, sekitar 10. Chanyeol mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Menelpon seseorang yang biasa mengurusnya saat akan bepergian saat keluar negeri.

“Aku akan pergi ke Jerman. Siap kan semuanya” perintah Chanyeol pada diseberang sana.

“Baik tuan” sautnya dari seberang sana.

Lantas Chanyeol memutuskan sambungan itu dan memasukkan kembali ponselnya pada saku celananya.

Berbalik dan berjalan kearah Minjung yang masih terdiam dengan mengedipkan kelopak matanya, tak percaya. Wajahnya juga masih terlihat datar.

“Ada yang salah?” tanya Chanyeol saat melihat ekspresi Minjung.

Minjung tersadar dengan suara Chanyeol, akhirnya membiasakan ekspresinya. “Tak apa. Hanya terlihat dan terdengar konyol saja. Jika aku..ahh tidak maksudnya kita akan menuju kebenua Eropa ?” kata Minjung, masih tidak percaya dengan tindakan Chanyeol.

“Suatu saat kau akan mengerti” jawab Chanyeol dengan menatap Minjung.

Minjung pun hanya mengerutkan dahinya tidak mengerti.

Percaya atau tidak. Saat ini Minjung berada dalam pesawat yang dilengkapi dengan semua fasilitas. Kursi saja hanya terdiri dari 6 kursi. Bisa juga dibuat tempat tidur.

Minjung tidak percaya. Masih dengan otak yang berfikir dengan keras. Minjung takjub. Sangat.

Bagaimana bisa ini terjadi padanya. Berada pada pesawat pribadi, yang bisa dibilang wah. Begitu juga fasilitas.

“Bisa kah kau bersikap biasa?” suara Chanyeol tiba tiba saja bersuara.

Membuat Minjung mendongakkan kepalanya, tepat disebelah kanan nya. “Aku hanya..takjub. Aku tidak bermimpikan?” tanya Minjung dengan gugup pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum, “Kau tidak sedang bermimpi, Kim Minjung”

Barusan orang itu menjawab dengan panggilan lengkap ku, kata Minjung dari hatinya.

“Tapi bagaimana bisa? Kau hanya bawahan, tapi kau memiliki ini semua dengan memerintah seseorang. Siapa kau sebenarnya”

“Setelah sampai aku akan bercerita. Tidurlah, perjalanan masih lama”

Minjung mengerti dan melakukan yang dibicarakan Chanyeol. Tapi baru 10 menit mata tertutup. Minjung tiba tiba membuka matanya lagi.

Berucap, “Aku tidak bawa pakaian. Bagaimana? Mengapa kau senenaknya menggeretku dan membawaku dalam pesawat ini tanpa menyuruh ku membawa pakaian?” kesal Minjung pada Chanyeol.

“Kau ternyata cerewet juga. Tidak perlu menghawatirkan hal sekecil itu. Cepatlah tidur”

“Aku memang cerewet. Dasar lelaki menyebalkan!” Minjung dengan segera menutup matanya dan mengambil selimut yang didudukinya.

Membuat Chanyeol tersenyum melihat tingkah asli dari seorang perempuan malam yang biasa berada diclub malam dengan pakaian seksi nan menggoda. Sungguh berbeda.

**

Setelah perjalanan cukup jauh yang keduanya tempuh. Akhirnya mereka berdua, Chanyeol dan Minjung, sudah sampai dibandara Bandar Udara Internasional Berlin Schönefeld

Suasana dibandara itu sendiri, terbilang cukup ramai. Bahkan hampir penuh. Sebab banyak seseorang yang berlalu lalang didalam bandara besar itu. Mulai dari seorang direktur berjas. Atau seseorang yang ingin berpergian menggunakan pesawat. Gaya mereka bahkan bisa dibilang modis dan cukup mahal. Tampak sangat jika seorang yang cukup kaya.

Sedangkan kedua insan itu baru saja berada diantara orang banyak itu. Bahkan, Minjung terlihat sekali jika dirinya masih merasa ngantuk, saat keluar dari pesawat pribadi Chanyeol. Karena ini perjalanan terjauhnya, untuk pertama kalinya. Chanyeol yang merasa Minjung seperti itu lantas mengambil kacamata hitamnya. Menggunakannya pada wajah Minjung yang masih terlihat ngantuk. Minjung pun hanya menurut pada kelakuan gesit Chanyeol.

Bahkan saat ini Chanyeol sudah menggandengan tangan Minjung. Menuntun Minjung menuju keluar dari kerumunan ramai orang itu.

Setelah lama meneliti mobil yang berlalu lalang. Chanyeol, akhirnya menemukan mobil berwarna putih yang cukup mewah didalamnya. Chanyeol pun menarik tangan Minjung, membawanya kearah mobil itu.

Sesampainya disebelah kiri mobil putih itu. Chanyeol melepaskan tangannya dari Minjung dan membuka pintu belakanh mobil itu, khusus Minjung. Minjung pun mengerutkan dahinya, tindakan Chanyeol begitu berlebihan.

Tidak ada tanggapan dari Minjung, akhirnya Chanyeol mendorong pelan punggung Minjung untuk masuk dalam kursi penumpang itu. Setelah Minjung masuk. Chanyeol lantas masuk juga pada kursi penumpang itu.

Sudah. Supir yang sejak tadi menunggu tuannya itu langsung menjalankan mobil itu menuju kearah sebuah tempat yang ingin dituju oleh tuannya itu.

“Ada apa sebenarnya ini?” tanya Minjung untuk yang kesekian kalinya.

Minjung membuka kacamatanya dan menatap Chanyeol dengan tajam. Sungguh Minjung tidak mengerti.

Jika disuruh mengulang waktu. Minjung tidak ingin mengucapkan negara dibenua Eropa itu. Menyesal telah mengucapkan itu.

“Sudah ku katakan, aku akan memberitahu mu. Bersabarlah” jawab Chanyeol berusaha memenangkan dirinya.

Sebab, dirinya tau setelah ini akan ada pertarungan mulut antara dirinya dan Minjung saat tiba dihotel, tempat keduanya menginap.

Supir itu pun mengerem mobil dengan pelan saat sudah sampai pada  tempat yang Chanyeol ingin kunjungi.

Sebuah butik dengan nuansa putih bersih yang dihiasi oleh renda disisi pintu butik. Tidak banyak yang ada dalam butik itu. Hanya segelintir manusia yang berada didalam sana.

Chanyeol akhirnya keluar dari mobil itu. Yang disusul oleh Minjung dibelakangnya. Apa lagi sekarang, kata Minjung dalam diamnya.

“Kau ingin apa kemari?” bisik Minjung pelan dibelakang Chanyeol yang lebih tinggi itu.

“Ikutlah saja” jawab Chanyeol dan menarik tangan Minjung cepat.

Minjung pun hanya terdiam dan mengikuti saja apa yang ingin dilakukan Chanyeol.

Keduanya pun masuk dalam butik bernuansa putih itu. Minjung takjub melihat melihat beragam baju yang berjejeran disana. Tampak terlihat bagus dan mahal.

“Hei..ini begitu mahal bukan?” tanya Minjung lagi pada Chanyeol.

“Tidak” jawab bohong Chanyeol.

Sudah jelas bahwa pakaian yang ada disana tampak mahal.

“Kau pilih saja baju disini. Pilihlah yang kau suka dan ambil, setelah itu beritahu aku” perintah Chanyeol.

Minjung ternganga mendengar nya. Memilih baju yang Minjung suka. Wah..betapa baiknya seorang Park Chanyeol untuk Minjung.

“Tidak usah berdiam seperti itu. Cepatlah, jangan buang buang waktu mu untuk berdiam” melihat Minjung yang masih terdiam dan langsung menyuruh Minjung untuk segera memilih baju yang ia sukai.

Menurut, akhinya Minjung mulai mencari sebuah baju yang akan menarik perhatiannya. Dari ujung sampai ujung. Tidak ada yang cocok untuk Minjung. Hanya dress yang dilihat oleh Minjung dalam butik itu. Bukan jeans atau kemeja kotak atau baju polos.

Minjung pun mengahampiri Chanyeol yang tampak sedang memilih baju dibagian pria. “Chanyeol-ssi,  aku tidak suka dengan semua baju disini” ucap Minjung sedikit takut pada pria tinggi itu.

“Sungguh? Kalau begitu kita cari bersama” jawab Chanyeol enteng.

Chanyeol pun berjalan mendahului Minjung. Mencarikan pakaian yang cocok untuk Minjung. Sampai akhirnya, mata Chanyeol menemukan sebuah dress coklat kalem yang begitu cantik. Akhrinya Chanyeol pun mengambil dress itu dan mencocokan nya pada tubuh Minjung yang kecil. Merasa cocok dengan tubuh Minjung.

Chanyeol memberikan dress itu pada Minjung. “Coba dress ini”

Minjung yang melihat dress yang begitu bagus, menurut  Chanyeol. Mengambil dress itu dan masuk pada ruang ganti dalam butik itu.

Hanya 5 menit. Minjung pun keluar dengan setelan dress cantik itu dan menunjukkan nya pada Chanyeol.

“Ambil itu” tutur Chanyeol, “Tetap pakai dress itu. Tunggu disini sebentar” Chanyeol meninggalkan Minjung sendirian lagi.

Cuma beberapa menit Chanyeol datang bersama dengan seorang wanita dengan rambut perak nya yang begitu cantik untuknya.

“Tolong ambilkan pakaian yang bagus untuk tubuhnya” ujar Chanyeol dengan menggunakan bahasa Prancis.

Wanita itu pun menurut dengan perintah Chanyeol itu. Mencarikan dress yang pas dibadan kecil Minjung,terlihat mahal memang. Tapi seorang Chanyeol tidak pernah memandang harga atas apa yang akan ia beli.

Minjung yang tidak mengerti dengan ucapan Chanyeol dengan wanita itu. Hanya berdiam diri dengan menggerakan kakinya kepedan dan belakang,sekaligus menghilangkan rasa bosannya.

Kajja kita kembali dalam mobil” ujar Chanyeol saat mendekati Minjung yang terdiam.

“Kau tidak membayar baju ini?” Tanya Minjung curiga.

“Sudah, sekarang kita akan menuju tempat menginap” ujar Chanyeol lagi. Menyeret tangan Minjung.

“Kau bisa berbahasa Prancis? Terdengar sangat fasih”

“Aku da ibu ku pernah berada di Prancis selama 4 tahun. Jadi aku mengerti bahasa Prancis ini”

Minjung menganggukan kepalanya mengerti.

**

Sampai pada hotel bintang 5 yang cukup terkenal di Jerman ini. Minjung tercengang untuk yang kesekian kali. Ekspresi nya bahkan sangat lucu. Mulut menganga dan tangan yang memegang kedua pipinya. Mungkin saat ini semua orang bisa lihat bagaimana ekpresi dari Minjung. Seperti anak kecil melihat permen kapas.

Bahkan Chanyeol pun mengetahui tingkah laku Minjung itu. Chanyeol tersenyum setelahnya. Sungguh, bagaimana seorang wanita club malam bisa takjub dengan hotel semegah ini? Apa pelanggannya tak pernah membawanya ke hotel seperti itu? Huh..tidak royal.

“Ayo kita masuk” ucap Chanyeol menghentikan ekspresi Minjung.

“Ah..baiklah. Ayo kita masuk” Minjung lantas melangkahkan kakinya melewati Chanyeol yang masih terdiam.

Cukup lama Minjung berjalan didepan Chanyeol. Rasa heran menyeliputi Minjung, pasalnya tidak ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Minjung pun menoleh kebelakang. Ternyata Chanyeol masih terdiam ditempatnya dengan melipat kedua tangannya.

“Ya! Ayo jalan” ajak Minjung seolah tau tempat atau kamar yang akan mereka tempati.

“Hei..kau memang nya tau nomer berapa kamar kita?” tanya Chanyeol sambil berjalan mendekat pada Minjung. Saat sudah sampai pada hadapan Minjung, Chanyeol pun mendorong dahi Minjung pelan. “Mengapa kau seperti orang sok tau?” tanya Chanyeol lagi pada Minjung.

Minjung mempout bibirnya kesal. Tidak terima dengan perilaku Chanyeol. “Aku tau kau tinggi. Tidak usah mendorong ku seperti itu” kesal Minjung pada Chanyeol dengan sedikit mendongakkan kepalanya keatas. “Tiang bendera!” pekik Minjung.

“Suara mu sungguh merdu nyonya Kim. Jadi pelankan sedikit, beruntung kita berada dinegara orang, sopan lah sedikit” ceramah Chanyeol padanya.

“Nde, Appa” jawab Minjung gemas. Perilaku Chanyeol mengingatkannya pada sang ayah yang telah meninggal. “Sekarang ayo kita pergi dari sini dan beristirahat” ujar Minjung lagi. Masih dengan nada lembutnya.

Mendengar kata ‘ayah’ yang diucapkan oleh Minjung membuat Chanyeol membelak tak percaya. Bagaimana dia bisa memanggilku ayah?, ucap Chanyeol dalam hatinya. “Ayo” ajak Chanyeol.

**

Mereka memasuki kamar yang sama. Chanyeol membuka pintu hotel yang sudah ia pesan, yang disusul oleh Minjung yang memasuki hotel itu terlebih dahulu. Minjung menginjak kan kakinya kelantai yang lumayan dingin itu.

Bahkan kali ini Minjung kembali ternganga melihat dalam hotel itu. Kasur king size yang pertama kali Minjung lihat dengan gaya modern yang cukup unik. Sangat cantik. Sofa empuk berwarna merah juga tampak menghiasi depan tempat tidur itu.

Untuk kesekian kalinya juga Chanyeol mengembangkan senyumnya dan menggelengkan kepalanya pelan. Tingkah Minjung sangat menggemaskan dimata seorang direktur muda itu.

“Chanyeol-a, bagaimana bisa kau mendapatkan semua ini?” tanya Minjung antusias. “Kau..sebenarnya kau siapa?!” tanya Minjung lagi menyipitkan matanya. Bingung. Jelas..

Sesusai menutup pintu. Chanyeol berjalan kearah Minjung, setelahnya mengajak Minjung untuk duduk disofa merah yang berada didepan kasur itu.

“Kau sunggu ingin mengetahui nya?”

Minjung mengangguk.

“Jinjja?”

Minjung mengangguk kembali.

“Aku adalah….-” Chanyeol menghentikan ucapannya.

Membuat Minjung kesal. Dengan mempout bibirnya tidak suka.

“Kau cantik jika seperti itu” puji Chanyeol.

“Ya!” pekik Minjung.

“Baik. Aku seorang direktur dari Park Central” ucap Chanyeol santai.

Minjung sang pendengar pun hanya membuat ekspresi datar diwajahnya. “Kau bohong” katanya.

“Tidak”

“Bagaimana bisa?”

“Hotel yang berada di Gangnam. Itu adalah milikku”

“MWO!” pekik Minjung.

flasback

Keluarga Park sudah pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 11 PM. Termasuk Sehun. Dirinya tak lupa pamitan pada keluarga Kim juga pada Jaejin.

Mereka, keluarga Kim, sudah berada didalam rumahnya. Tuan juga nyonya langsung memasuki kamar mereka.

Sehun pun juga. Tapi saat melihat pintu kamar Chanyeol. Sehun teringat akan ucapan Jaejin.

Sehun pun dengan dengan ragu masuk kedalam kamar Chanyeol yang tampaknya terlihat gelap. Sehun menyalakan lampu dikamar Chanyeol. Tampak seorang direktur itu sedang tertidur pulas.

Chanyeol belum juga bangun saat lampunya dihidupkan. Akhirnya Sehun mendekat diranjang Chanyeol. Menggerakkan lengan Chanyeol secara berlahan.

Hanya 3 menit. Chanyeol membuka matanya pelan menguap dengan lebar dan merenggangkan otot ototnya. Terganggu.

“Wae?” tanya Chanyeol to the poin.

“Minjung-” Sehun mengantungkan kalimatnya.

“Ada apa dengan Minjung?” tanya Chanyeol mulai serius.

“Dia mengira kau benar benar adalah seorang bawahan ku”

“Bagiamana kau tau?”

“Jaejin. Aku dan-”

“Tidak penting. Ceritakan masalah Minjung” Chanyeol mulai gegabah dengan sikap Sehun.

Sedangkan Sehun hanya menghela nafasnya pelan. “Kim Minjung. Aku tau kau berbohong. Dan seorang Kim Minjung tidak ingin dirinya dibohongi meskipun itu sekecil apa pun. Jaejin tenyata sahabat dekat dari seorang Kim Minjung. Jadi sebaiknya kau memberitahunya dari pada Minjung mengetahuinya terlebih dahuly”

Jelas seorang Chanyeol tercengang. Kalimat bawahan membuat Minjung akan marah padanya.

“Ceritakan lah semuanya padanya tentang identitas sebenarmu” lanjut Sehun pada Chanyeol.

Menepuk pundak Chanyeol memberi semangat. “Selesaikan hyung”

end

“Kau tau kawasan itu?” tanya Chanyeol.

Minjung mengangguk kecewa. “Tapi..bagaimana bisa..kau..kau adalah seorang direktur..bagaimana bisa kau bersama dengan seorang murahan disini” gugup Minjung dengan menundukkan kepalanya. Lantas Minjung langsung mengubah tempat duduknya berada dibawah, lantai.

Sopan terhadap seorang yang lebih tinggi derajatnya adalah kebiasaan Minjung. “Maaf kan atas ketidak sopanan ku sajangnim” ucap Minjung dengan sedikit bergetar.

Tingkah dan ucapan Minjung pada Chanyeol sungguh tidak sopan. Mengingat Chanyeol adalah seorang direktur muda juga kaya.

“Hei..hei..bangunlah. Jangan bersikap seperti itu” kata Chanyeol. Sedikit kesal dengan sikap Minjung.

“Tidak tidak. Aku pantas berada dibawah Anda, Sajangnim” jawab Minjung.

“Ya!” pekik Chanyeol dengan kesal pada Minjung. “Bagun dari duduk mu dan kembali pada kursi!” perintah Chanyeol pada Minjung dengan nada kesal.

“Tidak..aku pantas disini”

Dengan terpaksa Chanyeol berdiri dari duduknya. Melihat kearah bawah, tepat Minjung terduduk. Chanyeol melihatnya dengan kesal. “Aku tidak menyuruh mu untuk duduk dibawah. Jika kau menganggapku lebih atas dari pada dirimu!” ungkap Chanyeol.

Minjung pun mendongakkan kepalanya tepat dimata hazel Chanyeol. Tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari Chanyeol. Akhirnya Minjung pun kembali tertunduk.

“Bagun!”

Tidak ada tanggapan dari Minjung.

“Ya! Kim Minjung!”

Kesal sampai ubun ubun akibat dari tingkah Minjung. Akhirnya Chanyeol terduduk dengan kaki kanan yang menyentuh lantai. Menggerakkan tangannya menuju pada dagu Minjung. Dengan perlahan pun  wajah Minjung dapat terlihat disana.

Wajah sedu dengan air mata yang sudah mulai membasahi pipinya. Membuat Chanyeol kaget. Mengapa wanita ini sampai menangis, kata Chanyeol dalam hatinya.

Berlahan tapi pasti. Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Minjung. Memeluk tubuh kecil itu dalam pelukannya. Membuatnya nyaman didada bidangnya itu. Diperlakukan seperti itu, tangisan Minjung tambah menjadi disana.

Tangan Chanyeol pun akhirnya membelai surai rambut Minjung yang sudah tergerai indah dipunggung nya. Membuat wanita itu tenang dan berhenti untuk menangis.

“Berhentilah. Untuk apa kau menangis?” tutur Chanyeol pelan.

Belum ada balasan dari perilaku Chanyeol pada Minjung. Chanyeol pun beralih menangkup pipi Minjung yang sudah basah dengan air mata.

“Mengapa? Mengapa kau menangis?” tanya Chanyeol.

Minjung masih asik terisak. Belum puas untuk menangisi kebenaran besar ini. Mungkin Minjung telah terbiasa bermain bersama dengan direktur-direktur muda mau pun tua yang kaya raya.

Tapi tidak dengan Park Chanyeol. Seseorang yang telah membawanya pergi dari Korea menuju Prancis ini. Apakah Minjung pantas mendapatkan perilaku seperti ini?. “Kumohon berhentilah. Tidak usah kau seperti ini” titah Chanyeol lagi. Mengelus pipi Minjung dari air mata yang turun dipipi nya.

“Aku..hiks..aku..untuk apa semua ini?” tanya Minjung gugup dengan suara isakannya.

“Dengarkan! Kau tau kita bertemu satu bulan yang lalu ketika kita bertemu disebuah club malam dan mulai berbincang. Juga pada saat sebuah bus berwarna kuning berhenti disebelah mobil sedan. Aku sedang melihat mu disana dengan pakaian yang awal kau kenakan. Kau tampak berbeda. Aku sudah tidak menganggapmu sebagai wanita murahan club malam. Aku mulai memikirkan mu sepanjang malam. Mencari alamat apartermen mu yang terpencil itu. Kau mungkin bertanya. Mengapa aku mencarimu? Karena aku membutuhkan mu!” Chanyeol menghentikan ucapannya tepat dengan tatapan tajamnya pada Minjung yang sudah tidak terisak kembali.

Minjung lantas terdiam mendengar menuturan kalimat Chanyeol. Jadi benda samar yang ada dalam mobil itu adalah Park Chanyeol, kata Minjung dalam hati.

“Terkejut nyonya?” ujar Chanyeol setelah menangkap ekspresi Minjung.

Minjung mengangguk mantap dan berkata, “Kau membutuhkan ku? Untuk apa?” tanya Minjung sedikit bergetar.

“Bahkan sangat membutuhkan mu. Untuk menjadi sandra ku” Chanyeol tersenyum kecut setelahnya.

“Tapi..kita berbeda. Jauh. Taraf hidup mu lebih berkualitas dibanding-”

Ucapan Minjung tiba tiba terputus oleh kecupan bibir yang begitu cepat. Pelakunya tentu pria jangkung itu. Chanyeol mengecup bibir Minjung sekilas, menghentikan ucapan yang akan keluar selanjutnya. Tentu Minjung kaget dengan tindakan kilat itu.

“Aku tuan ku dan turuti apa mau ku. Apa kau paham?!” ucapan tegas penuh makna keluar dari mulut Chanyeol.

Tuan? Mungkin kalian tidak banyak tau dengan semuanya.

Seorang Park Chanyeol telah membeli Kim Minjung sebagai pegawai atau pekerja diclub malam itu. Tentu dengan harga yang tidak murah. Minjung sudah lama bekerja pada club malam itu. Keahliannya tentu tidak diragukan lagi. Minjung bahkan sudah menjadi icon pada club malam itu dan tentu sudah tau siapa Kim Minjung itu.

200,000,000 WON cukup mahal bukan. Harga sebesar itu dapat membeli seorang wanita club malam. Tapi tunggu. Apa manusia dapat ditukar dengan uang? Apa kah itu wajar? Mengapa manusia membeli manusia untuk dijadikan hiburan. Menarik.

.

.

.

.

TBC

NOTE : maaf atas ketelatannya. tugas numpuk banget, aku juga ini ngetiknya ada yang dari ponsel ku.
oh iya aku janji 2 minggu lagi COMEBACK TO ME bakalan ending, masih proses pengetikan soalnya. aku
bakalan pst sekaligus CHAPTER 8 sama CHAPTER ENDING nya. Ditunggu ya. maaf jika banyk kesalahan
pengetikan dan typo yang aku biki. makasih sudah baca ff gk jelas ini. MAAF sekali lagi. :)
Advertisements

5 thoughts on “Confession [Chapter 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s