Confession [INTRO CAST] chapter 1

 Featured image

Confession

Erlinapark (@erlinabatari)

Chapter

Park Chanyeol, Kim Minjung (oc)

Angst, sad 

15+

Disclaimer : EXO milik orang tua nya, saya hanya meminjam Nama nya saja. Kim Minjung itu juga bukan punya saya, saya hanya memakainya dalam ff yang saya buat. Maaf jika ada kesamaan tokoh yang saya buat. Maaf juga banyak typo yang saya tebar.

—-

—-

Minjung POV

Mungkin kali ini kalian akan jijik mendengarkan cerita ini. Tapi sungguh ini adalah cerita asli dari kehidupan ku. Tapi aku rasa kalian akan membaca dengan seksama apa yang akan aku ceritakan.

Aku wanita berusia 23 tahun. Masih muda bukan? Aku tidak memiliki kulit putih bersih dengan tinggi semampai. Aku wanita berkulit kuning langsat dengan tinggi 160 cm. Terbilang kecil bukan? Jangan coba ejek aku, karena aku meresa tudak suka dengan seseorang yang mengataiku pendek.

Orang tua ku? Ah..aku adalah anak mandiri saat ini. Jauh dari orang tua, sangat jauh. Orang tua ku sudah berada didekat Tuhan, memperhatikan ku dari sana. Aku adalah anak pertama sekaligus akhir. Ya, aku anak tunggal dari kedua orang tua ku.

Mengapa mereka mendahului ku? Entah lah. Sewaktu itu aku hanyalah gadis polos yang masih tidak tau tentang utang atau pun uang. Usia ku baru 7 tahun, terbilang masih belajar menghitung perkalian. Jadi belum tahu apa itu utang atau uang. Yang aku bisa hanyalah membelanjakan uang itu dengan sesuka hati ku.

Waktu dimana orang tua ku meninggal. Aku tidak tau sama sekali. Yang aku tau adalah mereka terbunuh oleh pria berjas hitam dan kacamata hitam yang melekat pada hidung mancung nya. Aku tidak melihatnya, aku hanya tau dari tetanggaku yang memberitahuku.

Kejam bukan ?

Saat aku mulai beranjak dewasa dan mulai tau apa maksud dari hidup serta uang. Aku mulai tau betapa kejam nya hidup jika kita tidak memiliki uang sepeser pun.

Aku bekerja dari mulai aku pulang sekolah hingga jam menunjuk kan pukul 11 malam. Bekerjaan ku? Aku sudah katakan jika itu sangat menjijikkan.

Kalian sudah berfikir apa itu? Pekerja malam sebagai wanita murahan yang dengan gampang disentuh oleh semua lelaki, baik tua atau pun muda. Sungguh tidak wajar bukan? Aku wanita mengapa aku bisa melakukan hal bodoh seperti itu.

Hidup tanpa uang sama hal nya seperti berebut oksigen saat pagi hari dengan semua pohon. Sungguh melarat kan?

Untuk mendapat uang mengapa itu sulit. Aku dari kalangan orang tak punya, bagaimana bisa aku bersekolah dan mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan ku.

Mengapa tak pilih jalan lain?

Aku memiliki tetangga, dia menawarkan pekerjaan yang -menurutku- bagus. Aku awalnya menerima dengan lapang dada, apa pun yang akan dia berikan akan aku kerjakan, selama itu masih wajar.

Tetapi saat aku tau jika pekerjaan itu adalah sebagai wanita murahan yang selalu berada didalam club malam. Aku langsung berfikir, seharusnya aku mencari pekerjaan yang awar. Tapi. Saat ada salah satu pria yang menawar ku dengan harga tinggi, entah kenapa aku langsung menerimanya.

Ingat aku bukan pekerja seksual ! Catat itu !

Dalam satu malam bisa mendapat uang sebanyak itu membuatku merasa kaya. Apa lagi aku hidup sendiri.

Aku tidak lagi berada didekat dengan tetangga dengan rumah yang berjejer berdekatan. Karena, mereka akan membicarakan ku dengan celotehan nya yang sok menau tentang kehidupan malamku. Sungguh membuat ku muak mendengarnya.

Aku memiliki apartermen didekat club malam tempat ku bekerja. Disitu pun juga tidak banyak seseorang yang tinggal. Mungkin yang sederajat dengan ku yang tinggal dalam apartermen itu.

“memikirkan sebuah hal?”

Suara itu sukses memvuat pikiran ku pecah dan berantakan. Akhirnya aku mulai sadar kembali.

“Tidak ada”

Nama nya Kim Jaejin. Seorang wanita yang bersahabat dekat dengan ku. Mengapa aku memiliki sahabat saat aku sudah menjijikkan seperti ini.

Aku dengannya adalah sahabat sejak sekolah menengah pertama. Kami cukup dekat, sampai dibilang kembar malah.

Mengapa Jaejin tidak menghindariku juga meninggalkan ku? Soalnya Jaejin pernah bilang padaku, saat aku mulai menceritakan semuanya tentang hidup ku “kau tetap lah sahabat ku. Baik buruk nya kau, aku tidak akan peduli. Karena kau adalah sahabat ku dan akan tetap menjadi sahabat baik ku” begitu tutur nya. Bijak bukan.

Jelas, dia adalah anak dari seorang perusahaan impor yang cukup terkenal di Korea Selatan ini.

Mendidikan selalu diajarkan kepada dirinya. Tatakerama, sopan santun juga berbagai hal bijak selalu diterapkan nya dalam hidup.

“Mengapa kau tidak pulang? Petang akan mulai tiba” ujar ku santai padanya.

Matahari sudah tenggelam dari arah barat. Tengah malam akan segera tiba.

“Aku ingin dengan mu. Berada pada depan komputer membuat minus ku bertambah sangat tebal” jawabnya manis.

Aku tertawa meringis. “Lalu kau akan menjaga rumah ku selama aku bekerja?” tanya ku.

Jaejin menganggukkan kepalanya dua kali. “Aku ingin tau bagaimana kau bekerja”

Senyum pun mekar dari bibir ku. “Bukan nya kau selalu menolak masuk club malam nyonya Kim?”

“Entah lah, aku hanya ingin. Aku dengar dari pegawai dikantor ku, kalau club malam bisa menenanggak pikiran seusai bekerja. Jadi..aku ingin mencobanya” ujarnya dengan melipat tangan pada depan dadanya. Seperti orang mengandai.

“Baiklah, jika itu keinginan mu nyonya Kim”

“Berhenti mengatai ku nyonya Kim!”

“Kau dari kalangan kaya dan aku miskin, patutnya aku harus menghargai mu”

“Aku tidak peelu dihargai, kau kira aku barang yang dijual lalu dibayar dengan uang” cibirnya tidak suka.

“Kau secara tidak langsung mengejek ku noona” saut ku sinis padanya.

Jaejin yang muali mencerna ucapan ku pun hanya menggaruk rambutnya, “Maaf, kau tidak mengerti maksud arah pembicaraan ku, Minjung-ya”  jawab nya takut.

“Tak apa aku mengerti. Aku akan bersiap siap setelah ini kita berangkat” aku mengabaikan pertanyaan nya dengan perihal lainnya.

Jaejin hanya menganggukkan kepalanya. Aku lantai menuju kedalam kamar ku. Mulai berpakaian juga bermake up dengan natural tapi tetap terlihat cantik.

Pakaian serba kekurangan bahan pun aku pakai. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua adalah pekerjaan ku.

Setelah selesai dengan semua kegiatan ku, aku langsung kelar dari kamar ku dan menuju pada Jaejin yang sedang menunggu ku dengan bermain ponselnya diruang tamu apartermen ku.

“Ayo,kita berangkat” kata ku.

Jaejin yang meilhat penampilan ku hanya ternganga tak percaya, “Kau membeli pakaian dengan kain yang kurang. Apa harganya juga berkurang?” gurau nya dengan sengiran khas nya.

Aku terkekeh mendengarnya, “Mungkin diluar pekerjaan ku, aku akan memakai pakaian yang tidak kekurangan bahan, bahkan kelebihan” jawab ku dengan gurauan pula.

“Baikalah, ayo berangkat. Aku ingin menikmati segelas alkohol” Jaejin mengambil tangan ku dan menyeretku keluar dari apartermen ku.

“Sejak kapan nyonya Kim menyukai alkohol” tanya ku heran.

“Satu bulan belakangan ini” jawab nya dengan berfikir sejenak. “Sudah lah tak usah pikirkan hal itu. Ayo” Jaejin semakin mempererat pegangannya ada ku.

**

Sesampainya pada tempat pekerjaan ku. Aku menarik alih tangan Jaejin dari ku. Menyuruhnya untuk duduk dikursi bulat yang berada tak jauh dari ruang dansa.

Aku meninggalkan nya dan mulai memesan dua alkohol.

“Hai Minjung-ssi” saut seseorang yang akan memberikan ku botol wine.

“Oh, hai. Aku pesan dua” balas ku malas.

“Untuk siapa? Kau sudah ada yang memesan?” tanya nya.

“Aku bersama sahabat ku. Cepat kau ambilkan aku dua wine!”

“Baiklah”

Akhirnya pria yang biasa aku panggil dengan ‘Nam’ itu membawakan ku dua botol wine. “Silahkan ambil ini, selamat bersenang senang” tuturnya.

Aku pun mulai mengambilnya dan mulai beranjak meninggalkannya. Menuju kearah tampat duduk Jaejin.

“Oh, kau sudah kembali” ucap Jaejin saat melihatku kembali.

“Wae?” tanya ku curiga.

“Ah..tidak ada” jawabnya dengan nada gugup.

“Kau berbohong nyonya Kim!”

“Baik baik, aku berbohong tadi. Pria tinggi dan putih itu membuatku terpanah”

Tangan Jaejin penunjuk seorang pria tinggi, yang menarik perhatian nya itu.

“Kau suka padanya?” tanya ku menyakin kan.

“Entahlah..aku hanya tertarik, saat melihatnya, aku seperti tidak ingin lepas pandangan dari wajahnya” ucap Jaejin mantap.

Tapi saat aku melihat kearah seorang pria yang ditunjuk oleh Jaejin. Aku melihat seorang lelaki yang berada disebalah pria yg ditunjuk Jaejin.

Pria tinggi dengan rahang yang membentuk V juga hidung mancung dan kulit putih, tapi tidak seperti pria yang ditunjuk oleh Jaejin.

“Perlu aku kenalkan?”

Jaejin secara otomatis menoleh pada ku, mungkin karena kaget dengan ucapan ku. “Jangan! Kau gila”

“Aku masih waras” jawab ku cepat.

“Kau benar benar akan memperkenalkan ku dengan pria itu? Apa kau mengenalnya”

“Tidak. Tidak sama sekali”

Tatapan kami berdua masih pada orang yang sama. Jaejin yang melihat seorang incarannya dan aku yang melihat pria disebelahnya.

“Lalu bagaiman cara, kau mengenalkan ku padanya?”

“Kau lupa, aku ini siapa diclub malam ini?”

Jaejin mangangguk.

“Baik, aku akan kenalkan kau padanya. Tunggu sebentar”

Aku pun melangkah kembali meninggalkan Jaejin yang masih mematung ditemoat duduk itu.

Melangkahkan kaki ku penuh dengan seksi. Itu mungkin sangat membuat ku rasah, sebab seseorang yang jail akan mencolek bokong ku dengan sembarangan.

Sesampainya pada pria yang ditunjuk Jaejin. Aku memukul pundaknya pelan. Pria itu pun yang awalnya berbicara dengan temannya -seseorang yang aku liat- langsung menoleh padaku dengan ekspresi bingung nya. Terlihat tampan -menurutku-.

“Aku biasa melihatmu, ada apa kau menemuiku?” bingungnya pada ku.

Aku lun hanya tersenyum, “Teman ku-” aku menghentikan ucapan ku dan menunjuk Jaejin yang terduduk  menunduk. “Ingin berkenalan dengan mu. Apa kau tidak keberatan?” lanjut ku. Saat pria itu melihat lagi kearah ku yang sebelumnya melihat kearah Jaejin.

“Cantik. Apa wanita itu sama denga mu?” ujarnya seperti mengejek pada ku.

” Kau menggejek ku? Wanita itu adalah sahabatku! Wanita itu juga tidak sama dengan ku. Jika kau ingin lebih tau, maka berkenalan lah” jawab ku sedikit emosi.

Tanpa anggukan ataupun perkataan, pria itu melangkah meniggalkan ku dan teman nya.

“Dasar lelaki” gumam ku pelan. Tidak ada yang mendengar.

“Siapa nama mu?” aku menoleh kaget pada seseorang yang berada tepat belakang ku.

“Minjung. Kim Minjung” jawab ku. “Kau?”

“Park Chanyeol. Senang berkenalan dengan mu”

Aku pun menjabat uluran tangannya. Tangannya lumayan besar jika dibandingkan tangan milik ku.

“Berapa tinggi mu?”

“183 cm”

“MWO?”

“Wae?”

“Kau terlalu tinggi untuk ku”

“Kau memang pendek. Mengapa tidak menggunakan high hil”

“Aku sudah memakainya, kau tidak lihat? Tubuh mu saja yang terlalu tinggi” jawab ku.

Pria itu terkekeh pelan.

“Kau siapa dari orang itu?” tanya ku lagi padanya.

“Aku..hanya bawahan dari Oh Sehun” sautnya sambil melihat atasannya itu.

“Jadi namanya Oh Sehun”

Pria yang bernama Chanyeol itu pun menganggukkan kepalanya.

“Dia lebih tampan dari mu”

Park Chanyeol itu pun, bisa aku lihat tengah membelakkan matanya tak percaya dengan ucapan ku.

“Ya, aku lebih tampan dari nya. Tapi-” ucapannya terhenti dengan curiga.

“Tapi, apa?” jawab ku penasaran.

“Hmm, tak ada”

Ku hembuskan nafas ku pasrah. Berkata dengan serius tetapi tidak jadi berkata. Sungguh menjengkelkan.

AUTHOR POV-

Saat ini keduanya sudah berada diluar club malam. Minjung dan Jaejin, mereka berdua sudah selesai bersenang senang. Kecuali Minjung, dirinya hanya duduk terdiam dengan sekedar berbicara bersama dengan Chanyeol. Menunggu Jaejin selesai berbincang dengan Sehun. Pria yang mencurigai dirinya.

“Pulang lah dengan hati hati” ujar Minjung dengan senyum dan lambaian tangannya.

“Baik. Jangan terlalu malam jika pulang” jawabnya.

Minjung menanggukan kepalanya mantap dan memeluk tubuh Jaejin.

**

Begitu juga Chanyeol dan Sehun. Keduanya sudah berada dalam mobil yang sama. Menuju kerumah mereka. Mereka berdua tinggal bersama. Chanyeol kakak dan Sehun adalah adik. Mengapa? Marga mereka jelas jelas berbeda. Karena Park Chanyeol adalah anak dari tuan Park dan Sehun. Ibunya dinikahi oleh tuan Park tepat peringatan kematian ayah nya yang ke 7 tahun. Ayah, Sehun meninggal karena penyakit jantungnya yang sudah stadium akhir, dokter tidak mampu menolongnya lagi.

Nyonya Oh dan tuan Park bertemu saat tuan Park sedang melakukan perjalanan bisnis di Prancis. Dari sana lah mereka bertemu.

Masalah anak mereka masing masing. Chanyeol dan Sehun tidak keberatan jika keduanya memiliki saudara tiri. Chanyeol lebih tua dari Sehun, 2 tahun. Tapi keduanya kadang mempersalahkan marga mereka yang berbeda. Oh Sehun, tidak ingin mengganti marga nya menggunakan Park. Sehun ingin mengenang nama mendiang Ayah nya dinama nya.

“Kau bicara apa saja dengannya” tutur Chanyeol pada Sehun yang sedang menyetir.

“Bisnis. Juga pribadi” jawab Sehun singkat. Dengan pandangan yang lurus kedepan.

“Kau bilang kau selalu bertemu dengan perempuan yang ingin sahabatnya berkenalan dengan mu?”

“Ya, aku selalu kesana bersama dengan Kim Kai. Jika aku sedang penat. Memang nya ada apa?” tany Sehun penasaran pada hyung nya itu.

“Eoh..tak ada”

“Ey..kau berbohong hyung. Kau baru tadi berkunjung di club malam, tidak mungkin tidak tertarik dengan wanita yang berada disana” tutur Sehun.

Benar. Chanyeol tidak pernah datang dalam suana ramai juga gelap yang disebut club malam itu. Menurutnya itu akan membuatnya menghamburkan uang nya. Untuk apa seorang Park Chanyeol menghamburkan uang nya untuk sebotol wine yang akan membuatnya mabuk. Tidak berguna, dan Chanyeol tidak suka itu.

“Wanita itu adalah penghibur di club malam itu. Banyak yang bilang jika wanita itu masih perawan, tapi aku tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang penghibu masih perperawan” lanjut Sehun.

“Kau salah” pekik Chanyeol tidak terima. “Kau tidak boleh berpendapat seperti itu”

“Wae? Aku hanya ingin perpendapat saja”

“Wanita itu. Kim Minjung, bercerita pada ku. Bahwa dirinya sering sekali disentuh oleh lelaki muda atau tua. Tapi tidak pernah sampai pada batas kewajarannya” kata Chanyeol membenarkan ucapan adik tirinya itu. ” Menjijikkan mungkin, jika seorang wanita bercerita seperti itu pada seorang lelaki. Tapi menurutku, itu adalah pembenaran yang orang lain tidak tau. Termasuk kau” lanjut Chanyeol memandang Sehun disebelahnya.

“Mengapa kau terlalu peduli hyung? Wanita itu baru bertemu dengan mu. Kenapa? Kau mulai menyukainya?” tanya Sehun menuntut, banyak sekali jawaban yang ingin dia dengar dari Chanyeol.

“Entah lah..aku juga tidak tau”

“Berhati hatilah, hyung. Aku tau ini adalah pertama kalinya kau membela seorang wanita didepan ku”

“Mengapa memang nya?”

“Itu…sangat mencurigakan. Ayo turun” ucar Sehun dengan melepas sabuk pengamannya.

Ternyata keduanya sudah berada dihalaman rumah mewah tuan Park. Lambu rumah itu bahkan sudah mati, tapi seseorang penjaga masih berjaga untuk menjaga kediaman tuan Park itu.

Chanyeol membuang nafas tidak suka. Ada apa dengan jantung ini, gumam Chanyeol saat berjalan memasuki rumahnya.

Sehun dan Chanyeol akhirnya berjalan berdampingan saat sudah memasuki rumahnya yang padam itu. Sedikit mengendam, mungkin. Sampai akhirnya satu lampu diruang tengah rumah itu menyala. Menghadirkan sosok wanita dengan rambut yang digulung atas juga dengan baju tidur yang sudah erad dibadannya.

Membuat Chanyeol dan Sehun mendadak terdiam dan mematung ditempat.

“Mengapa kau baru saja pulang sajangnim?” saut wanita paruh baya yang selalu mereka sebut eomma  itu.

Sontak keduanya saling bertatapan. “Aku…ahh..maksudku kami, sedang mengerjakan pekerjaan lembur kami. Aku takut nantinya akan mengganggu orang rumah saat aki sedang bekerja” ujar Chanyeol yang diakhiri dengan senyuman dengan melihat Sehun gemas.

“Benar..aku dan Chanyeol hyung, mendapatkan pekerjaan lembur” Sehun pun ikut bersuara.

Keduanya pun kembali melihat eomma mereka. Dengan senyum yang masih mekar.

“Terserah. Cepat kembali kekamar kalian masing masing. Bersih kan diri kalian, setelah itu tidur. Jangan sampai Appa kalian tau jika kalian pulang selarut ini” tutur nyonya Oh yang saat ini sudah berubah menjadi nyonya Park. Melangkah kan kakinya kembali dalam kamar dan meninggalkan Chanyeol dan Sehun yang masih mematung.

“Nde, eomma!” saut mereka bersamaan. Saat nyonya Park sudah berada dalam kamar.

Tanpa basa basi lagi, Chanyeol lantas melangkah lebih dulu meninggalkan Sehun yang masih terdiam.

Melangkahkan kakinya pada anak tangga, menuju kearah kamar besarnya. Saat sudah berada didepan pintu kamar, Chanyeol mendengar Sehun sudah lebih cepat berada dalam kamarnya dengan berlari. Sungguh menggemaskan.

Akhirnya Chanyeol membuka pintu kamarnya, setelahnya melepas pakaiannya dan menuju kearah kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Tidak butuh waktu lama, Chanyeol sudah keluar dengan setelah baju putih polos dan celana pendek berwarna dongker. Masih melekat handuk kecil diatas kepalanya. Sedikit menggosokkan nya pada rambut nya yang basah.

Sesudahnya, Chanyeol langsung meniduri kasurnya yang lumayan besar itu. Membaringkan tubuhnya, dengan terlentang. Seperti memikirkan sesuatu yang menggangu pikirannya.

“Banyak orang yang selalu mengataiku wanita murahan. Ingin sekali aku menghajar mulut mereka. Tapi..nasi sudah menjadi bubur, aku harus menerima hal itu” 

Tuturan kata yang dikeluarkan Minjung, masih melekat dalam pikirannya. Bagaimana mimik wajah yang terlihat saat wanita itu mengungkapkan nya. Kasian? Tentu, Chanyeol masih manusia dan masih memiliki hati nurani.

“Ya! Ada apa lagi dengan mu!” ungkap Chanyeol pada dada sebelah kirinya yang berdebar tak karuan. Sedikit memukul dada pelan.

Sampai saatnya mata Chanyeol tak tahan menahan rasa kantuk yang lebih dominan dari pada debaran jantungnya yang maaih terasa.

Matanya terpejam dengan sangat lelap. Melupakan debaran jantungnya.

Mungkin besok pagi, jantungnya akan lebih baikan dan tidak akan berbedar dengan cepat.

Pagi hari yang cukup cerah membangunkan seorang wanita cantik yang sedang terlelap. Suara burung berkicau cukup membuatnya terbangun, pukul 7 pagi.

Dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya, Minjunh akhirnya bangun, melempit kembali selimut yang dipakainya untuk tidur. Menuju kearah kamar mandi yang berdekatan dengan dapur.

Minjung hanya meraupkan wajahnya saat dikamar mandi. Terlalu malas untuk pagi, kalau tidak ingin berkeluaran.

Alhasil Minjung membasuh wajahnya. Menggulung lengan bajunya sampai siku. Sesudahnya Minjung lantas menggulung rambutnya, meskipun tidak rapi tapi itu terlihat cocok untuk Minjung.

“Waktunya berberes” pekik Minjunh dan mulai memulai memberaskan semuanya.

Mulai dari ruang tengahnya, meja, kursi ruang tv yang mulai berdebu, lumayan tebal. Merapikan kembali letak fotonya saat bersama dengan kedua orang taunya. “Aku merindukan kalian berdua. Hidup ini terlalu kejam untuk seorang diri seperti ku” gumam Minjung.

Tidak ingin larut dalam kesedihan yang dalam. Minjung beralih pada dapur jug kamar mandi. Didapurnya, Minjung memberekan kulkas juga peralatan sesudah memasak. Makanan yang sudah tidak layak, Minjung masukkan kedalam tong sampah. Begitu pun kamar kamar mandinya, sedikit jijik mungkin. Minjung membersihkan WC nya sampai bersih.

Beralih pada dapur dan kamar mandi. Minjung menuju pada kamarnya. Berantakan, seharusnya kamar seorang wanita harus bersih dan rapi. Minjung sedikit menggeleng tak percaya melihat sendiri kamarnya. Dengan cekatan, Minjung segera melipat kembali baju yang sempat berada diluar lemarinya itu. Dan memilah baju yang sekiranya akan dicuci dan baju yang menurutnya mulai kekecilan ditubuhnya.

Selasai, lantas Minjung mengangkat kantung plastik yang berisikan sampah. Menentengnya seolah tidak jijik. Keluar dari apartermennya, Minjung akan membuang plastik itu. Menuruni anak tangga menuju kearah awah. Tepatnya pinggir jalan, tempatnya membuang sampah itu, yang nanti nya akan diangkut oleh petugas kebersihan. Sesampainya dipinggir jalan, Minjung menaruh uti yang disenderkan nya pada pohon.

Sampai akhirnya mobil sedan berwana hitam lewat didepannya. Tidak tau menau jika seseorang didalamnya sedang melihatnya dengan tatapan sukit diartikan.

“Cantik” gumamnya.

TBC

NOTE !
HAI..SUDAH YA YANG BACA. AKU SEKALI LAGI MINTA MAAF SAMA KALIAN.
COMEBACK TO ME TERPAKSA AKU ERHENTIKAN DULU. KENAPA?
TAU MONITOR KOMPUTER DONG? NAH ITU RUSAK. DOKUMEN TENTANG FF COMEBACK TO ME ADA DIDALAMNYA.
JADI TERPAKSA AKU BERHENTIKAN. AKU JUGA LAGI NULIS ULANG UNTUK CHAPTER 8 DAN ENDINGNYA.
MAAF BUAT YANG NUNGGU FF ITU.
SEBAGAI GANTI AKU BUAT FF BARU LEWAT HP KU. MAAF JIKA ADA TYPO DIKIT DIKIT.
SEKALI LAGI MAAF YA. SEAMAT BACA ^^~
Advertisements

6 thoughts on “Confession [INTRO CAST] chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s