Life Lines

LL

Life Lines

Ditulis oleh qL^^

Casts EXO’s Chanyeol  x Choi Bomi (OC);

Genre Slice of life; Rating General; Length Ficlet;

“Namamu Chanyeol?”

Pertanyaan itu berasal dari penumpang yang duduk di sebelah Chanyeol, tepat di sebelah jendela pesawat yang membuat Chanyeol mendadak merasa gugup dan gelisah.

Ia sudah bersusah payah meyakinkan manajer bahwa ia akan baik-baik saja menyusul terbang ke New York sendirian setelah syuting Law of The Jungle Asia selesai. Ia juga naik penerbangan kelas eksekutif dengan harapan kemungkinan bertemu sasaeng fans akan lebih kecil. Ia juga sudah berusaha bersikap senormal mungkin dengan dandanan yang ‘sebiasa’ mungkin agar tidak menarik perhatian.  Tapi penumpang di sebelahnya dengan mudah mengenalinya.

Gadis itu –si penumpang teman seperjalanannya, tertawa kecil, kemudian menunjuk I-Pod Chanyeol yang tergeletak di meja pesawat. “Ada di stiker I-Podmu,” katanya.

Tanpa sadar, Chanyeol menarik I-Podnya mendekat dan mengamati stiker bertuliskan Park Chanyeol yang dibuatkan dan ditempelkan Baekhyun berberapa bulan yang lalu. Tadi ia mengeluarkan alat itu untuk menemaninya menjalani penerbangan empat belas jam ini. Dengan penuh kelegaan, Chanyeol menghela nafas. Ia sudah khawatir kalau-kalau gadis itu sasaeng fans atau jangan-jangan cenayang!

“Namaku Bomi,” gadis itu memperkenalkan diri. “Choi Bomi.”

Chanyeol hanya meresponnya dengan anggukan.

Bomi terlihat seperti gadis kutubuku kebanyakan dengan rambut hitam legam yang dikuncir, kacamata baca berlensa tebal dan setumpuk buku di meja pesawatnya. Pantas saja saat boarding tadi gadis itu mengacuhkannya, ia pasti tenggelam dalam buku bacaan. Sekilas Chanyeol membaca tulisan Chiromancy pada hampir setiap sampul buku yang ia tidak tahu artinya apa.

“Mau mencoba sesuatu yang seru?” Bomi tiba-tiba menawarkan.

Ada binar di mata Bomi yang membuat alis Chanyeol terangkat. “Seperti apa?”

“Bagaimana kalau aku membaca garis tanganmu?” tanya Bomi lagi.

“Apa?” ulang Chanyeol merasa salah dengar.

“Iya, membaca garis tangan. Bisa dibilang seperti meramal atau membaca kepribadian, tergantung tangan mana yang ingin kaubaca,” jelas Bomi.

Hening sesaat. Chanyeol mempertimbangkan apakah ia mau menerima atau menolak tawaran Bomi. Gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti pembaca garis tangan profesional (meskipun Chanyeol sendiri ragu memangnya ada istilah pembaca garis tangan profesional? Entahlah). Ia sendiri keberatan kalau tangannya dipegang-pegang orang tak dikenal.

“Kurasa aku lebih baik tidur,” tolak Chanyeol halus.

Raut wajah Bomi kecewa sekali dengan bibir cemberut dan ekspresi memohon dengan puppy eyes yang anehnya menurut Chanyeol menggemaskan. Ia jadi sedikit menyesal telah menolak.

“Ayolah, aku janji tidak akan lama,” bujuk Bomi dengan nada memohon.

Chanyeol menelan ludah ragu. Terjebak antara tak enak hati dengan keengganan. Akhirnya, ia hanya bisa membuang nafas  keras-keras dan menjulurkan tangannya ke arah Bomi.

“Tangan yang mana?” tanyanya.

Wajah Bomi langsung berbinar kembali seperti anak kecil yang dituruti kemauannya.

“Tangan dominan untuk masa sekarang. Tangan non dominan untuk masa depan. Silahkan kau sendiri yang tentukan,” jawab Bomi riang.

“Baiklah, tangan dominan saja,” putus Chanyeol, lalu meletakkan tangan kanannya di tempat lengan antara kursinya dan kursi pesawat Bomi.

Bomi mengosok-gosokkan tangannya antusias dan tersenyum lebar sekali yang membuat Chanyeol ikut terkekeh memperhatikan tingkah gadis itu yang kekanakkan. Namun beberapa menit kemudian ekspresi wajahnya berubah. Ia mengamati tangan Chanyeol dengan raut serius dan kening berkerut-kerut karena berpikir. Mau tak mau Chanyeol berpikir Bomi terlihat manis sekali saat serius seperti itu.

“Hmm, kulit di ujung jari menebal. Kau suka main gitar?” tanya Bomi pada Chanyeol.

Ia mengangguk.

“Baiklah, garis yang paling atas itu garis hati. Lihat, garis hatimu dimulai dari bawah jari telunjuk artinya kau bahagia dengan percintaanmu. Garis hatimu berbentuk panjang dan berkelok yang berarti kau mudah mengekspresikan emosi dan perasaanmu dengan bebas. Yah, cewek-cewek memang suka dengan tipe cowok humoris dan ekspresif sih,” kata Bomi.

Kemudian ia melanjutkan, “garis yang dibawahnya itu disebut garis kepala. Garis kepalamu lurus dan terpisah dari garis kehidupan artinya kau itu cenderung berpikir realistis dan suka bertualang, berjiwa bebas.”

Chanyeol terkesiap, teringat pada acara reality show yang baru selesai dilakukannya. Bomi menatapnya heran tapi ia berdeham, mengembalikan ekspresi wajahnya agar netral dan mengesturkan Bomi untuk melanjutkan. Gadis itu mengangkat bahu dan kembali mengamati tangan Chanyeol.

“Garis selanjutnya itu garis kehidupan. Wah, wah, wah, kalau garis kehidupan berbentuk melengkung seperti lingkaran itu artinya kau kuat dan bersemangat. Kurasa duduk diam seperti di pesawat hari ini sama sekali bukan dirimu, Chanyeol,” ejek Bomi dengan nada bergurau.

“Hei, hei,” protes Chanyeol. Mau bagaimana lagi, kalau dia bersikap berisik seperti happy virus, maka semua orang akan dengan mudah mengenalinya.

Jari telunjuk Bomi menyusuri garis tipis di tengah telapak tangan Chanyeol yang dimulai dari bawah ibu jari dan memotong garis yang tadi disebut Bomi sebagai garis kehidupan. Sejauh ini, Bomi menjelaskan tanpa menyentuh tangan Chanyeol, jadi sensasi sentuhan jari Bomi di telapak tangannya terasa geli. Seperti kupu-kupu yang menggelitik.

“Apa artinya?” tanya Chanyeol berusaha mengalihkan rasa ‘aneh’ akibat sentuhan Bomi.

Bomi malah tersenyum lebar yang membuat Chanyeol tertegun. “Ini namanya garis nasib. Artinya kau sangat beruntung, Chanyeol. Hidupmu selalu didukung oleh keluarga dan teman-teman. Selamat,” jelasnya.

Ah, delapan personil EXO yang sekarang menantinya di New York. Ucapan Bomi telah membuat Chanyeol merindukan mereka.

Setelah kalimat terakhir tadi, Bomi kembali ke posisi duduknya, lalu mulai memilih salah satu dari tumpukan buku di meja dan membaca. Chanyeol hanya menatapnya kebingungan. Apakah acara membaca garis tangan mereka sudah selesai?

“Sudah,” jawab Bomi ketika Chanyeol bertanya. “Jangan lupa kalau membaca garis tangan tidak selalu akurat. Garis kehidupan selalu bisa berubah dengan keuletan dan usaha,” tambahnya memperingatkan.

Akhirnya Chanyeol tidak bertanya lagi, melainkan berpura-pura tidur sambil mendengarkan musik dari I-Podnya. Diam-diam ia berusaha menahan diri agar tidak melirik telapak tangannya dan mengingat-ingat apa yang dikatakan Bomi selama sisa penerbangan menuju New York.

Tidak ada percakapan lain selain lima belas menit dalam waktu empat belas jam yang mereka lakukan untuk membaca garis tangan Chanyeol. Seolah-olah Bomi lupa bahwa ia yang pertama mengajak Chanyeol mengobrol dan memaksa membaca garis tangan. Bomi sudah tenggelam kembali dalam dunia bacaannya. Chanyeol sendiri tidak ingin mengusik gadis itu. Ada sesuatu yang berbeda yang membuat Chanyeol tertarik pada gadis itu.

Ia dan Bomi berpisah kemudian di terminal kedatangan luar negeri New York dengan lambaian tangan seadanya. Lagi-lagi tanpa kata perpisahan. Chanyeol masih berusaha melirik gadis itu dengan ekor matanya sampai gadis itu keluar terminal dengan dijemput pria berstelan hitam necis. Ia mendesah dan menatap telapak tangan selama menunggu manajer menjemputnya.

Chanyeol tidak akan melupakan teman seperjalanan paling misterius yang pernah ditemuinya.

-fin.-

In order to complete 365 Days Writing Prompt from WordPress.com

#1208prompt

You’re on a long flight, and a palm reader sitting next to you insists she reads your palm. You hesitate, but agree. What does she tell you?

Info about palm reading could be found in wikihow.com

©qL, 2015

Advertisements

8 thoughts on “Life Lines

  1. Jiah… misterius si bomi… tumben nggak heboh mereka. tapi thor.. ini ceritanya agak kecepeten alurnya. terus kurang ada peristiwa menarik lainnya…
    maap thor jika komenku mengganggu aku cuman mau menyampaikan argumenku aja 😀

  2. Hai,aku datang lagi,,,
    Chanyoel udh lupa ya ama Rania?
    Heheee, maaf ya Qi Aq baca love actually duluan baru ini, aq belum bisa move on dr couple yg itu. Tp aq tetep suka yg ini, gk sepesial tapi istimewa, serasa ngebayangin gini loh kehidupan manusianya chanyeol, bisa ketemu sama manusia absurd yg lain dan,,, ya cuma gitu, hahaaa(garuk kepala)
    Tetep semangat ya, maafkan komenQ yg gk jelas ini
    Aku mau lanjut obok” yg lain dulu
    Byebye!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s