[CHAPTER 2] RECUSANT

Poster by blacksphinx @ Poster Channel

RECUSANT – PROLOG

Written by @araiemei

CAST: Ryu Hyoyoung || Jung Soojung || Park Chanyeol || Zi Tao

RATE: Teen

.

Hyoyoung tidak perlu khawatir mati bosan lagi di kelas, karena ada Tao dan Chanyeol yang selalu ada untuknya. Dua orang sahabatnya sewaktu masih berada di Jongeup yang kini menjadi teman satu sekolahnya di SMA, walaupun tidak menjadi teman sekelas. Tapi, rasanya tetap saja menyenangkan. Tao dan Chanyeol masuk ke kelas 2 – 1 yang jaraknya terpisah dua kelas dari kelas Hyoyoung, 2 – 2.

Bel makan siang berbunyi, tapi Hyoyoung tidak tahu harus melakukan apapun. Teman-temannya di kelas sudah banyak yang berhamburan keluar, sambil berteriak, ‘Ddokatsu! Ddokatsu!’. Mendengar Ddokatsu, cukup membuat perut dan kelenjar ludahnya bereaksi. Semenjak di Wien, ia belum pernah menyantap Ddokatsu sama sekali hingga sekembalinya ia Korea.

Tapi, Hyoyoung tidak tahu harus pergi ke mana untuk mendapatkan Ddokatsu itu.

Seseorang tiba-tiba menghampiri mejanya, “Hai!”

Hyoyoung mengalihkan wajah dari pemandangan di luar, kea rah orang yang menyapanya. Ternyata teman sekelasnya. Orang yang selama dua hari ini ia lihat menghuni salah satu bangku di deret paling depan.

“Hallo!” Hyoyoung balas menyapa. Melihatnya dari jarak yang lebih dekat seperti ini, Hyoyoung semakin yakin kalau siswa itu adalah murid terpintar di kelas mereka. Karena selama dua hari ini, ia melihat bagaimana gadis di depannya itu sangat bersinar setiap jam pelajaran. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dengan benar, mengutarakan pemikiran-pemikirannya tanpa ragu setiap sesi diskusi berjalan, dan selalu tanggap setiap kali diminta maju untuk mengerjakan soal dan menjelaskannya kepada teman-temannya yang lain.

Hyoyoung juga sering mendengar guru-guru memuji gadis itu. Dan secara tidak langsung Hyoyoung juga sudah mengenal namanya.

“Aku Soojung. Jung Soojung.” Murid perempuan mengenalkan dirinya kepada Hyoyoung seraya mengulurkan tangan kanannya.

“Aku Hyoyoung. Senang berkenalan denganmu.” Hyoyoung menyambut uluran tangan Soojung seraya mengulas senyum. Di dalam hati, ia sedikit merasa bersalah. Karena ia pernah berpikir jika Soojung termasuk salah satu murid yang arogan di kelas. Yang tidak mau bergaul dengan siapapun. Dan merasa cukup hanya dengan prestasi yang ia dapatkan.

Tapi sepertinya, Hyoyoung harus segera mengubah persefsinya itu.

“Ya, senang berkenalan denganmu, juga,” kata Soojung setelah jabatan tangan mereka terlepas. Ia membalas senyum Hyoyoung sebelum melanjutkan, “Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke—“

“YA! HYOYOUNG AH!”

Tiba-tiba saja Hyoyoung mendengar suara Tao memanggilnya.

Soojung nampak gelisah di bangkunya. Sejak tadi ia hanya membuka buku pelajaran di tangannya, tapi tidak benar-benar membacanya. Di dalam hati ia menimbang-nimbang antara ‘tidak lakukan’ atau ‘lakukan’. Ia ingin mengajak Hyoyoung berteman seperti permintaan ayahnya, tapi ia tidak punya keberanian untuk memulainya terlebih dahulu.

Sesekali ia menatap Hyoyoung dari kursinya. Anak itu sepertinya sedang bosan, pikir Soojung. Ia bisa melihat bagaimana gerak-gerik Hyoyoung. Sesekali terlihat menghembuskan nafas dari mulut seraya menyedekapkan tangan di dada, lalu menjatuhkan kepala ke atas meja, dan kemudian duduk tegak lagi. Hyoyoung pasti tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada jam makan siang ini.

Maka, setelah memantapkan hatinya, Soojung pun beranjak dari kursinya mendekati meja Hyoyoung.

“Hai!” Soojung menyapa Hyoyoung yang masih terpaku di bangkunya sambil memandang biru langit di luar sana. Berhasil membuat anak berpotongan rambut seperti laki-laki itu menoleh ke arahnya.

Sejenak Soojung merasa was-was. Bagaimana kalau Hyoyoung tidak peduli dengan kehadirannya? Tidak membalas sapaannya? Karena sepertinya, anak itu tidak tengah dalam suasana hati yang baik. Tidak ada gurat senyuman yang terbit di wajahnya untuk hitungan beberapa sekon.

Sampai akhirnya, “Hallo!” Soojung bisa mendengar suara Hyoyoung membalas menyapanya.

“Aku Soojung. Jung Soojung.” Mengabaikan gengsi, Soojung pun mengulurkan tangannya. Mencoba memulai sesi perkenalan terlebih dahulu. Berharap Hyoyoung mengindahkannya.

“Aku Hyoyoung. Senang berkenalan denganmu.” Dan, demi Tuhan, Soojung merasa dunianya berputar lagi saat Hyoyoung menjabat tangannya dan melihat bagaimana senyum manis menguar di wajah teman barunya itu. Teman baru? Ya, sepertinya Soojung sudah bisa menyebutnya seperti itu.

“Ya, senang berkenalan denganmu, juga,” Soojung berucap kemudian.

Setelah bisa mengajak Hyoyoung berkenalan, maka selanjutnya adalah mengajaknya makan siang. Dengan begitu mereka bisa mengobrol lebih banyak dan lebih leluasa. Dan permintaan ayahnya akan terpenuhi: berteman dengan Ryu Hyoyoung.

“Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke—“ Soojung belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba saja teriakan seseorang menguar dari arah pintu kelas.

“YA! HYOYOUNG AH!”

Sontak ia dan Hyoyoung mengalihkan fokus, dan saat itu pula ia melihat dua orang yang kemarin berpelukan dengan Hyoyoung muncul lagi ke kelas mereka. Kali ini dengan tujuan yang sama, menemui Hyoyoung.

Saat mengalihkan pandangan kea rah Hyoyoung lagi, Soojung bisa melihat bagaimana senyum Hyoyoung merekah begitu lebar. Sangat indah dilihat daripada saat ia tersenyum begitu menjabat tangan Soojung tadi.

Hyoyoung mengangkat tangannya ke atas, seolah-olah meminta agar Chanyeol dan Tao tetap berada di sana menunggunya. Lalu ia kembali menatap Soojung seraya bangkit dari kursinya. Ia menepuk pundak Soojung sekali, dan berkata, “Aku pergi dulu ya.”

Soojung belum sempat menyahut, tapi Hyoyoung sudah beranjak dari hadapannya.

Tentu saja, rencana keduanya gagal secara resmi.

Hyoyoung melangkah menghampiri Tao dan Chanyeol di luar kelas. “Ada apa?” tanyanya.

“Kau belum makan siang ‘kan? Ayo ikut kami ke kantin?”

“Memang di kantin ada makanan apa?”

“Kami tidak bisa menyebutnya satu-satu. Di kantin terlalu banyak menu. Kau hanya perlu memilih sesukamu kalau sudah ada di sana.” Chanyeol menjawab, “Ayo!” ajaknya kemudian.

Hyoyoung pun menyamai langkah kedua temannya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin.

“Tadi aku mendengar anak-anak menyebut Ddokatsu,” ujar Hyoyoung.

Tao yang berjalan di sebelah kirinya menyahut, “Di sini ada dua kantin.”

Hyoyoung menatap Tao dengan alis berkerut samar. Temannya itu tersenyum sebelum melanjutkan, “Kantin yang anak-anak kelasmu datangi itu adalah kantin kedua yang ada di lantai satu. Di sana ruangannya tidak terlalu besar. Di datangi hampir seluruh murid di sekolah ini. Jadi bisa kau bayangkan, betapa ricuhnya di sana. Mereka berebut untuk mendapatkan makanan. Kadang-kadang ada yang berani memotong antrian yang ujung-ujungnya memicu perkelahian. Di sana juga menu makanannya sedikit, dan tidak bervariasi.”

Tao menghentikan penjelasannya sejenak.

“Lalu?” tanya Hyoyoung.

“Lalu hari ini kami akan membawamu ke kantin utama yang ada di lantai tiga.” Tao melanjutkan, “Di sana kau bisa memilih makanan yang kausukai, dan tentu saja, sebanyak yang kau mau.”

“Benarkah?” tanya Hyoyoung penuh minat.

“Tentu.”

“Di sana juga tidak terlalu ramai. Hanya didatangi oleh murid-murid dari kelas terbaik.” Chanyeol menimpali.

Hyoyoung lantas menghentikan langkahnya. Mengalihkan pandangan kea rah Chanyeol, ia bertanya, “Maksudnya?”

Tao berdehem, “Begini,” ucapnya. Chanyeol mengedikan dagunya, meminta Hyoyoung kembali memperhatikan Tao. Untuk sejenak mereka berhenti berjalan. “Jadi kantin utama itu disediakan untuk murid-murid dari kelas yang berhasil mendapat nilai rata-rata paling tinggi di sekolah. Dan, kami termasuk salah satunya.” Seolah bisa membaca raut wajah Hyoyoung, Tao cepat-cepat melanjutkan, “Tapi kau tenang saja. Selama aku masih menjabat sebagai ketua kelas, dan Chanyeol masih menjadi salah satu anggota badan eksekutif sekolah, kau bisa leluasa datang ke kantin dan menikmati makanan apapun yang ada di sana.”

“Tapi bagaimana dengan anak-anak lain?” Hyoyoung nampak ragu-ragu setelah mendengar penjelasan dari Tao. “Mereka bisa saja tidak menyukaiku, dan nantinya malah memusuhiku.”

Ya, selama ini Hyoyoung selalu menghindari kericuhan dengan temannya yang satu sekolah. Dia memang terbiasa mendapatkan hukuman karena bermasalah dengan gurunya, atau wali kelasnya, atau karena ia sering terlambat datang ke sekolah. Tapi ia tidak pernah mau terlibat urusan dengan siswa-siswa lain.

Tiba-tiba saja ia mengutuk keadaannya yang ternyata tidak signifikan untuk dimasukan ke dalam kelas yang sama dengan Chanyeol dan Tao. Dan terpaksa masuk ke dalam kelas anak-anak pesakitan yang kebanyakan menghabiskan jam belajarnya di kelas dengan tidur bahkan sambil mendengkur. Oh, Tuhan…

Bahkan seorang Jung Soojung saja tidak bisa menembus kelas unggulan itu.

“Mereka tidak akan berani mengganggumu Young. Kau tidak perlu khawatir,” kata Chanyeol terdengar menenangkan.

Mereka bertiga kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. Berbelok ke kanan di persimpangan lorong, lalu menaiki tangga untuk menuju lantai tiga tempat kantin utama itu berada.

“Lagi pula kau juga pandai berkelahi. Aku masih ingat masa-masa SD kita. Kau ganas sekali waktu itu.” Chanyeol tergelak kemudian.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol saat Hyoyoung tiba-tiba melangkah mengambil posisi di antara ia dan Tao. Saat itu mereka sudah berdiri di depan meja panjang yang di atasnya berjejer nampan-nampan besar berisi menu makanan yang bermacam-macam. Apa yang Chanyeol dan Tao katakana kepadanya benar. Kantin utama itu ternyata sangat elit. Seperti restaurant-restaurant hotel-hotel bintang lima.

Hyoyoung menjumput satu piring untuknya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Chanyeol dan berbisik, “Mereka memperhatikanku. Aku tidak suka.”

Mendengar pengakuan Hyoyoung, Chanyeol mengedarkan pandangannya sejenak. Memang benar. Beberapa anak yang tengah berkerumun dengan komplotannya di sebuah meja panjang di tengah ruang kantin menatap kea rah mereka. Lebih tepat ke arah Hyoyoung. Tatapannya terlalu lekat. Pantas saja Hyoyoung merasa tidak nyaman.

Tiga orang anak yang berbaris di belakang mereka pun juga sedang menatap kea rah Hyoyoung yang sedang mengambil  ddokatsu.

“Jangan dihiraukan,” bisik Chanyeol di dekat telinga Hyoyoung, mencoba menenangkan. “Mereka memang seperti itu kalau ada anak baru.”

“Masalahnya aku ini—“

“Hei! Di sini!”

Tiba-tiba saja mereka mendengar suara Tao berteriak. Hyoyoung dan Chanyeol serempak menolehkan kepala ke belakang, dan mendapati Tao yang sudah duduk menempati meja di dekat jendela kaca, melambai-lambaikan tangannya. Dan di sana, tidak hanya ada Tao rupanya. Tapi dua orang anak laki-laki lain yang Hyoyoung tidak tahu siapa. Salah satu di antara mereka adalah yang Tao bawa menemuinya di kelas saat ia pertama kali masuk ke sekolah. Dan satunya lagi, Hyoyoung sama sekali belum pernah melihatnya.

“Mereka siapa?” Hyoyoung berbisik lagi di samping Chanyeol yang masih bingung memilih makanan yang mana. Karena terlalu banyak menu yang disuguhkan, membuat siapapun pasti ingin mencicipinya satu-satu.

“Teman Tao. Satunya bendahara kelas, dan satunya wakil kepala organisasi sekolah.”

Hyoyoung mengangguk-anggukan kepala, dan sekali lagi menoleh kea rah Tao yang sudah melahap makan siangnya sambil sesekali terlihat tertawa dengan dua orang temannya.

Entah kenapa, Hyoyoung semakin merasa menjadi orang asing.

“Ayo!” Chanyeol yang rupanya sudah selesai mengambil makanan, mengajak Hyoyoung untuk menyusul Tao.

“Oh, oke,” ucap Hyoyoung lantas menyeimbangi langkah Chanyeol di sampingnya. Mencoba mengabaikan sekitar dan siapa sebenarnya dirinya, Hyoyoung mencoba tampil biasa-biasa saja.

Ya, setidaknya dia punya Chanyeol dan Tao di sini.

Soojung membatalkan niatnya untuk pergi ke kantin dan lebih memilih perpustakaan. Di meja paling ujung yang jauh letaknya dari meja penjaga, dia memilih mendudukan tubuhnya setelah sempat mengambil sebuah buku bacaan dari salah satu rak. Dia membaca sambil menghabiskan beberapa roti tawar dari dalam kotak makannya yang memang sengaja ia bawa dari rumah sebagai pengganti menu makan siangnya jika ia tidak ke kantin lagi.

Sebenarnya ia sering tidak ke kantin dan membiarkan saja teman-temannya mengambil jatah makan siangnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri di pojok perpustakaan, atau kalau memang ingin bercerita, dia akan menuju ke belakang halaman sekolah untuk menemui ‘ahjussi’.

Terlepas dari suasana kantin yang selalu ricuh, alasan Soojung sering melarikan diri ialah karena ia tidak punya teman dekat di sekolah. Setelah kurang lebih dua tahun ia menutun ilmu di sana, Soojung lebih banyak menutup diri dari pergaulannya, walaupun tidak menarik diri secara keseluruhan juga. Ia hanya tidak suka menghabiskan waktu makan siangnya sambil menggosip ria seperti kebanyakan gadis-gadis lain. Dia tidak suka berada di tengah keramaian, karena entah kenapa, ia selalu merasa orang-orang menatapnya dengan kilatan curiga.

Ada kalanya Soojung merasa lelah sendiri dan menyalahkan dirinya yang tidak pernah bisa lepas dari pengaruh orang tuanya. Atau karena orang tuanya yang belum bisa melepaskannya? Entahlah… Yang pasti, ia bahkan tidak bisa mengelak saat kedua orang tuanya memasukannya ke sekolah yang sama dengan tempat mereka bekerja. Hal yang kemudian banyak menimbulkan persefsi negatif tenang dirinya. Teman-temannya yang kebanyakan tidak terima dengan prestasi Soojung di kelas, selalu mengait-ngatikan nilai-nilai yang Soojung dapatkan adalah hasil campur tangan kedua orang tuanya. Dan kadang membenci Soojung hanya karena ia sering menjadi yang sering dipuji oleh guru di kelas.

Padahal tadi ia berharap ia bisa mendekati Hyoyoung dan mengajaknya berteman. Mengatakan kepadanya untuk jangan percaya dengan apapun yang teman-temannya di kelas katakan tentang dirinya.

Entah kenapa ia ingin punya teman, dan merasa jika Hyoyoung adalah orang yang tepat untuk ia ajak berteman. Terlepas dari pelanggaran yang anak murid baru itu lakukan, Soojung hanya merasa jika Hyoyoung berbeda dari anak-anak perempuan kebanyakan. Terlihat dari bagaimana ia yang selalu menolak saat teman-teman mereka di kelas mengajaknya untuk ke kantin bersama, dan Hyoyoung selalu mengatakan, ‘Aku masih kenyang. Nanti kalau lapar aku menyusul kalian.’

Tapi ternyata tidak semudah itu untuk mengajak seseorang berteman. Dan, sepertinya pilihannya terhadap Hyoyoung bukanlah pilihan yang tepat. Anak itu memang tidak terlihat seperti anak perempuan kebanyakan. Anak itu sepertinya lebih memilih untuk berteman dengan anak laki-laki. Dan, Soojung pikir, ia harus mengubur keinginannya dalam-dalam.

“Jeogi…,”

Suara seseorang tiba-tiba membuyarkan lamunan Soojung. Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati seorang anak laki-laki berkaca mata berdiri di sisi bangkunya sambil memegang buku.

Dia menundukan kepalanya, tidak benar-benar menatap mata Soojung saat mengutarakan keinginannya dengan nada ragu-ragu, “Apa kau bisa mengajariku mengerjakan soal kimia ini?”

Kim Yongdae. Soojung bisa melihat dengan jelas tulisan yang tertera pada papan nama kecil yang tersemat di bagian dada jas seragam murid laki-laki itu. Ia tersenyum kemudian dan berkata, “Baiklah. Semoga aku bisa membantu.”

“Kau bisa main basket?” tanya salah seorang anak laki-laki berambut cokelat yang tadi mengenalkan dirinya dengan nama Luhan kepada Hyoyoung.

Hyoyoung menangguk, “Tidak terlalu mahir, sih. Tapi satu-satunya olahraga yang kuikuti selama di Wien hanya basket,” ucapnya lalu tersenyum kea rah dua orang teman barunya. Luhan dan Minseok adalah anak kelas 2 – A yang menjabat sebagai anggota eksekutif sekolah. Sekelas dengan Tao dan Chanyeol.

Tidak seperti yang dipikirkan Hyoyoung sebelumnya, ternyata mereka sangat ramah kepadanya. Tidak mempermasalahkan Hyoyoung yang berada di kelas 2 – B. Juga tidak mempermasalahkan Hyoyoung yang merupakan siswa pindahan. Sebaliknya, mereka malah mengajak Hyoyoung untuk menjadi salah satu anggota dari grup mereka.

“Kami biasanya berlatih basket di lapangan selepas pulang sekolah. Kau seharusnya bergabung kalau begitu.”

“Tapi, kan…,” kata Hyoyoung ragu-ragu, “aku perempuan. Memang kalian mau menerimaku?”

Minseok yang tengah menyumpal mulutnya dengan ddokachi terkekeh mendengar ucapan Hyoyoung.

“Kau tidak perlu khawatir tentang itu,” ucap Luhan. “Kami tidak pernah mempermasalahkan gender. Kami dulu juga pernah punya member perempuan, namanya Hwarin. Tapi sekarang dia sudah pindah sekolah ke Busan. Ikut orang tuanya.”

“Lagi pula ini hanya latihan kami selepas pulang sekolah. Bukan pertandingan.” Tao di sampingnya menimpali. Sementara Chanyeol masih sangat menikmati makan siangnya. Jadi dia belum mengeluarkan komentar apapun sedari tadi.

“Selain basket kami juga punya kegiatan yang lebih seru,” kata Minseok setelah menandaskan isi nampannya. Ia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, menatap Hyoyoung dengan senyuman penuh arti. “Biasanya setiap malam rabu dan malam minggu.”

Hyoyoung nampak bingung. Kegiatan apa lagi ini? Apa mereka benar-benar ingin melibatkan dirinya? Kenapa Tao dan Chanyeol diam saja. “Kegiatan apa?”

Hyoyoung ragu. Minseok mendekatkan wajahnya kea rah Hyoyoung lantas berbisik, “Balap motor. Kau mau ikut?”

Mwo?

Ryu Daniel keluar dari balik pintu mobilnya, lantas membiarkan pandangannya menyisir halaman sempit yang ditumbuhi bunga-bunga liar tapi terawat di depan sebuah kedai kopi di pinggir Apgujeong dong. Ia menutup kembali pintu mobil peugeot tua berwarna kuning miliknya, lalu dengan langkah mantap berjalan memasuki pintu kedai kopi.

Di dalam, ia melangkah menuju meja bartender sebentar, memesan secangkir espresso dan meminta untuk dibawakan ke meja paling pojok yang mana di sana sudah di huni seorang laki-laki berkemeja biru muda. Seusai menyelesaikan urusannya dengan pelayan kafe, ia lalu beranjak menuju meja paling pojok dan menyapa seseorang yang ternyata sudah menunggunya kurang lebih lima belas menit.

“Sudah lama datang?” tanyanya seraya mendudukan tubuhnya ke kursi yang berhadapan dengan lelaki berkemeja biru itu.

“Ya, kurang lebih lima belas menit sudah di sini. Tapi, tenang saja, aku sudah paham kebiasaanmu.”

Ryu Daniel terkekeh singkat merespon perkataan pria di hadapannya.

“Kau masih membawa peugeotmu? Aku pikir usianya lebih tua daripada Hyoyoung.”

“Ya, kau benar! Dia memang lebih tua daripada Hyoyoung.”

“Dan dia masih setia.”

“Tentu saja,” sahut Daniel serta merta. “Kau tahu, dia tidak hanya setia, tapi sangat berjasa.”

Dan mereka tertawa kompak kemudian.

“Bagaimana kabar Hyoyoung di sekolah? Bisa mengikuti pelajaranmu dengan baik?”

“Ya. Dia, bisa dibilang, cukup cepat menangkap materi yang kusampaikan.”

Mendapat jawaban seperti itu, Daniel nampak menghembuskan nafas lega. “Syukurlah kalau begitu.” ujarnya kemudian, lantas mengalihkan fokus sejenak kea rah seorang pelayan laki-laki yang membawakan pesanannya. “Gamsahamnida.”

Pelayan itu menganggukan kepalanya sekali sebelum membalikan badan untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Aku sempat khawatir Hyoyoung akan mengalami kesulitan beradaptasi dengan sistem belajar di sini setelah lima tahun tinggal di Wien.”

“Kau tenang saja. Menurutku, Hyoyoung adalah anak yang cerdas.”

Daniel merespon perkataan pria di depannya dengan senyuman kecil, lalu bergerak mengambil cangkir espresso.

“Jadi, bagaimana? Kau sudah memikirkan tawaranku matang-matang? Sudah memutuskannya?”

Daniel masih menyeruput cairan kental espressonya saat orang itu melemparkan pertanyaan.

“Sudah,” jawabnya seraya meletakan kembali cangkir espresso ke atas meja. Orang itu menegakan sedikit tubuhnya. Menunggu-nunggu perkataan selanjutnya dari mulut Ryu Daniel.

“Lalu?”

“Aku menerimanya.”

“Jinja? Kau benar-“

“Ya,” jawab Daniel. “Aku memenuhi tawaranmu, dan kapan aku akan bekerja?”

“Minggu depan!” Pria di hadapannya tersenyum lebar sekali. “Minggu depan kau sudah bisa mengajar!

“Baiklah. Mohon kerja samanya, Jung Jinwoo. Aku benar-benar membutuhkan bimbinganmu.”

“Ah, mwoya…, kau ini.”

Daniel tersenyum melihat ekspresi Jinwoo yang sepertinya memang sangat girang setelah mendengar keputusannya.

‘Kami benar-benar membutuhkanmu saat ini. Sekolah memerlukan guru matematika sepertimu. Aku sangat berterimakasih kepadamu Daniel.”

“Ya, aku juga. Aku sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan ini. Selain karena aku tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan yang cocok, aku juga bisa mengontrol Hyoyoung setiap hari. Bukan begitu?”

“Tentu!” Jinwoo otomatis mengiyakan perkataan Daniel. “Kau akan punya waktu lebih banyak untuk Hyoyoung.”

Daniel tersenyum, lantas mengambil cangkir espressonya lagi dan menyeruputnya.

*

A/N:

Hallo apa kabar? Akhirnya aku baru bisa muncul lagi setelah lama hiatus. Haha. Ada yang kangen? *eww…

Aku bakal jadi MABA, so doain moga2 masih bisa apdet2 cerita. betewe makasih ya owner karena masih bersedia menampung saya yang jarang banget nengokin ini maskar. Aku usahain deh ke depannya bakal disiplin update.. 🙂

Gomawoooooo *bow*

Advertisements

One thought on “[CHAPTER 2] RECUSANT

  1. enak nya jadi hyoyoung, deket dengan chanyeol ^^
    belum ketebak siapa yang dg chanyeol. ckckck
    next thooor! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s