[Freelance] Abnormal Love

11334528_943295199049328_2069623997_n

Author:

Eufroshines

Cast:

Park Chanyeol – Byun Baekhyun

Genres:

Warning:: Shounen-ai/Boys Love/Yaoi | Romance, Drama

Rating:

PG 17

Length:

One Shoot

Disclaimers:

Cast miliknya sendiri. Story punya author~ | Maaf posternya absurd lagi males edit jadi pake real pict~ | Pernah di post di web pribadi (Abnormal Love) | Sorry for typos

Summary:

Ketika salah satu dari mereka menyatakan cintanya. Bagaimana perasaan yang akan di rasakan oleh satunya? Mungkin tak selamanya sebuah cerita cinta itu berjalan mulus. Benarkan?

oOo –   HAPPY READINGS   – oOo

From the moment I started liking you. Not a single day has been ordinary

We’re close friends, we pretend not to have feelings

I introduce you as a good friend

But there are words lingering in my mouth

I’m in love with you, I wanna give you everything all of me..

― Abnormal Love ―

Park Chanyeol, remaja lelaki yang baru memasuki masa dewasanya itu sedang asyik berkutat dengan PSP baru miliknya yang ia dapatkan dari tabungannya 5 bulan lalu. Bahkan ia tak sadar jika teman kuliahnya sudah berada dihadapannya sedang menatapnya intens.

“Park Chanyeol! Mau sampai kapan kau bermain dengan PSP-mu itu, huh?” tegur temannya.

Lelaki itu menoleh, menghentikan aktivitas bermainnya. “Astaga! Baekhyun-ah. Aku fikir kau tak ada di sini,” ringisnya. “Ada apa kau kemari?”

Baekhyun mengerucutkan bibir mungilnya kesal. Bagaimana bisa lelaki caplang itu lupa dengan janji yang ia buat sendiri untuk menyelesaikan karangan bunga yang di pesan oleh seorang pemilik perusahaan besar?

“Kau benar-benar tak ingat?” tanya Baekhyun sambil mengangkat satu alisnya.

Chanyeol menopang dagu memainkan jemarinya, “Hmm, tidak.”

“Hari ini kau harus menyelesaikan karangan bunga yang di pesan oleh Direktur Cho, kau benar-benar tak ingat? Astaga Tuan Park, sepertinya kau harus menghentikan aktivitas tak jelasmu itu dan fokus bekerja.” Tutur lelaki yang lebih mungil dari Chanyeol itu memperingati.

Chanyeol terengah. “Eh, benarkah?” Kemudian hening. “ASTAGA! Aku benar-benar lupa! Baiklah-baiklah sekarang apa yang akan kita rangkai? Dan bunga apa yang akan di gunakan? Tunggu, rangkaian untuk orang mati atau hadiah?  Atau bagaimana? Ah sungguh aku benar-benar lupa. Bagaimana bisa, astaga…”

Sejenak Baekhyun menarik nafasnya keras-keras lalu bangkit menuju pintu.

“Baekhyun¬-ah, kau akan kemana? Hei…tunggu aku, kenapa aku di tinggalkan?”

..

Kedua lelaki itu sedang memasang rangkaian bunga-bunga penuh keseriusan. Sesekali lelaki yang lebih tinggi tubuhnya itu melirik ke arah lelaki satunya. Pemikiran lelaki itu begitu penuh hingga tumpah mengisi relung hatinya, ikut memikirkan.

Mengenai pekerjaan, Chanyeol sebenarnya pemilik toko bunga itu. Ah tidak. Anak dari pemilik toko bunga itu. Nyonya Young memang senang sekali dengan rangkaian bunga hingga ia memutuskan menjadi seorang florist, menanam berbagai macam bunga dan membangun toko bunga lengkap dengan pesanan rangkaiannya.

Dan hari ini, Chanyeol meminta temannya untuk membantunya membuat rangkaian bunga pesanan Direktur Cho, teman lama ayahnya. Baekhyun sendiri sering membantu beberapa pekerjaan rangkaian milik ibunya Chanyeol. Mungkin lebih sering di banding anaknya sendiri. Hingga terkadang Nyonya Young merasa tak enak dengan Baekhyun yang selalu datang membantunya.

“Hey Baekhyun-ah..”

“Hmm?”

“Kau pintar merangkai bunga ya, kau menyukainya?”

Baekhyun menatap Chanyeol sejenak, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. “Tidak juga, lagipula aku ini laki-laki, bodoh. Mana mungkin aku menyukai bunga.”

“Tapi rangkaianmu bagus sekali, lebih bagus dariku.”

“Itu karena kau jarang membantu orang tuamu. Itu salahmu sendiri.”

Chanyeol diam mendengar pernyataan ketus Baekhyun padanya.

Kau ini. Jika sudah fokus dengan sesuatu yang di kerjakan pasti saja berubah drastis menjadi Baekhyun yang super cuek.

Akhirnya Chanyeol pun memilih diam dan ikut-ikutan untuk fokus pada rangkaiannya walaupun sebenarnya dia sedikit keliru menyimpan anyelir dengan bunga gladiol.

..

Di suatu sore yang teduh, Chanyeol tengah berbaring di atas atap rumahnya. Menikmati angin sore dan langit yang di penuhi warna jingga. Sangat cantik. Hati lelaki itu kelu. Sedikit membingungkan dan tak dimengerti olehnya. Hingga akhirnya Baekhyun datang menghampiri lelaki itu dan menendang pinggangnya.

“Ya! Bodoh! Mengapa kau menendangku?” protes Chanyeol.

Baekhyun tersenyum menampakan giginya lalu duduk di sisi Chanyeol. Chanyeol pun bangun dan ikut duduk sambil menyandarkan punggungnya di dinding.

“Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tak menjawab. Aku fikir kau tertidur dengan mata terbuka lagi. Makanya aku menendangmu.”

“Ada banyak cara yang lebih baik dari pada menendang, bodoh. Aku tahu kau menyukai sepak bola tapi bukan berarti kau mengalihkan bolanya menjadi padaku?!”

“Ya-ya terserah, maafkan aku. Aku hanya bingung harus menyadarkanmu seperti apa.” Ucap Baekhyun polos sambil menyengir menatap Chanyeol lalu kembali menatap langit sore.

Sejenak mereka terdiam dan keheningan menyelimuti mereka berdua. Hanya angin sore yang terdengar bersautan saat itu. Baekhyun fokus menatap langit, sedangkan Chanyeol fokus dengan perdebatan batin yang ia rasakan. Sebenarnya apa yang di fikirkan lelaki jangkung itu?

“Hey Baekhyun-ah..”

“Hmm?”

“Kau tak akan meninggalkanku ‘kan?”

Baekhyun mengernyit, “Apa maksud pertanyaanmu? Meninggalkanmu kemana? Jangan bodoh, rumah kita berdekatan. Bahkan aku atau kau sering loncat atap rumah untuk sampai lebih cepat, haha.”

Kemudian Chanyeol ikut tertawa, “Benar juga. Ada apa denganku haha.”

Kali ini Baekhyun yang diam mendengar pernyataan teman dekatnya sejak sekolah menengah pertama. “Jangan-jangan, kau lah yang akan meninggalkanku?”

“Aku? Tidak dan tak akan pernah.”

“Benarkah? Percaya diri sekali. Bukankah kau sendiri yang bilang setelah lulus kuliah akan meneruskannya di Swedia?”

“Ya, memang. Tapi aku akan membawamu pergi kesana.”

“Apa? Tidak-tidak. Aku tak ingin pergi ke tempat orang asing yang tubuhnya tinggi-tinggi itu. Tidak, tidak mau.”

“Tapi aku tinggi, bodoh.”

Baekhyun tertegun sejenak. “Tidak, terkecuali dirimu. Ya, hanya dirimu.”

Ada perasaan yang membuat dirinya spesial kala Baekhyun menyebutkan hanya dirinya lah yang mampu bersanding dengan lelaki mungil itu. Tunggu, ada apa dengan pikiran lelaki ini?

“Apakah aku se-istimewa itu untukmu, Byun Baek?”

Baekhyun meninju lengan lelaki bertelinga caplang itu main-main. “Aku bilang jangan terlalu percaya diri seperti itu.”

“Itu kenyataan, kau tahu?”

“Diamlah.”

Lalu Chanyeol tertawa mendengar erangan Baekhyun. Lelaki itu mengusap surai coklat milik Baekhyun sekilas.

“Bagaimana jika aku menyukaimu?” ceplos Chanyeol.

Baekhyun diam. Otaknya tengah mencerna perkataan Chanyeol. Kemudian lelaki mungil itu tertawa, “Benarkah kau menyukaiku? Wah, betapa beruntungnya aku di sukai oleh lelaki jangkung anak dari sebuah toko bunga di samping rumahku.”

Chanyeol menyunggingkan senyumnya merekah mendengar respon Baekhyun. Apakah ini berarti ia tak di tolak?

“Tapi sayang kau bukan tipeku.” Lanjut Baekhyun seketika masih dengan iringan tawanya.

Senyumannya sirna, penolakan yang sangat halus, Byun Baekhyun. Tetapi masih ada tekad lain dalam dirinya. “Aku akan lakukan apapun asal aku bisa menjadi tipemu! Aku janji!” sahut Chanyeol semangat.

Baekhyun mengernyitkan dahinya sambil menjauh dari Chanyeol. Fikirannya mengatakan jika Chanyeol sedang jatuh cinta dan baru saja di tolak oleh seorang wanita.

“Ya ya! Hey, Park Chanyeol! Sadarlah aku ini laki-laki―mana mungkin kau menyukai sesama laki-laki. Aku mengenalmu, man. Apa kau baru saja di tolak oleh seorang wanita yang kau sukai sampai-sampai kau gila seperti ini?”

Chanyeol menggeleng. “Tidak bodoh, aku belum pernah menyukai wanita manapun. Aku gila karenamu.”

“Kau bohong. Aku tahu kau pernah menyukai adik tingkat yang rambutnya sangat bagus itu, siapa namanya? Ah ya Kim Ye Jin. Kau pernah menyukainya ‘kan? Begitu pun Byun Baekhyun yang ikut-ikutan gila karena ucapanmu.” Ucap Baekhyun sambil mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali. Membuat Chanyeol gemas ingin menciumnya.

Tunggu,

Menciumnya?

Ada apa dengan perasaanmu sekarang, Park Chanyeol?

“Benarkah aku pernah melakukannya?” Chanyeol terdiam sejenak. “Ya mungkin itu dulu tapi tidak sekarang, bodoh. Aku menyukaimu dan aku tidak sedang bercanda.”

Baekhyun terdiam mendengar ucapan teman lamanya itu. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Dan bagaimana ini bisa terjadi? Bukan ini yang di inginkan lelaki mungil itu.

“A-aku baru ingat jika aku harus mengantar ibuku pergi ke rumah nenek. Jam berapa sekarang? Ah, astaga aku terlambat. Maafkan aku, Dobi. Tapi sepertinya aku harus pergi sekarang, lain kali kita teruskan pembicaraan kita, adieu~”

Baekhyun melenggang pergi meninggalkan Chanyeol yang tengah menatap punggung mungilnya itu dengan kecewa.

Penolakan yang halus, Byun Baek. Kau membuatku gila.

Sementara dalam hati lelaki mungil yang baru saja pergi itu sedang bergelut dengan logika dan kata hati. Mungkin logikanya mengatakan; Chanyeol sudah gila untuk menyukainya. Tetapi hatinya mengatakan; Dirinya sendiri sebenarnya menyayangi Chanyeol, mungkin menyayangi dalam arti lain,

Untuk sementara ini…

..

Kelas pagi yang tengah Chanyeol masuki hanya menyisakan beberapa orang. Lelaki itu bertopang dagu memperhatikan dosen. Matanya memang menatap dosen itu, tetapi pikirannya melayang entah kemana.

Ketika kelas sudah bubar ia langsung pergi menuju gedung Fakultas Seni Rupa. Baekhyun pasti baru datang dan dia tak boleh melewatkan itu.

Iris mata sapphire hitamya itu menangkap langsung sosok lelaki bertubuh mungil yang ia tunggu. Pada awalnya lelaki itu memang berjalan ke arah Chanyeol. Tetapi kemudian setelah melihat batang hidung dirinya. Lelaki mungil itu berbalik menuju arah sebaliknya.

Chanyeol tertegun. “Kau menghindariku?” monolognya. “Atau ada sesuatu yang tertinggal?”

Lelaki itu masih berkelut dengan berbagai pemikirannya, begitu pun dengan Baekhyun yang baru saja ‘pergi’ menghindari teman dekatnya, sahabat lamanya, Park Chanyeol.

Baekhyun menyandarkan punggungnya hingga bertuburukan dengan dinding toilet fakultas. Ia mendesah. “Apa aku terlihat begitu menghindarimu, Dobi? Maafkan aku,” monolognya, kemudian menatap sosok bertubuh mungil di sebrangnya. Ia tengah bercermin.

“Apa yang kau lihat dariku?”

Lelaki mungil itu memperhatikan setiap inci miliknya. Dia bertubuh mungil, jarinya lentik, matanya sangat bagus, bibirnya begitu tipis dan menggoda, hidungnya pun kecil dan mancung, rambutnya ia tata rapi layaknya seorang laki-laki. Lalu apa yang sebenarnya Chanyeol lihat darinya?

Baekhyun menyalakan kran dan membasuh wajahnya. Berharap dengan dinginnya air itu dapat merubah mimpi buruk yang tengah ia alami. Sungguh bukan ini yang ia harapkan dari seorang Park Chanyeol padanya. Bukan perasaan itu, bukan. Terlalu ganjil jika Baekhyun mengakui bahwa Chanyeol seorang gay. Demi Tuhan dia tak pernah memikirkan itu sama sekali, bahkan ketika Chanyeol bercerita dia menyukai seorang gadis, ia yakin perkataan Chanyeol kemarin sore hanyalah gurauan belaka.

“Fokus, Byun Baek. Dia hanya bercanda. Jangan kau hindari, dia adalah sahabatmu. Bukankah kau sendiri tak bisa jika Chanyeol tak berada di sisimu? Kau harus yakin bahwa Chanyeol hanya bercanda,” monolog Baekhyun menyemangati dirinya sendiri lalu melenggang pergi keluar menuju kelas yang tadinya ia tuju.

Chanyeol menatap gedung fakultas yang Baekhyun masuki dengan penuh harap. Iris matanya tak henti-henti mencari sosok mungil itu.

Kendalikan dirimu, bodoh. Bagaimana jika Baekhyun jadi membencimu dan menjauhimu? Itu lebih bahaya di banding apapun.

“Chanyeol sunbae!” sapa seorang gadis berambut hitam panjang. Chanyeol menoleh.

“H-hei, Ye Jin. Ada apa?” tanyanya sedikit kaku.

Bukan ini. Bukan seperti ini. Ada apa? Mengapa ia tak merasa bergetar sedikitpun berhadapan dengan Ye Jin. Adik tingkat yang ia sukai sejak delapan bulan yang lalu.

“Sendiri?” tanya Ye Jin penuh perhatian sambil menjatuhkan pantatnya di samping Chanyeol.

Chanyeol mengangguk. Entah mengapa ia merasa terganggu dengan kedatangan Ye Jin.

“Baekhyun sunbae tidak bersamamu?”

“Dia sedang ada kelas.”

“Ah begitu. Kalian selalu bersama-sama. Seperti pasangan saja,” gurau Ye Jin lalu tertawa.

Chanyeol menyeringai lalu berdecak lidah. “Apakah terlihat seperti itu?”

“He-em,” angguk Ye Jin semangat.

“Kau tak ada kelas?” tanya Chanyeol. Berharap Ye Jin cepat-cepat pergi dari hadapannya. Jika ini tak berhasil maka dirinya lah yang harus pergi.

“Belum. Sekitar dua jam lagi. Apakah sunbae juga sama?”

“Ya. Ada dua kelas yang harus aku masuki hari ini.” Chanyeol menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya, “Sekitar lima belas menit lagi,” lanjutnya.

Bohong jika ia ada kelas sebentar lagi. Ia baru saja keluar kelas dua puluh menit yang lalu.

Ye Jin menampakkan wajah kecewa. “Ah benarkah? Sayang sekali. Jika begitu sunbae harus segera masuk kelas. Selamat belajar,” ucapnya manis.

Chanyeol mengangguk lalu pergi meninggalkan Ye Jin di sana sendirian. Gadis itu memang manis tapi mengapa perasaannya tak seperti saat ia benar-benar menginginkan Ye Jin. Apakah ini karma?

Chanyeol pergi menuju kantin tempatnya kuliah melewati beberapa taman dan gedung-gedung tinggi tiap fakultas tetapi keadaannya sedang agak ramai saat itu. Membuat niatnya urung untuk bersantai disana. Akhirnya Chanyeol pergi menuju kafe sebrang gedung kuliahnya. Mungkin satu cangkir American Latte dengan satu batang rokok menthol dapat menenangkan pikirannya sekarang.

“Satu American Latte dan jus strawberry,” tutur Chanyeol ketika hendak memesan.

Lalu ia mengeluarkan rokok mentholnya dan mulai menyesapnya perlahan.

Lelaki itu tengah merokok dengan tatapan menerawang. Sesekali menatap layar ponselnya yang tak kunjung berkedip atau bergetar. Ada sesuatu yang ia tunggu.

Chanyeol tak sabaran dan mulai mengetik sesuatu di ponselnya.

Aku di kafe biasa. Kemarilah, aku traktir kau jus strawberry kesukaanmu, bodoh.

Lelaki itu menghentak-hentakkan jemarinya di meja. Menunggu. Entah mengapa dia merasa sangat gelisah hari ini.

Baekhyun menatap layar ponselnya kaku. Chanyeol tengah menunggunya.

Kau harus mendatanginya, Byun. Lelaki itu pasti tengah gelisah hingga mau mentraktirmu. Suatu kebiasaan yang dapat di tebak bukan?.

Baekhyun mulai pergi meninggalkan kelas dan menuju kafe tempat mereka biasa menongkrong. Lelaki itu berada di sana menunggunya.

“Sudah lama kau―hei kau merokok lagi? Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak merokok? Mengapa kau tak menurut sekali, hah?” semprot Baekhyun baru ketika ia menemukan batang hidung Chanyeol yang sedang merokok dan langsung menarik kursi yang berada di hadapannya.

Chanyeol mengerang, “Apa masalahmu dengan rokokku? Kau terganggu? Jika begitu aku akan keluar menghabiskan rokokku.”

Baekhyun menarik lengan Chanyeol yang baru akan pergi meninggalkannya, ia pasrah dan mengalah kali ini. “T-tidak jangan. Duduklah,” pinta lelaki mungil itu.

“Ada apa denganmu? Kau terlihat begitu gelisah. Kau di tolak gadis lagi?” tebak Baekhyun asal ketika Chanyeol kembali ke tempat duduknya.

Aku di tolak olehmu, bodoh. Kapan kau akan peka?

“Tidak. Aku sudah bilang padamu aku belum pernah menyatakan cinta pada seorang gadis,” tolaknya sedikit kesal.

Baekhyun diam. Lelaki caplang di hadapannya ini bukanlah Chanyeol yang biasanya. Ia tahu kebiasaan Chanyeol. Ia tahu ada yang sedang mengganggu perasaan lelaki itu hingga ia berkata seenaknya bahkan merokok seenaknya. Tapi baru kali ini Chanyeol benar-benar menyebalkan baginya.

“Baiklah-baiklah. Jadi ada apa?”

Lelaki itu menyesap rokoknya lagi. “Aku kesal padamu, pendek. Seharusnya aku yang bertanya kau yang kenapa? Ada apa denganmu? Tadi pagi kau menjauhiku? Aku menunggumu, bodoh. Aku merindukanmu.”

Jelas sekali Chanyeol menjelaskan perasaannya pada Baekhyun. Caci maki Chanyeol memanglah kebiasaan yang selalu melekat jika ia kesal.

Baekhyun bergeming sedikit lama. Apa yang akan kau lakukan sekarang, Byun Baekhyun?

“Aku tadi mendadak ingin ke toilet, berhentilah bertingkah seolah-olah kau kekasihku, Dobi. Aku muak.” Tutur lelaki itu.

Chanyeol mengangkat satu alisnya, lalu mendekatkan wajahnya pada Baekhyun yang berada di hadapannya. Tangannya masih memegang rokok yang menyala. “Apa? Kau muak?”

Chanyeol kembali bersandar. “Demi Tuhan bahkan kau belum pernah menjalin kasih denganku dan kau bilang kau muak?” lanjutnya.

Baekhyun tak bergeming, ia hanya menatap jus strawberry miliknya –yang di traktir oleh Chanyeol, lekat-lekat.

Ada apa ini? Mengapa hubungan persahabatan mereka menjadi serumit ini?

“Chanyeol…” Baekhyun menelan salivanya lalu mengigit bibirnya, gugup dengan kata-kata yang akan keluar dari bibir tipisnya itu. “Aku fikir kita harus saling berjauhan untuk sementara ini. M-maksudku tidak bersama-sama dulu. K-kau tahu ‘kan jika ini terus di paksakan akan sulit rasanya. Lagipula, aku tak nyaman jika pertemuan kita hanya di hiasi oleh pertengkaran,” lanjut lelaki mungil itu dengan nada lemah.

Sekilas terlukis raut wajah tegang dari Chanyeol.

Tidak, tunggu. Bukan itu maksudku. Baekhyun, tolong jangan seperti ini.

Chanyeol menarik nafasnya cepat lalu mematikan rokoknya yang belum habis. Ia menunduk. “Maafkan aku. A-aku sungguh tak bermaksud menyakitimu atau membuatmu tak nyaman. Tapi sungguh jangan seperti ini. Maafkan aku, Baek.”

“Maafkan aku juga, Yeol. Tapi aku rasa kita harus memikirkan perasaan kita masing-masing. Sungguh aku tak bermaksud menjauhimu. Tapi kurasa…aku butuh waktu untuk memikirkan semua yang baru saja terjadi padak…akhir-akhir ini.” Ada jeda ketika Baekhyun mengatakan betapa beratnya masalah yang ia hadapi. Sulit di percaya.

Baekhyun menghembuskan nafasnya sejenak. Lelaki manis itu meneguk jus setengahnya lalu tersenyum. “Terimakasih jus strawberrynya. Sedikitnya membuat moodku sedikit lebih baik. Aku ada kelas sebentar lagi. Adieu Chan~”

Lelaki itu pergi melangkah keluar kafe dan buru-buru menyebrang menuju fakultasnya. Sekilas rautnya begitu awut-awutan. Chanyeol tahu, Baekhyun merasakan hal yang sama dengannya. Gelisah, takut dan tak mengerti.

Lelaki mungil itu lagi-lagi pergi dengan sejuta alasannya.

Lelaki mungil itu lagi-lagi pergi mendahului Chanyeol.

Dan lelaki mungil itu lagi-lagi memperlihatkan punggung mungilnya pada Chanyeol.

Rumit. Bahkan Chanyeol sendiri tak pandai mengekspresifkan apa yang ia rasakan sebenarnya.

Kau bilang, kau tak akan meninggalkanku. Tapi kau akhirnya pergi hanya karena suatu perasaan aneh dan gila yang menghampiri hatiku. Sebenarnya siapa yang bodoh, pengecut dan menyebalkan disini, pendek? Kau atau aku?

..

Sudah hari ke empat belas sejak Baekhyun memilih untuk menjauhinya. Membuat keduanya semakin tak mendapati kepastian yang jelas.

“Baekhyun-ah tak datang kemari hari ini, sayang? Sudah berapa hari dia tidak datang membantu Mama ya?” tanya Nyonya Young pada anaknya.

Chanyeol bergidig. “Sepertinya tidak, Ma. Aku tak tahu. Apakah Mama merindukan dia?”

Nyonya Young mengangkat bahunya lalu menghembuskan nafasnya perlahan, “Ya, sepertinya begitu. Baekhyun anak yang manis dan baik. Pantas kau betah dengannya.”

Chanyeol menatap beberapa rangkaian bunga yang Baekhyun buat di tokonya. Rasanya sepi jika tak ada lelaki mungil itu di sampingnya. Chanyeol benar-benar merindukannya bahkan ibunya saja merindukan lelaki mungil itu. Chanyeol ingin bertemu dengan Baekhyun. Sekarang.

Chanyeol menarik jaket yang ia sampaikan di sandaran kursinya, berniat pergi menuju kedai tempat Baekhyun bekerja paruh waktu. Lelaki jangkung itu sempat menatap jam. Ia masih punya waktu sebelum jam kerja Baekhyun habis.

“Kau akan pergi kemana?” tanya Nyonya Young ketika melihat anaknya meraih jaket dan kunci motor.

“Pergi mencari hati yang hilang, Ma. I’ll be back soon.”

Nyonya Young tersenyum. Anaknya sudah besar ternyata. “Jika kau bertemu dengan Baekhyun, sampaikan salam Mama padanya dan katakan Mama merindukannya dan karangan bunga buatannya, sayang. Hati-hati.” Seru Nyonya Young mendampingi anaknya keluar toko.

Chanyeol menaiki motor dan mengenakan helm. Sekilas ia tersenyum di balik helm yang ia gunakan.

I’ll, Ma. Aku akan katakan itu. Karena dia tujuanku kali ini.

Dengan kecepatan angin lelaki itu pergi menaiki motor Ducatinya, berharap ia tak kehabisan waktu.

Belok kanan di perempatan itu dan kau akan mendapatkan Baekhyun-mu disana, Yeol. You’ll caugh him.

Chanyeol menstandarkan motornya di sebrang kedai. Lelaki itu tetap diam di motor menghadap kedai sambil menyalakan satu batang rokok menthol kesukaannya. Iris matanya tak henti memperhatikan lalu lalang orang-orang dari dalam maupun luar kedai. Fikirannya hanya satu.

Hanya Baekhyun.

Sementara itu Baekhyun masih sibuk di dalam dengan pesanan-pesanan pelanggannya. Kedai tempatnya bekerja memang tak terlalu besar tapi sudah bisa di bilang terkenal di seantreo Seoul. Kedai kecil dengan makanan yang menenangkan hati.

Iris mata kecilnya menangkap sosok yang tengah duduk di motor sambil menyesap rokok. Ia kenal sosok itu. Tatapan mata lelaki itu tertuju pada tempatnya bekerja.

Lelaki itu menunggunya.

Sudah lama sekali rasanya Chanyeol tak menjemputnya seperti ini.

Tunggu,

Menjemput?

Bukankah mereka sedang dalam keadaan rumit ketika terakhir bertemu?

Baekhyun menyunggingkan senyumnya kemudian sirna. Ia rindu lelaki itu tapi ia tak bisa bertemu dengannya. Ada perasaan yang menyakitkan hatinya jika bertemu dengan lelaki itu. Dan hey! Mengapa hati seorang Byun Baekhyun menjadi terlihat seperti seorang wanita sekarang?

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menepis pikiran-pikiran gila yang ada di otaknya.

“Ya! Byun-ssi pesananmu mana?” teriak rekannya dari dapur.

Baekhyun gegalapan. Ia bahkan hampir lupa jika ia sedang bekerja. Lelaki itu langsung pergi menuju sumber suara. Meninggalkan tatapan Chanyeol yang selalu ia rindukan.

Chanyeol menatap jamnya sekali lagi. Ia tak sabar untuk bertemu Baekhyun. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Seharusnya jam kerja Baekhyun sudah habis.

Hampir lima belas menit Chanyeol menunggu lelaki itu keluar dari kedainya. Apakah Baekhyun sudah melihatnya dan mencoba menghindarinya lagi? Tidak-tidak. Baekhyun bukanlah orang yang senang lari dari masalah. Ia tahu itu.

Satu jam berlalu. Sudah berapa batang ia habiskan waktunya dengan rokok demi menunggu lelaki itu?Kedainya masih ramai, pegawai disana pasti banyak jadi mana mungkin Baekhyun ikut membantu. Lagi pula dia kerja paruh waktu jadi tidak akan mungkin lelaki itu lembur.

Lelaki itu menatap jamnya lagi. Sembilan lewat empat puluh tiga menit. Ini sudah larut. Kedai itu sebentar lagi tutup. Ia bersikeras menunggu Baekhyun walaupun kakinya pegal berjalan kesana kemari, terkadang ia duduk, kadang ia berdiri bersandar pada motornya. Ia bosan tapi ia tak ingin kehilangan waktu.

Iris matanya membulat ketika Baekhyun baru keluar dari kedai dengan stelan mantel coat yang menutupi tubuhnya. Lelaki mungil itu tengah berbincang-bincang dengan seseorang. Mungkin pemilik kedai?

Baekhyun langsung pergi ke arah jalannya pulang. Chanyeol menyalakan motornya. Ia tak ingin kehilangan Baekhyun kali ini.

Sorot lampu motor Chanyeol menemani jalan Baekhyun. Lelaki itu tahu Chanyeol berada di belakangnya, menemaninya. Tapi lelaki caplang itu bahkan sama sekali tak berani untuk menyapanya. Sebenarnya ada apa dengan perasaan mereka berdua?

Chanyeol menggertakan giginya geram.

Demi Tuhan, Byun Baekhyun! Menolehlah!

Chanyeol menarik gasnya lebih keras. Kali ini ia akan memblokade jalan Baekhyun.

Baekhyun tersentak. Chanyeol berada di hadapannya.

Lelaki itu hanya diam di motor begitupun Baekhyun. Seolah keduanya sedang saling menunggu untuk menjelaskan.

Chanyeol tak tahan. Lelaki itu turun dari motornya lalu menanggalkan helmnya di jok. Ia berjalan mendekati Baekhyun dan memeluknya.

Baekhyun tak bergeming.

Ia rindu wangi tubuh Chanyeol, ia rindu parfume yang selalu Chanyeol kenakan dan ia rindu sentuhan hangat Chanyeol.

Mungkin dulu sentuhan-sentuhan itu tak berarti. Tapi ini begitu berarti untuknya. Untuk Baekhyun. Mungkin dulu Chanyeol sering merangkul pundaknya, sering menyentuh pipinya dengan gurauannya, sering memukul lengan kecilnya. Tapi malam ini cukup pelukannya saja sudah membuatnya mati. Benarkah ia merindukan Chanyeol sedalam itu?

“Aku merindukanmu, pendek. Mengapa kau menyiksaku seperti ini? Kau membuatku hampir mati karena cinta,” ucap lelaki caplang itu sambil mengusap rambut Baekhyun.

Baekhyun tersenyum, mengapa rasanya ia ingin menangis?

Baekhyun mengigit bibirnya. “A-aku juga. Aku begitu merindukanmu, Yeol. Sangat.”

Chanyeol melepas pelukannya. Ia memegang kedua pundak mungil di hadapannya, tatapannya jatuh pada iris mata yang tak terlihat karena gelap.

“Benarkah? Jangan buat aku gila lagi, bodoh. Aku benar-benar merindukanmu. Jangan pergi lagi dariku, jangan menjauh lagi dariku. Karena jika kau melakukan itu lagi, aku tak segan mencarimu bahkan meneriakimu jika kau mau.”

Baekhyun mengadah, apa dia gila? Lelaki mungil itu tersenyum lalu memukul dada bidang Chanyeol.

“Kau bodoh. Kau mau mempermalukan aku? Aku tak akan pergi, aku ini saha…batmu,” ucap Baekhyun dengan nada terputus.

Chanyeol diam, melepas tangannya dari pundak Baekhyun.

Lelaki itu masih menganggapnya sahabat, bukan seseorang yang di kasihinya. Hati lelaki jangkung itu jatuh ke dalam dasarnya. Rasanya tak ada harapan lagi untuknya. Mengapa ia begitu ter-obsesi pada seorang Byun Baekhyun? Bukankah mereka tak akan pernah bisa bersama walaupun saling mencintai?

Baekhyun mengadahkan dagu Chanyeol yang menunduk. Menatap matanya.

“Malam ini, aku ingin kita berbicara. Mengeluarkan isi hati kita dan menjelaskan apa yang terjadi.”

Chanyeol tersenyum, sedikit harapan kecil untuknya walaupun kemungkinan besar keberhasilannya hanyalah tiga berbanding sepuluh. Lelaki itu menarik lengan Baekhyun untuk mendekati motornya, lalu menepuk-nepuk jok.

Malam itu mereka pergi ke suatu tempat yang sejuk, yang mungkin dapat menetralisir perasaan mereka. Dan Chanyeol memilih sebuah pantai yang agak jauh dari kota Seoul. Mungkin sehari atau dua hari mereka menghilang dari rumah, mereka yakin tak akan ada masalah dirumah. Mereka laki-laki, bukan?

..

Angin pantai yang bergerak menuju utara begitu dingin dan menusuk. Belum lagi saat itu sudah pukul dua dini hari. Kedua manusia berkelamin sama itu duduk bersampingan merapatkan tubuh. Mereka bukannya tak ingin menyewa sebuah rumah pantai hanya saja siapa yang mau menerima tamu di jam malam seperti ini? Rasanya mustahil walaupun itu ada.

Keheningan menyelimuti keduanya, hanya suara angin dan desiran ombak yang menemani saat itu. Mereka tengah berfikir satu sama lain.

Chanyeol memainkan jarinya di atas pasir. Baekhyun ingat, Chanyeol menyukai pantai, pantas saja lelaki itu mengajaknya kesini.

Baekhyun berdeham, “Jadi…bagaimana, Yeol?” tanyanya samar berburu dengan desiran ombak yang menganggu.

“Aku mencintaimu, hanya itu.”

“Tapi aku fikir ini tak akan berhasil, Yeol. Aku takut.”

“Mengapa? Takut kau di kucilkan? Takut jika kau di anggap berbeda? Kita memang berbeda, siapa peduli. Yang mencintaimu itu aku, bukan mereka.”

Kemudian hening kembali. Chanyeol meneruskan perkataannya.

“Aku tahu ini gila, Baek. Bahkan aku sendiri tak mengerti mengapa ini bisa terjadi padaku. Tapi siapa yang bisa menolak jatuh cinta? Sialnya tak ada. Aku tak peduli kau bukan tipeku atau memang tipeku. Yang jelas, ketika aku bersamamu aku merasa tenang dan damai. Aku merasa hanya dirimu yang dapat menenangkan perasaanku setelah Mama.”

Chanyeol menggeser pantatnya menatap lelaki mungil yang sedari tadi hanya menunduk itu.

“Hey,” kata Chanyeol sambil menarik dagu Baekhyun untuk menatap dirinya. “Bicara soal Mama, Mama merindukanmu. Dia bilang ia rindu karangan bunga yang selalu kau buat. Dia juga merindukan ocehanmu. Aku rasa Mama sudah menganggapmu sebagai anaknya. Aku tergantikan olehmu, pendek.” Gurau Chanyeol lalu ia tertawa.

Baekhyun menaikkan alisnya satu sambil menganga. Tak percaya dengan perkataan Chanyeol barusan.

“Yang benar saja. Aku sudah memiliki Ibu, Dobi. Kau tahu itu.”

“Mungkin anak menantu,” ceplosnya masih dengan di iringi tawa.

Lagi-lagi Baekhyun  menganga tak percaya. Jam malam membuat Chanyeol menjadi gila.

“Aku fikir kau harus istirahat, Dobi. Fikiranmu sudah mulai gila dan tak terkontrol, bahkan tak masuk logika. Aku ini laki-laki, Demi Tuhan mana bisa aku menjadi menantu Nyonya Young.”

Chanyeol masih tertawa lalu mengusap surai Baekhyun perlahan. “Kau naif sekali, pendek. Aku tahu kau juga mencintaiku. Tapi kau hanya takut dengan lingkungan yang belum tentu mempedulikanmu. Mengapa kau peduli pada mereka? Yang menjalani itu kita, bodoh.”

Baekhyun tertegun. Hatinya memang mencintai Chanyeol. Ia sadar ketika ia meninggalkan Chanyeol di kafe itu. Hatinya sudah menjadi milik Chanyeol.

Lelaki mungil itu tersenyum. “Kau benar. Mengapa aku harus peduli pada orang lain.”

Chanyeol spontan terkejut. Benarkah Baekhyun menyadari ini?

Baekhyun menatap Chanyeol lekat-lekat, lalu menangkup kedua pipi tirus milik lelaki jangkung itu. “I knew my heart was yours from the first day, Dobi.”

Baekhyun mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir yang selama ini selalu mengatakan mencintainya. Sekilas. Baekhyun tersenyum, sedangkan Chanyeol hanya diam.

Ada perasaan lega di hati keduanya. Mengapa tak sedari dulu mereka melakukan ini? Lagi pula menyelesaikan masalah dengan berjauh-jauhan tak akan pernah usai. Lelaki jangkung itu benar-benar bahagia, ia benar-benar senang. Penantiannya tak sia-sia. Dugaannya tak berhasil hanyalah omong kosong. Buktinya Baekhyun menerima cintanya.

“K-kau yakin, Baek?” tanya Chanyeol ragu.

Baekhyun menyeringai, “Hei-hei! Sekarang kenapa jadi kau yang ragu begini?”

“Aku hanya takut kau tak bisa berpaling dariku,” jawabnya percaya diri sambil mengeluarkan smirknya.

“Sialan kau, percaya diri sekali.” Gerutu Baekhyun. Lalu ia menyandarkan kepalanya di pundak Chanyeol. “Tapi siapa peduli, aku benar-benar tak bisa berpaling darimu, Dobi.”

Chanyeol yang melihat perlakuan Baekhyun menjadi gemas, ia menarik pinggang Baekhyun untuk menjadi lebih dekat dengannya. Lalu memeluknya. “Jangan tinggalkan aku dan membuat aku gila lagi, pendek. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

Epilogue

“Ibu, aku berangkat dulu.” Sahut Baekhyun dari ruang tamu.

Kemudian ibunya datang terburu-buru sambil membawakan bekal makan siang. “Kau tak akan membawa ini?”

Baekhyun menghembuskan nafasnya kesal, “Ibu, aku bukan anak kecil lagi.”

“Ibu membuatkannya dua.” Sahut ibunya mengingatkan.

Baekhyun menaikkan alisnya. “Untuk siapa satu lagi?”

“Pacarmu itu…Chanyeol.”

Baekhyun menelan salivanya, dari mana ibunya tahu itu?

“Ibu tahu kalian sedang berpacaran ‘kan? Awalnya Ibu tak menyangka kalian akan berpacaran tapi entah mengapa Ibu senang sekali mendengarnya.”

Baekhyun semakin di buat bingung dengan perkataan Ibunya itu.

“Ibu, k-kau tak marah? Anakmu i-ini g-gay, Bu.” Tutur Baekhyun penuh rasa cemas.

“Ah kau tak tahu kalau Ibu seorang fujoshi?”

Lelaki mungil itu kembali menelan salivanya. Rasanya ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bagaimana jika ia menceritakannya pada Chanyeol?

Lelaki bertubuh jangkung itu sudah siap menunggu dengan motor ducatinya, menunggu kekasihnya keluar dan berangkat kuliah bersama-sama.

Di perjalanan menuju kampus, Baekhyun menceritakan apa yang baru saja terjadi di rumahnya. Chanyeol tertegun lalu ia tersenyum di balik helmnya.

“Kau tahu kau beruntung, Ibu-mu bisa-bisa menyetujui kita untuk menikah.” Ucapnya sambil tertawa.

“Ya, mungkin~ Bagaimana dengan Nyonya Young?”

Chanyeol diam.

“Hey jawab aku,” rajuk Baekhyun manja sambil menonjok pundak Chanyeol.

“Kau janji tak akan marah?” tanya Chanyeol.

Baekhyun mengangkat alisnya. “Jangan menakutiku, bodoh.”

“Aku serius. Mama melarang kita.”

“B-bagaimana bisa? Bukankah Nyonya Young yang sedikit mengharapkan a-aku errr ya begitulah.”

“Dia hanya menginginkanmu sebagai anaknya, bukan anak menantunya.”

Baekhyun diam, otaknya berfikir keras. “Lalu bagaimana dengan kita, Yeol? Kau akan meninggalkanku?” tanya Baekhyun di penuhi rasa takut.

“Entahlah. Aku akan berusaha sebisaku, mungkin kita memang harus menyembunyikannya. Lagi pula bukankah kita sudah biasa bersembunyi? Aku tak akan meninggalkanmu, aku sudah pernah mengatakan itu. Mungkin aku akan membawamu ke sebuah kota dimana kita dapat mengekspresikan cinta kita, sayang.”

Lagi, lelaki mungil itu menaikan satu alisnya. Ia rasa hari ini begitu banyak yang ia tak ketahui. “Dimana?” tanyanya.

“Czech Rep. Aku akan membawamu kesana, dan berhentilah untuk menolak ajakanku untuk pergi ke luar negeri, bodoh. Kau tak ingin berlibur?”

Dan hari itu berbagai kejadian aneh dan bermacam tantangan hubungan mereka berdatangan satu persatu. Mungkin saja Ibu Baekhyun mengizinkannya, tetapi tidak dengan Mama Chanyeol. Tapi bagaimana dengan orang tuanya yang satu lagi? Kita tak tahu.

“Jangan takut. Aku tak akan pergi darimu. Siapa peduli dengan hubungan kita, kita yang jalani dan aku yang mencintaimu bukan mereka. Ingat itu.” Seru lelaki jangkung itu memperingati sambil menyeringai. Baekhyun tersenyum.

Ya, mungkin aku akan  merasa aman jika berada di sampingmu, Dobi. Terimakasih sudah membawakan aku cinta. Cinta di atas normal yang begitu bersensasi.

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] Abnormal Love

  1. apa.aaann??? masak yeol pacaran sama baekhyun????? waaaaa….😭😭😭😭 ceritanya Gilaaa,.!!! oppa ku kiss sama sesama jenis???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s