From Me

from-me

Arisa Storyline || Park Chanyeol and IU || Romance, Sad, Friendsip || G || Ficlet

Aku ingin menuntutmu, namun kutemui ketidakmungkinan meski harapku meraja.

From me ©Arisa 2015 | Poster thanks to  Ken’s @HAD

.

.

.

Bergelung dengan tumpukan buku dan jejeran kertas sudah menjadi kebiasaanku. Pun, bergeming dalam perpustakaan yang sunyi senyap sudah menjadi rutinitasku.

Manik mataku masih terpaku pada buku tebal yang ada dihadapanku. Kutundukkan kepalaku, lantas menjatuhkan fokus pada frasa demi frasa yang tertimbun pada buku tersebut. Sesekali kuperbaiki letak kacamata yang terpatri dikedua mataku, guna mengambil titik fokus lebih.

Saat fokusku sepenuhnya tertuju pada buku tersebut, tiba-tiba kurasakan ada sepasang lengan yang mengalungi leherku. Seketika aku terkesiap dan detik berikutnya aku hanya bisa menghela nafas malas. Sebab aku tahu, sosokmu yang melakukan hal itu. Kau yang melingkarkan lenganmu diperputaran leherku, lantas menopang dagumu dipundak kiriku. Kau, Park Chanyeol yang melakukan hal itu. Siapa lagi yang berani memelukku dari belakang seperti ini, selain dirimu?

“Ah, hari ini kau cantik sekali Ji eun-ah” sayup-sayup kudengar pujianmu yang terdengar seperti gombalan playboy itu. Kubalas pujianmu dengan lirikan tajamku, aku tahu maksud ucapan itu. Aku tahu arah pembicaraan ini.

“Ada apa lagi?” tanyaku enggan. Sudut mataku menangkap kau tengah mengambil posisi duduk disebelahku, lantas memosisikan dudukmu menghadap padaku.

Aku masih enggan menoleh, manik mataku terfokus pada untaian kata yang tertimbun pada buku dihadapanku. Walau tak kupungkiri, alam fikirku sudah terpenuhi oleh sosokmu. Pandanganku menerawang bersama kehampaan.

“Aku memujimu, Ji Eun-ah. Apa itu salah?” dalihmu. Kepalaku tertoleh untuk menatap gurat wajahmu. Bisa kulihat dengan jelas aura kebahagiaan yang terpancar dikedua bola matamu.

“Tidak. Sama sekali tidak salah.” ucapku. Kau mengulas senyum tipis.

Hey. Mood-mu sedang buruk ya? Dingin sekali.” Sekilas kulihat mimik wajahmu berubah. Kurva yang membentuk senyum itu berangsur-angsur berubah menjadi lengkungan bibir tanda kesal.

Kuhela nafas panjang, lantas berucap “Aku sedang fokus. Besok ada ujian matematika. Kau lupa ya?” entah, kau menyadarinya atau tidak. Aku berusaha menikungkan arah pembicaraan dengan jelas. Sebab aku tak kuasa melihat gurat wajahmu dihias oleh ekspresi cemberut.

“Ah. Aku lupa.” perlahan mimik kesalmu diguyur oleh cengiran kikuk diwajah. “Ji Eun-ah ajari aku, ya?” pintamu dengan mata yang menyorot harap dan mimik yang dibuat sedemikian rupa, hingga terlihat seperti bocah lima tahun yang mengharap setangkai lollipop.

Dan jika sudah seperti ini, aku hanya bisa mengangguk tanpa kuasa tuk menolak. Sebab kau adalah Park Chanyeol. Park Chanyeol, sahabat karibku. Sudah lima tahun kita memantri janji sebagai seorang sahabat. Dan kau selalu ada disisiku. Kau tak pernah absent mewarnai hidupku yang abu-abu ini. Kau tak pernah rehat tuk memberi senyum hangatmu pada gadis kaku sepertiku. Pun, kau tak pernah lelah berada didekatku, kendati semua orang enggan tuk berkawan denganku, sebab aku adalah Lee Ji Eun. Lee Ji Eun yang kaku nan culun.

Sedikitnya aku tahu satu hal, kau selalu membayang-bayangi hidupku. Dan aku benci hal itu.

Saat kau dan aku masih bergelung dalam rumus-rumus matematika yang menguras otak. Samar-samar kudengar seruanmu yang berhasil membuat hatiku kembali berdenyut pilu.

“Kau tahu? Dia menerima usulan kencanku minggu besok”

Inilah yang kutunggu-tunggu sejak tadi. Sebab aku faham, kau selalu berbahagia karenanya dan kau selalu bersedih atasnya. Sejak pertama kau menghampiriku dan menebar puji padaku, aku sudah faham. Kau sedang berbahagia dan dia adalah alasannya.

Pena yang tergenggam disela-sela jariku tiba-tiba berhenti beroperasi. Pandanganku yang semula fokus pada kertas tulis dihadapanku seketika mengabur. Sorot mataku menerawang, hingga tak kulihat dengan jelas uraian kata dikertas tulisku. Aku masih enggan mendongak untuk menatapmu –yang kini terduduk didepanku, disebrang meja petak ini.

Aku membisu, enggan mengucap jawab atas pernyataanmu beberapa detik lalu. Hingga kudengar lagi papar singkatmu yang seakan menggema dialam fikirku “Karna aku sedang bahagia, aku akan mentraktirmu hari ini.”

Nada suaramu terdengar sangat bersemangat. Perlahan kuangkat kepalaku dan kudapati kedua matamu menyorot antusiasme tak terbendung. Yeah, setidaknya aku faham. Kau selalu berantusias atas semua hal yang berkaitan dengan dia. Dia –yang kau sebut telah menawan hatimu.

Perlahan kutarik sudut-sudut bibirku untuk mengulas senyum, walau berkebalikan dengan kondisi hatiku yang terhantam perih.

“Hm. Kau tahu kan, porsi makanku banyak. Aku tidak yakin kau bisa mentraktirku.” Ejekku dan kau hanya tertawa renyah. Kulihat kau mengulur telapak kananmu kearahku lalu mencubit hidungku sekilas, hingga membuat kacamataku turun otomatis.

From Me

Simfoni kesendirian masih menyelimuti sosokku. Kala lembayung senja menyapa dan sinar terik telah terganti oleh siulet jingga dilangit, aku masih disini. Dihalaman depan sekolah, meniti jalan dengan langkah lesu. Sejauh mata menangkap, hanya aku yang ada dihalaman ini. Kuyakin, seluruh siswa telah mengambil langkah pulang sejak tadi.

Aku sudah terbiasa seperti ini, menghabiskan sebagian hariku diperpustakaan sekolah demi mengeruk ilmu yang tak berbatas. Entah, aku fikir buku adalah sahabat karibku, selain Chanyeol tentunya.

“Ji Eun-ah.” Seruan lantang itu hinggap dipendengaranku. Dan kuyakin suara itu berasal dari depanku. Kuangkat kepalaku yang semula tertunduk dan kudapati dirimu sedang malambai kearahku.

Sudut-sudut bibirku tergelitik untuk mengulas senyum lantas membalas lambaian tanganmu dengan antusiasme tak terbendung. Setidaknya aku terhibur akan sosokmu yang selalu ada disampingku. Ya, hanya kau yang bersedia menungguku hingga senja menyapa. Aku tahu, kau tidak suka pulang seorang diri, bukan? Aku mengenalmu Park Chanyeol –sangat mengenalmu.

Tungkaiku terayun untuk menghampiri sosokmu. Penat yang sejak tadi tertumbuk dalam benakku seketika sirna dan lesu yang menghantuiku sontak menghilang. Langkahku tergesa dan senyum dibibirku tak pudar.

Namun, langkahku tiba-tiba mengendur saat kudapati seorang gadis menggapit mesra lenganmu. Dan pandanganmu teralih, bukan lagi padaku, tapi pada gadis itu. Kulihat kalian saling membalas senyum dalam kehangatan, membalas tatap dalam kasih dan membalas sentuh dalam kemesraan.

Langkahku terhenti, senyumku memudar.

Detik berikutnya kau berujar padaku dengan lantang. “Ji Eun-ah. Dia menerimaku!” pekikmu dan diiringi dengan cubitan mesra gadis itu pada lenganmu. Lagi, kalian membalas tawa dihadapanku. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah kalian yang tengah merangkai temali sepasang kekasih.

Kupaksa sudut-sudut bibirku untuk mengulas senyum, walau sukar. Lagi, perih menyambar dadaku. Tubuhku seketika membeku pada pijakanku. Tungkaiku melemas. Rasa sakit tiba-tiba menghantam dadaku dan aku tak kuasa menahannya. Pandanganku mengabur, butir air mata yang dicipta oleh mataku sudah tak terbendung. Kugigit bibir bawahku untuk meredam tangis ini. Aku tidak ingin terlihat sedih atas kebahagiaanmu, sahabatku.

Dari aku yang memendam rasa… Aku akan berusaha untuk berbahagia atasmu Chanyeol-ah. Walau rasa ini begitu membabi buta dalam benakku.

Dari aku yang tengah mendamba… Aku akan berusaha untuk tersenyum padamu Chanyeol-ah. Meski aku paham, kini kau miliknya dan aku tak punya andil besar dalam layar kehidupanmu.

Aku yang mengenalmu sejak lima tahun lalu tersisih oleh gadis yang baru lima minggu singgah di hidupmu. Dari aku yang mengharap… Aku ingin menuntutmu Chanyeol-ah, namun kutemui ketidakmungkinan meski harapku meraja.

Sedikitnya aku faham. Kita hanyalah sahabat dan tak pernah mencapai sesuatu yang lebih besar dari itu. Namun, akupun faham, kau menduduki tempat special dalam hatiku.

– F I N –

I really appreciate your comment.

Advertisements

3 thoughts on “From Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s