[Freelance] He is My Perfect Husband

he-is-my-perfect-husband

 Gitahwa @ Home Design

TITTLE : He Is My Perfect Husband

AUTHOR : Than

GENRE : Romance, Family, Marriage Life, (maybe) Hurt

LENGHT : Oneshot

RATING : PG-15, T

MAIN CAST : Han Yoorin (OC), Park Chanyeol

DISCLAIMER : Dimulai dari judul sampai cerita selesai, semuanya murni dari imajinasi tinggi author. HEHEHE. Fanfict ini  di publish di beberapa blog dengan author yang sama.

NOTE Author cinta readers aktif.

–He Is My Perfect Husband–

“Dokter, maukah kau menikah dengan Chanyeol?”

Gadis yang baru saja duduk di kursi sebelah ranjang itu mengangkat kepalanya, menatap seorang wanita di sampingnya bingung. Tentu saja ia terkejut mendengar ucapan wanita tersebut. Wanita di sampingnya balas menatap dengan tatapan memohon.

“Dia anakku satu-satunya,” wanita tersebut menatap ke ranjang. “Aku sangat menyayanginya. Aku sedih melihat dia selalu sendirian. Hanya dengan Dokter dia merasa lebih baik,” lanjut wanita tersebut.

“Jadi, apakah Dokter bersedia menikah dengan putraku?”

Gadis itu terdiam. Ini tidak mudah. Menikah bukanlah hal mudah. Menikah harus didasari rasa cinta dari si perempuan maupun si laki-laki. Menikah berarti membentuk keluarga. Istri maupun suami harus saling mengerti. Menerima keadaan pasangan masing-masing. Menerima segala kekurangan dari pasangan masing-masing. Menikah berarti gadis itu harus menerima segala kekurangan ‘calon’ suaminya yang memiliki suatu gangguan pada kejiwaannya.

“Aku … mau menikah dengannya,”

Gadis bermarga Han itu tersenyum penuh arti kepada wanita di sampingnya sesaat. Kemudian gadis itu menatap lelaki yang sedang tertidur tenang di ranjang. Perlahan ia menyentuh tangan lelaki itu dan mulai mengelusnya. Lelaki itu akan menjadi suami yang paling ia sayangi.

“Dokter Yoorin,”

Sebuah suara mengagetkannya dan segera menyadarkan Yoorin dari lamunannya.

“Ya? Ada apa suster?”

“Hari ini dokter boleh pulang lebih cepat. Rapat diundur menjadi lusa,”

Yoorin mengangguk dengan seulas senyum di bibirnya. Akhirnya ia bisa pulang lebih cepat juga.

“Baik. Terimakasih, suster,”

Suster mengangguk lalu memohon diri untuk pergi dari ruangan Yoorin. Begitu suster tersebut sudah benar-benar pergi, gadis itu menutup pintu ruangannya pelan. Dengan gontai Yoorin duduk kembali di kursi dan mulai mengerjakan tugasnya sesegera mungkin. Setelah selesai, ia membereskan alat-alat kerjanya dan beranjak pergi dari ruangan menuju parkiran.

Yoorin menghela napas berat. Tubuhnya hari itu kurang enak badan. Seharusnya ia pulang ke rumah, tapi dirinya harus masuk ke kelas dengan mata kuliah yang cukup membuatnya semakin pusing.

.

*****

.

Yoorin mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Kemana dia? Ia melirik jam di dinding rumahnya yang bisa dibilang sangat mewah. Apakah sudah tidur?

Ahjumma, Chanyeol dimana?”

“Selamat malam, Nyonya. Tuan Chanyeol sedang ada di dekat kolam renang,”

Kaki Yoorin kemudian melangkah menuju tempat yang pembantu di rumahnya sebutkan. Senyum Yoorin menyembul ketika melihat sesosok pria yang sedang duduk sendirian di pinggir kolam renang. Dengan perlahan ia mendekatinya.

“Chan,”

Merasa dipanggil, Chanyeol menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati seorang wanita yang bukan main cantiknya sedang mendekatinya. Chanyeol hanya menatap wanita itu tanpa ekspresi dan membiarkan wanita itu duduk di sebelahnya.

“Apa kau sudah makan?”

Chanyeol tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan wanita di sampingnya. Yang diperhatikan balas menatap dengan senyuman tipis.

“Sudah makan ya? Baguslah,” Yoorin tertawa. “Chan, hari ini aku sedikit senang. Kau tahu? Karena tadi aku tidak jadi rapat. Yeay! Aku senang. Rencananya tadi, sepulang dari rumah sakit, aku akan bermain denganmu dan menghabiskan waktu bersamamu seharian. Tapi yah … aku ingat ada mata kuliah tadi. Maafkan aku …”

Yoorin benar-benar merasa bersalah. Memang, sudah seminggu ini wanita itu sibuk dengan pekerjaan dan juga jadwal kuliahnya sampai-sampai waktu untuk bersama dengan Chanyeol sedikit berkurang. Dan kepadatan jadwalnya itu juga membuatnya tidak enak badan seperti sekarang.

Yoorin refleks memeluk Chanyeol ketika merasakan sebuah tangan merengkuhnya. Ia menghela napas lega ketika mengetahui bahwa itu tangan suaminya. Yoorin mengalihkan pandangan ke wajah sang suami. Senyumnya mengembang ketika melihat bibir orang yang dipeluknya tertarik membentuk senyuman hangat. Yoorin merasakan ketenangan ketika melihatnya. Hangat dan menenangkan.

“Chan,”

Chanyeol menoleh. Menatap manik mata sang istri.

“Sudah malam, ayo masuk. Nanti kau sakit,”

Yoorin melepaskan pelukannya dan mulai berdiri seraya membantu suaminya untuk ikut berdiri. Keduanya pun masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya ke kamar.

.

9.25 PM

“Sudah malam. Waktunya tidur,” Yoorin membantu suaminya agar bisa merebahkan badan di ranjang. “Oh ya, minum obat dulu ya. Sebentar aku ambilkan,”

Beberapa menit kemudian wanita itu sudah kembali ke kamar dengan nampan berisi obat wajib Chanyeol dan segelas air. Dengan hati-hati Yoorin membantu suaminya agar bisa bangun. Kedua mata Chanyeol menatap wanita di sampingnya yang sedang membukakan obat untuknya.

“Nah,” Yoorin menyerahkan dua buah obat berbentuk tablet. “Pelan-pelan,” tangan kanan Yoorin memegang bahu Chanyeol ketika pria itu mulai meneguk air dari gelas.

“Sekarang tidurlah. Aku akan tidur sebentar lagi.” Yoorin membereskan gelas serta nampan dan beranjak keluar.

Ketika kembali lagi ke kamar, ia telah mendapati Chanyeol yang sudah tertidur. Perlahan ia mendekati ranjangnya dan duduk di sisi ranjang yang dekat dengan sosok yang sudah tertidur pulas. Selama lima menit Yoorin mengamati wajah mantan pasiennya. Pria itu tidur dengan tenang. Napasnya teratur. Begitu tampan suaminya. Andaikan dia—Chanyeol—tidak ‘sakit’, pasti ribuan gadis sudah mengantre untuk meminta pria itu agar mau menjadi pasangan hidup mereka.

Yoorin menatap jam di kamarnya. Tepat pukul sepuluh malam. Wanita itu belum mengantuk karena ia memang sudah terbiasa. Ia masih ingin mengamati wajah suaminya namun tidak bisa. Ia harus menyelesaikan tugas wajib mahasiswa yang menjadi tolak ukur kelulusan dan mendapat gelar baru. Sekilas dirinya mencium kening Chanyeol sebelum bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan melanjutkan tugasnya.

.

1.00 AM

Wanita yang kini bermarga Park itu masih mengerjakan tugas ditemani laptop dan beberapa buku referensi serta suaminya yang sedang tertidur. Beberapa kali Yoorin mencuri pandang ke arah suaminya. Benar-benar tampan. Di dalam hatinya, Yoorin bersyukur bisa mendapatkan suami yang mendekati sempurna. Jika ‘penyakit’ suaminya sembuh, tentulah Yoorin semakin bersyukur karena suaminya sudah ada di tahap sempurna.

Jemari Yoorin masih sibuk mengetik. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya itu. Yoorin telah merencanakan bahwa hari ini tugas berat yang sedang dikerjakannya harus selesai dan dikumpulkan. Seperti penulis saja. Dikejar deadline. Omelnya dalam hati.

Sudah frustasi dengan tugasnya, Yoorin menyenderkan tubuh seraya menutup kedua matanya yang pegal. Namun tiba-tiba saja perutnya seperti ditusuk-tusuk. Sakit sekali. Ia ingin berteriak ketika sakit itu muncul. Wanita itu melirik suaminya yang sedang merubah posisi tidur. Dengan gerakan perlahan dan dengan rasa sakitnya, Yoorin turun dari ranjang dan secepat mungkin mengambil kotak P3K di kamar mandi.

Oh Tuhan, dimana?! Tangan Yoorin sibuk mengobrak-abrik kotak P3K di kamar mandi sementara perutnya semakin melilit. Dan ia baru saja ingat bahwa obatnya mungkin ada di tas. Dengan cepat Yoorin berlari tanpa membuat suara berisik mendekati meja di sudut kamarnya yang luas. Namun belum sampai ke tempatnya, wanita itu sudah ambruk di dekat ranjang.

“Ah!” jeritnya tertahan.

Yoorin memejamkan mata, berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Dengan bibir bawah yang digigit sendiri dan dengan kedua tangan yang memegangi perut, ia menahan sakitnya yang semakin menjadi. Dengan susah payah dirinya mencoba untuk bangun.

Wanita itu terkejut ketika merasakan tubuhnya diangkat oleh seseorang ke atas ranjang. Perutnya yang sakit membuatnya sulit untuk sekedar berbicara. Ia hanya bisa memegangi perutnya. Sosok yang membantunya tadi duduk di sebelahnya seraya menyodorkan satu buah pil dan segelas air tanpa berbicara sedikitpun. Dengan tangan gemetar Yoorin mengambil dan langsung menelan pil lalu cepat-cepat meminum air. Beberapa menit kemudian, ia mulai tenang.

Hilangnya rasa sakit itu bersamaan dengan pandangannya yang sudah jelas. Yoorin yang lemas hanya bisa tertegun melihat sosok yang menggendong dan memberinya obat tadi. Ada rasa bahagia di hatinya saat itu.

Gomawoyo, Chanyeol-ah,” ucapnya pelan kepada sosok yang kini merengkuhnya dengan hangat.

.

*****

.

Yoorin masih memikirkan kejadian tadi malam. Hatinya bahagia sekali. Memang bukan untuk yang pertama kalinya Yoorin dikhawatirkan oleh suaminya. Tetapi tetap saja ia bahagia. Biarpun suaminya memiliki kekurangan, tapi suaminya mampu membuatnya tenang. Yoorin senyum-senyum sendiri dibuatnya. Padahal ia sedang di kantin kampus sendirian. Semoga saja tak ada yang melihatnya dan berteriak ‘Hei! Perempuan itu sepertinya ketularan terganggu jiwanya oleh pasien-pasiennya di rumah sakit tempat dia bekerja! Lihat, dia senyum-senyum sendiri!’.

Tepat pukul tujuh malam, Yoorin meninggalkan kantin. Tak lupa barang-barang yang ia bawa ke kantin tadi dibereskan. Tangan Yoorin berhenti sejenak ketika melihat sebuah kertas kecil yang tertempel di sampul tugasnya tadi malam.

Park Yoorin

Yoorin menarik sudut bibirnya. Walaupun hanya tulisan namanya yang tertera, ia sangat senang. Karena tulisan itu ditulis oleh suaminya. Ia tahu itu. Biarpun dia tidak melihat kapan Chanyeol menulisnya, tapi ia tahu bahwa itu tulisan suaminya. Yoorin kembali meneruskan kegiatannya yang terhenti lalu mulai berjalan menuju ruangan dimana tugas yang telah dibuatnya dalam beberapa bulan dan diselesaikan semalaman suntuk itu dikumpulkan bersama dengan mahasiswa-mahasiswa lain.

Begitu sampai di ruangan yang dituju, kebetulan sekali namanya saat itu dipanggil. Pas sekali. Dengan sopan Yoorin masuk ke ruangan ber-AC dan berkarpet cokelat itu.

“Han Yoorin,”

Yoorin mendekati sang dosen dan duduk di hadapannya dengan pemisah yaitu meja besar. Dengan jantung yang sudah berdetak cepat, wanita Park itu menyerahkan tugasnya.

“Baik. Seluruh tugas-tugasmu selama ini sangat bagus. Nilai-nilaimu selalu sempurna di setiap ujian. Dan aku yakin tugas akhirmu ini,” dosen menunjuk tugas yang baru saja dikumpulkan Yorin. “Pasti hasilnya bagus. Dan aku jamin kau pasti mendapat nilai sempurna. Aku sudah pernah melihat skripsimu saat kau sedang menempuh ujian untuk mendapat gelar pertamamu.”

Kamsahamnida,”

“Di acara wisuda angkatanmu nanti, kau berhak berdiri di panggung, Han Yoorin. Sebagai peraih nilai yang sangat tinggi. Jangan lupa saat acara wisudamu nanti, bawalah seseorang sebagai pendampingmu di panggung. ”

Yoorin hanya diam sambil mengulurkan tangannya untuk menerima sepucuk surat dari dosennya, membiarkan dosennya yang berbicara.

“Sekarang kau boleh keluar,”

Alis Yoorin bertaut. Loh? Keluar? Sudah boleh keluar? Wanita itu ingin bertanya namun sang dosen sudah sibuk lagi dengan sesuatu di mejanya. Yoorin membungkukan tubuhnya, berterimakasih, lalu ijin pamit keluar.

Yoorin berjalan lambat menuju salah satu bangku di dekat ruangan tadi. Ia memikirkan ucapan sang guru besar tadi. Tangannya membolak balik surat tanpa berniat membukanya. Ia harus membawa seseorang sebagai pendampingnya? Siapa? Chanyeol? Apakah dirinya yakin? Biarpun Chanyeol adalah suaminya yang seharusnya memang pria itu yang mendampinginya nanti, tapi kan dia …

“Hey, Yeonsa, kau tahu dia?” seseorang sedang berbisik kepada teman di sebelahnya.

Yoorin hendak menatap dua orang mahasiswi seangkatannya yang berada di sebelahnya namun tidak jadi. Oh Tuhanku …

“Ya aku tahu. Dia dokter kejiwaan itu, kan?”

“Dia sudah menikah kau tahu?”

Jangan dilanjutkan kumohon. Yoorin menggigit bibir bawahnya, kepalanya menunduk.

“Yang benar?!”

“Dan kau tahu? Suaminya adalah pasiennya si rumah sakit.”

Sungguh, Yoorin ingin segera pergi dari situ.

“Berarti … suaminya itu … ‘berpenyakitan’? Sungguh tak bisa dipercaya. Mau-maunya dia menikah dengan orang yang memiliki gangguan kejiwaan.”

Yoorin meremas ujung roknya. Ia ingin menangis. Ia tak suka jika suaminya dihina seperti itu. Biarpun suaminya seperti itu, Yoorin sangat menyayanginya. Cepat-cepat Yoorin pergi sebelum air matanya turun. Benar-benar ucapan yang menyakitkan hati.

.

*****

.

Di dalam mobil yang masih terparkir di halaman kampus, Yoorin melamun. Tanpa disadari air matanya menetes bersamaan dengan gerimis yang turun dari langit. Dengan cepat dirinya mengahapus tetesan dari matanya. Ia tak boleh menangis. Bukankah ia sudah sering dihina seperti itu di kampus? Ia seharusnya sudah kuat mengahadapai hal semacam itu. Yoorin menelungkupkan wajahnya ke setir mobil.

Chanyeol adalah suaminya. Suami terbaiknya. Yoorin tak peduli dengan kekurangan pria itu. Ia sangat menerima kekurangan Chanyeol. Jika Yoorin tak mencintai Chanyeol, tentu saja Yoorin telah menceraikan atau bahkan ia menolak tawaran mertuanya untuk menikahi putra tunggal keluarga Park yang berperawakan sempurna itu.

Suara dari ponselnya membuat ia mau tidak mau mengambil barang itu.

“Ya? ….. Aku sedang di kampus, ahjumma ….. Dia sudah makan? ….. Oke, sebentar lagi aku pulang, ….. Ya,”

Telepon terputus. Dengan helaan napas ia menaruh ponselnya asal dan mulai memasang sabuk pengaman. Kakinya sudah menginjak gas dan mobilpun berjalan dengan kecepatan rata-rata menembus jalanan Seoul.

.

*****

.

Dengan disertai senyum yang merekah, Yoorin berjalan mengendap-endap menuju kamarnya. Ia ingin memberi kejutan untuk Chanyeol. Kepala wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri namun orang yang dicarinya tidak ada. Ia kemudian maju perlahan-lahan menyusuri kamarnya. Tidak ada tanda-tanda suaminya di sana.

“Kemana dia ….”

Ketika ia berdiri di dekat jendela kamar, Yoorin terlonjak saat dua buah tangan besar memeluk pinggangnya. Disusul kepala yang menyandar di bahunya. Yoorin mengerjapkan matanya berkali-kali. Ini … Chanyeol kah?

“C-Chan,”

Tak ada jawaban maupun gerakan dari si pemeluk.

“Chanyeol, kau kah itu?”

Yoorin yakin pasti ini suaminya. Wanita itu tersenyum dalam pelukan pria yang telah merebut hatinya. Ia biarkan posisinya seperti itu sampai Chanyeol puas. Namun sudah hampir setengah jam, Chanyeol belum melepaskan pelukannya.

“Chan, lebih baik kau tidur. Tapi jangan lupa minum dulu obatnya,” dengan hati-hati Yoorin melepaskan tangan yang memeluk pinggangnya erat.

Awalnya tangan Chanyeol tak mau lepas. Namun, Yoorin terus meminta agar Chanyeol melepaskannya. Dan akhirnya pria itu menurut dan mengikuti ucapan istrinya yang sabar itu.

Dengan lembut dan dengan sabar Yoorin mengelus kepala Chanyeol agar cepat tidur. Sudah setengah jam ia mengelus kepala Chanyeol tapi pria itu belum memejamkan matanya juga. Apa jangan-jangan … Yoorin memegang leher Chanyeol. Dan astaga! Panas sekali.

.

*****

.

Chanyeol terus memperhatikan Yoorin yang sibuk membereskan sisa obat lalu dilanjutkan dengan memeras handuk kecil sebagai kompresan dikepalanya. Wanita di dekatnya itu kemudian pergi keluar kamar lalu kembali lagi dalam beberapa menit. Wanita tersebut tersenyum manis lalu duduk di dekatnya. Tangannya kembali mengelus kepala Chanyeol.

Merawat Chanyeol yang sakit bukan yang pertama bagi Yoorin. Dulu, sebelum menikah, sudah hampir sepuluh kali ia merawat dan menemani Chanyeol yang sakit. Dan setelah menikah, ia sudah merawat dan menemani Chanyeol sebanyak lima kali—termasuk sekarang. Dengan telaten ia merawat suami spesialnya.

“Cepatlah sembuh,” ujarnya halus lalu bangkit menuju kasur lalu berbaring di sebelah Chanyeol.

Chanyeol mengangguk. Walaupun dia seperti itu, tapi pria itu mengerti apa yang istrinya ucapkan. Sungguh, ia sangat menyayangi Yoorin lebih dari apapun. Ia sedih melihat istrinya yang harus susah payah bekerja dan merawat dirinya yang seperti ini. Sedangkan wanita itu terkadang lupa merawat dirinya sendiri.

Keesokan harinya, panas Chanyeol belum turun juga. Yoorin awalnya tidak ingin berangkat kerja, tapi Chanyeol seperti menyuruhnya untuk berangkat. Kalau sudah seperti itu, ia pasti menurutinya.

“Baiklah, aku berangkat. Jika ada apa-apa, panggil ahjumma dan suruh dia meneleponku. Aku berangkat,” Yoorin mengelus kepala Chanyeol lalu menciumnya sedikit lama tepat di kening.

Setelah yakin bahwa Yoorin sudah benar-benar pergi, Chanyeol menatap tempat duduk yang tadi diduduki istrinya dan melihat ada sebuah surat di sana. Tangannya kemudian bergerak mengambil surat itu lalu membuka dan membaca isinya. Chanyeol menutup kembali surat itu lalu menaruhnya ke tempat semula.

Ia sudah harus tahu. Harus.

.

*****

.

Hari wisuda tiba dan Yoorin kini sibuk dengan baju yang harus dipakainya. Jujur, ia bukan orang yang fashionable. Sedari tadi Yoorin bolak-balik ke kamar ganti lalu ke depan cermin. Chanyeol yang duduk di tepi ranjang tersenyum geli—tanpa Yoorin ketahui—melihat tingkah laku istrinya.

“Nyonya sebaiknya menggunakan ini saja,”

Yoorin mengamati dress yang pembantunya tunjukan. Dress hitam selutut dengan model bagian atasnya pas di badan sedangkan bawahnya model payung dan berlengan panjang. Tanpa perlu menjawab Yoorin mengambilnya dan berlari menuju kamar ganti lalu kembali lagi ke depan cermin.

“Bagaimana?” Yoorin memutar badannya.

“Cantik sekali, Nyonya,”

Chanyeol terpaku melihat istrinya. Dadanya berdebar-debar tak karuan. Yoorin yang dasarnya cantik, semakin cantik dan anggun dengan dress itu. Tubuh Yoorin yang ramping sangat pas menggunakan dress itu. Dress sederhana namun berkelas.

Setelah semua persiapannya beres, Yoorin pamit pergi kepada Chanyeol. Ia lupa kata-kata dosennya yang mengharuskannya membawa pendamping.

“Aku berangkat dulu,” Yoorin mencium pipi Chanyeol dengan mudah, karena menggunakan sepatu ber hak tinggi.

*****

Selama di aula tempat acara di langsungkan, Yoorin hanya duduk saja. Ia hanya diam karena malas mendengarkan gosip-gosip dari kumpulan mahasiswi di dekatnya. Ia seharusnya pergi dari tempatnya agar tidak mendengar gosip-gosip itu, tetapi seluruh tempat sudah penuh.

“Hey, lihat si dokter itu,” ujar salah satu dari penggosip itu.

Yoorin meremas ujung dressnya. Ia harus bersikap biasa saja. Ia tak boleh terpengaruh. Ia harus sabar.

“Oh dia yang sudah menikah itu, kan?”

“Iya,”

“Eh, kau ingat tidak, dosen bilang, kan, kalau kita harus membawa pendamping?”

“Iya. Aku membawa pacarku,” jawab yang lain.

“Kalau dia mau membawa siapa? Suaminya?”

“Loh? Suaminya kan terganggu jiwanya. Masa iya dia mangajak suaminya ke sini? Bisa-bisa hancur acara kita.”

Ya Tuhan … Kuatkan aku …

“Tapi suaminya tampan, loh. Tinggi juga.”

“Memang. Tampan sekali. Ah, tapi tetap saja dia ‘penyakitan’! Kau mau punya suami tampan tapi sakit jiwa?”

Kedua mata Yoorin sudah berkaca-kaca. Sungguh, ia muak dengan ucapan para gadis itu. Beruntung namanya dipanggil untuk maju ke depan. Yoorin sedikit lega. Setidaknya ia tak harus mendengarkan omongan-omongan menyakitkan tadi.

Di depan, ia mencoba tersenyum kepada dosen dan kedua orang disampingnya serta seluruh mahasiswa di aula tersebut.

“Apa yang aku ucapkan benar, kan, Han Yoorin? Kau meraih nilai tertinggi seangkatanmu.” Ujar sang dosen seraya menyematkan topi wisuda, jubah, serta kalung kepada Yoorin yang membalas dengan senyuman.

Setelah ketiga orang peraih nilai tertinggi satu universitas itu telah selesai disematkan topi, jubah, serta kalung, mereka membalikan badan ke arah seluruh mahasiswa. Yoorin melirik sekilas kepada para mahasiswa yang membicarakan bahkan menghina suaminya tadi. Yoorin hanya mencoba terus tersenyum ketika pembawa acara beberapa kali menyebut-nyebut namanya yang membuat para penggosip itu meliriknya sinis.

Senyum Yoorin pudar ketika ia baru saja ingat sesuatu. Ia lupa memberitahukan suaminya maupun keluarganya untuk datang agar menjadi pendampingnya di panggung. Ia cemas.

“Sekarang silahkan para pendamping untuk maju.”

Yoorin menunduk dalam-dalam. Kecemasannya meningkat. Bagaimana ini … Dari sudut matanya, Yoorin menangkap kedua orang di samping kiri dan kananya sudah bertemu dengan pendampingnya. Mereka berpelukan erat. Membuatnya iri sekali. Yoorin mengangkat kepalanya sedikit mencoba mencari seseorang yang datang dari arah pintu. Namun tidak ada yang datang.

“Baik, terimakasih untuk para pendamping. Silakan kembali lagi ke tempatnya semula,”

Rasanya Yoorin ingin menangis. Benar-benar tidak ada yang datang. Dari ketiga orang di panggung, hanya dirinya lah yang tidak memegang bunga pemberian pendamping. Orang-orang yang berada di kursinya mulai berbisik-bisik sambil menatap Yoorin dengan pandangan aneh. Air matanya sepertinya akan benar-benar jatuh.

Yoorin hanya menangis dalam diam. Walaupun ia menunduk, tetapi semua mahasiswa dapat melihat dengan jelas kalau ia menangis. Suara bisik-bisik mulai terdengar jelas. Yoorin menutup mulutnya agar tak terdengar isakan.

Namun tiba-tiba saja seluruh mahasiswa berhenti berbisik ketika melihat seseorang masuk ke dalam aula. Seluruh mahasiswa khususnya para mahasiswi menganga melihat orang asing yang barusan masuk.

Omo! Tampan sekali!”

“Siapa dia?”

“Tampannya ….”

Yorin tak sadar bahwa seluruh mahasiswa sedang menatap sesosok manusia tampan dan tinggi yang sedang berjalan ke arahnya. Ia masih menunduk dalam-dalam dan menangis. Hingga sosok itu berdiri di hadapannya, Yoorin masih belum menyadari.

“Jangan menangis,”

Yoorin terdiam ketika mendengar suara bariton barusan. Suara itu … Dan tangisnya berhenti total ketika sebuah tangan mengangkat dagunya. Ia terbelalak melihat pemilik tangan tersebut. Ia terkejut bukan main. Yang ditatap seperti itu hanya tersenyum seraya menghapus air mata wanita itu.

Chanyeol?! Benarkah ini dia?! Bukankah dia …

“Selamat atas kelulusanmu, Park Yoorin,”

Yoorin mulai tersenyum. Rasanya ia adalah wanita paling beruntung saat itu. Ia segera memeluk sosok jangkung di hadapannya erat-erat. Tangisnya pecah seketika. Sosok yang dipeluknya. Sosok yang mewarnai kehidupannya. Sosok yang mampu membuatnya tersenyum.

“Aku mencintaimu, Park Chanyeol,”

“Aku lebih mencintaimu, istriku,” Chanyeol mencium kening istrinya dengan sayang.

.

*****

.

Selama acara berlanjut, Yoorin terus menempel kepada suaminya seakan-akan suaminya akan direbut orang. Chanyeol juga membalas perlakuan Yoorin. Pria jangkung itu merangkul mesra istrinya. Sesekali ia melemparkan senyumnya kepada beberapa mahasiswi yang sedang memperhatikannya.

“Chan,”

“Ya, Chagi?”

“Kau kenapa bisa seperti ini?”

Chanyeol menatap wajah istrinya. “Karena aku mau,”

“Bukankah kau …”

“Sakit jiwa?” Yoorin terdiam. “Tidak, Yoorin-ah. Aku masih normal seratus persen,”

Yoorin membulatkan matanya. “Mwo?! Jadi … selama ini …”

Chanyeol terkekeh seraya mempererat rengkuhannya. “Aku hanya berpura-pura.”

“Pura-pura?!”

Chanyeol mengangguk seraya mencubit hidung Yoorin gemas. Betapa manis istrinya itu. Yang dicubit hanya mengerucutkan bibir kesal.

“Yoorin, maafkan aku yang selama ini selalu membuatmu susah. Aku lah yang sebenarnya meminta pada eomma agar beliau mau menyuruhmu menadi istriku,” ucapnya sepelan mungkin di telinga istrinya. Yoorin tersenyum dan mengangguk pelan.

Tiba-tiba saja mata Yoorin menangkap beberapa mahasiswi yang menghina suaminya sedang menatapnya dengan tatapan antara bingung dan iri. Yoorin tersenyum miring. Ide jahil muncul seketika.

“Chanyeol,”

Chanyeol menoleh dan matanya membulat ketika merasakan tengkuknya di tarik cepat bersamaan dengan bibirnya yang seperti menyentuh sesuatu. Para mahasiswi itu juga terbelalak melihat aksi Yoorin yang terbilang nekat itu. Bayangkan. Ini di depan umum. Yoorin hanya tersenyum penuh kemenangan di sela ‘sentuhan’nya.

I’m the winner

.

HE IS MY PERFECT HUSBAND

.

.

Selesai juga~

Terimakasih reader yang dengan sukarelanya membaca fanfict aneh ini. Terimakasih sekali! Maaf kalo fanfictnya acak-acakan, alurnya amburadul, feelnya ngga dapet, semuanya lah pokoknya.

Ingat!!!! Author cinta readers aktif.

Thankyou! *lambai lambai bareng Chanyeol*

-240415.2328.-

@Than’s Present thansbook.wordpress.com

32 thoughts on “[Freelance] He is My Perfect Husband

  1. Terus selama ini chanyeol minum obat apa? Kan si yoorin harusnya tau tipe” obat apa yg diminum chanyeol,, nggak ngaruh ke badannya chanyeol tuh obatnya?

  2. Yeayy Park Chanyeol ! {}
    Tp kok betah ya pura pura sakit jiwa dan betah gak ngomong di depan orang yg dia cintai 😕
    Dan yoorin bener* cewek yang sabar banget ngadepin itu semua .
    Tapi tetep ceritanya daebaakkkk ! 🙂

  3. alur nya udah bisa ketebak,, tapi ceritanya bagus kok,, Keep Writing ya,,
    kalau bikin ff Cast utamanya Chanyeol aja, biar aq sregep baca ff.

  4. Woww!! Chanyeol nya romantis bangett ga nyangka ternyata dia sehat dan baik” aja.. yoorin juga sabar banget ngadepin temennya yang suka ngejek chanyeol yang engga” hahahha daebak thor!! Ditunggu ff selanjutnya yaa!!;*

  5. Waaaahh, so sweet bagus banget author 😍😍 Ceritanya bener* menyentuh banget, dan endingnyaaaaa sumpah aku suka banget bener* ngga terduga 😊😊 Pokonya bagus banget deh 👍👍 Keep writing ya author 😊😊

  6. ending seru banget :3 sampai pas si chanyeol ngomong dia normal 100% tuh aku beneran nutup mulut pake tanganku sendiri kaget :v dapat ide darimana sih thor kok bisa-bisanya buat ff KEREN banget kayak gini? tanpa disadari aku tiba2 nangis terharu 🙂 entar pas lewat-lewat di sini lagi mau baca ulang ah~

  7. jadi, chanyeol itu penyakitan batuk, demam, flu, dkk gitu. bukan sakit jiwa. terus, dia itu pura2 sakit jiwa. sebenarnya sakit jiwanya chanyeol itu gk ada obatnya. yoorin tau obat itu untuk sakit2 itu aja. oh, paham2. daebak. keep writing thor! chu ~~♥♥♥

  8. Demi apa!! Susah susahan pura-pura jadi orang gila cuman buat ngetest orang yang dicintai 😒 Oh my god Park Chanyeol 😡 but, Saranghaeeeeee 😘😍😍 Makin cinta. Keren thor!! Lanjut thor, Semangat!!

  9. Kurang paham sih. Chanyeol katanya ‘penyakitan’ sakit jiwa bukan sih? Trus obat-obat itu? Dia kok gak ngomong selama ini? Aku banyak nanya krn emang kayak kurang pas aja gitu dan Yoorin bisa maafin Chanyeol segampang itu. Ceritanya bagus tp isinya agak kurang pas. Maaf klo tersinggung. Penulisannya rapi enak buat dibaca. Keep writing:-)

  10. Yoorin gk marah diboongin? Chanyeol bukannya sakit jiwa? Kok cuma demam dan pura-pura doang? Ini agak ngebingungin. Menurut aku cara penulisannya bagus tp inti ceritanya agak gak nyambung. Keep writing:-)

  11. Gue terhanyut baca nih ff
    Gillaakkk so sweet abis
    Siapa jg yg bakal nolak nikah sama org seganteng chanyeol skalipun dia penyakitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s