[Freelance] Hair

Cover ff

Tittle : Hair

Author : @NikenPark

Cast : Park Chanyeol, Yoon  Seo Rin (OC/YOU)

Genre : Comedy, Romance.

Length : Ficlet.

Disclaimer: The story is pure mine.

——— @NikenPark Present ——–

 

“Ketika kau merasa sangat-sangat  membenci suatu hal dengan alasan yang aneh, maka berhati-hati lah. Karena mungkin saja itu bukan lah benci yang sesungguhnya, tapi sebuah ‘perasaan istimewa’ yang diberikan Tuhan padamu melalui cara yang aneh pula.” — Park Chanyeol.

 

 

Yoon Seorin POV.

            Seperti orang bodoh. Kalimat itu lah yang sedari tadi berputar-putar di otakku. Demi Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka mau menuruti perkataannya. Park Chanyeol, pria dengan rambut seperti sarang burung itu memintaku menunggunya di sini, di Sungai Han. Aku kesal sekali, rasanya aku ingin menceburkan diriku sekarang juga di sungai ini agar aku tidak bertemu dengan pemuda jangkung yang memiliki hobi menggebuk drum itu.

 

Ayolah, siapa yang tidak mengenal Park Chanyeol. Pria berambut aneh dengan suara tawanya yang menggelegar seperti guntur. Aneh sekali mengingat ia begitu terkenal di kampus. Baiklah, ia memang pintar, bertalenta, dengan segala ketrampilannya bermain alat musik. Tapi… sungguh. Aku, Yoon Seorin, adalah salah satu haters Park Chanyeol. Ah, tidak. Mungkin aku satu-satunya haters Chanyeol di sini. Aku benar-benar membenci rambut keritingnya yang aneh itu.

 

Tapi kalian akan terkejut jika aku mengatakan satu rahasiaku. Satu-satunya rahasia dimana hanya aku dan sahabatku Amber saja yang tahu. Ayolah, bahkan hingga kini si tomboy itu kerap membuat lelucon karena hal itu. Bahkan aku sendiri sering terkekeh bila mengingatnya. Ya, dulu saat kami masih menjadi mahasiswa baru, aku sempat emm… menyukai…. Park Chanyeol. Dulu ia terlihat begitu sempurna di mataku. Rambutnya yang hitam pendek itu benar-benar menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Jangan tanya mengapa karena aku juga tidak tahu.

 

Tapi semua itu berubah ketika ia mulai mengubah gaya rambutnya, dan anehnya ia semakin terkenal di kalangan para mahasiswi. Bayangkan, ketika Chanyeol dan band-nya perform pada suatu event kampus, maka para gadis itu akan berteriak seperti orang kesurupan. Heol… dan itu akan semakin bertambah menyebalkan saat aku melihat si rambut-sarang-burung itu tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. Ok, gigimu memang putih dan rapi Park Chanyeol.

 

Kembali ke topik awal, mungkin kalian bertanya apa yang ku lakukan di sini? Percayalah, aku juga terpaksa melangkahkan kakiku kemari. Tapi si aneh itu nyaris saja mempermalukanku dengan ancamannya. Aku sangat ingat saat kelas Dosen Kim selesai, tepatnya dua hari yang lalu, dengan tiba-tiba ia berdiri di depanku dan mengatakan…

 

“Yoon Seorin, kau hatersku kan? Ada yang ingin ku katakan padamu. Tapi hanya kita berdua. Jadi datanglah sore ini di sungai Han.”

 

Jantungku nyaris melompat ketika mendengar si aneh itu berkata dengan suara kerasnya hingga membuat seluruh isi kelas menoleh ke arahku. Tapi aku tidak menanggapinya dan berniat melangkah pergi sebelum ia mencekal pergelangan tanganku dan berbisik, “Jika kau tidak datang, akan ku bongkar rahasiamu selama ini Yoon Seorin.” Idiot itu mencoba mengancamku rupanya.

 

“Cih, kenapa aku harus menurutimu. Dan… rahasia macam apa yang kau tahu ha?! Kau tidak bisa mengancamku.”

 

Dan ia menyeringai jahil, “Kau yakin? Dengar… berhenti ber-acting, Nona. Kau pikir aku tidak tahu jika dulu kau pernah menyukaiku? Bahkan kau menyimpan beberapa fotoku saat malam inagurasi mahasiswa baru. Yak… sepertinya kau benar-benar terpesona saat itu.” Chanyeol bahkan mengerling jahil saat itu.

 

Sialan, aku benar-benar mati kutu dan malu. Bagaimana bisa ia tahu?! Rahasia keramat itu hanya aku dan… tunggu, Amber!!!

 

“Wae? Kau penasaran aku tahu dari mana? Itu tidak penting, aku akan menjaga keselamatan informan yang sudah sukarela dan berbaik hati memberikan informasi padaku. Sekarang kau hanya perlu menurutiku, datang saja Sabtu sore di sungai Han. Dua hari lagi Nona,” Dan aku benar-benar menjadi batu. Si idiot itu benar-benar menyebalkan. Oh, Amber… aku akan memberi perhitungan padanya setelah ini. Lihat saja!

 

Dan di sini lah aku. Seperti orang bodoh berjongkok di pinggiran sungai Han sambil sesekali melempar kerikil tak bersalah itu ke arah sungai. Sebenarnya apa yang diinginkannya? Ok, dua hari ini aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan hal sialan itu. Dan mana dia?! Sudah setengah jam aku duduk, berdiri, berjongkok, dan begitu terus berulang kali namun si rambut-sarang-burung  itu masih belum manampakkan batang hidungnya. Aku kesal dan ingin berteriak sekarang. Ya, benar-benar berteriak.

 

 

 

“PARK CHANYEOL KAU MENYEBALKAAAANNN….!!!”

 

 

 

 

 

“Terimakasih. Ku anggap pujian.”

 

 

Ddeg!  Aku menoleh ke sumber suara tersebut. Jantungku berpacu cepat seketika. Suara berat ini, wangi parfum favoritku, dan… ku rasa aku ingin pingsan sekarang. Aku seperti keledai bodoh dengan sebuah batu kerikil di tanganku, batu  yang awalnya ingin ku akhiri nasibnya ke dalam sungai Han seperti kerikil-kerikil sebelumnya. Oh, dia mendekat…. apa-apaan! Kenapa tersenyum seperti itu?!

 

Dan…

 

Dan…

 

Apa yang terjadi dengan rambutnya?!!

 

 

Kemana sarang burung itu?! Ia memotongnya? Apakah Park Chanyeol pergi ke salon sebelumnya? Astaga… bumi telan aku!  ( bayangin style rambut Chanyeol pas di MAMA Awards 2014 kemaren 😀 )

 

 

“Hai, Yoon Seorin. Kau terkejut?” ia terkekeh kecil dan berdiri di hadapanku. Aku masih diam dengan jantungku yang masih belum berhenti berdetak kencang. Tunggu, apakah pipiku memerah? Hey, ini bukan drama! Jangan berlebihan okay?

 

“Maaf, membuatmu menunggu lama. Ah, kurasa tidak. Kau hanya menunggu setengah jam, bukan? Itu bukan apa-apa jika dibandingkan denganku.” Ujarnya ambigu.

 

 

“Apa maksudmu? Kau menungguku juga? Dimana? Aku hanya sendirian di sini dari tadi.” Sahutku dan mengalihkan pandanganku ke arah lain, berharap degupan di jantung ini segera berhenti.

 

Ia tersenyum lagi. Sialan. “Kau hanya tidak menyadarinya. Kau terlalu sibuk membenciku hingga kau tak menyadari yang sebenarnya Seorin-ah…”

 

Aku mengerutkan keningku bingung, “Yak, apa yang kau bicarakan? Katakan dengan jelas, kau benar-benar membuatku bingung Park Chanyeol!” seruku kesal dan membuang batu di tanganku tadi.

 

“Kau masih belum mengeri juga?” senyuman di wajahnya menghilang dan digantikan dengan wajah serius. Dan aku hanya mengangkat lesu kedua bahuku menandakan bahwa aku memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya. “Okay, sekarang kutanya. Mengapa kau membenciku?”

 

Aku diam untuk beberapa saat. Ah, cukup lama. Mengapa pertanyaan itu menjadi sangat sulit? “Yoon Seorin, kenapa kau benci Park Chanyeol?” ayolah, itu adalah pertanyaan termudah di muka bumi ini karena hampir seluruh manusia di kampus dan orang-orang di sekitarku menanyakan hal itu berulang kali. Dan aku akan selalu menjawabnya dengan berbagai alasan kenapa aku membencinya.

 

Tapi itu dulu, sebelum hari ini tiba dan Park Chanyeol menanyakan hal itu langsung kepadaku. Kenapa aku membencinya…?

 

“Kau tidak bisa menjawab?” suara Chanyeol memecah kebisuanku, kedua tangannya bersedekap di depan dada.

 

“A-aku tidak tahu! Pokoknya aku membencimu!” seruku dengan suara agak bergetar.

 

“Kau yakin?” ucapnya lagi.

 

“Ya… Yakin.” Kataku lirih dan menunduk memandangi rumput-rumput di bawahku.

 

“Tidak. Kau tidak yakin.” aku mendongak menatapnya heran, “Alasanmu membenciku tidak logis Seorin-ah, mungkin kau punya alasan ini dan itu ketika mereka menanyakan hal yang sama. Tapi sebenarnya kau tidak tahu alasan yang sebenarnya. Ya, alasan kenapa kau membenciku. Mau aku sebutkan salah satu contohnya?”

 

“Eoh.” Jawabku singkat.

 

“Tertawa. Kau benci melihatku tertawa pada setiap orang yang kutemui? Tersenyum pada mereka, begitu kan? Apalagi ketika aku membalas teriakan para gadis itu dengan senyumanku. Kau tidak suka kan? Kau yakin tidak ada alasan lain?” kini sebuah seringaian tercipta di wajahnya.

 

“Alasan lain macam apa? Aku memang tidak suka dan aku paling benci itu! Kau benar-benar menyebalkan ketika tersenyum pada gadis-gadis sialan itu!!”

 

“Nah… lihat kan, sudah jelas…” Chanyeol sedikit membungkuk dan merendahkan badannya, membuat posisi wajah kami sejajar saling berhadapan. Baiklah, aku memang gadis pendek dengan tinggi badan 158 cm. Kalian puas?

 

“Jelas apanya? Berbicara yang jelas Park Chanyeol. Malah kau yang tidak jelas di sini.” Aku semakin kesal dibuatnya.

 

Dan senyuman itu muncul lagi, “Kau cemburu.” Ucapnya sembari mencolek hidungku seperti anak kecil. Aku hanya mengerjap beberapa kali dengan pipi yang menghangat. “Kau tidak sadar juga? Kau itu cemburu, Nona. Cem-bu-ru. Kau hanya iri pada gadis-gadis itu, pada mereka yang selalu berada di dekatku. Iya kan? Lalu kau merasa kesal padaku dan menjadikannya sebagai salah satu alasan kau membenciku.” Aku hanya diam, tak bernyali menatap matanya.

 

“Satu yang harus kau ketahui, ketika kau merasa sangat-sangat  membenci suatu hal dengan alasan yang aneh, maka berhati-hati lah. Karena mungkin saja itu bukan lah benci yang sesungguhnya, tapi sebuah ‘perasaan istimewa’ yang diberikan Tuhan padamu melalui cara yang aneh pula.” Ucapan Chanyeol membuatku kembali menatap manik matanya.

 

“Seperti kau membenciku contohnya, semuanya aneh Seorin. Kau mengatakan aku aneh, kau membenciku dengan alasan yang aneh, dan aku pikir kau juga aneh. Ya, kita sama-sama aneh, kau tahu? Dan sangat aneh ketika aku mau menunggu selama ini. Menunggu kebencianmu habis, lalu kau menyukaiku kembali seperti awal, kemudian kau mau menyapaku, kita berteman, lalu…”

 

Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya, pria itu malah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

“Lalu?” tanyaku menunggu.

 

Ia kembali menegakkan badannya, menggaruk belakang tengkuknya dan meringis aneh. “Emm… ya, sepertinya kau pernah mendengar bahwa antara cinta dan benci itu tipis.” Aku mengerutkan alisku, “Ya… jika kau tidak membenciku, maka kau mencintaiku. Aku benarkan?” ujarnya dengan nada percaya diri dan seringai sialan itu muncul lagi.

 

“A-apa?! Jangan bercanda. Aku masih membencimu bahkan aku semakin membencimu dengan rambutmu yang baru Park Chanyeol!!!” aku berteriak di depannya dan membuatnya terkejut. Sangat terkejut.

 

“Ha? K-kau semakin membenciku? Yak! Aku sudah mengganti gaya rambutku, bahwa aku mewarnainya hitam. Ini, lihat lah! Ini benar-benar hitam dan sudah tidak keriting lagi. Kau tidak akan melihat sarang burung itu lagi Yoon Seorin! Lihat ini!!” Chanyeol menunduk dan menunjukkan kepalanya padaku, dasar aneh. Kutarik saja rambutnya biar tahu rasa.

 

“Y-yak!! Kau gila Seorin apa yang kau lakukan?! Jangan menjambak rambut keren-ku! Yaaakk!” aku tertawa lepas melihatnya kesakitan dan mencoba melepas genggaman tanganku di rambutnya. Dengan tampang masih meringis kesakitan ia berujar, “Kau tertawa? Ini pertama kalinya kau tertawa di depanku, bersamaku.” Dan tarikan dirambutnya pun ku lepas.

 

Aku menyadarinya. Siapa yang aneh di sini? Aku benci Park Chanyeol dan aku malah tertawa karenanya? Oh God, sepertinya ia benar.

 

“Park Chanyeol… kenapa ada orang sepertimu? Kau benar-benar menyebalkan.” Aku menghela nafas pasrah, dan melangkah melewatinya yang masih berdiri di sana dengan senyuman konyol di wajahnya.

 

Mau bagaimana lagi, aku sudah sangat malu sekarang. Pertama, aku ketahuan bahwa aku menyukainya. Keuda, aku tidak menyadari perasaanku yang sebenarnya hingga ia sendiri yang menyadarkanku, dan ketiga, aku tidak bernyali lagi untuk sekedar mengatakan bahwa ia… tampan. Astaga aku benar-benar ingin menjerit seperti fangirls saat melihatnya muncul dengan gaya rambutnya yang baru. Kalian tahu? Aku berusaha menahan jeritanku tadi. Hah… sebaiknya aku pulang saja.

 

 

 

“Hei, apa kau akan terus berjalan kaki seperti itu?” Oh, dia mengikutiku?

 

“Ya…”

 

“Kau yakin sampai dengan selamat? Yak, Yoon Seorin perhatikan jalanmu. Kau tidak melihat ada katak di depanmu?” serunya lagi.

 

Dan seperti petir yang menyambar, aku langsung berbalik ke arahnya, demi Tuhan aku benci katak!

 

“Kau berbohong. Jangan menakutiku!” si idiot itu malah mengendikan bahunya acuh.

 

“Aku tidak berbohong. Yasudah kalau tidak percaya.” Dan kurasakan sesuatu yang aneh berada di atas kakiku. Oh jangan please…

 

 

 

“AAAARRGGHH!!!”

 

 

Seketika aku berlari mendekat pada Chanyeol, dan sialnya ini lebih parah dari berhadapan dengan seekor katak. Sialan, idiot ini memelukku?! Dan jangan lupakan suara beratnya. Tertawa seperti raksasa yang baru saja menangkap mangsanya.

 

“Hahahaha! Aku sudah memperingatkanmu kan, yak.. buka matamu, kenapa kau menutupi wajahmu? Hey, katak itu sudah pergi. Yoon Seorin…” Chanyeol menarik kedua tanganku yang menutupi wajahku. Astaga, ini bukan karena katak! Tapi karena dirimu Park Chanyeol! Pipiku memerah sekarang. oh… ya ampun T.T

 

“Hey, lihat aku. Yoon Seorin, buka matamu dan lihat aku.” Chanyeol menangkup wajahku dan menatap tepat di amnik mataku.

 

Suasana hening beberapa saat ia menatapku begitu lama, begitupun diriku, hingga suara beratnya memecah senja. Oh, waktu berlalu begitu cepat.

 

“Yoon Seorin… Kau aneh, aku juga aneh. Jadi… ayo kita pacaran.”

 

 

Dan kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh permukaan bibirku. Seperti tersengat listrik, aku juga merasa kedua kakiku berubah jadi jelly. Park Chanyeol menciumku! T…T

 

 

*FIN*

 

 

Holla! Aku kembali dengan ff keduaku XD sebelumnya aku mau ngucapin makasih banget buat admin yang udah post ff aku di Chanyeol Fanfiction ini. Ga nyangka banget. Hehe 😀 Oh iya, cerita di atas terinspirasi sama rambut Chanyeol sebelum comeback Call Me Baby, sebelum comeback kan dia sempet keritingin lagi rambutnya. Dan itu tuh bikin aku gemeeess banget. Pengen aku tarik-tarik deh pokoknya -__- tapi untung sekarang udah enggak keriting lagi XD

Btw maaf kalo judul sama poster gaje. Aku beneran payah kalo urusan bikin judul sama posternya hehe.

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “[Freelance] Hair

    1. tengkyu yaaa ^^ baca jg yg ‘Short Girl?’ itu ficlet aku jg. ada di Chanyeol Fanfiction sini jg.kasi kritik dan saran ya kalo udh baca hehe 😉 tengkyuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s