[CHAPTER 1] RECUSANT

Poster by blacksphinx @ Poster Channel

RECUSANT – PROLOG

Written by @araiemei

CAST: Ryu Hyoyoung || Jung Soojung || Park Chanyeol || Zi Tao

RATE: Teen

PROLOG | CHAPTER 1…

*

Soojung tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Keadaan masih sangat senggang. Baru ada beberapa anak yang terlihat tengah melenggang di koridor atau yang baru keluar dari mobil mewah di depan gerbang sekolah. Bahkan di kelas barunya belum ada satupun teman  yang sudah datang. Tapi ada baiknya juga, dengan keadaan yang sepi seperti ini, setidaknya tidak ada yang bertanya tentang apa yang terjadi dengan raut wajahnya yang nampak sangat kusut. Bahkan hingga tiba di sekolah pun, gejolak amarah di dalam dadanya masih belum hilang. Ia masih merutuk dalam hati. Tentang sikap kedua orang tuanya yang sangat berlebihan terhadapnya.

Soojung melangkah masuk ke dalam kelas, memilih bangku paling depan di baris kedua dari jendela. Ia lantas mengeluarkan sekantung kresek putih yang berisi roti cokelat dan sebotol susu pisang dari dalam kantung ranselnya. Keinginan utamanya pagi itu ialah menemui pohon oak tua di sudut halaman belakang sekolah dan menghabiskan sarapan paginya di sana. Sarapan di rumah sama sekali tidak bisa disebut sarapan. Soojung tidak pernah menikmati apa yang tersaji di depannya. Terlebih jika ada ibu di hadapannya.

“Oh, aku sangat merindukanmu, ahjussi!” pekiknya setelah meletakan kantong plastik di tangannya ke atas akar tunggang besar milik ahjussi. Soojung selalu memanggil pohon oak itu dengan sebutan ‘ahjussi’. Ahjussi yang selalu menjadi pelariannya setiap kali ia merasa bosan dengan pelajaran di kelas, atau saat ia bosan mendengarkan ocehan teman-teman perempuan di kelasnya yang selalu menghabiskan makan siangnya dengan menggosip, atau saat ia merasa kesal dengan sikap ibunya yang terlalu memaksakan kehendak.

Saat sedang asik melampiaskan rasa rindunya dengan bercerita panjang lebar tentang liburannya kepada ahjussi sambil menikmati sarapannya, tiba-tiba Soojung dikejutkan oleh suara debaman keras. Seperti ada suatu benda yang jatuh ke bumi. Entah apa…

Soojung menoleh, mencari-cari dimana sebenarnya sumber suara itu berasal, hingga akhirnya penglihatannya tertumbuk pada sesosok manusia yang tengah duduk berjongkok di posisi yang tidak jauh dari tempat Soojung berada. Sosok itu manusia, bukan benda luar angkasa atau pesawat bajakan teroris.

Suara itu berasal dari seseorang yang juga mengenakan seragam sama persis sepertinya. Kemeja putih yang dilapisi jas sekolah berwarna hitam di luarnya, serta rok pendek cokelat setengah paha. Sosok itu terlihat tengah berjongkok di atas tanah tidak jauh dari posisinya. Ya, walaupun tidak terlalu dekat juga, tapi lumayanlah untuk Soojung memperhatikannya serta mendengar suaranya mengaduh saat tengah mengelus lutut kananya.

Soojung memperhatikan bagaimana sosok itu kemudian bangkit dari posisinya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi ternyata. Rambutnya pendek seperti potongan gadis-gadis tomboy kebanyakan. Sejenak sosok itu terlihat mengecek keadaan bagian belakang roknya, membetulkan letak tali ransel berwarna hitam di pundaknya, sebelum kemudian bergegas pergi ke arah koridor sekolah. Sepertinya ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Soojung yang masih memperhatikannya hingga punggungnya tak terlihat lagi di persimpangan lorong.

Soojung menerawang ke arah tembok sekolah, tempat dari mana sebenarnya siswa tak dikenal tadi berasal.  Sedikit banyak Soojung merasa heran, tentang bagaimana bisa gadis itu memanjat tembok saat tengah menggunakan rok sekolah yang pendek? Lagipula ini, kalau dipikir-pikir, saat itu masih pagi, tidak mungkin karena ia ingin menghindari ancaman hukuman terlembat datang ke sekolah, lalu ia memutuskan untuk memanjat tembok? Ia yakin, di depan sana, gerbang sekolah masih dalam keadaan senggang.

Dan pertanyaan terbesarnya sebenarnya adalah, ‘Siapa sebenarnya dia?’ Soojung memang belum pernah melihat sosok itu sebelumnya.

Lalu, apakah dia, … siswa baru?

“Ah, sial!” umpat Hyoyoung lirih saat menyadari ada goresan kecil di lututnya. Cukup perih memang. Ia pikir aksinya untuk loncat di halaman belakang sekolah akan berjalan dengan mulus seperti biasa. Biasa? Yups, ini memang sudah biasa ia lakukan saat masih berada di Wien.

Tujuan utamanya di hari pertama ia sekolah ialah menemukan jalan tikus yang sewaktu-waktu bisa ia gunakan apabila dalam keadaan terjepit. Mungkin saat ia terlambat atau harus melarikan diri dari ancaman hukuman. Dengan cara seperti ini, setidaknya, ia punya jalan pintas untuk berkelit dari masalah.

Hyoyoung bangkit dari posisinya, lantas menepuk bagian belakang roknya tiga kali sebelum kemudian melanggang pergi untuk menemui kepala sekolah. Tapi, sepertinya ia harus ke toilet sebentar untuk sekedar membasuh lukanya dengan air lalu membalutnya dengan plaster. Goresan merah di lututnya ini bisa saja menimbulkan kecurigaan dari pihak guru kalau mereka sampai melihatnya. Jadi, alangkah lebih baiknya jika Hyoyoung mengantisipasinya terlebih dahulu.

Yah, jika saja ayahnya tetap keukeuh mengantarnya ke sekolah, pasti ia tidak bisa melancarkan misinya seperti ini.

“Ah, aku melihatnya tadi sewaktu di kantor. Penampilannya tidak terlalu menarik, sih. Seperti gadis tomboy kebanyakan.”

“Kalau tadi aku tidak salah dengar namanya Hyoyoung.”

“Katanya dia pindahan dari Austria, ya?”

“Benarkah?”

Sekembali Soojung ke kelas, pendengarannya terus-terusan menangkap percakapan tiga sekawan tukang gosip di kelasnya. Posisi mereka yang tengah berkumpul di belakang meja Soojung, membuat percakapan mereka terdengar sangat jelas. Cukup membuat Soojung merasa terganggu, tentu saja, karena konsentrasinya untuk memahami rumus kimia di bukunya jadi pecah seketika.

Tapi, sebentar … siapa yang mereka bilang? Anak baru? Tomboy?

Tiba-tiba saja otaknya mengulang kejadian di sudut halaman belakang sekolah beberapa menit yang lalu. Saat seorang murid tak dikenal menjatuhkan tubuhnya dari atas tembok belakang secara tiba-tiba. Lalu, apakah yang mereka maksud anak pindahan Austria itu adalah orang yang tadi lihat?

“Sepertinya dia akan masuk ke kelas—”

“Guru datang! Guru datang!” Sandeul—yang semester lalu menjabat sebagai wakil ketua kelas—menghambur masuk ke dalam kelas disusul dua orang temannya yang lain sambil berteriak mengumumkan jika sebentar lagi guru akan masuk ke kelas mereka. Soojung menarik nafas dalam setelah sempat dikejutkan oleh lengkingan suara Sandeul seraya menutup buku di tangannya lantas memasukannya ke dalam ransel. Tiga orang yang tadi sedang bergosip di belakangnya sudah kembali ke tempat duduk masing-masing sambil sesekali masih terdengar berbisik-bisik satu sama lain.

Tidak lebih dari dua menit kemudian, guru Jung masuk ke kelas mereka.

“Selamat pagi,” ucapnya setelah mendapat penghormatan dari anak-anak muridnya. Ia tersenyum cerah sekali. Entah karena apa. Mungkin karena hari itu adalah hari pertama ia kembali berdiri di depan kelas untuk memulai apel pagi setelah hampir satu bulan terpisah oleh libur semester.

Ia memberikan petuah-petuahnya seputar peraturan baru di kelas yang harus diperhatikan oleh setiap muridnya. Setelah itu, ia kembali melemparkan senyum lebar lagi, lantas berkata, “Aku ingin mengenalkan teman baru kalian.” Dan seketika saja ruang kelas kembali ricuh.

“Teman baru?”

“Yang dari Jerman itu?”

“Bukan Jerman, tapi Austria.”

“Aku melihatnya tadi.”

“Ya, ya, aku juga.”

“Cukup!” guru Jung menepuk meja dengan telapak tangannya, meminta perhatian muridnya kembali.

Soojung terlihat menggaruk tengkuknya bosan. Bosan melihat tingkah berlebihan teman-temannya dan tentu saja pria tua di hadapannya. Kenapa harus pria itu lagi yang menjadi wali kelasnya? Ia tidak apa-apa jika memang harus berada di satu kelas dengan anak-anak berandal di sekolahnya, tapi tentang wali murid yang kemudian merangkap jadi wali kelasnya, membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.

“Aku bilang aku akan mengenalkannya ke kalian. Jadi, harap tenang!” Guru Jung memperingatkan.

Beberapa murid nampak membetulkan kembali posisi duduk mereka. Berusaha mencari posisi yang nyaman agar bisa tenang.

“Masuklah!”

Tidak lama setelah guru Jung memanggilnya untuk masuk ke dalam kelas, sosok yang disebut-sebut ‘murid baru’ dan ‘teman baru’ itu pun muncul dari balik pintu. Serempak setiap pasang mata tertuju padanya. Tidak terkecuali Soojung, ia pun terlihat membulatkan sedikit matanya saat mengetahui ternyata orang itu adalah orang yang tadi ia lihat di belakang sekolah. Dugaannya ternyata benar.

Setelah guru Jung mempersilahkannya memperkenalkan diri kepada teman-temannya, murid baru itu pun berucap, “Namaku Ryu Hyoyoung,” seraya memandang teman-teman barunya yang tengah memperhatikannya baik-baik, lantas melanjutkan, “semoga kita bisa berteman.”

Soojung mendapati handphone di dalam saku jas seragamnya bergetar sesaat setelah guru Jung menutup apel pagi mereka di kelas hari ini.

From: Appa

Ajak Hyoyoung berteman, oke? 🙂

Soojung mendengus. Baru kali ini ayahnya mengirimkan sms kepadanya saat tengah berada di sekolah. Isinya pun lain daripada yang lain. Ayahnya memintanya untuk menemani anak pindahan itu? Yang sudah melakukan pelanggaran secara diam-diam di hari pertamanya di sekolah? Lagipula apa baiknya anak itu sampai ayahnya mengirimkan pesan kepadanya yang berisi permintaan agar ia mau berteman dengan ‘si anak baru’. Wah, benar-benar tidak bisa dipercaya. Kalau saja ayahnya tau apa yang sudah dilakukan anak baru itu tadi pagi, apakah ia tetap meminta Soojung berteman dengannya?

Soojung menoleh, melirik kea rah meja Hyoyoung—nama si anak baru kalau Soojung tidak salah ingat—di dekat jendela kelas. Berpikir lagi akan pesan dari ayahnya, Soojung mencoba mengulur waktu sampai anak-anak pengosip yang tadi duduk di belakang Soojung pergi dari meja Hyoyoung.

“Kau benar dari Austria?” Ia bisa mendengar salah satu dari tiga anak itu bertanya kepada Hyoyoung, yang kemudian hanya disahut Hyoyoung dengan kata, “Ne.”

“Kau mahir berbahasa inggris, kan?”

“Tidak juga. Aku tidak suka bahasa inggris.”

“Lalu kau berbicara dengan bahasa apa di sana?”

“Jerman. Di sana orang-orang menggunakan bahasa Jerman.”

Soojung menoleh. Memandang Hyoyoung yang terlihat malas-malasan meladeni pertanyaan temannya.

“Jerman? Woah!”

“Ah, aku iri sekali padamu.”

Hingga lima menit kemudian, komplotan itu memang benar-benar pergi keluar kelas.

Sekali lagi, Soojung melirik kea rah Hyoyoung yang masih duduk di mejanya, dan terlihat tengah menatap langit di luar melalui kaca jendela di sampingnya. Benar-benar tidak menunjukan gelagat yang aneh. Dia tidak terlihat seperti anak berandalan, pikir Soojung. Siapapun yang baru mengenalnya tadi, pasti tidak akan percaya apabila Soojung memberitahunya kebenaran yang terjadi di halaman belakang sekolah. Mereka pasti menganggap Hyoyoung murid baik, bukan yang suka memanjat tembok sekolah.

Dia baru saja hendak menarik tubuhnya dari kursi, sekedar untuk mengajak Hyoyoung berkenalan kalau memang tidak bisa mengajaknya berteman seperti permintaan ayahnya, saat tiba-tiba saja segerombolan anak laki-laki dari kelas sebelah memasuki kelas mereka tanpa permisi. Soojung mengenali salah satu di antara mereka. Kalau tidak salah namanya Tao. Murid blasteran China-Korea yang menjabat sebagai ketua kelas selama dua tahun berturut-turut di kelas sebelah.

Kompolatan yang diketuai oleh Tao itu ternyata datang untuk menghampiri meja Hyoyoung. Soojung otomatis menggagalkan rencananya dan memilih duduk diam di bangkunya. Seolah-olah tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya dan mencoba menyibukan dirinya dengan mengutak-atik handphonenya. Meskipun di dalam hatinya ia merasa sedikit heran dengan kedatang murid laki-laki itu. Apa yang mereka inginkan dari Hyoyoung?

Sampai akhirnya pendengarannya mendengar lengkingan suara seseorang yang membuatnya sontak menolehkan kepala.

“YA! Zi Tao! Aku merindukanmu!”

Hyoyoung nyaris saja mati bosan di kelas. Bukan karena kelasnya sempit, atau gurunya yang tidak menyenangkan, tapi karena anak-anak murid di kelas itu yang selalu saja melirik ke arahnya sejak ia pertama kali masuk hingga jam istirahat tiba. Tatapan mereka membuat Hyoyoung merasa aneh sendiri. Bukan. Bukan merasa dirinya yang aneh. Tapi anak-anak itu.

Apa ini baru pertama kali bagi mereka kedatangan seorang teman baru dari luar negeri? Lagipula dia tidak melulu berasal dari luar negeri. Ia hanya pernah belajar di luar negeri, dan itu juga tidak lama. Aslinya dia juga sama seperti mereka. Generasi Korea Selatan asli. Tidak tercampur darah apapun.

Dan yang paling menyebalkan bagi Hyoyoung adalah saat harus meladeni pertanyaan tiga sekawan yang mengenalkan diri mereka dengan embel-embel ‘GG’ yang kalau Hyoyoung tidak salah ingat kepanjangan dari Grace Girls. Oh Tuhan, yang benar saja!

Hingga akhirnya ia bisa bernafas sedikit lebih lega saat trio gadis menakutkan itu pergi dari hadapannya.

Hyoyoung baru saja hendak memejamkan matanya setelah menjatuhkan kepalanya ke atas meja, saat tiba-tiba seseorang terdengar menggebrak mejanya pelan, lantas berucap, “Ya! Ryu Hyoyoung, apa kau pikir sekolah adalah tempat tidur?

Hyoyoung bergeming. Tidak mempedulikannya sama sekali.

“YA! RYU HYOYOUNG! BANGUN!”

Hyoyoung mendecak sebal saat mengangkat kepalanya. Ia baru saja hendak mengeluarkan kata-kata saat matanya menyadari seseorang yang tengah berdiri di depan mejanya bukanlah orang asing. Matanya membulat sempurna. Belum bisa berkata apapun. Hanya menatap murid laki-laki yang diapit tiga orang temannya itu tengah tersenyum ke arahnya.

“Selamat datang kembali, Ryu Hyoyoung.”

Seketika Hyoyoung tersadar. Ia sontak bangkit dari kursinya. Menghambur kea rah murid laki-laki itu seraya memekik, “YA!  Zi Tao! Aku merindukanmu!”

Murid laki-laki yang ternyata bernama Tao itu tergelak saat membalas pelukan Hyoyoung. “Nado!” sahut Tao menanggapi.

Hyoyoung melepaskan pelukannya untuk menatap Tao sekali lagi secara lebih jelas dan lebih dekat. Ini seperti sebuah keajaiban daripada kebetulan. Hyoyoung tidak pernah berpikir jika ia kembali dipertemukan dengan teman masa kecilnya di sebuah bangunan sekolah yang sama. Menjadi teman satu sekolah meskipun berbeda kelas. Tapi tetap saja ini rasanya sangat menakjubkan.

“Wah! Kau benar-benar tinggi sekarang!” katanya seraya mencoba untul mengukur tingginya dengan tinggi Tao menggunakan tangannya. “Padahal dulu kau lebih pendek daripada aku.” Lalu ia tergelak seketika. Membuat Tao di hadapannya jadi tidak bisa berkomentar apapun selain hanya mendengus lirih.

“Oh, ya! Chanyeol…, apakah dia juga bersekolah di sini?”

“Ya, kau benar!”

Hyoyoung tersentak. Bukan karena jawaban itu mengiyakan perkiraannya, tapi karena sumber suara itu bukan berasal dari Tao. Bukan Tao yang menyahutnya. Tapi orang lain.

Ia lantas menoleh kea rah belakang melalui bahunya, dan menemukan Chanyeol tengah berdiri di depan papan tulis kelas dengan posisi tangan yang menjejal ke dalam saku celana seragam yang ia kenakan. “Aku juga bersekolah di sini!” ucapnya lagi.

Hyoyoung masih tidak percaya dengan situasi yang benar-benar mengejutkan baginya. Apakah ini kenyataan? Apakah ia baru saja terlelap dan bermimpi bertemu teman-temannya di sekolah? Ini seperti tidak mungkin. Tapi sekali lagi suara Chanyeol berhasil membuatnya tersadar. “Kau tidak merindukanku, ya?”

Tidak sampai satu detik, Hyoyoung lantas menghamburkan dirinya kea rah Chanyeol. Nyaris membuat anak laki-laki itu limbung ke belakang.

“Tentu saja aku merindukanmu, bodoh!”

“Bagaimana di sekolah baru? Menyenangkan?” tanya ayah di tengah-tengah makam malam mereka di ruang tengah apartemen yang masih terasa sedikit asing di benak Hyoyoung. Sebenarnya, bukan hanya ruang tengah apartemen itu yang terasa asing, tapi juga ritual makan malam bersama-sama seperti ini. Karena seingatnya ia hanya pernah menghabiskan makanannya di satu meja yang sama dengan ayah tidak lebih dari tiga kali dalam sebulan. Itu pun kalau kebetulan ayah punya waktu atau punya kesempatan untuk mengajaknya ikut bersama-sama menghadiri suatu acara yang diperbolehkan membawa anggota keluarga.

Hyoyoung mengangkat kepalanya sejenak sebelum kemudian mengedikan bahunya, “Ya, biasa-biasa aja. Tidak terlalu menyenangkan, juga tidak menyebalkan,” ucapnya lantas kembali menekuri makanannya.

“Hanya perlu waktu. Sewaktu di Wien juga seperti itu, kan?”

Hyoyoung menganggukan kepalanya, “Ya, aku pikir seperti itu.”

“Sudah dapat teman baru?” tanya ayah lagi setelah menyuapkan sepotong usus babi ke dalam mulutnya.

Hyoyoung tidak serta merta menjawab pertanyaan ayah kali ini. Ingatannya menerawang. Mengingat-ingat kejadian saat masih di sekolah? Apakah ia benar-benar sudah mendapatkan teman baru?

“Uhm, sebenarnya sih bukan teman baru. Kami teman lama yang baru bertemu setelah tujuh tahun terpisah.”

“Oh ya?”

Hyoyoung mengangguk. “Siapa namanya?” Ayah bertanya lagi.

“Chanyeol dan Tao, kalau Papa ingat.”

“Oh mereka!” Seru ayah selepas meneguk air putih di gelasnya yang kemudian tandas hanya dalam hitungan detik, “iya Papa ingat,” kata ayah lagi sembari menjumput lap kecil di samping piringnya untuk kemudian disapukan di dekat bibirnya. “Apa kabar mereka? Kapan-kapan ajak mereka ke sini.”

“Mereka baik. Ya, nanti kapan-kapan akan kuajak ke sini,” sahutnya sembari meletakan piring dan garfunya ke atas piring dengan posisi telungkup. “Kalau Papa bagaimana?” ucapnya kemudian dengan nada bertanya. “Sudah mendapat pekerjaan baru?”

Ayah yang tengah bersandar di kursinya menerawang sejenak sebelum menjawab, “Sudah mendapat tawaran. Tapi perlu pertimbangan lagi.”

“Pekerjaan apa?”

“Masih rahasia. Nantilah kalau memang sudah resmi Papa terima, kau juga pasti tahu.”

“Ah, mwoyaaa…,” seru Hyoyoung dengan nada protes. Tidak terima dengan jawaban ayah yang sama sekali tidak memuaskan. Kenapa ayah sekarang malah main rahasia-rahasiaan dengan anak sendiri?

Hyoyoung menyilangkan tangannya sebal. “Jangan-jangan tawaran untuk menjadi aktuaris lagi di sebuah perusahaan asuransi di Austria yang kemudian mengharuskannya memboyong keluarganya ke benua lain di bumi dan membiarkan mereka terlunta-lunta di sana…, lagi, lagi, dan lagi.”

Ayah tergelak mendengar ucapan Hyoyoung yang tanpa jeda sama sekali bahkan tanpa menarik nafas. Meskipun di dalam hatinya ia merasa sedikit miris juga. Miris saat mendengar nada kesal dari perkataan anaknya saat membahas kehidupan mereka selama ini. Ya, kehidupan mereka selama ini. Karena ia pikir, apa yang ia lakukan selama ini adalah bentuk kasih sayangnya terhadap keluarganya. Bekerja seprofesional mungkin agar bisa memenuhi setiap kebutuhan Hyoyoung. Tapi nyatanya, Hyoyoung tidak menganggap itu sebagai bentuk rasa cinta ayahnya. Ia malah menganggap ayahnya membuatnya terlunta-lunta.

Hyoyoung mendenguskan nafas keras. “Papa senang?”

“Bukannya kau ingin kembali ke Wien lagi?” tanya ayah balik yang berhasil membuat Hyoyoung tidak bisa menyahut. Ya, benar. Hyoyoung memang berharap suatu saat ia bisa kembali ke Biel, tapi bukan untuk menemani ayah bekerja. Hanya sekedar jalan-jalan. Itupun rencana jangka panjang. Mungkin kalau dia sudah dewasa. “Kalau begitu kau juga pasti senang ‘kan kalau seandainya Papa mendapat kerja yang sama dan di tempat yang sama?”

Hyoyoung mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan ayah yang terdengar menggodanya tapi juga terdengar… Oh, tolong jangan katakan kalau ayah memang berpikir seperti itu. Berpikir jika menjadi seorang aktuaris adalah yang terbaik.

“Oh, Dad! Ini sama sekali tidak lucu!” Hyoyoung berusaha bertahan menghadapi sikap menyebalkan ayah di sisa-sisa pertahanannya. “Pokonya dengar, ya?” katanya kemudian penuh penekanan, “Aku hanya ingin Papa bekerja, tapi bukan sebagai seorang aktuaris lagi. Oke?” lantas Hyoyoung berdiri dari kursinya untuk kemudian beranjak ke kamarnya. Membiarkan ayahnya meresapi dan memikirkan kembali apa yang baru saja Hyoyoung katakan seorang diri. Ya, seorang diri di depan meja makan.

Daniel masih belum beranjak dari posisinya setelah hampir lima belas menit Hyoyoung meninggalkannya seorang diri di meja makan. Ia duduk sambil menelekan siku kirinya pada meja dan menampu dagunya dengan telapak tangan. Ia mengulang-ulang perkataan Hyoyoung yang ia rekam dengan baik di otaknya. “Aku ingin Papa bekerja, tapi bukan sebagai seorang aktuaris.”

Menjadi seorang kepala divisi aktuaria di sebuah perusahaan asuransi adalah profesi yang ia geluti hampir sepuluh tahun lamanya. Profesi yang awalnya ia terima sebagai alasannya agar tidak terus-terusan mengingat rumah tangganya yang gagal. Dan yang kemudian membawanya beserta Hyoyoung hijrah ke sebuah kota kecil nun di belahan bumi eropa.

Jabatan sebagai seorang kepala divisi aktuaria yang ia emban tiba-tiba berubah fungsi saat hak asuh Hyoyoung jatuh ke tangannya. Bukan lagi sebagai alasan untuk melupakan rumah tangganya yang gagal, tapi sebagai media untuknya memenuhi setiap kebutuhan Hyoyoung. Karena semenjak kepergian ibu Hyoyoung, Daniel tahu, tidak ada siapa-siapa lagi yang bisa Hyoyoung jadikan tumpuan selain dirinya.

Dan, ia pikir, ternyata profesi sebagai ayah merangkap ibu untuk anak semata wayangnya, adalah profesi yang tidak bisa dibilang lebih mudah daripada menjadi seorang aktuaris.

Sampai akhirnya, lamunannya pun terusik oleh suara dering ponselnya yang menandakan ada sebuah pesan baru masuk.

From: Jung Jinwoo

Bagaimana? Apakah kau sudah memikirkan tawarannya baik-baik? Aku harap kau akan menerimanya. Daniel, sekali lagi aku memohon kepadamu, kami benar-benar membutuhkanmu.

Daniel mendesah lemah setelah membaca pesan yang tertera di layar handphone. Lagi-lagi, laki-laki tua itu mengganggunya dengan permohonan-permohonan yang sampai sekarang ia belum tahu bagaimana untuk menanggapinya. Apakah harus menerima tawaran pekerjaan dari temannya? Atau menolak saja? Tapi…

Perkataan Hyoyoung pun kembali terngiang-ngiang di telinganya. Perkataan yang secara tidak langsung mengungkapkan perasaannya yang ingin lebih diperhatikan. Ingin lebih banyak menghabiskan hari-harinya bersama ayahnya.

Tapi, apakah dengan menerima tawaran pekerjaan yang disodorkan kepadanya saat ini akan membawa pada keadaan yang lebih baik antara ia dan Hyoyoung? Dan, apakah Hyoyoung akan menerimanya pun masih menjadi pertanyaan.

Tiba-tiba Daniel merasa gamang.

Aku ingin Papa bekerja, tapi bukan sebagai aktuaris.”

Maka setelah ia menimbang baik-baik, Daniel segera mengetik balasan pesan, lantas mengirimnya.

            From: Ryu Daniel

Kita ketemu besok.

Soojung melihat ponsel ayahnya yang tergeletak di atas meja mengerjap-ngerjap. Sepertinya ada pesan yang baru saja masuk. Ia menengokan kepalanya ke arah perginya ayahnya sejak lima menit yang lalu: lorong menuju toilet. Kenapa ayahnya lama sekali? Padahal sewaktu masih menunggu menu pesanan mereka tadi, ayahnya terlihat sangat kelaparan dan sangat tidak sabaran.

Tapi, ngomong-omong, pesan itu dari siapa? Soojung merasa penasaran, dan berpikir tidak ada salahnya ia menengok sebentar. Hanya mencari tahu dengan siapa sebenarnya orang yang sepertinya akhir-akhir ini sering membuat ayahnya terlihat tidak bisa jauh-jauh dari handphone. Apakah dia seorang wanita? Apakah ayahnya berselingkuh? Oh, Tuhan, jika memang benar, maka ia harus segera melaporkannya ke ibu.

            From: Ryu Daniel

                Kita ketemu besok.

Melihat dari nama pengirimnya, sepertinya laki-laki. Soojung bisa menarik nafas lega setelahnya dan mencoba berpikir positif. Ia tidak mungkin berpikiran jika ayahnya seorang penyuka sesama jenis, kan? Karena kehadirannya ke muka bumi menjadi alasan terkuat baginya untuk tidak berpikiran macam-macam tentang ayahnya.

Lima menit setelah ia kembali meletakan kembali handphone itu ke atas meja, Soojung melihat ayahnya menampakan diri kembali.

“Oh, pesanannya sudah selesai?” tanyanya sembari mendudukan tubuhnya ke kursi yang berhadapan dengan Soojung.

Malam itu Soojung dan ayahnya memang memutuskan untuk menikmati menu makan malam mereka di sebuah rumah makan ttalkalbi yang berdiri di pinggir kawasan Nonhyun dong. Hanya berjarak sekitar lima ratus meter dari tempat kursus musik yang Soojung ikuti. Jadi karena jaraknya yang dekat, juga ditambah dengan alasan ibunya yang sedang tidak ada di rumah, ayah akhirnya memutuskan untuk membawa Soojung kemari.

“Appa,” panggil Soojung, membuat ayah yang tengah asik mengaduk kuah ttalkalbi di dalam mangkuk mengangkat kepalanya.

“Wae?”

“Tadi ada pesan masuk ke handphonemu.”

“Oh, ya?”

“Dan, aku sudah membukanya?” aku Soojung kemudian.

“Apa katanya?” tanya ayah, lantas menyuapkan sejumput daging babi rebus ke dalam mulutnya. Terlihat tidak mempermasalahkan tindakan Soojung yang berani membuka handphonenya tanpa seizinnya.

Melihat bagaimana ayah yang sangat bernafsu sekali melahap makannya, Soojung pikir,  lebih pantas jika ayah dibilang predator ttalkalbi dari pada penyuka ttalkalbi.

“Dia mengejak ayah bertemu dengannya besok,” kata Soojung sembari ikut mengaduk isi mangkuknya.

“Dia siapa ayah?” Soojung bertanya kemudian. Setelah sekitar dua menit mereka tidak bersuara karena terlalu menikmati menu makan malam mereka.

Ayah mengangkat kepalanya sejenak, “Teman ayah,” katanya. “Namanya Ryu Daniel.”

“—Oh, ya? Kau sudah berkenalan dengan Hyoyoung, bukan?” tanya ayah yang lantas menghentikan gerakan tangan Soojung untuk hitungan sepersekian detik.

Ia mengingat-ingat lagi kejadian tadi siang di kelas. Saat ia berniat mengajak anak baru pindahan dari Austria dan yang bernama Ryu Hyoyoung itu berkenalan, tiba-tiba saja segerombol anak laki-laki yang diketuai oleh si ketua kelas sudah mendahuluinya. Mereka mendatangi meja Hyoyoung dan mengajaknya berteman. Dan sepertinya anak perempuan yang terlihat lebih mirip laki-laki itu memang lebih tertarik berteman dengan komplotan laki-laki daripada perempuan. Ia bisa melihat dari bagaimana Hyoyoung yang hanya dalam hitungan setengah menit sudah bisa membaur dan tertawa-tawa dengan mereka. Nyaris membuat Soojung frustasi sebelum ia memutuskan lebih baik pergi meninggalkan ruang kelas.

“Belum,” sahut Soojung pendek.

“Kenapa belum?” tanya ayah. Keningnya berkerut samar.

“Belum sempat. Sepertinya dia tipe anak yang tidak suka membaur dengan siswa perempuan yang lebih sering menghabiskan waktu makan siang dengan menggosip di kantin atau berteriak-teriak tidak jelas di tribun lapangan. Dia nampaknya lebih senang berada di tengah laki-laki untuk sekedar mendrabble bola basket atau… yah, bisa jadi berkelahi.”

Ayahnya tergelak mendengar penuturan Soojung seputar penilaiannya terhadap Hyoyoung. Ya, sedikit banyak ayahnya mafhum dengan sikap Soojung yang lebih senang menilai seseorang berdasarkan hasil pengamatan singkatnya. Pengamatan yang tidak memerlukan pendekatan. Kadang orang-orang menganggapnya skeptis.

“Kau hanya belum mengenalnya lebih dekat. Dia anak yang baik Appa rasa. Dan, kau tahu? Dia itu anaknya Ryu Daniel, yang tadi mengirim pesan.”

Soojung lantas membulatkan matanya, “Anaknya…? Oh, jadi…,”

“Yups, jadi seperti itulah ceritanya,” kata ayah kemudian lantas terkekeh.

“Appa memang benar-benar sudah mengenalnya?”

“Sangaaat mengenalnya,” sahut ayah seraya meraih gelas yang berisi air putih di sisi mangkuk ttalkalbinya. Meneguk air itu sebentar, sebelum melanjutkan, “Dia anak dari sahabat karib ayah sejak SMA, Ryu Daniel.”

“Ryu Daniel…,” gumam Soojung kemudian mengeja nama orang yang baru saja disebut oleh ayahnya. “Dan namanya Ryu Hyoyoung.”

“Ya,” jawab ayah kemudian sebelum bergerak menuju meja kasir untuk membayar dua porsi ttalkalbi yang mereka pesan.

Soojung lantas mengangguk-anggukan kepalanya sembari menekuri ttalkalbi di dalam mangkuknya yang masih tersisa setengah. Jadi apakah karena alasan itu ayahnya memintanya untuk mengajak Hyoyoung berteman?

Entahlah.

*

A/N:

Haiii~ aku bawa chapter 1-nya… semoga sukaa ^^

Advertisements

3 thoughts on “[CHAPTER 1] RECUSANT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s