[PROLOG] RECUSANT

Poster by blacksphinx @ Poster Channel

RECUSANT – PROLOG

Written by @araiemei

CAST: Ryu Hyoyoung || Jung Soojung || Park Chanyeol || Zi Tao

RATE: Teen

Hyoyoung berlari kembali ke kamarnya, mengambil sebuah buku bersampul hijau muda yang tadi ia lupa masukan ke dalam tas. Setelah itu bergerak cepat-cepat ke dapur. Menjumput gelas susunya di atas meja makan, lalu menegaknya hingga tandas. Ia tidak menyentuh sama sekali roti tawar yang sudah disiapkan ayahnya tiga puluh menit yang lalu. Malah bergerak menuju rak sepatu di dekat pintu untuk menemukan sepatunya dan memakainya segera.

“YA! YA! Mau kemana?” Tiba-tiba ayah muncul dari balik pintu kamarnya. Menegur Hyoyoung yang nampak terburu-buru mengenakan sepatunya di dekat pintu.

Zur schule, Papa! Kemana lagi?” sahut Hyoyoung lantas bersiap membuka pintu. Tapi lagi-lagi ayah menahannya.

“Tungg di situ! Biar Papa antar, oke?”

Hyoyoung berbalik, menatap ayah seraya mendengus, “Tidak perlu. Aku kan sudah bilang kalau aku bisa berangkat sendiri.”

“Jangan membuat khawatir orang tua! Bagaimana kalau kau tersesat? Lima tahun bukan waktu yang singkat. Seoul sudah banyak berubah.”

Hyoyoung memutar bola mata jengah, “Tapi, demi Tuhan, aku belum sepikun itu, Papa! Bahkan jika aku meninggalkan Seoul untuk waktu 20 tahun pun aku masih akan mengingat Seoul dengan baik.”

Kini giliran ayah yang mendengus. Ia tidak habis pikir, bagaimana Hyoyoung bisa sekeras kepala seperti ini? Apa ini yang anak gadisnya dapat dari dirinya? Mengingat kata-kata orang, mereka akan terlihat sangat mirip jika sudah bertengkar: sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah.

Usaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Hyoyoung ternyata jauh lebih sulit daripada mengurus surat perceraian ia dan istrinya sepuluh tahun yang lalu.

“Biarkan aku berangkat sendiri hari ini, Papa, tolong. Yayaya? Kalau memang aku tersesat hari ini, maka kau boleh mengantarkanku setiap hari. Aku tidak akan membantah dan menurut apapun katamu.”

Ayah nampak menimbang-nimbang permintaan Hyoyoung.

“Ayolah, Papa?”

“Oh! Ka!”

Geurae?”

Ayah mengangguk, dan mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Hyoyoung pergi.

Hyoyoung melonjak, “Assa!” pekiknya girang. Bersiap membuka pintu apartemen, namun teringat sesuatu. Hyoyoung berbalik, melangkah ke arah ayah, dan menghadiahi ayah sebuah ciuman di pipi. Sebagai ungkapan terimakasih karena ayah mengabulkan keinginannya hari ini.

Danke, Papa!”

“Appa dan Eomma sedang berusaha mewujudkan keinginanmu, jadi bersabarlah.” Soojung diam. Tidak bersuara sementara ibunya terus mengatakan kepadanya beberapa hal terkait birokrasi di sekolah. Tangannya terus menggerakan pisau dan garfu untuk memotong rotinya, tapi sama sekali belum memasukannya ke dalam mulut secuil pun.

“Appamu sudah mencoba membujuk kepala sekolah, kemungkinan kau bisa pindah kelas secepatnya.” Soojung lantas mengangkat kepalanya, menatap ayah yang juga ternyata tengah menatap ke arahnya. Tatapannya seolah-olah bertanya: apakah ayah benar-benar melakukan itu?

Seolah bisa mengerti maksud tatapan mata Soojung, ayah menganggukan kepalanya sekali, lantas menunduk untuk menekuri sarapannya lagi.

“Kau pasti tidak tahan di kelas barumu, ya?” Soojung masih menatap ayah yang nampak kikuk di kursinya. “Pokoknya kalau anak-anak nakal itu mengganggumu, kau hanya perlu melaporkannya.”

“Cukup!” Soojung bersuara setengah berteriak. Membuat ibunya tersentak, dan ayahnya reflek mengangkat kepala.

Ditatapanya wajah ibunya lekat-lekat, “Cukup, eomma! Aku tidak pernah keberatan masuk ke kelas itu. Dan aku sama sekali tidak pernah meminta kalian untuk memindahkanku ke kelas lain.”

“Soojung…,” ayah mencoba menenangkan anak gadisnya, tapi tidak berhasil karena Seojung sudah terlanjur mengeluarkan tanduknya. Sudah tidak ingat siapa yang ada di hadapannya saat itu. Tidak lagi memikirkan bagaimana etika seorang anak kepada orang tua.

“Sebenarnya selama aku malu tidak lain karena kalian! Kalian yang memperlakukanku terlalu berlebihan seperti ini.”

“—dan appa!” Seojung lantas mengalihkan tatapannya kepada ayahnya, “appa hanya perlu mengatakan kepada kepala sekolah, bahwa aku tidak mau pindah ke kelas manapun.”

“Heol!” Tao berdecak seolah-olah tak percaya dengan apa yang ia lihat di garasi rumahnya. Lantas segera menghambur ke arah sebuah motor sport merah menyala yang terparkir di sisi kanan mobil ayah. Mengelus permukaannya pelan. Seolah-olah motor sport itu akan tergores hanya karena kulit tangannya.

Kris yang berdiri tidak jauh terkekeh kecil memperhatikan tingkah Tao yang terkesan sangat kampungan.

“Kapan kau membawanya ke sini, hyeong?”

Kris menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menjawab pertanyaan Tao, “Semalam. Kau sudah tidur, padahal aku mau mengajakmu balapan.”

Tao menegakan badannya, menatap Kris tidak percaya. “Kau mau ibu menyembelihku?”

“Kau bisa membawanya ke sekolah?”

“Kau serius?” Tao masih tidak percaya dengan tawaran Kris pagi ini.

Kris mengangguk, “Lagipula ayah dan ibumu sudah berangkat ke rumah sakit, jadi kau aman.”

Senyum Tao mengembang, “Mana kuncinya?”

Kris lantas merogoh saku, mengambil kunci motornya dan melemparkannya kepada Tao.

Tao berjingkrak girang. Bergegas menaiki motor sport idamannya sejak lima bulan yang lalu. Motor yang menjadi permintaannya kepada ayah pada hari ulang tahunnya yang ke 17, namun sayangnya tidak dikabulkan. Dan hari ini ia bisa menungganginya. Bukan mimpi sama sekali! Ini nyata. Kris yang membawakannya untuknya—oh ralat—lebih tepatnya meminjamkannya untuknya.

Dengan perasaan berbunga-bunga Tao bersiap hendak memutar motornya keluar dari garasi, saat tiba-tiba saja handphone di dalam sakunya berbunyi. Tao mengernyit saat melihat nama yang tertera di layar touchscreen handphonenya.

Park Chanyeol?

“Wae?”

Motorku ditahan!”

“Mulai hari ini kau diantar pakai mobil!”

“Tapi eomma…”

“Tapi, kenapa?” tanya ibunya yang lantas berbalik menghadap ke arahnya. Chanyeol yang baru saja hendak membantah, tiba-tiba sudah kehilangan kata-kata begitu melihat tatapan menyeramkan ibunya.

“Kau mau ibu menjual motormu juga?”

“Ah, andwae! Andwae!”

“Kalau begitu kau harus menurut apa kata eomma.”

Chanyeol mendengus. Menatap punggung ibu melenggang menuju kamar. Tidak habis pikir bagaimana ibunya akhir-akhir ini terkesan seperti nenek lampir. Apakah faktor pekerjaan yang membuat ibunya seperti ini? Tapi, entahlah. Chanyeol tidak peduli apapun, kecuali motornya. Ia hanya ingin ibunya mengembalikan motornya, dan membiarkannya menikmati hari-harinya seperti biasanya.

“Chanyeol ssi. Ayo, berangkat!”

Chanyeol menoleh, dan mendapati paman Jung berdiri menunggunya. Benar-benar tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Seolah-olah dunianya mengalami kiamat kecil. Chanyeol nyaris frustasi.

Tao… Tiba-tiba Chanyeol ingat Tao. Seharusnya ia memberitahu Tao tentang masalah ini.

Setelah melesakan tubuhnya di jok belakang mobil, Chanyeol segera mengeluarkan handphonenya dan mencari nomor Tao di kontaknya. Tidak sampai lima detik, Tao mengangkat panggilannya.

Wae? Kenapa menelponku pagi-pagi?”

“Masalah!”

Masalah? Masalah apa?”

“Motorku ditahan!”

A/N:

Setelah sekian lama aku nggak posting di sini, aku kembali membawa cerita baru di tengah-tengah sibuknya bertempur dengan soal-soal bimbel, tugas akhir, dan lain sebagainya 😀

Jadi beginilah, aku hanya mempersembahkan tulisan yang tidak seberapa ini. Semoga enak dibaca 🙂

Advertisements

4 thoughts on “[PROLOG] RECUSANT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s