[Freelance] Finding Eomma (Chapter 3)

Finding Eomma Part 3

Finding Eomma Chapter 3

Title                       : Finding Eomma

Author/Twitter : Dintakai (Twitter :@dintafarras)

Main Cast            : Choi Hara, Park Chanyeol EXO

Additional Cast  : Lee Yooin (Hara’s Mom)

Choi Hawoo (Hara’s Father)

Ahn Mijung (Yooin’s Friend)

Member EXO-K

Gong Minri

Son Hayong

Others

Genre                   : Family, Romance, Sad

Rating                   : General

Length                  : Chaptered

Disclaimer           : Its MINE

Warning! Typo bertebaran

***

I AND EVERYTHING ABOUT MY SUFFER

“Aku benci orang yang membiarkanku menderita, aku benci kau Park Chanyeol…”

 

@New Choi’s Home

“Tuan aku membawa Nona Hara kembali..”

Sekretaris Joon menghadap tuan besarnya itu. Dan dengan tegas Tuan Choi mengangguk. Sekretaris Joon mendorong kursi roda tuannya dan menghantarkan dirinya pada Hara yang tengah duduk sofa.

Tangan tuan Choi terangkat, menyuruh Sekretaris Joon menghentikan dorongannya. Didalam diammnya itu Tuan Choi menatap nanar putrinya yang telah 9 tahun ia sia-siakan. Setetes air mata mengucur dipipi kempotnya. Ia menyesal melakukan hal buruk yang mungkin tak pernah termaafkan. Ia menyesal.

Hara kian menunduk, dirinya sangat lelah karena tidurnya tak nyenyak semalam. Perlahan ia mulai terbawa suasana sofa empuk yang sedang didudukinya.

PLUKK

Ia tertidur. Dan Tuan Choi memperhatikan sedari tadi. Ia semakin merintih melihat nasib putrinya yang makin mengurus itu.

“Sekretaris Joon, apa aku masih punya muka untuk bertemu putriku?”

“Tuan.. setidaknya temui dia dulu.”

“Aku Appa yag jahat. Tidak pantas menemuinya.”

“Ani Tuan, saya rasa Nona Hara juga merindukan Tuan..”

Tangan lemah Tuan Choi menuju kursi rodanya, ia jalankan kursi itu sekuat tenaga menghampiri putrinya yang tengah tertidur di sofa.

“Hara-ya, ini Appa. Mianhae..” Dibelainya Hara dengan lembut seperti dulu, ia merindukan putrinya ini namun ia menyesali perbuatannya menyiakan putri satu-satunya ini.

Hara merasakan belaian lembut dari Appanya, ia mengerjap dan menatap Appanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah, Rindu, Lega bercampur menjadi satu.

“Hara-ya..”

Hara diam membisu. Ia hanya terus menatap Appanya masih dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Mianhae..”

Mata Hara turun kebawah, matanya melebar mengetahui apanya menggunakan kursi roda.

“Appa.. kakimu..”

“Gweenchana…”

GREPP

Hara memeluk Appanya dengan erat. Ia rindu Appa walau ia membencinya. Ia ingin marah namun tak sampai, ia tepis amarah itu ketika melihat Appanya begini.

“Appa kenapa kau seperti ini? Harusnya kau bahagia Appa..” Isak Hara dipelukan Appanya.

“Mianhae.. Appa menyesal Hara.”

“Appa pabo.. Appa pabo pabo pabo…”

“Arraso… Mianhae..”

Mereka berdua menikmati pelukan masing-masing. Perasaan rindu mereka luapkan dalam tangis yang mereka tahan. Tak ada yang bisa mengerti perasaan mereka.

Diujung lantai atas, seorang wanita dengan seringai serigalanya menatap dua insan itu dengan jengah. Wajahnya menunjukan tanda tak sukanya pada dua manusia dihadapannya.

‘Kali ini kau juga harus kusingkirkan Oppa.. setelah itu baru anak ingusan itu..’

Seringai liciknya ia munculkan lagi lalu masuk kedalam kamarnya.

***

3 bulan sudah Hara kembali pada Appanya, walau ia sangat membenci Mijung yang katanya sudah menikah dengan Appa. Ia tak tahu kenapa jika Appanya sedang tak bersamanya Mijung selalu mengajaknya bertengkar. Walau Mijung lebih tua dari Hara, namun gadis ini tak pernah memanggil dia dengan sebutan Eomma atau Ahjumma, ia memanggil dengan Nama bahkan tanpa embel-embel, entahlah mungkin karena kebenciannya yang luar biasa pada Mijung.

“Hara-ya.. kau tidak sekolah?” Tanya Mijung.

Hara yang sedang melahap kimchinya itu menurunkan sumpitnya dan meletakan dengan kasar diatas meja, lalu pergi kekamar meninggalkan mereka berdua.

“Aish anak itu kurang ajar sekali..”

“Sudahlah.. dia begitu karena kita..”

“Kita? Dia anakmu Oppa..”

“Dan kau Eommanya kan?”

“Tiri! Dia bahkan selalu menyebut namaku.. Aish”

“Mijung-a, umurku tak panjang lagi. Aku harap kau bisa berbaikan dengan Hara, jadi aku bisa pergi dengan tenang.”

“Ne, Oppa.”

“Saatnya kita menyesali perbuatan kita, dengan kau menjadi Eomma untuk Hara.”

“Arrasoo. Kau cerewet sekali Oppa.”

***

Mijung masuk kekamar Hara tanpa mengetuk pintu. Hara sendiri sangat enggan dengan kehadiran Mijung. Ia menutupi dirinya dengan selimut dan mematikan lampunya tiba-tiba.

“Hara.. besok kau mulai sekolah, sudah kudaftarkan di Seoul High School..”

“…”

“CHOI HARA..” Teriak Mijung namun hanya dibalas diam oleh Hara.

“YAK! Aku sudah mencoba berbaikan padamu, tapi kau terus saja begini?”

Karena diabaikan akhirnya Mijung pergi meninggalkan kamar Hara. Menutup pintu dengan keras tanpa memikirkan Hara yang sangaaaaat kesal dengan Mijung.

***

Esoknya dengan naas Hara sudah mengenakan seragam yang Mijung berikan. Sungguh ia tak suka ini, ia seperti robot yang dengan mudah Mijung kendalikan. Ia benci sangat benci, tapi entahlah bencinya hanya bisa ia pendam.

Setelah sampai didepan gerbang sekolah, Mijung dengan matel bulu mahalnya yang ia beli kemarin malam keluar dari mobil. Karena ini musim dingin, jadi wajar jika orang-orang mengenakan matel atau apapun yang menghangatkan tubuh mereka.

Mijung akan membuka pintu untuk Hara, namun ia kalah cepat, Hara sudah keluar dan melenggang pergi begitu saja.

“Hara…” teriak Mijung “Aish gadis itu…”

Dengan susah payah Mijung mengejar Hara lalu memberikan Hara paper bag.

“Ini mantel keluaran baru yang kubuat, pakailah.. kau bisa mati kedinginan…”

“BERHENTI PURA-PURA RUBAH LICIK!!!”

“Mwo? YAK PAKAI SAJA,  KAU MAU MATI KEDINGINAN?”

PRAKK

Paper Bag itu tejerembab ditanah, membuat isinya sedikit keluar. Hara pergi meninggalkan Mijung yang tengah memungut paper itu.

“Yak HARA..”

 

Chanyeol POV

Aku tergesa-gesa berlari menuju ruang kelasku, namun sia-sia Saem Jung sudah masuk. Daripada kena omelan lebih baik aku bolos jam pertama saja. Hehe

Kuputuskan untuk ke depan sekolah, tepatnya ditaman tempat nongkrongku dengan anak EXO. Aku duduk disana dan menikmati semilir angin yang menerbangkan poni dirambutku.

“BERHENTI PURA-PURA RUBAH LICIK!!!”

Seketika aku terperanjat dari ketenanganku. Suara seorang yeoja yang sangat melengking ditelingaku. Aku menoleh kebelakang tepatnya parkiran sekolah, disana ada satu yeoja yang mengenakan seragam yang sama denganku tapi aku belum pernah melihat yeoja itu, apa dia murid baru? Dia pasti gila, musim dingin begini tidak memakai jaket atau mantel, apa dia tidak melihat cuaca?

Didepannya berdiri yeoja paruh baya yang masih cantik dan modis dengan mantel bulu yang sepertinya mahal. Mereka seperti sedang cekcok.

“Mwo? YAK PAKAI SAJA KAU MAU MATI KEDINGINAN?”

PRAKK

Aku yang sedari tadi memperhatikan mereka membulatkan mataku, yeoja itu melempar paper bag yang membuat yeoja paruh baya itu memungutnya. Dan dengan angkuhnya ia meninggalkannya.

Aku yang iba melihat adegan tadi menghampiri yeoja paruh baya itu. “Gweenchanayo?”

“Eoh..” Yeoja paruh baya itu tersenyum “Gweenchana..”

Aku membantu membawa paper bagnya dan mengembalikan padanya.

“Nyonya sungguh baik-baik saja?”

“Kau pasti lihat kelakuan putriku itu ya..”

“Ne. Aku tidak sengaja melihat kalian.”

“Cha.. kau kelas berapa?”

“Aku kelas 1..”

“Putriku juga, dia murid baru, aku harap kau membimbingnya anak muda…”

“Ne.” Kataku sambil membungkuk padanya.

“Oh ya, berikan ini padanya juga.” Yeoja paruh baya itu memberiku paper bag tadi “Putriku tidak pakai mantel dia kedinginan nanti.”

“Ne. Nyonya.”

“Gomawo..” Katanya lalu pergi. Dia memasuki mobil dan aku terus membungkuk selagi dia menancapkan gasnya untuk pergi.

Aku memiringkan wajahku. ‘Sepertinya aku pernah melihat wanita itu? Dimana ya? Kenapa wajahnya tidak asing?’

Aku mengendikan bahu lalu pergi mencari yeoja berkepang dua tadi.

Aku menelusuri lorong di jalan utama. Karena dia murid baru, mungkin saja dia pergi kekantor. Dugaanku tepat, yeoja berkepang dua itu sedang menghadap Kepala Sekolah ketika aku sedang mengintip dari luar.

Karena jam pelajaran ketiga masih 15 menit lagi, aku menunggu yeoja itu keluar dari ruang Kepsek. Aku duduk dikursi depan kantor sambil bermain dengan IPOD-ku. Lalu menyilangkan kakku sambil sedikit terpejam mendengar alunan music ditelingaku.

WUSSSH

Angin musim dingin berhembus. Astaga ini dingin. Yeoja itu pasti sangat kedinginan. Sudah tahu musim dingin, nekat tidak pakai mantel.

5 menit kemudian dia keluar dari ruangan itu dan berjalan kearahku yang sedang duduk. Tanpa melihatku dia tetap melenggang pergi. Kutarik lengannya untuk menghentikan dia. Namun dengan kasar ia menepis tanganku.

“Ah mianhae.. Eommamu tadi menitipkan ini padaku.”

Yeoja itu menatap paper bag yang kubawa, tanpa berkata apa-apa ia meraih paper bag itu dan dibuangnya di tempat sampah di sampingnya lalu berjalan lagi.

‘ASTAGA ADA APA DENGAN YEOJA INI?!’ Batinku.

Aku menahan lengannya lagi “Kau mau mati?”

“…” Ia menepis lagi cengkramanku. Namun tetap kutarik walau lagi-lagi dia mengelak, sampai akhirnya kugenggam jemarinya. ‘ASTAGA TANGANNYA DINGIN SEKALI’

BUGH

Aku memegang betisku yang kena tendangan empuk dari yeoja berkepang dua itu. Aku merintih menahan betisku yang berdenyut-denyut.

AWAWAW..

“Ya Park Chanyeol kenapa kau tidak masuk kelas?” Teriak Kepsek didepan kantor. Aku yang sedang memegang betis itu langsung berdiri tegak dengan posisi siap, lalu menunjukan senyum lebar “Ini saya mau kekelas, Saem.”  Aku mundur perlahan kearah tong sampah, mengambil paper bag itu lalu pergi meninggalkan Saem yang sedang menatap tajam padaku.

‘AISH JANGAN SAMPAI AKU KENA MARAH OLEH KEPSEK’

***

HARA POV

TOKTOKTOK

Aku mengetuk pintu kelas yang bergantung ukiran kayu bertuliskan ‘XA’ sepertinya ini kelasku. Merasa yakin, kuketuk lagi. Lalu munculah namja berkepala botak yang memberi senyum lebar padaku.

“Murid baru?” Tanyanya.

Aku mengangguk.

“Masuklah..”

Aku masuk kekelas. Semua anak yang tadinya sedang mencatat rumus dipapan tulis, langsung memperhatikanku dengan seksama. Hingga akhirnya Saem disebelahku memperkenalkan diriku, mereka masih terus memandangiku.

“Dia murid baru.. silahkan perkenalkan dirimu..”

Aku membungkuk 90 derajad “Annyeong Hasseyo, Choi Hara imnida, pangapsmnida..”

Semua anak mulai berbisik memandangku dengan tatapan aneh. Sembari berjalan ke kursi belakang aku mendengar mereka yang membicarakanku.

“Marganya Choi, pasti orang kaya baru”

“Lihat tas dan sepatunya, bermerk semua. Dia pasti menyogok masuk sini.”

“Sepertinya dia murid kaya baru. Pantas dengan mudah masuk kelas unggulan.”

“Orang kaya sama saja, dengan uang bisa mudah masuk kemari. Kita saja harus mati-matian belajar.”

“Iya, kalau bukan dengan uang, yeoja itu tak mungkin disini. Murid baru selalu ditempatkan dikelas regular.”

BLA-BLA-BLA

Aku jengah mendengar bisikan yang tepatnya sindiran untukku. Aku mengabaikan mereka dan memasang earphone di telingaku. Kukeraskan volumenya sehingga suara mereka tak lagi terdengar. Aku memandangi Saem yang sedang mengajar didepan.

‘Aku sudah tahu materi itu. Ternyata tidak sia-sia aku homeschooling.’

Aku malas membahas materi yang berulang-ulang diajarkan tutorku itu. Mungkin dalam waktu 5 menit aku bisa mengerjakannya. Ah karena malas aku mulai menutup mataku perlahan. Untungnya disini singlesit dan depanku adalah murid tambun yang jangkung sehingga aku tidak mudah dilihat Saem.

KRINGKRING

Bel berbunyi membuatku langsung terbangun dari tidur siangku. Jujur aku masih mengantuk, aku akan tidur kembali namun sebuah paper bag di letakan dengan kasar dimejaku.

“Pakai ini, kau bisa kedinginan. Penghangat ruangan ini mati.”

Lagi-lagi namja ini. Tidakkah dia kapok sudah kuhajar?

Aku mengabaikannya dan menelungkupkan wajahku untuk kembali tidur. Namun aku merasakan sesuatu menyelimuti punggungku.

Kutengadahkan wajahku dan menarik apa yang menutupi punggungku. Astaga namja menyebalkan!!!!

Kulihat dia sibuk bercanda ria dengan 5 namja lainnya. Apa aku sekelas dengannya? Aish. Kutatap kedepan dan menemukan yeoja-yeoja itu menatap liar padaku, seolah ingin memakanku.

‘Hey kau lihat? Chanyeol memberikan mantel pada yeoja itu.’

‘Apa dia kenal Chanyeol?’

‘Atau jangan-jangan..’

‘Diam kau, Ahdong!’ Teriaak salah satu yeoja diantara mereka.

‘Chanyeol hanya milikku.’

Aku seperti ingin muntah mendengarnya. Kumasukan lagi mantel itu dipaper bagku dengan kasar. Namja tadi menatap kearahku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan, aku membalas tatapannya dengan tajam. Dan pergi keluar untuk mencari udara segar.

‘Disini terlalu menyesakkan…’

 

Chanyeol POV

‘Astaga yeoja itu benar-benar keras kepala’

“Chanyeol-a kau kenal gadis itu? Apa dia salah satu gadis simpananmu?” Goda Baekhyun padaku. Aku mengabaikannya karena sedang melihat kearah mana yeoja itu pergi.

“Chanyeol-a, gadis itu cantik juga..” Ujar Kai sambil menunjukan smirknya ketika melihat yeoja itu melewati mejakku.

“Kai ingat kau punya yeojachinggu.” Timpal Sehun

“Arra..”

“Sekarang ceritakan pada kami, bagaimana kau  bisa mengenal murid baru itu?” Tanya DO dengan wajah seriusnya.

“Molla, aku tadi bertemu Eommanya dan menyuruhku memberikan mantel padanya.”

“Oho kau alibi Chanyeol-a..” Kata Baekhyun sambil memukul bahuku.

“Yak aku tidak kenal dia, sungguh.”

“Aku rasa dia akan jadi korban Minri..” Kata Suho.

“Maksudmu?”

“Kau tidak lihat Minri dan Ahdong, dua penggemar sejatimu menatap murid baru itu dengan buas Chan, sebelum yeoja itu dibully oleh gengnya kau harus menjaga jarak padanya.”

“Araa.. aku sudah bilang aku tidak ada hubungan apapun dengan murid baru itu.”

Tanpa kusadari aku berjalan menuju jendela yang menampilkan sisi luar sekolah. Disana aku bisa melihat yeoja itu sedang duduk dikursi taman. ‘DIA BISA MATI’ Batinku. Aku berlari meninggalkan kelas dan menghampiri yeoja keras kepala itu.

Hara POV

Astaga aku kedinginan Sungguh ini dingin. Kau tahu kenapa aku menolak memakai mantel itu? karena itu mantel design nenek sihir itu, aku tak sudi memakainya. Sedangkan dirumah, aku tak punya mantel satupun. Aish apa aku harus membuang jauh-jauh keegoisanku dan memakai mantel itu? ANDWAE!!!

Lebih baik aku kedinginan daripada memakai mantel nenek sihir itu.

PLUKK

Sesuatu yang berat menyelimuti punggungku. Astaga untuk kesekian kalinya aku merasa jengah. Namja ini lagi?

Dan dia memakaikan mantelnya padaku? Peduli apa dia padaku? Aish kulempar mantelnya dan menatapnya tajam “Kau lagi, kenapa kau selalu muncul didepanku, Ha?”

“Ya jangan salah paham, aku disuruh Eommamu memberi mantel itu. Kau bisa mati. Gunakan akalmu jangan sifat keras kepalamu. Kalau kau tak mau pakai mantel itu, pakai milikku.”

“Memangnya kau siapa?” Bentakku “Kau tak tahu apa-apa tentangku, jangan pedulikan aku, aku tidak ingin dipedulikan siapapun”

Aku melenggang pergi, namun berhenti ketika namja itu berkata

“Kau memang keras kepala,kau tahu sikapmu yang kurang ajar? Eommamu sangat perhatian padamu, tapi kau mengabaikannya begini? Kau memang anak durhaka.”

DEG! Darahku berdesir, amarahku memuncak. Aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus. Hari pertama saja sudah diberi masalah seperti ini. Benar-benar menyebalkan!!

“KAU TAHU APA TENTANGKU? DIA BUKAN EOMMAKU, EOMMAKU SUDAH MATI, ARRA?” Setelah mengatakan itu aku berlari meninggalkannya. Cukup aku muak.Ini terlalu sulit untukku.

Tanpa Hara sadari Chanyeol membeku ditempat. Dia merasa sangat bersalah pada Hara. Dia terlalu gegabah mengatakan Hara yang tidak-tidak.

***

@class XA

Hara menundukan kepalanya sambil mendengar music di earphonenya. Ia menatap 2 yeoja yang tadi mencibir Hara. Mereka berdua sedang membully salah satu murid didepan kelas.

“Hei anak miskin, kau masih ingat kejadian kemarin? Kau beraninya tidak mengerjakan kertas jawabanku, kau mau mati?” Teriaknya yang membuat anak lain diam.

“Mian, Minri-ssi…”

“Ahdong-a, hajar anak ini..” Yeoja bertubuh gembul disampingnya menarik yeoja malang itu. Disobeknya mantel yang dikenakan yeoja itu membuat mantel dan seragamnya robek”

“Kau sexy Hayong-a..” Kata Ahdong disambut high five dari Minri. Mereka berjalan keluar kelas diikuti 5 yeoja bertampang plastic yang membuntuti mereka.

“Igeo.. pakailah..”

Dia menatap Hara ragu.

“Kau mau mengumbar bahumu itu?”

Yeoja bernama Hayong itu meraba bahunya yang terbuka, dikelas memang hanya ada Hayong dan Hara saja sehingga yeoja liar tadi berani membully Hayong karena kelas sedang kosong.

“Bagaimana denganmu, kau tak pakai mantel?” Tanyanya

“Shireo, aku tak mau pakai mantel ini. Gunakan saja..”

Hara menaruh paper bagnya dimeja Hayong, lalu dia menenteng tasnya keluar kelas.

“Hara eodiya?”

“…” Hara tetap melenggang pergi keluar kelas. Dia berniat bolos ternyata.

Hayong membuka isi paper bag itu, lalu terkejut melihat isinya.

“Astaga ini mantel keluaran terbaru dari desiner ternama itu. Aigoo ini indah sekali…”

***

Hara POV

Aku berdiri didepan rumah lamaku. Lalu menatap kesamping “Park Chanyeol, apa kau masih hidup? Ah kau pasti sudah melupakanku kan?” Batinku dalam hati

“Aku benci orang yang membiarkanku menderita, aku benci kau Park Chanyeol…”

Aku masuk kedalam rumah itu. Lalu kembali berkeliling dengan maskud hanya ingin bernostalgia. Sampai aku masuk kekamar Eomma ku. Ada sebuah lemari disana. Aku tahu dibelakang lemari itu ada sebuah ruangan yang didesign khusus oleh Eommaku, dan hanya aku saja yang tahu. Dulu Eomma sempat memberi tahu ruangan itu. Aku juga sering masuk kesana tapi aku tak suka disana karena gelap. Dan aku benci gelap.

Kuputar lemari itu dan terbukalah pintu keruangan itu. GELAP dan BERDEBU.

Aku menyalakan senter dari ponselku dan menyorotnya keseluruh ruangan. Sepertinya ini tidak dikosongkan, semua masih tertata rapi disini. Berarti mereka tidak tahu ruangan ini. Aku menjelajahi satu persatu barang Eomma. Ada mesin jahit disana, benang-benang yang tergantung didinding seperti pelangi. Inilah Eommaku, designer terkenal yang sering membuatkanku baju dan gaun. Eomma.. Bogoshippeo..

DRTDRDTDTDT

Aku terlonjak. Aku seperti mendengar suara ponsel bergetar. Tapi bukan ponselku lalu?

Aku menyorot keseluruh ruangan mengikuti sumber bunyi itu.

Ada sebuah benda menyala disudut ruangan. Dan ketika kudekati itu adalah ponsel.

Kubuka layarnya dan membaca apa yang tertera disana 100 pesan suara dan 150 pesan.

“Ponsel ini milik siapa?” Tanyaku dalam hati.

Aku memutar pesan suara itu

‘HARAA TOLONG EOMMA HARA…’

‘HARAA AKU HARAP KAU KERUANGAN INI, TOLONG EOMMA HARA..’

‘HARAA CEPAT PANGGIL POLISI, SELAMATKAN EOMMA..’

‘HARA JANGAN PERCAYA DENGAN KATA-KATA MIJUNG, DIA PENIPU.. DIA MENGURUNG EOMMA DISINI HARA..’

‘HARA TOLONG EOMMA…’

‘EOMMA MASIH HIDUP HARA.. EOMMA DIKURUNG DISINI..’

‘HARAA.. SELAMATKAN EOMMA..’

Brugh aku ambruk mendengar pesan suara yang sudah beberapa kali ku setel. Pesan ini baru, tanggal menunjukan hari kemarin.Mungkin karena sinyal pesan ini baru bisa masuk sekarang. Ini Eomma benarkah ini Eomma.. kubuka salah satu pesan singkat

‘Hara… Eomma belum mati.. Hara tolong Eomma…’

Aku menelpon  balik nomor itu namun tak tersambung. Kubaca semua pesannya namun tak ada alamat dimana Eommaku berada. Aku frustasi, aku bingung, dan aku masih kalut..

‘Eommaku masih hidup?’

 

TBC

YEEE akhirnya ketebak jugakan judul sama FFnya, kayaknya gak nyambung gitu ya, tapi dari sini muali deh nyambung sama judul. Oke, semoga pada nunggu next chapter. Hehe

Advertisements

3 thoughts on “[Freelance] Finding Eomma (Chapter 3)

  1. Thor,, cepetann post chapter selanjutnya donkkk:(( udahh ngakk sabarrr :(( kasian hara-ya :(( btw thor ceritanya menyentuhh sape nangis”(?) bacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s