WHY YOU KISS HER?? # 1

Background-Keren3

 

Main Cast                    : Chanyeol-Shina | Kai-Gyuri

Supp. Cast                   : Jimin | Yejin |

Author                         : Wiitha Choi

Genre                          : Sad, Romance, School life, Friendship, Family, Drama,

Rating                         : PG-16

Length                         : Chapter

“Ciuman. Hal itu pasti akan dilakukan oleh setiap orang yang menjalin hubungan’kan. Lalu kenapa kau harus terkejut?”.

“Tidak. Bukannya aku tidak mau. Hanya saja aku takut dia tidak bisa mengontrol tindakannya”.

 

==========================================================

-Part One-

Pagi ini Shina tengah menyiapkan sarapan untuknya dan adik sepupunya yang berisik itu, Shin Gyuri. Gyuri akan mulai memarahinya jika sarapan pagi belum ada diatas meja. Selain manja, Gyuri juga punya maag akut yang membuatnya senantiasa harus menyuarakan pendapatnya yang berisik itu pagi-pagi. Shina tidak ingin merusak gendang telinganya hanya karena suara sepupunya yang sangat-sangat tidak ingin didengar.

“Gyu! Sarapan sudah siap. Mandi dan turunlah. Aku pergi ke ruangan laundry sebentar. Ada yang ingin kau titip?”. Tanya Shina sedikit mengeraskan suaranya itu.

“Tidak eon. Aku akan mengantarnya sendiri nanti. Gomawo untuk sarapannya dan maaf kalau karena aku kau harus bangun lebih awal”. Ucapnya setengah berteriak.

“Eoh. Gwaenchana. Cepatlah bersiap lalu kita berangkat ke sekolah”. Sahut Shina kemudian beranjak keluar dari apartemen kecil mereka.

Shina dan Gyuri sangat dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Shina tidak memiliki seorang adik begitu pun Gyuri. Mereka berdua sama-sama anak tunggal dirumahnya. Shina dan Gyuri terbiasa hidup manja dan serba ada. Begitu Shina diterima di sekolah terbaik di Seoul, sejak saat itulah Shina memulai hidupnya yang mandiri hingga dia pandai memasak bahkan membersihkan apartemen yang biasanya tidak pernah dia lakukan dirumahnya.

Shina dan Gyuri hanya terpaut dua tahun. Shina tengah duduk dikelas akhir sedangkan Gyuri baru duduk dikelas satu. Gyuri menyusul Shina ke Seoul karena dia ingin sekolah yang sama dengan Shina. Gyuri sejak kecil memang hanya dekat dengan Shina, bahkan Hyemi yang juga salah satu sepupu mereka dan bersekolah di tempat sama tidak di gubris sama sekali oleh Gyuri saat Hyemi mengajaknya untuk tinggal bersama. Yang Gyuri tahu hanya Shina, Choi Shina.

“Eonni, boleh tidak sisanya buatku. Aku akan membawa bekal untuk makan siang. Sandwich buatan eonni sangat enak. Boleh ya?”. Mohon Gyuri dengan kedua tangan tertangkup.

“Tentu. Bawa saja. lagipula aku jarang makan siang jadi kemungkinan sandwich itu tidak akan ada yang memakannya. Lagipula aku heran dengan pola makanmu. Kenapa bisa sebanyak itu, uh? Sebenarnya kau ini manusia atau siluman?”. Goda Shina sambil terkekeh geli.

“Eonni. Kenapa kau berkata seperti itu. Apa aku terlihat seperti siluman atau monster ya?”. Tanya Gyuri malu.

“Ani. Hanya saja aku heran. Kenapa makan mu banyak tapi tubuhmu tidak juga berisi. Aku saja yang makan sedikit sudah memiliki pipi setembam ini. makanya aku sedikit aneh melihatmu. Apa mungkin kau ini ca..”.

“Aku tidak cacingan. Eonni. Jangan mengejekku lagi. Aku tahu pola makan dan bentuk tubuhku tidak seimbang”.

“Arra. Cepat buat bekalmu, kita akan terlambat jika kau masih dengan wajah jelek seperti itu. Aku tak yakin Kai benar-benar menyukaimu”. Goda Shina lagi.

“EONNI!”.

-0-

Shina dan Gyuri berjalan menuju ke kelas mereka. Mereka hampir saja terlambat jika jalanan Seoul tidak macet seperti tadi. Huh. Bukankah mereka seharusnya berangkat lebih pagi. Tapi mana mungkin, mengingat Gyuri yang sangat sulit untuk bangun pagi. Hah. Bisa-bisa mereka harus berlari ke sekolah karena jalanan macet dan menghambat peralanan bis mereka.

“Hai”. Panggilan itu membuat Shina dan Gyuri menoleh bersamaan.

“Jimin? Ada apa?”. tanya Shina heran.

“Tidak. Ayo masuk kelas bersama”. Tawar Jimin.

“Tapi, adikku?”. Ucap Shina kemudian melirik Gyuri.

“Tidak apa-apa, eonni. Pergilah. Lagipula ada….”. Gyuri mengedarkan arah pandanganya dan

“Kai. aku akan masuk dengan Kai. eonni pergilah dengan Jimin sunbae”. Gyuri tersenyum pada Shina sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Bye, Eonni”. Gyuri berlari kemudian merangkul pundak kekasihnya itu.

“Ayo kita ke kelas”. Ajak Jimin kemudian mendapat anggukan dari Shina.

Kelas Shina berada dilantai tiga. Shina dan Jimin sudah tiga tahun berada dikelas yang sama. Jimin juga sudah tiga tahun menyimpan perasaan untuk Shina, hanya saja dia terlalu takut mengatakannya.

“Apa kau sudah punya kekasih?”. Tanya Jimin gugup.

Shina berhenti kemudian menoleh pada Jimin. “Kenapa kau bertanya seperti itu? Ada apa?”. tanya Shina heran dengan alis bertaut.

“Tidak. Hanya saja aku…. aku…. aku menyukaimu”. Ucap Jimin cepat.

“Jimin-ah? apa yang kau katakan? Hei, ini bahkan bukan bulan april. Jangan membuat lelucon seperti itu. Itu terlalu serius, Min-ah”. ucap Shina acuh kemudian berjalan mendahului Jimin.

“Ani. Aku serius. Aku sudah menyukaimu sejak kelas satu. Dan aku tidak tahu kenapa. Hanya saja, aku merasa nyaman di dekatmu”.

Deg

Jantung Shina merasa terpompa dua kali lipat. Dia bahkan tidak bisa mengontrol matanya yang kini terus berkedip tidak jelas. Shina terlalu shock dengan penuturan Jimin yang mendadak. Shina bahkan menyukai seseorang saat ini. seorang lelaki tinggi dengan mata besar, senyum manis dan telinga lebar. Lelaki yang kini sedang berjalan menuju mereka dengan earphone putih yang melekat di kedua telinganya. Park Chanyeol. Kapten tim basket yang beberapa bulan lalu resmi single karena memutuskan hubungan dengan kekasihnya yang berada dikelas dua yang menjadi ketua Cheerleaders sekolah.

Park Chanyeol. Lelaki yang di cintai Shina dua tahun terakhir ini. entah kenapa Shina begitu mencintai lelaki yang bahkan sifatnya sangat dingin untuk seorang siswa populer. Park Chanyeol yang kini menjadi teman sekelasnya itu pun melewati mereka tanpa menoleh bahkan melirik dua insan yang sedang dilanda cinta. Entah itu cinta pada siapa, hanya mereka lah yang tahu.

“Hm. Aku akan fikirkan, Jimin-ah. kasi aku waktu untuk berfikir”. Ucap Shina sambil menunduk.

“Baiklah. Aku harap jawabanmu adalah keberuntunganku. Kajja”. Shina mengangguk dan mereka mulai jalan kekelas.

-0-

Shina tengah duduk bersama Gyuri dan Kai. Shina yang sejak tadi hanya berkutat dengan buku tebal dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu kini melirik sepupunya yang sedang menatap dan tersenyum dengan kekasihnya itu. Gyuri dan Kai sudah berkencan sekitar tiga bulan. Mereka mulai kenal saat hari pertama masuk sekolah. Entah kenapa mereka berdua bisa berkencan dengan waktu yang singkat. Ah. Gyuri bahkan mengatakan kalau mereka itu sudah berjodoh, saat Shina bertanya. Bukankah jawaban yang tidak masuk akal. Sejak saat itu, Shina tidak pernah bertanya apapun lagi sejak mendengar jawaban itu. Percuma saja, fikirnya.

“Hei. Kalian terlihat seperti anak kecil”. Sunggut Shina.

“Eonni. Seharusnya Eonni itu senang karena aku sudah punya kekasih dan tidak mengganggu eonni lagi’kan. Coba saja kalau aku masih sendiri, mungkin eonni tidak bisa belajar karena terus aku ganggu. Eonni’kan tahu kalau aku manja. Setidaknya dengan adanya Kai, aku bisa bermanja-manja dengannya. Iya kan Kai”. ucap Gyuri sambil membelai lembut pipi kekasihnya itu.

“Huh. Dasar. Kau itu, ada tidak ada Kai akan sama saja. dasar anak manja”. Shina bangkit kemudian beranjak.

“Mau kemana?”. Tanya Gyuri.

“Lebih baik aku ke perpustakaan menatap ribuan buku dari pada menatap dua sejoli yang tingkahnya makin aneh dan sedikit membuatku ngeri”. Ucap Shina lalu pergi meninggalkan Gyuri dan Kai yang kini saling mengangkat bahunya acuh.

-0-

Shina tengah berjalan menuruni tangga, tiba-tiba dia tidak sengaja menginjak sesuatu yang membuatnya berhenti dan memungut benda itu. Sebuah benda berbentuk lingkaran berwarna putih dengan ukiran di dalamnya. Tapi tidak hanya benda itu, ada juga benda putih panjang yang menjuntai di antara lingkaran itu.

“Cincin? C Love Y? punya siapa ini?”. Shina mencoba menelaah cincin itu tapi jika hanya dengan kode huruf seperti itu bukahkah akan sangat susah menemukan pemiliknya.

“Siswa dengan huruf C sangat banyak. Bahkan aku juga berhuruf C. tapi ini milik siapa. Apa aku umumkan saja atau aku berikan saja pada seongsaengnim biar besok mereka yang mengumumkan nya. Iya. Lebih baik seperti itu”.

Shina berjalan cepat menuju keruang guru dan menyerahkan kalung dengan liontin cincin dengan ukiran itu pada Kim Saem. Shina meminta tolong agar segera mungkin di umumkan. Karena bisa saja itu sangat penting bagi pemiliknya.

-0-

Shina berjalan menuju apartemennya. Tapi dia tersentak saat melihat pintu apartemennya tidak tertutup sama sekali. Shina masuk kedalam karena sebelumnya Shina yakin pasti Gyuri lupa menutupnya karena sudah menjadi kebiasaan Gyuri tidak menutup rapat pintu apartemen mereka.

Shina pun masuk dan berjalan menuju ruangan. Langkahnya terhenti cepat saat melihat tubuh Gyuri yang berada di atas sofa dan berada dibawah tubuh Kai bersamaan. kini mereka terlihat sedang berciuman panas disana. Bisa Shina liat bagaimana cara Kai melumat habis bibir mungil sepupunya itu dan bagaimana cara Gyuri membalas ciuman yang diberikan oleh kekasihnya itu. Dan tidak berhenti disitu, tangan Kai sudah membuka tiga kancing seragam Gyuri hingga sedikit memunculkan belahan dada gadis itu. Tangan Kai mulai bergerak liar dileher putih Gyuri. Shina yang mulai tidak tahan dengan pemandangan ini berdehem keras.

“EHM. Gyu. Apa yang kau lakukan, uh?”. Deheman sekaligus kalimat itu membuat Gyuri menoleh dan mendapati Shina tengah menatapnya tajam penuh arti.

“Kai”. Gyuri mendorong tubuh Kai yang berada di atasnya kemudian memperbaiki seragamnya begitu juga Kai.

“Sunbae. Maaf. Aku…”.

“Gyu. Jika kau melakukan hal itu lagi di apartemenku, lebih baik kau cari apartemen sendiri dan tinggal sendiri. Aku tidak ingin mati konyol karena dibunuh oleh ibumu akibat ulahmu sendiri. Bukahkah sudah ku katakan kalau ingin berkencan kau harus tahu batasnya kan? Kenapa kau melanggar janjimu?”. Jelas Shina dengan emosi.

“Eonni. Aku.. aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Ini yang terakhir”. Ucap Gyuri cepat.

“Terserah. Aku tidak ingin menelan mentah-mentah janjimu”.

Shina berjalan menjauh dari dua sejoli itu. Shina tak habis pikir dengan sifat agresif sepupunya yang tidak bisa dia control. Shina sudah dua kali melihat hal ini. yang pertama di ruang tari, saat Shina tidak sengaja melihat Gyuri membawa handuk dan juga air untuk Kai ke ruang tari. Saat itu Shina masih bisa menahan emosinya karena mereka melakukannya di luar tanggung jawab Shina. Jika berada di apartemen kali ini, Shina tidak bisa toleransi.

“Eonni. Aku minta maaf, uh?”.

Shina mendengar ucapan maaf itu, tapi maaf saja untuk kali ini Shina akan memberikan sepupunya itu pelajaran. Shina akan mendiamkan gadis itu untuk beberapa hari ini. lihat saja, apakah gadis itu bisa berubah atau malah bertambah parah.

-0-

Pagi ini Shina berangkat lebih awal. Walaupun dia mendiamkan gadis itu, Shina tetap membuatkan sarapan untuknya. Shina hanya meninggalkan note di piring gadis itu.

“Jangan lupa cuci piring saat selesai makan. Aku pergi lebih awal karena ada piket kelas. Jangan lupakan kalau aku masih kecewa padamu dan juga tutup pintu apartemen. INGAT”.

Seperti itulah isi note yang di tulis Shina. Bukankah itu sangat kejam. Andai saja Shina bisa menulis yang lebih kejam, mungkin dia akan lakukan.

Shina berjalan menyusuri koridor sekolahnya yang masih sepi. Saat dia hendak berbelok ke tangga, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang.

“Eoh?”.

“Nona Choi? Apa kau menemukan sesuatu di daerah sini kemarin sore?”. Tanya siswa itu.

“Hm. Sebuah kalung?”. Tanya Shina memastikan.

“Iya. Dimana benda itu. Apa kau menyimpannya?”. Tanya siswa itu.

“Tidak. Aku memberikannya pada Kim Saem. Aku tidak tahu itu milik siapa. Jadi aku berikan saja pada Kim saem agar dia menemukan pemiliknya”. Ucap Shina sekenanya.

“Baiklah. Terimakasih. Kau gadis yang baik”. Ucap Siswa itu.

Siswa itu menaiki tangga menuju kekelasnya. Baru beberapa undakan, siswa itu menoleh. “Hei. Kau tidak ingin kekelas? Bukankah hari ini kau dan aku piket kebersihan. Ayo, sebelum kelas ramai”. Siswa itu turun kemudian menarik tangan Shina.

Shina yang berusaha menetralkan degup jantungnya kini hanya bisa diam dan pasrah memandangi tangan besar yang hangat itu menggenggam jari-jari mungil miliknya yang dia yakini sedikit menjadi dingin akibat pacuan jantung nya yang tidak normal. Shina sampai mengingat mimpi apa dia semalam sampai dia bisa bergandengan dengan lelaki pujaannya. Park Chanyeol. Dan hal bodoh yang juga baru Shina sadari kalau teman piketnya adalah Park Chanyeol.

“Kau bersihkan papan tulis biar aku yang merapikan meja”. Ucap Chanyeol.

“Baik”. Ucap Shina sambil mengangguk dan meletakkan tasnya di atas meja.

Shina berjalan menuju papan tulis yang tingginya dua kali lipat tubuhnya. Tubuh Shina yang mungil hanya mampu membersihkan separuh dari papan tulis yang lebar dan tinggi itu. Bagian bawahnya sudah bersih, tapi bagian atasnya, ah, tidak enak dilihat.

Shina mencoba melopat-lompat kecil untuk membersihkan bagian atasnya tapi hasilnya sama saja, hanya beberapa bagian saja yang bisa bersih. Itu pun tubuhnya sudah dipenuhi keringat.

Chanyeol yang sedang merapikan mejapun kini terfokus pada gadis yang melompat dengan tangan tegak lurus dan penghapus yang bergerak kesana kesini. Chanyeol terkekeh pelan sampai akhirnya manggamit tangan mungil itu dan menurunkannya.

“Biar aku saja. duduklah dimejamu”. Titah Chanyeol.

“Eoh? Tidak usah. Biar aku selesaikan sendiri”. Tolak Shina.

“Tidak apa. duduklah. Lagipula ini terlalu tinggi untuk gadis mungil sepertimu”. Ucap Chanyeol sambil mengusap puncak kepala Shina.

Ah, Chanyeol. Kenapa kau melakukan itu pada Shina. Kau tidak tahu seberapa cepat Jantungnya memompa. Bisa-bisa gadis itu terbunuh akibat serangan jantung mendadak.

“N-Ne. Gomawo, Chanyeol-ssi”. Ucap Shina malu dan menundukkan wajahnya.

“Choi-ssi. Apa kau masih menjabat sebagai sekertaris OSIS?”. Tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Hm, Masih. Ada apa?”. tanya Shina sambil menatapi punggung besar Chanyeol yang tengah membersihkan papan tulis mereka itu.

“Kapan kalian akan serah terima. Aku fikir lebih baik kita semua melakukan itu tiga bulan kedepan saja. aku masih ingin mengikuti pertandingan yang diadakan di Konkuk High School. Aku tidak bisa menjamin kemenangan jika membiarkan para junior itu yang melakukannya. Bagaimana? Apa kau bisa membantuku mengajukan permohonan pada si ketua OSIS yang menyebalkan itu?”. Tanya Chanyeol.

Chanyeol meletakkan penghapus kecil itu diatas meja kemudian duduk tepat dihadapan Shina.

“Bisa tidak bantu aku sekali saja?”. tanya Chanyeol lagi.

“Akan aku usahakan. Tapi aku tidak bisa berjanji kalau ketua akan menyetujuinya, karena aku bukan seorang gadis pemohon”. Tutur Shina.

“Baiklah. Kau memang gadis yang baik. Bisakah kita berteman?”. Tanya Chanyeol.

Astaga. Jantung Shina mulai berdetak tak karuan lagi. Baru saja jantungnya berdetak normal, kini sudah harus bekerja ekstra lagi. Apa Chanyeol ingin membunuhnya? Kenapa dia terus saja mengatakan hal-hal yang membuat Shina hampir mati seperti ini.

“Eoh? T-Tentu. Tentu saja”. ucap Shina gugup.

“Baiklah. Kenalkan, namaku Park Chanyeol. Panggilanku Dobi”. Chanyeol mengulurkan tangannya pada Shina.

“Eoh?”.

“Bukankah jika ingin menjadi teman kita harus berkenalan dulu?”. Ucap Chanyeol.

“Eoh”. Shina mengangguk. “Aku Choi Shina. Panggil saja Shina. Salam kenal, Chanyeol-ssi”. Ucap Shina gugup sekaligus senang.

“Hei. Jangan pakai ssi, cukup Chanyeol saja atau Yeol”. Shina mengangguk kemudian tersenyum semanis mungkin.

Chanyeol yang tidak pernah perduli pada sekitarpun kini baru menyadari bahwa teman sekelasnya ada yang memiliki senyum semanis ini. Shina memang bertubuh mungil tapi jangan ragukan tinggat kecerdasaannya. Bahkan Shina menjadi peringkat pertama atau kedua dalam segala pelajaran. Shina selalu bersaing dengan ketua OSIS yang kini harus menjadi bayang-bayang untuk masa depannya. Shina tidak yakin dia bisa menjalin hubungan yang serius dengan seseorang jika dia harus terikat penuh dengan seseorang itu, walaupun Shina yakin lelaki itu juga tidak pernah setuju untuk perjanjian yang mengikat mereka.

-0-

Shina berjalan keluar kelasnya dengan buku tebal bersampul coklat. Shina yang sudah memakai kacamata itu pun tidak akan bisa diganggu jika sudah berkutat dengan buku-buku. Gadis ini sedikit membuat Chanyeol terkisap. Entah apa yang membuat Chanyeol harus terus memikirkan gadis yang sudah menjadi temannya itu, padahal kalau diingat lagi, Chanyeol tidak suka dekat dengan seorang gadis saat dia mengakhiri hubungan cintanya dengan Yejin. Chanyeol masih menyayangi gadis itu tapi gadis itu sudah membuatnya sakit. Dengan mudahnya gadis itu bercumbu dengan lelaki lain dan masih dilingkungan sekolah. Lebih parah lagi, gadis itu bercumbu dengan sahabat dekat Chanyeol, Taecyeon.

“Oppa?”.

Panggilan itu membuat Chanyeol menghentikan ingatannya dan menoleh kesamping. Dilihatnya gadis yang menjadi pemeran utama dalam kesakitan yang dirasakannya beberapa minggu ini.

“Mau apa kau?”. Jawab Chanyeol ketus.

“Oppa. Aku ingin minta maaf. Waktu itu aku hanya.. hanya…”.

“Hanya apa? sudahlah, aku sudah muak melihatmu, lebih baik kau pergi”. Ucap Chanyeol kemudian memasang earphone nya dan memejamkan matanya.

“Oppa?”. Gadis itu menggoyangkan lengan Chanyeol manja.

“Pergilah, Yejin. Aku tidak ingin berhubungan dengan yeoja pengkhianat sepertimu. Aku fikir kau berbeda dengan yang lain, heh, tapi ternyata kau sama saja, bahkan lebih parah”. Chanyeol bangkit dan menarik paksa lengannya yang di genggam Yejin, kemudian melangkah keluar.

Saat Chanyeol melewati pintu, Chanyeol melihat seorang gadis berkacamata yang sedang membaca buku duduk di sebuah bangku kayu dibawah pohon. Gadis yang dia yakini adalah temannya itu. Shina.

Chanyeol berjalan mendekat dengan gadis itu kemudian duduk disampingnya. Chanyeol menatap wajah teduh itu dan sesekali tersenyum melihat rambut coklat gadis yang tegerai itu indah saat tertiup angin. Entah keberanian darimana, Chanyeol menggerakkan tangannya dan menyelipkan beberapa helai rambut itu dibalik telinga.

Shina yang merasakan sesuatu terkisap kemudian dengan sigap menahan tangan itu dan menoleh cepat. Matanya yang membulat sempurna saat menyadari bahwa seseorang itu adalah Chanyeol. Shina dengan cepat melepaskan gengaman tangannya pada tangan Chanyeol kemudian membuka kacamatanya.

“Kau? Ada apa? kau membuatku kaget saja”. ucap Shina canggung.

Shina dalam keadaan bingung bercampur senang. Shina yang merasakan jantungnya mulai berdetak tak karuan lagi kini perlahan menunduk kemudian membuka buku dan memasang kacamatanya lagi.

“Tidak ada. Aku hanya ingin duduk disini bersamamu. Kelihatannya kau serius sekali. Apa yang kau baca, sampai kau tidak menyadari kehadiranku, uh?”. Chanyeol mencoba memanjangkan lehernya untuk melihat sedikit buku yang dibaca Shina.

“Tidak. Hanya sebuah novel Twilight. Aku begitu menyukai cerita ini. walaupun sepertinya tidak mungkin, tapi kisah cinta mereka membuat itu menjadi mungkin. Apalagi Edward Cullen dan Jacobs. Apa kau sudah melihat filmnya? Bukankah mereka sangat tampan? Hua, andai saja kisah ini ada dikehidupan nyata itu akan sangat menyenangkan?”. Shina menutup bukunya kemudian mengadahkan kepalanya dan merasakan semilir angin yang membelai kulitnya.

“Lalu? Jika kau menjadi Bella, siapa yang akan kau pilih. Edward atau Jacobs?”. Tanya Chanyeol sambil menatap intens setiap lekuk wajah gadis itu.

“Aku akan memilih seseorang yang bisa menjagaku, menyayangiku, mencintaiku apa adanya dan yang pasti bukan vampire atau werewolf”. Shina menatap Chanyeol dengan posisi yang masih mengadah.

“Hei. Aku bertanya pada Bella, bukan Shina”. Sanggah Chanyeol cepat.

“Hei, aku bukan Bella. Makanya aku menjawab hal itu”. Tutur Shina kemudian menatap Chanyeol dengan posisi kepala yang sudah normal.

“Hanya itu tipe idealmu?”. Pancing Chanyeol.

“Tidak. Tipe idealku itu banyak. Mulai dari rambut. Aku tidak suka namja berambut coklat atau semacamnya, aku hanya menyukai namja dengan rambut hitam pekat. Terserah mau mode rambut seperti apa yang pasti harus hitam pekat. Lalu mata, aku menyukai namja yang memiliki mata lumayan besar dengan alis yang tebal. Lalu hidung. Ah, aku menyukai namja dengan hidung yang mancung, karena aku sedikit pesek. Lalu tubuhnya tinggi dan berkulit kecoklatan. Dia harus bisa menjagaku, menyayangiku dan mencintaiku apa adanya, bukan karena latar belakang atau belas kasihan”. Jelas Shina panjang lebar.

“Wah, kriteriamu sulit juga. Bagaimana ini?”. ucap Chnayeol cepat.

“Apa? apa maksudmu dengan ‘bagaimana ini’?”. tanya Shina heran.

“Tidak. Hanya saja aku…”.

“Shina-ya?”. Panggilan itu menghentikan ucapan Chanyeol.

Shina dan Chanyeol menoleh kesumber suara. Terlihatlah seorang namja dengan postur tubuh tinggi, rambut hitam, mata yang lumayan besar, hidung mancung dan…

“Bagaimana dengan jawabanku? Apa kau mau menjadi kekasihku, Choi Shina?”.

TBC

HUA,

im back…..

aku kembali bukan untuk Prolog MBII, tapi untuk FF baru yang sama abal-abalnya juga….

buat yang menunggu prolog, harap sabar ya, aku masih berusaha buat selesain itu..

hehehe

maaf, kalo ending MBII yang kemaren mengecewakan *melas

hah,

seperti biasa, aku membutuhkan RCLnya…..

jika selesai membaca, harap meninggalkan jejak tangan maupun kaki..

oke…..

makasih semuanya…

aku tunggu review dari kalian yah….

ah, ya….

jangan heran dengan Wiitha Choi, itu nama pena aku yang baru…..

hehehehe

annyeong….

^^ Wiitha Choi

9 thoughts on “WHY YOU KISS HER?? # 1

  1. waaaaa……!!!!! >.<
    ditunggu lanjutannya kak….
    ceritanya oke punya (y) cuman ada bberapa kata yg agak ngebuat bingung wktu kubaca. hehehe
    tp,ttep top punya deh.
    fighting kakak… !!

  2. huanzirr Jimin ganggu banget elah–”
    Next thor, itu keknya Chanyeol suka sama Shina:’v
    Next yo keep writing

  3. Kenapa tiba² jimin datang,,baru aja chanyeol mau bilang bagaimana dengan nya,, moga aja ga di terima,,

    Keep writing,,, 🙂
    Lanjut thorr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s