[Freelance – Chapter 1] The Way to You

10

THE WAY TO YOU [1/?]

Author: Goldenfishy [Lousey Han]

Main Cast: Lee Soon Ja, Park Chanyeol

Support Cast: Amber Liu, Kris Wu

Genre: Comedy, Romance, Teenager, School life, Absurd

Rating: PG-13

Length : Chaptered

Disclaimer: This fiction inspire from another fiction with title ‘GUA EMPET SETENGAH KAYANG SAMA ELU’ and work out without the real author permission before. So, I apologize to Suholatte as the author because I made remake over her fiction. And the prolog or some quotes found from another story I read.

~oOo~

 

Aku kesal setengah mati padamu itu artinya aku cinta setengah mati padamu, Yeol..

 

~oOo~

 

♫ Intro            : Pasta Intro♫

♫ BGM: Dywst – HV♫

 

 

“Hei! Pujaan hatimu, Park Chanyeol sedang berjalan ke sini!” What? Chanyeol? Soon Ja tidak sedang salah dengar, bukan?

 

Sontak saja Soon Ja mengalihkan pandangannya pada arah yang ditunjuk sang sobat. Di dekat loker, Park Chanyeol bersinar terang seperti matahari pagi yang hangat. Cahayanya menyilaukan. Apalagi jika ia tersenyum sambil menyapa beberapa orang temannya saat berjalan, gigi putihnya yang w.o.w dazzling 100 watt itu bisa membutakan mata Soon Ja. Mungkin berlebihan, mana mungkin Chanyeol bercahaya seperti matahari? Dari mana asal cahayanya? Selain lampu neon yang berderet di bagian atap bangunan tak ada lagi penerangan, mengingat ruangan ini indoor.

 

Tenang saja, ini hanya imajinasi si pejuang cinta, Soon Ja, belaka. Sejak jatuh cinta pada pandangan pertama pada Chanyeol, di matanya Chanyeollah yang selalu terlihat bersinar.

 

“Dia tampan sekali. Iya kan?” Amber menatap malas sahabatnya. ‘Cih, dasar perempuan!’ Memang kau itu apa Amber? Ingat Nak, kau juga perempuan.

“Cepat, hampiri saja dia.”  saran Amber. Maklum, Amber sudah gatal sekali karena sahabat yang terkesan malu-malu kucing.

“Tidak usah, nanti aku mengganggu dia. Bagaimana kalau dia justru menjauhiku karena ini?”

“Ya ampun, my dear Soon Ja. Kau terlalu baik. Kalau aku jadi Chanyeol dari dulu aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu seperti ini.”

“ Amber..”

 

Amber sudah tidak kuat lagi. Ditariknya lengan Soon Ja untuk berjalan bersamanya. “Kalau kita lewat di depannya kau berani, ‘kan?”

 

Soon Ja hanya pasrah. Ia sama sekali tidak bisa melawan, tenaganya tidak terlalu kuat  jika dibandingkan dengan Amber yang rajin pergi ke gym milik keluarganya.

 

Park Chanyeol yang tampan dan baik hatinya,

kau harus merespon saat aku berjalan melewatimu.

Minimal kau menatap kembali padaku, atau jika tidak,

kau boleh menyatakan cinta padaku. Hell! Ini keterlaluan!

Aku kesal setengah mati padamu!

Karena kau tidak pernah menganggapku ada.

Biarpun begitu, aku sangat menyukaimu.

 

Yah, Park Chanyeol sang pujaan hati si pejuang cinta masih terlihat santai saja walaupun ia merasa mata kirinya berkedut pelan. Seseorang pasti sedang membicarakannya dalam hati.

 

Lima langkah lagi.. ‘Astaga! Itu Park Chanyeol!’

 

Empat langkah lagi.. ‘Aku merasa sesak nafas. Aku butuh oksigen!’

 

Tiga langkah lagi.. ‘Ya Tuhan, dia tampan sekali!’

 

Dua langkah lagi.. ‘asdfghjklqwertyuiozxcvbnm!’

 

Satu langkah lagi.. ‘Tuhan, aku ikhlas jika kau menjadikannya jodohku. Amien.”

 

 

Akhirnya ..

 

Mereka sukses melewati Park Chanyeol yang sibuk memasukkan bukunya ke loker.

 

‘Apa aku mimpi? Barusan aku melihat Park Chanyeol, bukan? Oh Tuhan, bibirnya menggemaskan sekali saat wajahnya serius seperti itu? Argh! Aku semakin menyukainya. Bagaimana ini?’

 

Chanyeol pun mengetahui kehadiran mereka, ia mengalihkan pandangannya pada dua gadis aneh yang bertolak belakang satu sama lain yang baru melewatinya. Dua gadis aneh yang bertolak belakang satu sama lain? Bagaimana tidak? Mereka bagaikan kutub utara dan kutub selatan yang letaknya berjauhan, harusnya tak pernah bertemu. Kendati begitu, dua kutub ini sama-sama memiliki es yang sama-sama dinginnya. Hal ini yang menyamakan mereka. Perumpamaan yang aneh, bukan? Iya, karena yang kita bicarakan di sini adalah Soon Ja dan Amber yang aneh.

 

Soon Ja adalah siswa yang biasa, kemampuannya rata-rata, dan selalu dianggap tidak ada oleh para guru juga siswa yang lainnya. Dia bernafas atau tidak, tak seorangpun peduli padanya di sekolah ini. Cantik tidak, pintar tidak, kaya pun juga tidak. Dia memiliki paket komplit untuk tidak menjadi populer di sekolah ini. Jika saja ia memiliki salah satu dari kriteria itu, ia pasti bisa menarik perhatian Chanyeol. Sifatnya yang ajaib kerap membuat teman-teman yang lain menjauhinya. Saat pertama mengenalnya kita langsung bisa melihat sifatnya yang pemalu dan tertutup. Namun lambat laun sifat pemalunya berubah menjadi memalukan. Ia sering sekali terkena sial. Dan karena inilah ia menjadi lebih diam dan murung sepanjang waktu.

 

Lain Soon Ja lain pula halnya dengan Amber..

 

Amber adalah seorang yang dianggap transgender oleh teman-temannya. Tak seorangpun siswa perempuan yang mau jadi temannya kecuali Soon Ja. Mereka takut Amber menaksir mereka. Tapi Amber tetaplah perempuan. Ia aktif di tim basket putri, hal ini yang membawanya menjadi tomboy sehingga mengenal dan berteman dengan Chanyeol. Ia sebenarnya juga menaksir Kris yang merupakan teman Chanyeol dan kapten tim basket putra. Sebenarnya ia hendak mendekatkan Soon Ja dengan Chanyeol agar Chanyeol bisa memberikan akses untuknya bisa dekat dengan Kris. Inilah tujuannya. Tapi akhir-akhir ini ia merasa ada yang aneh dengan manusia gigi w.o.w dazzling 1000 watt itu. Entah kenapa dia tidak seramai dan seasyik dulu. Amber sempat mengira Chanyeol pasti sedang sakit gigi.

 

Kini Chanyeol melihat punggung mereka menjauh. Ia merasa aneh, bukannya dari dulu Amber tidak memakai rok? Apa yang terlihat berbeda dari dua orang yang berjalan tadi?

 

‘Teman Amber tadi sepertinya sedikit.. aneh?’ gumamnya.

 

“Amber!” seru Chanyeol akhirnya. Jantung Soon Ja nyaris jatuh. Padahal Chanyeol hanya menyapa Amber, bukan dirinya.

 

Chanyeol berlari menyusul mereka dengan langkah panjangnya. Soon Ja membeku. Ia tak tahu harus bersikap yang seperti apa. Haruskah ia acuh? Haruskah ia bersikap manis?

 

“Nanti jangan lupa latihan, latihannya ditunda kata Kris. Jadi kau tidak perlu menunggu sampai bosan dan berjongkok-jongkok di lapangan seperti dulu,” kata Chanyeol sekedar mengingatkan Amber, bukan untuk menegur Soon Ja. Jangankan menegur, meliriknya saja tidak.

 

Amber yang jadi objek pencegatan tadi hanya bisa menahan malu atas pernyataan Chanyeol barusan. Chanyeol baru saja mempermalukan dirinya di depan Soon Ja dan itu tidak keren baginya. Yang ada biasanya dia yang mempermalukan Soon Ja dengan tingkahnya yang memalukan.

 

Sedangkan Soon Ja diam dan menatap takjub Amber. Benarkah Amber sampai berjongkok-jongkok tidak etis membuang waktu di lapangan hanya untuk menunggu waktu latihan basket? Lebih tepatnya menunggu Kris yang membohonginya tentang jam latihan? Tapi kenapa harus berjongkok? Hal ini membuat Soon Ja menatap Amber penasaran di samping ia tidak bisa menatap Chanyeol.  Dia sudah berkeringat dingin, saudara-saudara.

 

Melihat tatapan Soon Ja, Amber segera menepis pikiran aneh Soon Ja.

 

“Aku sedang PMS saat itu. Karena nyeri jadi aku berjongkok. Kau mengertikan apa yang aku maksud, Soon Ja?” Amber membela diri mati-matian.

 

Soon Ja hanya mengangguk kecil meng-iya-kan kata-kata Amber jika ia tidak mau terkena tinju Amber setelah Chanyeol pergi.

 

Chanyeol ganti menatap Soon Ja aneh. Soon Ja yang aneh. Amber yang aneh. Atau dia merasa sesuatu yang aneh sejak Amber dan Soon Ja lewat. Yang jelas gadis di samping Amber itu tidak membuatnya merasa nyaman, jadi Chanyeol memilih untuk bersikap acuh dan dingin. (?)

 

Chanyeol segera menepis pemikiran anehnya. Ia kembali pada topik yang mereka bicarakan tadi. “ PMS itu apa?” tanya Chanyeol penasaran.

 

Amber menepuk jidatnya sendiri. Seakan tak mau urusan perempuannya diketahui oleh Chanyeol, Amber buru-buru mendorong bahu Chanyeol.

 

“Bukan urusanmu! Sudah sana, pergilah. Pergi, pergi, pergi!”

 

Chanyeol pun pergi tanpa didorong lebih lanjut lagi. Ia pergi memunggungi dua gadis itu.

 

Ia kembali ke lokernya dan menutupnya agak kesal.

 

‘Dasar Amber, padahal kan aku..’

 

oOo

 

‘Yah, dia pergi.’

 

“Jelas dia pergi, kau tidak mau mengatakan sepatah kata pun  tadi,” tuding Amber saat mereka duduk di bangku mereka di kelas yang sangat ramai.

“Amber, baru saja kau membaca pikiranku,” ucap Soon Ja takjub.

“Aku tidak membaca pikiranmu nona Lee, tapi itu sudah tertulis jelas di jidatmu.”

Soon Ja memukul bahu Amber pelan. “Kau menyebalkan.”

 

Soon Ja kembali diam. Merutuki nasibnya yang merana. Menyelami pikirannya yang sama sekali tidak cemerlang.

Andaikan Chanyeol tadi menatapnya saat dia lewat, pasti ia bisa mendapat harapan baru jika Chanyeol masih peduli padanya, menganggap dia ada di sekolah ini, melihatnya sebagai seorang perempuan. Itu pasti sangat menyenangkan.

Berharap.. Hanya ini yang bisa dilakukan Soon Ja si pejuang cinta.

 

‘Aku kesal setengah mati padamu PARK CHANYEOL!!” Soon Ja berteriak mengenaskan, tentu saja di dalam hati, tidak mungkin ia berteriak langsung. Ia masih punya urat malu walau kadang-kadang tindakannya terlewat memalukan.

 

“Bersabarlah, Soon Ja. Kau ingat kau pernah bilang padaku kalau kau itu pejuang cinta. Dan yang sekarang aku tangkap adalah ini perjuanganmu untuk mendapatkan hati Chanyeol,” kata Amber yang tumben bijak.

“Aku harap kau benar, Amber.”

“Tapi jika dipikir lagi, sebenarnya apa bagusnya Chanyeol? Kenapa kau masih mengejarnya? Masih banyak yang lain yang lebih mudah kau dapatkan. Kau mau digantung terus?”

 

Soon Ja masih diam, ia sendiri tidak tahu kenapa ia menyukai Chanyeol. Yang ia tahu hatinya serasa mau meledak jika hal-hal yang dilakukannya menyangkut Chanyeol.Karena yah.. dia terlalu menyukai Chanyeol.

 

oOo

 

Malam yang cerah, bintang bertaburan berkelap-kelip menghiasi langit, angin sepoi-sepoi menjadi kelengkapan malam yang sangat-amat-sempurna-sekali!

Soon Ja menatap nanar ke luar jendela asrama, matanya sudah berputar-putar melihat pemandangan yang mulai dari di atas langit, di samping kanan dan kiri gedung, sampai di taman gedung TK yang ada di seberang asrama.

 

Terlihat Jonghyun, Key, Onew, dan Minho. Minus satu orang yaitu Taemin. Soon Ja berani taruh kalau Taemin sekarang pasti sedang minum susu hangat di pangkuan ibunya. Mereka berlima bocah-bocah nakal yang kerap mengganggunya saat akan berangkat ke sekolah. Apa gerangan yang membuat mereka bermain malam-malam di gedung TK yang sudah gelap itu? Apa orang tua mereka tidak mencari mereka?

 

Jonghyun dan Key tampak bermain drama dengan tema ksatria dan putri. Jonghyun yang membawa pedang-pedangan sambil sesekali mengayunkannya itu adalah sang ksatria. Dan Key adalah putri yang berlari dan menghindar saat para musuh ‘halusinasi’ kedua bocah itu datang. Di sisi lain, Minho dan Onew sedang bermain jungkat-jungkit. Tiba-tiba Minho pergi begitu saja saat Onew sedang berada di atas dan alhasil, Onew terjatuh. Soon Ja bergidik ngeri saat Onew mengelus pantatnya, itu pasti sakit sekali. Dasar Minho  bocah nakal. Belum puas, Minho yang sekarang justru bermain ayunan memanggil Onew untuk mendorong ayunannya. Lama Minho berayun, Onew terlihat minta giliran tapi Minho tidak mau. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

 

“Pulang saja kau Onew, menangis yang kencang dan adukan Minho pada ibumu. Biar bocah itu tahu rasa. Kau juga kenapa masih mau berteman dengannya padahal Minho itu tidak pernah mau mengalah? Kau ini.” celoteh Soon Ja tidak jelas dari atas kamarnya.

 

Soon Ja, Soon Ja, mana mungkin Onew mendengar suaramu? Urusi saja masalahmu sendiri. Masalah Chanyeol saja masih kau bingungkan setengah mati.

 

Tiba-tiba Soon Ja ingat, bahwa percuma saja usahanya mengejar Chanyeol selama ini. Buktinya saat ia sudah berhadapan dengan Chanyeol, Chanyeol meliriknya saja tidak. Soon Ja kembali bersedih. Ditutupnya tirai kamar itu, menghentikan aktifitasnya mengamati empat bocah nakal yang masih bermain entah sampai kapan itu.

 

Amber sadar bahwa pikiran Soon Ja belum bergeming dari masalah Chanyeol pagi tadi, maka berinisiatiflah dia untuk menghibur Soon Ja.

 

“Soon Ja! Jangan diam saja! Ini tidak terlihat seperti dirimu.”

“Memang aku itu seperti apa?”

“Soon Ja yang kukenal adalah Soon Ja yang pantang menyerah dalam memperjuangkan cintanya. Tak ada Donghae sunbae, Chanyeol pun jadi. Nah, jika tak ada Chanyeol, Soryeong pun jadi.”

“Amber, apa kau sakit? Siapa juga Soryeong itu?”

“Soryeong itu saudara kembarnya Doryeong.”

“Ouh, Doryeong suami impianmu itu? TASTY!”  ejeknya.

 

Amber terpana. Bagaimana Soon Ja bisa tahu?

 

“Aku tahu karena aku membaca buku harianmu, Amber. Hehehe, Maaf tidak bilang-bilang.”

“Mati kau Lee Soon Ja!”

 

Terjadi kejar-kejaran yang mengasyikkan. Kamar Soon-Ber pun menyerupai kapal pecah. Amber tidak peduli kaki tempat tidur Soon Ja patah. Toh itu bukan miliknya.

 

Tar! Pyaarrrr!!

 

“Lampu tidurku!!” teriak Amber.

“Ampun Amber, aku tidak sengaja. Berhenti! Aku lelah.”

“Persetan dengan persahabatan, lampu itu aku beli di Kanada!!”

“Amber!!!”

“Aw!”

“..”

“Sakit!”

“..”

“Ampun!!Jangan jambak aku!”

 

Karena lelah terus bertengkar dengan Amber terlebih bertengkar dengan Amber pasti tidak akan ada habisnya, Soon Ja langsung meraih pintu dan keluar sebelum Amber menyadarinya. Tak lupa ia langsung mencabut kunci pintu dan menguncinya dari luar.

Soon Ja tersenyum jahil. Jarang sekali ia mengerjai Amber. Tapi ia kasihan juga dengan Amber. Setelah marah-marah Amber pasti lapar.

 

Soon Ja merogoh sakunya celananya. Ia menemukan beberapa benda yang tidak lazim ada di seorang saku perempuan muda sepertinya.

Plastik roti bekas sarapan tadi pagi

Karet bekas beli poster 2PM di pinggir jalan

Ponsel senter miliknya dari kecil

Uang 50.000 won hasil tagihan hutang dari Amber sore tadi

Uang logam 500 won sisa naik bis dari Itaewon kemarin

Bulpen yang hampir habis tintanya

Dan hasil kertas ulangan fisika Soon Ja yang nilainya 16

 

“Bisa-bisanya  barang nista ini ada di sakuku. Pantas saja ibu bilang aku tidak akan pernah dapat pacar kalau aku masih seperti ini. Hm..”

 

Soon Ja merutuki dirinya sendiri sambil terus berjalan dari koridor asrama melewati ruang laundry sekalian ia hendak mengambil jaketnya yang masih ada di sana.

Berhasil menemukan jaket lusuhnya diantara baju-baju trendy milik teman-temannya, Soon Ja malah semakin menghembuskan nafasnya berat.

 

‘Benarkah aku terlalu berbeda dengan yang lainnya? Benarkah aku orang yang tidak lazim?’

 

Soon Ja menatap barang tak berguna hasil sakunya itu, gadis lain seusianya pasti mengantongi lipbalm, kaca, atau ponsel keluaran terbaru. Semua miliknya sangat tidak berguna. Tentunya kecuali dengan ponsel dan uang.

 

Pandangannya berhenti sebentar pada  bulpen dan kertas ulangan itu. Tanpa basa-basi  ia mencurahkan isi hatinya pada secarik kertas nista yang jangan sampai ibunya tahu kalau ia mendapat nilai sejelek itu. Hitung-hitung mengurangi stress.

 

Ini adalah sesuatu yang ingin kukatakan padamu sejak dulu. Sampai sekarang aku belum mengatakannya karena… yah, karena berbagai alasan.

Dan alasan utamanya adalah karena aku takut.

Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan?

Apakah kau akan menerima pengakuanku?

Atau apakah justru kau akan menjauh dariku?

Meninggalkanku?

Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya.

Entah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.

Jangan pergi melampau batas hingga aku tidak dapat melihatmu. Kumohon..

Biarkan aku tetap menjadi pengagum rahasiamu.

 

Aku kesal setengah mati padamu karena kau selalu menganggapku angin lalu.

Aku kesal setengah mati padamu saat kau tidak pernah melihatku.

Aku kesal setengah mati padamu saat kita berpapasan dan kau terus terpaku dengan sikap dinginmu.

Tapi di balik kata ‘aku kesal setengah mati padamu..’

 

Aku menyukaimu setengah mati meskipun kau mengacuhkanku.

Aku menyukaimu setengah mati biarpun aku harus menunggu lama agar kau tahu.

Aku menyukaimu setengah mati sampai aku mau melakukan apapun untukmu. 

Amber selalu bilang, “Kenapa aku hanya melihatmu, meski banyak yang lain” atau “sampai kapan kau menunggu Chanyeol, Soon Ja?”

Jawabannya? Karena aku cinta Park Chanyeol. Karena aku mencintaimu.

 

Kau dan aku bagaikan langit dan bumi. Kau langit yang indah dan bertebaran dengan bintang juga penuh dengan sinar. Aku bumi yang suram dan kotor karena tanah dan debu. Mengenaskan, bukan?

Yah biarlah , itu karena kau terlalu sempurna di mataku dan lagi pula kau sulit untuk digapai. 

Apakah salah aku berharap lebih? Apakah boleh aku berharap, suatu saat nanti kau akan datang kepadaku, dan kita bersama.

Apakah boleh bumi ini berharap kalau langit akan  menjatuhkan bintangnya ke bumi yang butuh cahaya ini? Semoga saja..

Setidaknya aku punya suatu harapan untuk aku jaga.

 

Kau jauh dariku, tapi aku masih berjebak di tempat yang sama. Masih di tempat yang sama. Ini salahku untuk mencintaimu lebih dari kau mencintaiku.

 

Baiklah, aku memaklumi semuanya, mungkin Tuhan belum membukakan mata hatimu.

Aku berharap ada keajaiban kau membaca curahan hina dariku ini.

Baiklah, aku kesal setengah mati padamu itu artinya aku menyukaimu setengah mati.

Chanyeol, perasaanku padamu itu tulus. Aku tidak meminta apapun padamu selain apa adanya dirimu sekarang.  

 

PS: Hal yang sama juga terjadi pada Amber. Amber menyukai Kris sama seperti aku menyukaimu Park Chanyeol. Tapi jangan bilang aku yang mengatakannya, Amber akan membunuhku.

 

 

Lee Soon Ja

 

Soon Ja membaca ulang hasil curahan hatinya, dan ia sadar betapa mengenaskan dirinya. Tapi siapa yang peduli akan hal itu? Tak seorang pun.

Ia pun melipat kertas itu lalu membungkusnya dengan plastik roti bekas sarapan tadi pagi lalu mengikatnya dengan karet bekas beli poster 2PM di pinggir jalan.

 

“Aku apakan semua ini? Ah, cari saja tempat sampah dalam perjalanan membeli makanan. Selesai, kan?”

 

Soon Ja menengadahkan kepalanya menerawang kaca besar ruang laundry. Menatap lurus dua bintang yang bersinar paling terang

 

“Andai saja bintang yang bersinar paling terang itu adalah aku dan Chanyeol.”

 

Betapa bodohnya dia. Kedua bintang itu bahkan saling berjauhan. Jaraknya pastilah jutaan tahun cahaya. Bagaimana dia bisa bersatu dengan Chanyeol kalau mengandai-andai saja masih salah seperti itu.

 

Soon Ja pun tersenyum lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruang itu untuk pergi ke luar membeli makanan.

 

oOo

 

Kris baru saja pulang futsal. Memang setiap Kamis malam, ia sering bertanding futsal dengan Luhan dan kawan-kawan. Selain basket ia juga suka bermacam-macam jenis olahraga. Begitulah dirinya, memang terkadang ia terlihat bodoh namun jiwa sportship sangat melekat kuat padanya.

 

Ia melangkah dari aula utama yang menjadi pintu masuk asrama. Lalu ia bergegas pergi ke asrama pria yang ada di sebelah timur bangunan. Belum sampai ia meninggalkan sebuah lorong yang menghubungkan asrama pria wanita, buru-buru ia dikejutkan dengan suara gemuruh yang disertai teriakan. Kris menghentikan langkah sebentar, rasa ingin tahunya baru saja muncul, namun ia langsung dihadapkan sengan situasi yang tidak dapat ia hindari. Kris baru saja ingin melangkah..

 

BRUUKKK…

 

Seorang gadis berlari dan menabraknya, parahnya dia jatuh menindih Kris. Membuat pose awkward yang kerap kita lihat dalam drama-drama. Aku harap Kris tak mati tertindih gadis itu.

 

Tapi tunggu dulu, bukankah itu Soon Ja? Teman Amber si tomboy. Jadi benar, rumor yang mengatakan jika gadis ini aneh sering sial dan membuat masalah. Dan korbannya malam ini adalah Kris.

 

Karena suara benturan kedua insan yang jatuh sampai ke lantai ini cukup keras, beberapa pasang telinga mendengarnya dan segera menghampiri tempat ini.

 

Luhan, Tao, Minseok, Lay, dan Jongdae memang ada dibelakang Kris dari tadi. Mereka meninggalkan lapangan tak lama setelah Kris pergi. Dari mereka ada di belakang Kris, hanya saja Kris tidak menyadarinya.

 

Mereka memandang takjub dua orang yang saling bertautan terbaring di lantai ini. Bagaimana tidak? Dari tadi Kris tak melepaskan pandangannya dari mata Soon Ja. Begitu juga Soon Ja. Entah karena terlalu terkejut atau apa,  Soon Ja seakan membeku, tak ada niat untuk bangkit dari posisinya yang menindih Kris.

 

Rasanya ingin sekali mengabadikan moment paling langka ini. Inisiatif ini juga yang diambil oleh Luhan. Bisa jadi ini jadi satu-satunya sejarah dalam hidup Kris dengan judul ‘diseruduk gadis’.

 

Ckrekkk…

 

Luhan kalah cepat. Tao sudah mengambil gambar mereka duluan.

 

“Lumayan untuk jadikan koleksi,” katanya.

“Tao-ya, aku minta,” ujar Luhan bersemangat.

“Kau dapat bonus malam ini, Kris!” Sorak Jongdae.

“Ah, maafkan aku, ini salahku,” kata Soon Ja setelah ia bangun terlebih dulu karena dibantu Minseok, sedangkan Kris dibantu Lay.

 

“YAK! LEE SOON JA!” teriak Amber terdengar lalu disusul sosoknya yang berlari dan muncul dari lorong berbelok itu.

 

Semua serentak menatap Amber, Amber baru menyadari dirinya membuat pusat perhatian lalu tersenyum kikuk mendekati Soon Ja yang dikepung enam pria tampan. Amber sudah ada di sampingnya, tamatlah semuanya. Amber menyodok siku Soon Ja pelan.

 

“Aw!” pekik Soon Ja. Pelan namun menyakitkan, Soon Ja yakin sikutnya pasti biru memar karena jatuh tadi.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kris membuat Amber membulatkan matanya. Ada apa sebenarnya? Apa yang baru saja dia lewatkan?

“Apa yang terjadi?” Amber menuntut penjelasan dari Soon Ja.

“Tidak apa-apa, dia hanya jatuh  saat kami melihatnya. Bukan begitu, Kris?” Luhan mengendalikan suasana.

 

‘Kau akan berterima kasih padaku kali ini, Kris,’ batin Luhan bangga.

 

Kris mengangguk sambil tersenyum kikuk. Yang lain langsung berpamitan dan pergi meninggalkan Soon Ja dan Amber sendirian. Soon Ja sedikit merasa bersalah, ia bahkan belum mengucapkan permintaan maaf lebih lanjut pada Kris.

 

oOo

 

Soon Ja POV

 

Aku baru saja selesai mengambil jaket namun aku mendengar suara hantaman dari jauh. Jangan-jangan Amber berhasil mendobrak pintu kamar kami. Mati aku!

 

Aku buru-buru memasukkan kembali sampah yang akan aku buang ini ke saku jaketku. Aku keluar ruang laundry. Dan setelah aku mau pergi ke bawah, Amber menatapku dari kejauhan dengan matanya yang berapi-api. Aku bisa lihat hidung besarnya sudah seperti banteng yang siap berhadapan dengan matador. Tanpa ancang-ancang, aku berlari sekuat tenaga. Aku tak peduli akan lari kemana yang penting selamat dari Amber dulu.

 

Aku hampir menuruni tangga, tiga-tiga anak tangga sekaligus. Aku bertemu lorong lurus dan berbelok lalu ada lorong lurus yang menuju ke aula, aku lupa setelah ini ada persimpangan diantara lorong terakhir. Aku tidak mengamati sekitar. Saat berlari aku hanya bisa melihat kakiku sendiri. Dan..

 

BRUUKKK…

 

Aku rasa aku menabrak tiang. Orang itu tinggi sekali. Aku mencoba melihat orang yang jadi korban tabrakku, itu Kris. Tuhan, aku mati jika Amber melihat ini. Amber amat sangat menyukai manusia ini, terutama matanya. Yah, kini aku tahu yang Amber maksud. Mata yang ada di depanku ini menatapku dingin, namun aku merasa ada kharisma sendiri di sana.

 

Beberapa orang beramai-ramai menghampiri kami, aku baru sadar dari tadi aku masih menindihnya. Seorang berpipi bulat menolongku bangun. Oh, dia adalah Minseok. Aku jarang melihatnya. Sikapnya terkenal acuh dengan lingkungan dan memilih diam saat berbaur dengan teman-temannya. Tapi ternyata dia juga baik hati. Buktinya dia yang pertama menolongku. Bukannya Huang Zitao yang justru sibuk menertawai hasil foto jepretannya.

 

“Ah, maafkan aku, ini salahku,” aku benar-benar menyesal telah bertindak ceroboh seperti tadi.

 

Kris sudah bangun dibantu Lay. Ia bangun agak tergopoh-gopoh. Pasti ia juga merasa sakit. Apakah aku sampai mencederainya? Jika iya, aku pasti akan dibunuh siswa perempuan satu asrama yang semuanya adalah fans Kris si kapten basket. Apalagi Amber, roommate yang paling mengerikan yang pernah aku punya.

 

“YAK! LEE SOON JA!” teriak Amber terdengar lalu disusul sosoknya yang berlari dan muncul dari lorong berbelok itu.

Itu Amber. Bagaimana jika ia tahu kalau aku baru saja menabrak Kris? Aku masih ingin menikah dan punya anak dengan Park Chanyeol. Tuhan, selamatkan aku.

 

Pria-pria ini ikut menatap kedatangan Amber. Menyadari dirinya membuat pusat perhatian ia lalu tersenyum kikuk mendekatiku. Bilang saja dia salah tingkah melihat Kris ada di sampingku. Ia langsung mendekatiku dan berdiri di sampingku juga. Membuat aku ada di antara dia dan Kris. Dasar anak ini, kenapa dia tidak berdiri di samping Jongdae saja?

 

Amber menyodok sikutku dan itu sakit.

 

“Aw!” gadis ini tenaganya memang berbeda. Sodokan pelan rasanya seperti tinjuan.

 

Aku yakin sikutku pasti berwarna biru karena memar. Kris nampak khawatir padaku. Amber sukses terkena serangan jantung, aku harap dia langsung terkena stroke dan mati. Untung saja Luhan bisa menjelaskan secara sederhana.

 

“Tidak apa-apa, dia hanya jatuh  saat kami melihatnya. Bukan begitu, Kris?”

 

Luhan terlihat tenang mengatakannya. Kris mengiyakannya dan terlihat sedikit gugup. Mencurigakan. Sebenarnya aku bersyukur dan sangat berterimakasih karena Luhan mengarang cerita lain agar aku tidak terkena amukkan Amber. Namun kenapa dia mengatakan kalau aku jatuh sendiri? Kenapa dia harus berbohong pada Amber? Ah yang itu aku tidak perlu tahu, yang penting aku terbebas dari amukkan Amber.

 

Mereka pergi. Amber nampak mengasihaniku. Sebenarnya ini semua ini bukan hanya salahku. Amber juga menyumbangkan sepersekian persen dari alasan aku berlari, bukan? Maka dari itu dia terlihat menyesal. Dia membantuku berjalan kembali ke kamar.

 

Sampai di depan kamar aku menelan ludah. Tenaga gadis ini benar-benar. Gagang pintu hampir lepas, hanya tergantung mengenaskan. Engsel atas pintu juga sudah tidak berbentuk lagi. Aku memandang Amber sekilas dan melihat cengiran khasnya.

 

“Kuperbaiki besok saja, kebetulan aku ingin bolos matematika.” Baguslah, aku tidak perlu memanggil tukang reparasi besok.

 

Sampai di kamar aku langsung duduk di tempat tidur Amber, satu-satunya properti yang selamat. Saat aku meninggalkan kamar ini aku ingat betul jika tempat tidurku patah disalah satu kakinya. Namun yang kulihat tempat tidurku nyaris terbelah jadi dua. Dia pasti melampiaskan kemarahannya pada barang-barangku saat dia tahu aku menguncinya. Dasar Ambe!

 

Amber menyodorkan kotak obat padaku. Apakah sekarang aku harus mengobati lukaku sendiri? Teganya.

 

“Ini,” serahnya.

“Amber..” aku berusaha memelas belas kasihnya.

“Aku ingin membantumu, tapi aku tidak bisa. Aku tidak pernah ikut Palang Merah Remaja.”

 

Pada akhirnya, aku harus melakukan semuanya sendiri. Amber hanya duduk di sampingku melihat aku mengobati sikutku yang biru juga lututku yang sedikit berdarah. Aku tahu dia lelah. Ia sudah ‘berolahraga’ malam ini, mengejarku, dan marah-marah. Dia jadi tak terlalu banyak bicara. Dia pasti lapar. Aku jadi iba melihatnya. Oh, iya. Aku lupa jika aku tadi ingin membelikan makan malam untuknya.

 

“Aw!” Amber sengaja menyentuh sikuku seakan mengetest-ku, apa ini benar-benar sakit atau tidak.

 

Aku melotot padanya dan dia hanya meringis.

 

“Ini tidak apa-apa dibanding rasanya saat kau jatuh di lapangan basket.”

“Siapa juga yang mau jatuh di lapangan basket,” aku menambahkan dalam hati, ‘kalau aku bisa jatuh pada kapten basketnya, haha menggelikan.’

 

Selesai. Aku ingin melepas jaketku, pergi ke kamar mandi, lalu tidur. Tapi aku merasa ada yang kurang. Apa aku melupakan sesuatu? Ah, lupakan. Aku terlalu lelah untuk memikirkannya.

 

“Amber, bolehkah aku tidur denganmu?”

 

Soon Ja POV END

 

oOo

 

Semoga saja surat itu tidak jatuh..

Lebih parah lagi jika terbaca..

 

~TBC~

 

Recommended song:

♫ Do you want some tea – Hello Venus♫

Jika tidak suka lebih baik tidak usah didengarkan karena dapat menimbulkan bash *uhuk* *baek* *uhuk* *hellovenus* *uhuk* *baeksudahadayangpunya* *uhuk* *tae* *uhuk* *yuni-raffi*

 

Some how, saya minta maaf kepada pemilik asli ide cerita ini, @suholatte, karena saya telah menggunakan ide ceritanya untuk dikembangkan tanpa izin dari beliau. Tapi saya sudah mencoba mencari identitas @suholatte nim namun tidak berhasil menghubunginya. Maka dengan ini saya meminta izin beliau jika beliau membaca fiction ini..

Ubahan yang lain murni dari pemikiran saya jadi jika ada kesamaan latar, tempat, dan tokoh selain milik @suholatte, itu tidak mengandung unsur kesengajaan. Sekali lagi saya juga manusia biasa yang menyalurkan apresiasinya lewat fiction. Sekian dan terima kasih.

Ingat! Nggak komen, dosa!

Advertisements

5 thoughts on “[Freelance – Chapter 1] The Way to You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s