What’s Going On? [4]

Written: @araiemei

Cast:

Kim Seojung | Park Chanyeol | Lee Hyena | Do Kyungsoo

Kim Jongin | Kim Woobin

Genre: Comedy | Romance | Family

Rate: PG

Seojung sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan menjadi menu perayaan ulang tahunnya malam ini. Udangan tidak terlalu banyak. Hanya beberapa teman selagi duduk di sekolah menengah dan di universitas, serta rekan-rekan guru di tempatnya mengajar, dan tiga orang murid di kelasnya

Tidak ketinggalan Hyena. Gadis itu datang membawa hadiah yang sangat besar menurut Seojung. Kalian tahu apa? Kartu undangan!

Seojung tengah memanggang barbeque saat Hyena menghampirinya. Ia bahkan tidak sempat meletakan jepitan daging di tangannya begitu Hyena dengan segera datang memeluk tubuhnya.

Setelah mengucapkan selamat ulang tahun, Hyena mengeluarkan sesuatu dari tas bahunya. Sebuah kotak kado kecil berwarna merah muda. Dahi Seojung mengerut saat menerimanya.

“Akhir-akhir ini sepertinya kau senang dengan warna pink,”

Seojung tergelak. Ya, dirinya ingat beberapa waktu yang lalu, saat mereka bertemu di café dan ia sengaja mengenakan dress berwarna merah muda. Padahal sewaktu di California, dia pernah memberitahu Hyena jika sebenarnya dia mempunya list hal-hal yang tidak ia sukai. Salah satunya warna pink.

Sampai akhirnya Hyena mengeluarkan sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Kami akan menikah dua bulan lagi.” Seojung memandangi sesaat sebelum menerima selembar kartu merah hati yang Hyena sodorkan. “Awal musim panas. Kyungsoo yang merencanakannya.”

“Oh! Geurae?” Seojung melihat wajah Hyena mengembangkan senyum bahagia, “Chukhaeyo, eonni,”

Lalu Hyena memeluknya lagi.

Do Kyungsoo, laki-laki itu benar-benar akan menikah. Seojung tersenyum mengingat namanya. Ia masih tengah memanggang daging yang dibungkus dengan kertas alumunium di halaman belakang rumahnya. Undangan sepertinya sudah hadir semua. Mereka tidak banyak, karena memang Seojung tidak pernah merayakannya secara besar-besaran. Ini boleh dibilang hanya perayaan kecil. Beberapa tamu nampak tengah bercengkrama asik di matras yang digelar Seojung di tengah-tengah halaman.

Seojung ditemani salah seorang anak muridnya yang datang malam ini. Namanya Han Dallae.

Seonsaengnim,” panggilnya sambil menyodorkan nampan yang berisi daging mentah ke arah Seojung.

Seojung mengambilnya, “Gomawo!” ia tersenyum, lalu memulai untuk meletakan potongan-potongan daging itu ke atas pemanggang di depannya.

Tapi, lagi-lagi Dallae bersuara, “Seonsaengnim,”

Seojung menggumam lembut menanggapinya, masih tidak mengalihkan fokusnya sama sekali dari pemanggang daging.

Ahjussi yang di taman itu datang ke sini.” Perkataan Dallae kali ini berhasil membuat Seojung tersentak.

Ahjussi siapa?” tanyanya persis seperti waktu di taman beberapa hari yang lalu.

“Itu!” Gadis kecil di sampingnya itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah depan—ke arah pintu keluar menuju halaman belakang. Seojung mengikuti arah telunjuk mungil itu, dan sontak membulatkan matanya besar-besar. Dallae ternyata tidak berhalusinasi. Gadis itu benar. Laki-laki itu ada. Park Chanyeol hadir ke pestanya!

Seojung membawa Chanyeol ke ruang tengah rumahnya. Duduk berhadapan, tanpa berani memandang wajah laki-laki itu. Setelah kejadian di Hongdae beberapa hari yang lalu, suasana benar-benar menjadi kaku. Seojung mungkin tidak se-emosi malam itu lagi, tapi ia tetap tidak bisa memaafkan apa yang hampir dilakukan Chanyeol kepadanya.

Laki-laki itu membuatnya benar-benar kecewa.

“Kau belum kembali ke Gwangju?” Suara Seojung terdengar dingin.

“Maafkan aku dulu, baru aku bisa kembali.”

Seojung menghela nafas sebelum membuka suaranya lagi, “Sudahlah,” ucapnya, “aku tidak pernah menganggap itu terjadi. Jadi, lupakan saja.”

Chanyeol menampilkan tatapan mata yang penuh dengan sirat penyesalan. “Tidak bisakah kau bersikap seperti semula? Aku sadar jika aku keterlaluan, dan aku benar-benar minta maaf karena itu. Apa ini benar-benar tidak bisa terima?”

Seojung mengerutkan dahinya begitu menatap Chanyeol.

“Aku menunda keberangkatanku sampai besok,” ucap Chanyeol lagi.

“Lalu?”

“Apa kau bisa datang? Besok pagi di stasiun Seoul? Aku selalu berharap mendapatkan teman baik selama berada di sini. Semoga kau tidak keberatan.”

Seojung diam. Chanyeol pun diam. Mereka tidak tahu harus mengeluarkan kata-kata lain seperti apa lagi.

Bagi Seojung permintaan Chanyeol tidaklah menyulitkan sama sekali. Selama ini, dia baik-baik saja jika harus menjemput dan mengantar teman-temannya yang datang dari daerah lain ke tempatnya. Dia sangat menyukai hal itu malah. Dia suka saat-saat di mana ia dan temannya saling melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu, dan mengucapkan janji untuk saling mengunjungi setiap kali mereka berpisah.

Tapi, kali ini…

Chanyeol benar-benar membuatnya harus bertarung di dalam hatinya. Antara menjadi seorang teman yang baik, atau tetap mempertahankan gengsi. Ia masih belum bisa menunjukkan jika ia sudah memaafkan laki-laki itu. Ia masih ingin membuat Chanyeol merasa menyesali sikapnya kemarin.

Sekalipun ia mengatakan kalau dirinya sudah melupakan kejadian itu.

“Seojung ie! Tebak siapa yang datang malam ini!” Suara ibunya menyeruak memenuhi setiap sudut rumahnya. Benar-benar seperti toa. Ibunya memang selalu seperti ini jika ada hal yang membuatnya antusias.

Seojung dan Chanyeol mengalihkan fokusnya. Wanita paruh baya itu berdiri di dekat pintu masuk. Sejenak mengamati sosok lain yang berada di ruang tamu itu.

Chanyeol serta merta bangkit dari posisinya, menyapa dengan sopan ibu Seojung dengan sedikit merundukan tubuhnya yang jangkung. “Annyeonghasimnikka.”

Sayangnya ibu Seojung tidak mengetahui siapa sebenarnya yang menyapanya. Tidak tahu jika sosok itu adalah orang yang sempat dimintanya untuk menjalani kencan buta dengan anaknya beberapa hari yang lalu. Wanita itu hanya merunduk membalas sapaan Chanyeol. “Ah, nde.”

Lalu ia kembali menatap Seojung dengan senyum lebar penuh arti. Sementara Seojung menatapnya bergidik lantaran terancam dan merasa ada yang tidak beres dari sikap tiba-tiba ibunya.

“Kemarinlah, nak!”

Seojung bahkan belum bisa mencerna kalimat ibunya, saat seseorang muncul dari balik daun pintu yang terbuka. Seorang laki-laki berkemeja putih hadir di hadapan Seojung dengan senyuman yang menawan. Ibunya cepat-cepat menghambur ke arah laki-laki itu, memegang salah satu lengannya, lantas menatap ke arah Seojung.

“Ibu mengundangnya.”

Seojung tidak menelan apapun saat itu, tapi ia benar-benar ingin tersedak keras-keras. Laki-laki itu bukanlah orang baru yang ia lihat. Dia mengenalnya. Malah cukup banyak mengenalnya.

Seojung hanya bisa menggumam lirih menyebutkannya, “Woobin sunbae!”

Ya, laki-laki yang berdiri di samping ibunya itu adalah Woobin. Orang yang pertama kali mengatakan cinta kepadanya saat ia masih duduk di tingkat kedua menengah pertama, dan orang pertama yang mengisi lembaran kisah cinta monyetnya. Lebih singkat, Woobin adalah cinta pertama seorang Kim Seojung.

Di sudut pandang yang lain, Chanyeol hanya bisa memandangi bergantian orang-orang di ruangan itu. Masih tidak mengerti, namun bisa merasakan aura tidak nyaman yang mulai menjalar di sekitarnya.

Laki-laki itu, siapanya Seojung?’ Adalah pertanyaan terbesarnya saat ini.

Chanyeol merasa atmosfer di halaman belakang tempat Seojung mengadakan peringatan ulang tahunnya benar-benar tidak bersahabat. Ia sedikit banyak menekan perasaan kesal di dalam dirinya setiap kali melihat ke arah Seojung. Sejak laki-laki bernama Woobin itu datang, mereka terlihat tidak pernah melepas satu sama lain.

Ia merasa iri dengan kedetakan mereka. Seojung benar-benar terlihat hangat saat bersama laki-laki itu. Ia pikir, sikap Seojung saat mereka bersama-sama berkunjung ke Changdeokgung adalah yang paling menyenangkan. Dan ia salah, Seojung ternyata jauh terlihat lebih menyenangkan saat bersama Woobin.

Terlihat dari bagaimana Woobin bisa membuat Seojung tertawa, hanyut dalam obrolan-obrolan mereka, atau pukulan-pukulan kecil yang sesekali gadis itu layangkan ke lengan Woobin saat ia—sepertinya—dikerjai oleh laki-laki itu. Sikap yang tidak pernah ditunjukan Seojung saat bersamanya.

Kini, mereka duduk mengitari meja panjang. Chanyeol yang duduk di sebelah Hyena, berusaha keras menekan perasaannya. Seojung duduk di depannya bersama Woobin di sampingnya. Mereka masih saja bercanda, dan pemandangan itu membuat Chanyeol benar-benar ingin membenamkan diri ke bumi.

Jujur saja, Chanyeol memang tidak bisa bersikap tenang. Seojung sudah terlalu banyak mengambil posisi di hatinya. Diam-diam gadis itu membuatnya berharap terlalu tinggi. Dan, jika mengingat obrolannya dengan Hyena beberapa saat yang lalu, ia seolah-olah dijatuhkan sekeras-kerasnya.

Ya, Hyena memberitahunya suatu fakta yang menyakitkan menurutnya.

Kau yakin dia Woobin?” tanya Hyena sedikit terkejut saat Chanyeol memberitahunya siapa laki-laki yang sedang berdiri memanggang daging bersama Seojung. Matanya tidak lepas memandangi dua orang manusia yang hanyut dalam obrolan—seolah-olah tidak peduli dengan keadaan sekitar.

Chanyeol mengangguk, “Oh!” sahutnya, “seperti apa yang kudengar, Seojung memang memanggilnya dengan nama itu.” Ia menatap heran ke arah Hyena, “Waeyo?”

Hyena belum menjawabnya. Beberapa detik masih memandangi Seojung dan laki-laki yang disebut ‘Woobin’ oleh Chanyeol tadi.

Lalu, ia beralih menatap orang di sampingnya. Chanyeol mengerutkan alisnya, cukup lama menunggu jawaban dari mulut Hyena. “Kau mengenalnya ya?”

Hyena menggeleng, “Aku tidak mengenalnya secara langsung, hanya dari cerita-cerita Seojung.”

Kau menyukainya?” Pertanyaan Hyena kemudian membuat Chanyeol tersentak. Ia melebarkan matanya yang bulat.

Nde?” Chanyeol berpura-pura tidak mengerti. Padahal dari raut wajahnya saja, orang bisa melihat gelagatnya yang aneh.

Kau menyukai Seojung?”

Chanyeol mencoba tertawa sebelum menanggapi perkataan Hyena, “Kau bilang apa? Itu tidak mungkin sama sekali. Kau bercanda.” Lalu ia tertawa lagi. Dan ia tahu ini hanya akan membuatnya terlihat lebih bodoh. Oh, ayolah… Hyena kenapa harus membahas topik yang seperti ini?

Kau belum terlambat. Kau masih bisa mendapatkannya.” Chanyeol mengikuti gerak mata Hyena yang kembali menatap ke arah Seojung. “Laki-laki itu hanya mantannya.”

Hyena menepuk-nepuk pundak kanan Chanyeol, “Walaupun Woobin adalah cinta pertamanya, tapi itu belum berarti laki-laki itu yang akan menjadi cinta terakhirnya. Seojung hanya terlalu egois terhadap dirinya sendiri. Terlalu mementingkan pemikiran-pemikiran luar yang tidak menguntungkan sama sekali. Ia memiliki gengsi yang sangat tinggi untuk mengakui keinginannya yang sebenarnya. Yang perlu kaulakukan adalah mengubahnya dan meyakinkannya.”

Chanyeol menghela nafas panjang, “Apa sih yang kaubicarakan? Aku tidak mengerti.”

Dan, Hyena menyahutnya cepat. “Itulah yang paling menyedihkan darimu.”

Chanyeol memasukan telepon genggamnya ke dalam saku. Ayahnya baru saja menghubunginya beberapa saat yang lalu.

Ia tengah duduk menyikut ransel di sebuah bangku kayu di Seoul station. Menunggu kedatangan kereta yang akan membawanya kembali ke Gwangju. Ia sudah sedikit berlapang hati sekarang, lantaran ayahnya sudah tidak mendesaknya lagi dengan permintaan konyol yang beberapa waktu ini sangat menyiksa batin Chanyeol. Oh, maafkan Chanyeol jika harus menyebutnya dengan ‘permintaan konyol’.

Lakukan apa yang ingin kauselesaikan lebih dahulu.” Adalah kalimat yang keluar dari mulut ayahnya setelah sempat terjadi perang argumentasi di antara mereka. Meskipun kalimat itu terdengar tulus, dan ayahnya berjanji untuk tidak mengungkit-ungkit prihal pernikahan lagi, serta menyerahkan segala keputusan kepadanya. Namun sebenarnya, di sudut hatinya, ada sedikit perasaannya tidak bisa dipulihkan secepat dan semudah yang dibayangkan.

Ia masih merasa ada yang salah dengan dirinya. Rasa sesak yang lebih nyata.

Sudah setengah jam lebih dia duduk di bangku tunggu sendirian. Di dalam hati ia berperang. Ia ingin menegaskan pada dirinya jika yang ia tunggu saat ini adalah kereta jalur Honam yang akan membawanya pulang ke Gwangju. Bukan seseorang, dan bukan siapapun. Tapi, anehnya, Chanyeol masih saja mencoba menyisir keadaan sekeliling—siapa tahu ada sosok yang dikenalnya datang untuk memberangkatkannya.

Ia menghela nafas panjang. Pemberitahuan baru saja terdengar jika kereta yang akan membawanya tiba beberapa menit lagi. Chanyeol bangun dari posisinya, mencoba membuang apapun yang mengganggu pikirannya selama di Seoul. Tangan kanannya memegang tiket KTX, sementara tangan kirinya menggeret kopernya, Chanyeol pun memantapkan langkahnya menuju gerbong kereta yang akan mengantarkannya kembali ke Gwangju.

Gadis itu memang tidak akan datang. Chanyeol tahu, dan sudah seharusnya ia melupakannya—seperti perkataan Seojung waktu itu. Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Mereka tidak pernah bertemu—selain hanya sebagai rekan pertukaran beberapa tahun yang lalu.

10.40 am.

Seojung menghela nafas pelan. Terlintas dibenaknya untuk memutar balik haluannya, lantas melesak menuju Yongsan-gu.

Tapi, Seojuung tahu, ia sudah terlambat sepuluh menit.

Mungkin saja laki-laki itu sudah berjalan meninggalkan kursi tunggunya, atau mungkin saja sekarang ia sudah masuk ke dalam gerbong kereta.

Lebih baik tidak usah, pikir Seojung. Tidak ada gunanya untuk memaksakan diri. Lagipula ia punya tugas besar hari ini.

Noona.” Seojung tidak mengalihkan fokusnya dari jalan, hanya menanggapi suara seseorang dari kursi samping kemudi itu dengan gumaman pelan. “Kau akan menungguku sampai shooting itu selesai, kan?”

“Umh…,” Seojung nampak berpikir untuk beberapa detik, “sebenarnya sih tugasku hanya mengantar dan menjemputmu. Eomma yang akan menemanimu di sana. Tapi, kita lihat saja nanti.”

Seojung menoleh ke samping, dan melihat bagaimana wajah anak laki-laki itu tertekuk setelah mendengar jawabannya, “Waeyo?”

Adiknya menggeleng. “Ahni,” sahutnya.

Lalu mereka tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Sampai adiknya kembali memanggilnya, lantas melontarkan pertanyaan yang terkesan mendadak bagi Seojung, “Noona, apa kau benar-benar akan menikah?” Dan hampir saja membuat Seojung menekan rem mobilnya kuat-kuat saat itu juga. “Kau benar-benar akan meninggalkan rumah? Lalu aku tinggal sendirian?” Jongin bersuara lagi.

“Hey! Apa yang kaubicarakan?” Seojung menyahut. Sejenak menoleh ke arah adiknya.

Eomma mengatakannya. Kau sebentar lagi akan menikah.”

Seojung membuang nafasnya kuat-kuat. Dari sekian hal yang benar-benar dihindarinya akhir-akhir ini adalah yang berkaitan dengan pernikahan. Ia tidak menyukai jika orang-orang di sekitarnya mengangkat topik yang berhubungan dengan hal itu.

Ayolah, Jongin. Jangan membicarakan hal ini.

Seojung mendesah di dalam hatinya. Berharap Jongin berhenti membahas hal ini—atau lebih baik lagi jika ia berhenti berbicara. Sebelum emosinya benar-benar tersulut, karena ia selalu menghindari pertengkaran dengan adiknya. Jadi, mohon untuk jangan merobohkan benteng pertahannya hari ini.

Jongin menatap wajah kakaknya lekat-lekat.

“Setelah eomma dibawa oleh suami barunya, aku masih bisa tenang, karena aku punya noona.”

Seojung berusaha untuk tidak menananggapinya dan fokus mengemudi. Semoga Jongin bisa membaca raut wajah kakaknya saat ini, dan menghentikan semuanya segera.

Setelah beberapa menit mereka hanya saling diam satu sama lain, Jongin menggerakan kepalanya untuk membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil mereka. Seojung melirik ke arahnya sejenak, “Jongin ah…,” panggilnya. Dan Jongin tidak menanggapi. “Jika kau keberatan, maka noona tidak akan pernah melakukannya. Kau ingat kata-kata itu?”

Jongin menggerakan kepalanya. Matanya kembali menatap lekat wajah Seojung, tapi masih tidak bersuara.

Noona tidak akan menikah.” Seojung menegaskannya sekali lagi.

Ia duduk di sebuah sofa yang disediakan, dan bersampingan dengan ibunya. Jongin baru saja keluar dari ruang ganti dengan kostum yang berbeda dengan sebelumnya. Entah ini sudah pengambilan gambar untuk yang keberapa kali, dan itu sudah memakan waktu hampir dua jam.

Ibu beberapa kali menyunggingkan senyum setiap kali melihat aksi Jongin di depan kamera, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Seojung, dan berbisik, “Adikmu keren, ya?”

Seojung ingin menimpali dengan kalimatnya saat itu, ‘Ya. Dan kau sudah melewatkan waktu yang cukup banyak untuk menyadari perkembangan anak-anakmu, eomma.’ Tapi Seojung menahannya cukup di dalam hati.

Jongin memang terlihat yang paling menonjol di antara teman-teman satu grupnya. Dia sangat menjiwai permainan gitarnya. Seojung mengakui, adiknya sudah mengalami pertumbuhan yang pesat sekarang. Tingginya bahkan sudah melebihi Seojung semenjak satu tahun terakhir.

Adiknya adalah anggota keluarga satu-satunya yang hidup dengannya semenjak lima tahun yang lalu. Semenjak ibunya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang pengusaha dari luar negeri, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Korea berdua, sementara ibunya pergi mengikuti dimana suaminya bertugas.

Oleh karena itulah, Seojung menjadi orang yang paling menyadari perkembangan Jongin dibandingkan dengan ibunya sendiri. Ia menyadari bagaimana adiknya dan apa yang diinginkan olehnya.

Ibunya menoleh ke arahnya sesaat seteleh menyadari ada sesuatu yang bergetar di dekat mereka, “Ada yang menelponmu?” tegur ibu.

“Oh!” ucapnya begitu tersadar. Seojung membuka tasnya cepat-cepat, dan sesaat nampak termenung begitu melihat deretan nomor baru yang terpampang di layar handphonenya.

Seojung mencoba untuk mengangkatnya.

Yeobeosaeyo?” Seojung menyapa setelah menempelkan benda persegi itu ke telinga.

Hallo! Anda yang bernama Kim Seojung?” Suara laki-laki terdengar menyahut sapaannya.

“Ya, benar. Saya Kim Seojung. Nuguseyo?”

“Kau tidak bisa mengingat suaraku?” tiba-tiba laki-laki itu berbicara informal kepadanya. Seojung sedikit mengerutkan alis, sebelum melontarkan perkataannya lagi.

“Hey! Aku sedang tidak ingin main-main. Jika memang ada yang perlu disampaikan, katakan saja langsung.”

“Ho-ho!”

Seojung semakin tidak mengerti dengan orang yang meneleponnya, “Apa perlu kumatikan sekarang?”

Eitss!” Suara itu menahan Seojung. Gadis itu memutar bola matanya kesal. Ia paling tidak suka dipermainkan, dan Seojung ingin menutup panggilan itu cepat-cepat.

Baiklah. Aku menyerah. Aku akan memberitahumu siapa aku.” Laki-laki itu memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya. “Kau ingat pengakuan ini ‘hey, penggemar Young ok! Aku menyukaimu!’ kau ingat?”

Seojung hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi.

Kau sudah bisa mengetahui siapa aku? Baiklah! Aku Kim Woobin!”

“Oh!” Seojung merasa jika tubuhnya tiba-tiba disulap menjadi patung lilin. Bahkan ia tidak bergerak sama sekali di tempatnya. Mengetahui siapa sebenarnya yang menelponnya itu, berhasil membuat Seojung—bahkan—tidak bisa mengedipkan kelopak matanya.

“Kau tidak punya kegiatan lain hari ini? Bagaimana kalau menemaniku jalan-jalan?”

“Jalan-jalan?”

“Yups! Jalan-jalan. Kau tentu bisa, kan?”

Seojung nampak menimbang-nimbang keputusannya sejenak, lantas menjawab, “Sepertinya tidak. Aku sedang menemai adikku menyelesaikan rekamannya, dan… yah, sepertinya akan sampai malam sekali. Mianhae.”

“Oh, ya?” ucap Woobin menanggapi, “tapi bagaimana kalau aku sudah mendapat izin?”

Seojung—lagi—mengerutkan dahinya, “Dari siapa?”

“Eomeonim! Dia yang memberi izin. Dia bilang, akan lebih baik jika kau menemaniku jalan-jalan. Hari ini dia yang akan mengurus Jongin.”

Seketika raut wajah Seojung berubah. Kerutan di dahinya mengendur, namun rahangnya tiba-tiba mengeras. Patung lilin itu meleleh karena semburan api yang tiba-tiba meluap dan memakan tubuhnya.

“Eomma ga?” sahutnya dingin. Ibunya menoleh begitu mendengarnya, dan Seojung menampilkan tatapan yang lain dari sebelumnya. Lebih tajam, dan lebih menghujam.

Ibunya baru saja hendak melontarkan pertanyaannya saat Seojung dengan tegas menjawab “Katakan padanya, aku tidak pernah mewakilkan kepada siapapun untuk memberi izin atas diriku sendiri!” Sebelum tombol merah benar-benar ditekan olehnya, dan panggilan itu pun terputus.

*

A/N:

Dan seperti apa yang kukatakan di chapter sebelumnya, kalau aku pasti akan posting lagi setelah ujian semester selesai, dan aku menepatinya, kan?

Bagaimana dengan kalian? Masih ujian atau sudah selesai?

Aku akan selalu menunggu tanggapan dari teman-teman tentang gimana cerita ini menurut kalian 🙂

p.s: next chapter will be finale, maybe…

8 thoughts on “What’s Going On? [4]

  1. aaaaaaah kok jadi gini????? aku fikir dia dan chanyeol akan….. ternyata engga hhhh yasyudahlaaaah ditunggu nextnya ya

  2. ah ha,, soejung nya pertama bilang emang sedqag tidak ingin memikirkan tenttentang kencan, dn itu bener bener ya,, konsistennya saluuut!!! maksudnya woobin aja tetep di tolaknya, tapi chanyoel gimana ya?? udah pulang kampung ya?? knpa tiba tiba ayahnya enggak maksa chanyoel lagi?? habistu knpa sikap mamaknya enggak pernah tanyak lagi perjodohaperjodohan itu sma soejung, malahan deketin ssma woobin lagi soejungny,,huufh,, mau lanjut bca last chapter aja deyh,, hoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s