What’s Going On? [3]

What's Going On b

Written: @araiemei

Cast:

Kim Seojung | Park Chanyeol | Lee Hyena | Do Kyungsoo

Kim Jongin | Kim Woobin

Genre: Romace | Comedy | Family

Rate: PG

Seojung bahkan masih berkelut dengan pemikiran dan perasaannya saat mengantarkan anak-anak didiknya kembali ke kelas mereka, setelah hampir satu setengah jam bermain di taman yang berjarak beberapa puluh meter dari tempatnya mengajar. Lalu menunggui sampai semua anak didiknya itu dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Saat itu, Seojung berusaha memutar otak, mencari-cari alasan kuat kenapa ia harus memberikan sebuah tawaran yang—menurutnya—sungguh sangat luar biasa kepada orang yang semestinya ia hindari—atau malah sudah ia hindari sebelumnya.

Aku bisa menjadi tour guidemu hari ini kalau mau,” ucapnya setelah mendengar Chanyeol yang sebelumnya sempat mengeluhkan hari-harinya di Seoul. Laki-laki itu tidak punya siapa-siapa yang bisa diajaknya pergi ke tempat-tempat menarik di ibu kota. Setidaknya, menghabiskan beberapa jam di sela-sela urusan beasiswanya untuk menikmati hari-hari singkat sebelum keberangkatannya ke London.

Selama keberadaannya di Seoul yang tidak lebih dari seminggu, Chanyeol menginap di tempat kakak sepupunya yang sangat jarang berada di sana. Satu-satunya orang yang bisa ia mintai bantuan. Tapi sayangnya, sepupunya itu selalu tenggelam dalam rutinitas pekerjaan yang—menurut Chanyeol—sangat membosankan. Setiap hari berlari sana-sini dengan kartu pers yang menggantung di leher serta kamera DSLRnya. Berusaha mendapatkan informasi baru untuk dijadikan topik terdepan surat kabar. Dan—yah—tidak ada yang menarik sepertinya. Ia tidak mungkin meminta untuk ditemani berkeliling Hongdae kepada orang yang bahkan tidurnya dipenuhi dengan target deadline yang mendesak.

Seojung sebagai teman seperjuangan selama di California seharusnya bisa mengerti keadaan itu, dan alangkah lebih baik jika seandainya bisa mengulurkan tangan memberi bantuan. Setidaknya seperti itu yang ada dipikirannya sebelum mengeluarkan sebuah tawaran yang terkesan impulsif dari mulutnya.

Seojung sempat linglung di tempat, karena pertanyaan besar kembali mencuat di benaknya setelah laki-laki itu menyetujui dengan segera tawarannya. Pertanyaan akan dirinya sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi, hingga ia bersikap seperti ini? Memutuskan untuk meghabiskan sisa waktu siangnya dengan menjadi seorang tour guidenya laki-laki yang—bahkan—ia biarkan sendiri menunggunya di café tadi pagi. Dan, anehnya lagi, ia yang menawarkannya sendiri.

Demi Tuhan, Seojung ingin berteriak saat itu juga, ‘What’s going on with me?’

*

Mereka tiba di tempat tujuan setelah sekitar satu jam menempuh perjalanan. Seojung sengaja mengambil jalur yang lebih panjang, dan tidak mengambil jalur kanan saat di perempatan antara Samseong dong dengan Cheondam dong, karena ia ingin membiarkan Chanyeol menikmati pemandangan Seoul hari ini. Ia tahu kalau laki-laki itu pasti lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakan daripada liburan.

Keduanya melangkah bersisian memasuki gerbang besar Donhwamun. Mata Chanyeol menerawang. Menyisir halaman kompleks istana megah yang dibangun pada masa Dinasti Joseon kedua dan yang selama ini hanya diketahuinya dari bacaan-bacaannya saja. Ia berdecak. Istana Changdoekgung memang pantas dijadikan istana favorit raja-raja pada masa itu. Bangunan-bangunannya indah mengikuti harmoni topografi alam yang berbukit-bukit. Sepertinya tidak salah dia me-request tempat ini tadi.

Seojung yang melihat bagaimana ekspresi Chanyeol–yang terpesona dengan pemandangan yang disuguhkan Changdoekgung–mengulas senyum kecil. Ia menarik tangan teman seperjuangannya saat menjadi anggota pertukaran ke California itu menuju area Nakseonjae.

Chanyeol sempat merasa aneh saat lengannya bersentuhan dengan telapak tangan Seojung. Ia tidak mengerti, karena ini pertama kalinya gadis itu menggandengnya. Mereka memang pernah beradu akting saat di acara perpisahan mereka di California. Yang mana saat itu Seojung berperan menjadi Chunhyang sementara Chanyeol menjadi Myongryeong. Mereka bahkan sempat beradegan romantis–meskipun hanya sebuah pelukan hangat. Tapi, kali ini berbeda. Chanyeol merasakannya.

“Kau tahu bangunan apa ini?” tanya Seojung begitu mereka berada di depan sebuah bangunan megah dan terlihat paling mencolok di antara bangunan-bangunan yang lain. Bangunan itu memiliki dekorasi yang paling istimewa, dengan atap dan pilar yang tidak berwarna.

Chanyeol terdiam sejenak. Ketika ia sadar, ia merasakan telapakan tangan itu tidak lagi berada di lengannya.

“Ah, nde!” jawabnya, “ini bangunan yang dulu dijadikan tempat tinggal Raja Heonjeong. Namanya Nakseonjae. Betul?”

“Seratus!” Seojung menatap Chanyeol dengan senyum lebar.

Mereka menikmati berkeliling di area Nakseonjae sekitar lima belas menit. Lalu, memutuskan untuk berkunjung ke Huwon setelah Chanyeol menanyakannya.

“Aku penasaran dengan taman rahasia itu. Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?”

Seojung menyetujuinya. Mereka berjalan bersisian, dan Chanyeol terlihat asyik mengabadikan pemandangan pohon-pohon yang berjejer di tepi jalan setapak menuju Huwon–sebuah taman rahasia yang dulu dibangun sebagai tempat yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga kaisar dan  kerajaan.

“Untungnya kau datang tepat saat masih musim semi.”

Chanyeol tersenyum, dan membiarkan matanya tetap terfokus pada kamernya untuk melihat-lihat hasil jepretannya.

Mereka berada di dekat sebuah pohon besar. Di bawah pohon itu dikelilingi bangku-bangku panjang berbagai warna dan membentuk lingkaran.

Chanyeol menghentikan langkahnya, “Bagaimana kalau kau duduk di sana? Aku akan memotretmu. Dengan ini.” Chanyeol menawarkan sambil sedikit mengangkat kamernya sejajar dengan kepala.

Seojung tidak tahu apakah ia harus salah tingkah saat itu. Dia bukan tipe orang yang maniak sekali dengan foto soalnya.

Ia nampak berpikir keras. Ia ingin menolak, tapi lagi-lagi Chanyeol bersuara, “Ayolah. Sekali saja. Biar nanti kalau aku sudah di London aku bisa memamerkan suasana Huwon kepada teman-teman baruku.”

“Tapi, kenapa harus aku jadi modelnya? Aku tidak berbakat. Aku tidak bisa.” Seojung menolak.

“Oke, kalau begitu kita berdua, bagaimana? Aku tidak akan memamerkannya kalau kau tidak mau. Aku berjanji ini hanya akan kusimpan sebagai kenang-kenangan kita. Oke?–Kkaja!”

Seojung tidak bisa mengelak. Chanyeol—yang kali ini—menarik lengannya mendekati bangku tersebut. Ia berusaha tersenyum dengan baik saat Chanyeol bersiap untuk meng-klik tombol kameranya.

“Lihat! Fotonya bagus!” Seojung mendekatkan sedikit wajahnya ke arah kamera Chanyeol. Hatinya sedikit banyak menyetujui perkataan laki-laki jangkung di sampingnya itu, hasil fotonya memang bagus. “Aku suka senyummu.”

Dan, Seojung tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Yang ia tahu, saat ini pipinya menghangat.

Sudah hampir setengah jam mereka mengelilingi Huwon. Chanyeol masih sibuk dengan kegiatan memotretnya. Padahal sewaktu hendak berangkat mengurus sedikit administrasi yang berkaitan dengan keberangkatannya ke London, Chanyeol malas untuk membawa serta kamernya. Tapi entah kenapa, sebagian dari hatinya mendesaknya untuk mengambil kamera itu dan memasukannya ke dalam tas ransel. Ternyata ia sudah mendapat firasat akan menjalani tour singkat yang menyenangkan hari ini bersama Seojung.

Lelah berjalan, Seojung akhirnya meminta Chanyeol untuk berhenti sejenak dan duduk di sebuah paviliun di dekat kolam istana. Dinding paviliun itu berwarna putih, dengan pilar-pilar dan pagar teras, serta tiangnya berwarna merah menyala. Seojung mendudukan tubuhnya di lantai beranda, sementara kakinya terulur ke bawah menginjak tangga.

Chanyeol mengambil posisi di sampingnya. Lagi-lagi mencoba mengabadikan pemandangan kolam yang diambil dari arah paviliun tempat mereka duduk.

“Menyenangkan?” ucap Seojung memperhatikan wajah Chanyeol.

Laki-laki itu menoleh. Ia tersenyum, “Sangat! Aku tidak terpikir akan sempat berkunjung ke tempat ini sebelumnya. Mengingat persyaratan beasiswaku, dan…,”

Seojung mengerutkan dahinya saat Chanyeol yang tiba-tiba memutus perkataannya begitu saja.

“Dan kenapa?”

“Kau masih ingat keluhanku sewaktu di cafe itu, kan? Permintaan aneh ayahku,”

Sontak Seojung terdiam. Tidak seperti tadi. Sekarang ia tidak bisa mentertawakan permasalahan ini lagi.

Cukup lama mereka terdiam satu sama lain. Seojung duduk dengan menopang dagunya dengan kedua telapak tangan. Sementara Chanyeol masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Sepertinya tidak boleh ada satu inchi-pun area Huwon ini yang lepas dari jepretan kameranya.

Seojung akhirnya mengubah sedikit posisi kepalanya. Mencoba menelusuri wajah Chanyeol dari samping. Cukup lama, sampai akhirnya ia tersadar begitu melihat kilatan cahaya blitz menerpa wajahnya.

Seojung terkesiap. Chanyeol memotretnya secara mendadak. “YA!” Seojung memekik. Berusaha ingin merampas kamera itu dari tangan Chanyeol.

Tapi Chanyeol mengangkatnya tinggi-tinggi, tidak membiarkan Seojung merebutnya.

“Berikan padaku!” teriak Seojung masih tidak terima, “YA!”

Namun Chanyeol terlalu lincah berkelit. Seojung tidak bisa mengambil kamera itu–bahkan untuk menyentuhkan ujung jarinya pun tidak bisa.

Ia merajuk, dan kembali diam di posisinya.

Chanyeol nampak berusaha keras manahan tawanya, “Coba lihat!” ucapnya. Dan Seojung tidak tertarik untuk mengindahkannya sama sekali, “kamu cantik!”

“YA!”

“Benar! Coba lihat!”

Seojung tidak menoleh, hanya saja bola matanya yang bergerak, dan ia bisa melihat apa yang ingin ditujunkan Chanyeol kepadanya.

“Kenapa kau tidak memutuskan menjadi artis saja? Kamu bahkan memiliki potensi akting yang bagus.”

Geumanhae!”

Chanyeol tidak bersuara lagi. Seojung sepertinya mulai menyimpan dendam terhadapnya. Maka, ia memutuskan diam, dan kembali memotret suasana Huwon dari tempatnya.

Sunbae,” panggil Seojung setelah beberapa menit membisu. Chanyeol menggumam menanggapinya.

“Tentang penjodohanmu itu? Apakah ayahmu memintamu menikah sebelum berangkat ke London?”

“Sepertinya begitu,”

Seojung tiba-tiba merasa ada sesuatu yang memohok tenggorokannya, “O-oh, ya? Lalu, apa kau setuju jika memang disuruh menikah mendadak seperti itu?”

“Jika memang itu bisa membuat ayahku lapang untuk melepaskan keberangkatanku, aku siap,” sahut Chanyeol. Ia masih belum menurunkan kameranya.

“Bagaimana jika wanita itu belum siap?”

“Aku akan memintanya agar siap!” Suara Chanyeol terdengar mantap. Seojung merinding mendengarnya.

Ia mengangkat wajahnya dan menatap Chanyeol lekat, “Tapi kau tidak bisa memaksan kehendakmu secara sepihak. Wanita itu pasti punya alasan tersendiri dan kau tidak bisa memaksananya.”

Chanyeol akhirnya pun menurunkan kameranya. Ia balas menatap Seojung dengan sedikit kerutan pada dahinya, “Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” tanyanya.

Seojung seketika salah tingkah. Wajahnya memerah saat itu, dan cepat-cepat membuang wajahnya agar Chanyeol tidak melihat ekspresinya lebih jelas.

Ahni,” jawabnya, “aku hanya sedang mencoba menempatkan perasaanku di posisi wanita itu,”

“Wanita siapa?” tanya Chanyeol lagi.

Seojung terdiam untuk sepersekian-detik. Berusaha memutar otaknya untuk menemukan kalimat yang pas–yang tidak akan membuat Chanyeol melemparkan pertanyaan kepadanya lagi.

“Ya, pokoknya wanita yang akan menjadi teman kencanmu itu.”

Chanyeol hanya menggumam, dan mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Seojung.

Sementara Seojung, ia ingin sekali untuk membenturkan kepalanya bertubi-tubi ke pilar pavilion di sampingnya. Hingga akhirnya suara dering ponsel Chanyeol membuat hatinya sedikit lega. Terlebih saat laki-laki itu mengangkatnya, dan menjauh untuk mencari tempat bicara yang nyaman.

Seojung menghela nafasnya pelan-pelan. Setidaknya, ia bisa merasa lega untuk menggeser posisi kepalanya selagi Chanyeol berbicara dengan ponselnya.

Chanyeol menjauh saat memutuskan untuk mengangkat panggilan–yang tiada lain tiada bukan–dari ayahnya. Mengambil posisi di ujung kolam yang memungkinkan Seojung tidak mendegar pembicaraannya.

Yobeosaeyo?” ucapnya begitu menempelkan benda persegi berwarna hitam itu ke telinganya.

Bagaimana? Kau sudah bertemu dengannya?” tanya ayahnya persis dengan apa yang sudah diprediksi oleh Chanyeol.

Ia nampak berpikir sejenak sambil menggigit bibir bawahnya. Menerawang ke atas untuk memantapkan hatinya menjawab pertanyaan ayahnya, “Nde. Sekarang kami sedang kencan,’

Kencan?”

Ia mendengar suara ayahnya yang memekik keras sekali.

Mereka keluar dari Changdeokgung saat jam sudah menunjukan hampir pukul lima sore. Chanyeol terlihat puas sekali, dan Seojung sudah mulai menampilkan ekspresi nyaman seperti semula.

Seojung membawanya memasuki area tour mereka selanjutnya. Dia mengatakan kepada Chanyeol kalau laki-laki itu yang sekarang harus menemaninya ke suatu tempat. Saat Chanyeol bertanya apa nama tempat itu, Seojung hanya menjawabnya dengan kalimat singkat, “Surganya anak-anak muda,”

Chanyeol mencoba untuk menebak kalau yang dimaksud Seojung adalah Hongdae.

Seojung mengambil jalur yang berbeda dengan jalur yang mereka tempuh saat hendak menuju Changdeokgung. Kali ini ia mengemudi mobilnya ke arah barat daya dari istana Changdeokgung, lalu berbelok ke selatan hingga tiba di perempatan, Seojung menghentikan laju mobilnya karena—lagi-lagi—lampu merah mencegat. Beberapa menit kemudian, lampu berubah warna menjadi hijau, dan Seojung menancapkan gasan mobilnya, berbelok ke arah kanan, dan melesak menyusuri Jongno gu.

Sesampainya di tempat yang Seojung maksud sebagai surganya anak-anak muda, Chanyeol hampir saja terlonjak saking girangnya karena prediksinya lagi-lagi benar seratus persen. Ia mengetahuinya dari beberapa plang penunjuk jalan yang mereka lewati saat itu. Seojung memarkirkan mobilnya di area parkir yang luas di seberang sebuah bangunan besar yang bertuliskan Hongik University.

“Kau suka ke sini?” tanya Chanyeol saat mereka berjalan memasuki area Hongdae yang ramai dengan pejalan-pejalan kaki. Kebanyakan dari mereka adalah remaja-remaja yang masih duduk di sekolah menengah, dan mahasiswa-mahasiswa. Chanyeol juga bisa menemukan beberapa tourism yang—berpapasan dengan mereka—berjalan sambil ditemani seorang touristguide di sampingnya.

“Tidak juga,” sahut Seojung, “aku malah jarang sekali ke sini. Aku sadar umurku sudah tidak cocok lagi bermain-main di tempat seperti ini.

Chanyeol tergelak mendengarnya, “Baiklah. Hari ini aku akan menemanimu berjalan-jalan tanpa harus memikirkan usia, oke?” ucapnya yang disambut Seojung dengan senyuman kecil.

Beberapa saat kemudian, lengannya kembali ditarik oleh Seojung. Gadis itu membawanya menuju tenda kecil penjaja odaeng. Kulit tangan itu terasa hangat. Chanyeol tidak berlebihan jika mengakui kehangatan dari tangan gadis itu berhasil menembus ke hatinya.

Gadis itu membeli beberapa tusuk odaeng, dan menyuruh Chanyeol untuk mencicipinya.

Setelah itu, Chanyeol digiring kembali oleh Seojung ke suatu tempat. Ia agak heran awalnya, karena memang ia tidak pernah mendatangi tempat ini sebelumnya. Orang-orang berjejer cukup banyak membentuk sebuah lingkaran beberapa meter di depan mereka. Ia baru saja hendak bertanya, saat tangan Seojung menarik pergelangan tangannya, membawanya menembus kerumunan manusia-manusia yang—ternyata—tengah menikmati penampilan sebuah grup band indie sore itu.

Grup yang terdiri dari empat orang personil laki-laki dan seorang personil perempuan. Mereka sepertinya sudah cukup sering mengadakan showcase di kawasan ini. Chanyeol bisa menebaknya dengan melihat wajah antusias para penonton-penontonnya—terutama remaja-remaja perempuan yang masih mengenakan seragam SMA mereka.

Hanya saja Chanyeol sempat bertanya-tanya tentang kenapa Seojung menuju tempat ini, hingga akhirnya gadis itu mendekatkan wajah ke arahnya, lantas berbisik, “Kau lihat gitarisnya? Dia adikku! Kim Jongin! Keren, kan?”

Tour mereka berakhir di sebuah taman kecil yang berdekatan dengan Hongik University. Mereka duduk pada sebuah bangku panjang putih, sambil menggenggam kaleng minuman masing-masing di tangannya. Saat itu, jam sudah menunjukan pukul sembilan malam.

“Kau kembali sehari sebelum acara ulang tahunku,” ucap Seojung untuk memulai obrolan.

Chanyeol mengulas senyum kecil setelah meneguk sedikit minuman kalengnya.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Seojung.

“Sangaaat baik,” jawab Chanyeol, menatap tepat manik mata gadis di depannya, ia tersenyum, “terimakasih ya sudah membawaku jalan-jalan.”

Seojung balas tersenyum, lantas mengalihkan wajahnya dari tatapan Chanyeol, “Apa kau sudah bisa melupakan gadis yang membiarkanmu sendirian di cafe?” Suara Seojung terdengar hati-hati sekali saat mengucapkan kalimatnya.

Chanyeol memandang ke arah depan, “Aku tidak bisa melupakannya,” suaranya yang—entah kenapa—terdengar memelas sekali bagi Seojung, dan itu membuatnya benar-benar tidak nyaman.

“Kenapa? Sudah jelas-jelas dia bukan yang terbaik untukmu. Dia tidak menepati janjinya dan tega membiarkanmu menunggu.”

“Tapi, tetap aku tidak bisa melupakannya,” balas Chanyeol yang berhasil membuat Seojung terdiam.

Beberapa detik mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa kalimat apapun, sampai akhirnya Seojung yang terlebih dahulu membuka suaranya, “Waeyo?” tanyanya pelan.

Chanyeol memalingkan wajahnya dan menarik nafas dalam, “Karena dia tidak bisa berbohong.”

“Maksudmu?’ Seojung mulai tidak bisa menahan perasaan khawatirnya yang susah payah ditekannya sedari tadi.

“Ya, karena aku tahu yang sebenarnya. Kalau gadis yang membatalkan janjinya denganku secara sepihak adalah gadis yang duduk bersebelahan denganku saat ini.”

Demi Tuhan, Seojung merasa langit runtuh saat itu dan menindihi tubunya. Ia tercekat. Tidak bisa bersuara apapun lagi. Chanyeol menatapnya lekat sekali, dan itu membuatnya takut. Takut jika laki-laki itu marah karena ia tahu siapa sebenarnya gadis yang sudah meninggalkannya di cafe.

Seojung benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia tidak bisa bersembunyi, bahkan menjauh saat Chanyeol mendekatinya. Laki-laki itu mempersempit jarak mereka. Apa yang akan dilakukannya, Seojung tidak tahu. Waktu seolah-olah tertahan, dan ia tidak bisa bergerak sedikit pun. Otaknya berjalan lambat untuk mencerna tatapan mata Chanyeol, dan apa yang akan laki-laki itu lakukan. Ia hanya bisa menatap wajah orang di depannya itu yang semakin mendekat, mendekat, dan…

“YA!” Seojung mendorong tubuh Chanyeol menjauh, dan membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang, “mwohaneungeoya?” pekiknya keras, setelah menyadari semuanya. Chanyeol hampir saja akan menciumnya. Seojung benar-benar tidak terima, dan merasa Chanyeol sudah berani melakukan hal yang tidak sopan padanya.

“Seojung ah,” panggil Chanyeol berusaha menahan pergelangan tangan Seojung. Namun gadis itu langsung menepis keras tangannya. Matanya tajam menghujam manik hitam milik Chanyeol.

“Jangan sentuh aku!” Seojung berteriak lagi.

“Seojung ah,” Chanyeol masih berusaha menahannya. Suaranya terdengar memohon sekali, “aku tahu ini salah. Maafkan aku. Aku sudah lancang, tapi tolong dengarkan aku.”

Seojung tidak memandang sedikit pun ke arahnya. Chanyeol berusaha menekan perasaannya dengan menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan, “Aku pikir, tidak ada salahnya untuk mengikuti permintaan orang tua. Jadi, Seojung ah, menikahlah denganku.”

MWO?” Mata gadis itu membulat sempurna.

*

A/N:

Hello! Ada yang nungguin ini? 😀 kkekeke…

Oke, aku nggak akan ninggalin catatan banyak-banyak. Yang pasti, aku selalu menunggu tanggapan dari kalian gimana cerita ini. Komentar dan saran yang membangun adalah yang paling aku perlukan.

Dan lagi, untuk next chapternya mungkin agak ngaret. Aku perkirakan sampai dua minggu ke depan, aku bakal jarang buka laptop. Ujian semester mulai membombardirku sekarang 😀 hahaha.

Doain sukses yaaa… See you… ^^

🙂

Advertisements

4 thoughts on “What’s Going On? [3]

  1. haa jangan-jangan chanoel emang udah suka sama seojung lagi??
    ayolah seojung jangan jaim gt lah sama chanyoel
    kalian itu sebetulnya sama-sama suka kan ??
    next chapter ditunggu

  2. uwwoooh,, makin seru seru seru,,,
    tternyata sma sama tahu, kejawb deh knpa bsa tiba tiba chanyoel dtng ke tk nya soejung pas siang itu,,
    tapi pas akhir itu yg enggak enak ya,, apa maksud coba chanyoel mau langsung cium soejung,, hay hay,, mau next lagih,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s