Summer’s Note

summer's note

 

Title |Summer’s Note|

Main cast |Park Chanyeol| OC|

Length |Oneshoot|

Genre |Fluff| Romance|

Rating |PG 13|

Author |IsshikiSaika|

Disclaimer:

This fic is 100% originally created by me. Park Chanyeol is belong to his parents, his company, and all of the pyromaniac as his fan.

Summary:

Aku menyukai musim panas,

Chanyeol memiliki senyum yang sehangat matahari musim panas dan aku menyukainya.

—Summer’s Note begin—

Pagi itu aku berjalan menyusuri trotoar yang masih terlihat sepi. Ini baru pukul 6 pagi. Ah, sepertinya aku terlalu bersemangat. Hari ini ada pameran galeri seni edisi Summer. Selain itu, untuk menyambut awal musim panas, kota ini diubah menjadi cukup menawan, kau bisa melihat tiap-tiap sudut taman dan jalan terlihat lebih cerah dan cantik. Aku tidak tahu, mungkin ini karena aku memang sangat menyukai suasana musim panas atau memang kota ini terlihat lebih berseri ketika musim panas tiba, atau mungkin saja wali kota atau gubernur  juga menyukai musim panas-sama sepertiku. Ah baiklah, ada hal lain yang lebih menarik dari itu.

Galeri tempat pameran itu masih tutup, jadi aku memutuskan untuk duduk ditaman sambil menikmati satu cup cappuchino. Aku sedang mengutak atik kameraku yang tiba-tiba hang, itu buruk karena semua gambar-gambar disana belum kupindahkan ke komputerku, dan apalah artinya jalan-jalan menikmati musim panas tanpa mengambil beberapa gambar. Aku mendengar suara deritan bangku oleh seseorang yang baru saja menghempaskan diri duduk tepat disampingku, aku bahkan bisa merasakan aroma maskulin yang lembut memasuki hidungku. Aku menoleh sekilas pada sosok pria jangkung itu dan-

“Park Chanyeol?” Aku memekik pelan. Astaga! Ini pasti mimpi. Tidak mungkin. Bukankah dia sekarang seharusnya berada di Seoul dan melakukan performance di acara-acara musik?? katakan kalau aku cuma bermimpi dan bangunkan aku sekarang! Karena jika tidak aku tetap akan meneruskan mimpi ini. Aku merasakan kulitku berdesir, dan napasku tercekat, oh, jantungku juga, astaga sepertinya semua organ tubuhku bersorak gembira sekarang. Aku tidak tahu ini jenis takdir yang seperti apa, tapi aku adalah penggemar seorang Park Chanyeol, member rookie grup tahun lalu yang berhasil mencuri perhatianku dan pria itu secara ajaib muncul disampingku dan tersenyum ramah. Oh! Jika ini bukan kenyataan, biarkan aku bermimpi lebih lama!

“Hai! Kau mengenalku?” Pria itu bertanya sambil merapatkan jaket abu-abu gelap yang ia pakai dan menurunkan topinya untuk menutupi sebagian wajahnya. Oh, dia sedang berusaha membaur dengan orang-orang sekitar, dan apa dia tidak sadar kalau penampilannya dengan jaket itu saja cukup memperlihatkan dia adalah seorang idol? Maksudku, eumm, dia tetap tampan dan menawan seperti biasa. Yah, itu menurutku, jadi tidak ada gunanya dia memakai masker dan topi lebar untuk menyamarkan diri bila aku bisa mendeteksi sosoknya ketika beredar disekitarku-seperti sekarang ini.

Aku mengangguk pelan-berusaha sekuat tenanga untuk tidak menjerit-jerit karena euforia yang sedang melandaku. Park Chanyeol sedang bertanya dan menatapku dengan senyumannya. Setelah itu hal indah apalagi yang akan ku dapati?

“Mengapa kau bisa berada disini? Bukankah kau seharusnya melakukan show-“ Chanyeol meletakkan telunjuk dibibirnya. Oh astaga seketika aku tergagap.

“Sssttt. Kami sedang menikmati liburan satu minggu yang diberikan manajemenku, kau tahu kan, kami sangat penat dan butuh istirahat beberapa saat dari semua kesibukan yang ada.” Chanyeol menjelaskan dengan mengecilkan suaranya, seolah dia hanya ingin memberi tahukan hal itu padaku. Oh,biarkan aku berpikir seperti itu.

“Lalu, sekarang apa yang ingin kau lakukan?” Tanyaku sambil berharap dia tidak akan langsung pergi begitu melihat ada penggemar yang mengetahui keberadaannya.

“Sebenarnya aku tersesat dari rombongan, yeah, aku terlalu bersemangat melihat pertunjukan akustik di taman dan tanpa sadar mereka sudah meninggalkanku. Tapi tidak apa, sekarang aku lebih bebas memilih tujuan tempat jalan-jalanku.” Chanyeol mengangkat bahu dan tersenyum cerah. Aku balas tersenyum-tak kalah sumringah darinya karena dia sudah lebih dari lima kali tersenyum seperti itu. Hei, ini lebih dari sekedar fanservice !

“Aku ingin melihat-lihat pameran musim panas dan mengambil beberapa foto di tempat ini. Kota ini tampak ceria.” Ujar Chanyeol sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aku mengangguk setuju.

“Umm, sebelumnya, aku ingin tahu apa kau penggemar grupku?” Chanyeol kembali menatapku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku berharap dia tidak menanyakan siapa member yang aku sukai karena aku akan sangat malu. Yeah, mungkin penggemar lain akan segera meminta tanda tangan dan foto bersama lalu dengan antusias mengatakan kalau mereka penggemarnya, tapi entah mengapa aku tidak ingin Park Chanyeol mengetahui itu, aku tidak ingin dia pada akhirnya memperlakukanku sama seperti penggemar yang lain, walaupun statusku sama saja dengan sejuta fangirl-fangirl  itu, tetap saja aku tidak ingin seperti itu. Aku menyukainya, sungguh, perasaan ini berbeda. Entahlah, untuk itu cukup saja dia tahu aku sebagai  seorang yang cukup kenal dan menggemari musik grupnya.

“Oke. Kalau begitu sebagai penggemar yang baik, kau mau kan menemaniku beberapa saat untuk menunjukkan jalan dan tempat-tempat bagus disini? Jujur saja aku dari kemarin tersesat dan semalam aku tidur di bus.” Chanyeol menatapku dengan tatapan sedikit memohon. Kau pasti bisa membayangkan responku. Aku mengangguk setuju tanpa keberatan sama sekali.

Jadi, hari itu kami habiskan dengan jalan-jalan. Menikmati pameran lukisan-lukisan yang mengagumkan, lalu menyaksikan pertunjukan teater dan menonton audisi band.

Oh tidak. Catatan musim panasku tidak cukup keren kalau berakhir seperti itu.

Jalan-jalan yang kami lakukan sungguh luar biasa. Kau tahu, Park Chanyeol adalah seorang idol dan dia mati-matian menyamar demi keberlangsungan liburannya-kurang lebih seperti itu yang dikatakannya ketika aku menanyakan dengan setengah protes mengapa dia selalu memakai masker dan topi yang hampir membuatnya kesulitan melihat jalan, oh bukan hanya itu, aku jadi tidak bisa melihat senyumnya yang menawan itu. Ugh! aku tidak dapat mengabaikan jiwa fangirl ku  yang semakin menjadi-jadi karena ini.

Kami akan berhenti di tempat yang cukup lengang dan dia akan memperbaiki penampilannya, Memastikan topi dan maskernya terpasang rapi dan cukup membuatnya nyaman untuk bergerak. Lalu setelah menonton beberapa pertunjukan, kami akan membeli jajanan yang terdapat disepanjang trotoar, membeli beberapa cone es krim setiap dua jam karena setiap kedai es krim yang kami lewati selalu terlihat menggiurkan, kemudian kami akan mencari bangku taman yang cukup lengang untuk menikmati jajanan-jajanan itu. Kau tahu, aku bisa menatap Chanyeol sepuasnya-tentu saja tanpa sepengetahuan pria jangkung itu. Dia akan makan dengan lahap dan ekspresinya, oh! kalau saja aku tidak dapat menahan diri, aku sudah menyalakan kamera dan merekam setiap gerakan yang dia lakukan.

Aku tidak menyangka berjalan-jalan bersama Chanyeol akan sangat menyenangkan. Dia tidak pernah memaksaku untuk mendatangi tempat-tempat yang bagus tapi jauh untuk di kunjungi, dia membiarkan aku mengajaknya ke manapun asal tempat itu masih berada di tengah kota. Dia juga pria yang baik, dia akan menuntunku berjalan di tengah keramaian, memegang lenganku dengan cukup erat untuk memastikan aku tidak terbawa kerumunan yang padat, lalu ia akan menyampirkan jaketnya padaku jika hari sudah menjelang sore dan udara mulai terasa dingin. Sungguh aku tidak dapat berhenti untuk tidak tersanjung dengan semua perlakuannya. Dia bisa membuat setiap  percakapan terasa seru dan mengalir begitu saja, jadi aku sama sekali tidak merasa canggung. Aku bisa merasa akrab dengannya hanya dalam beberapa hari. Dan dia benar-benar tipe yang aku sukai.

“Hei, bersihkan sisa saus dimulutmu.” Sahutku pelan sambil menyodorkan tisu ke arah Chanyeol, kami baru saja menghabiskan burger dengan irisan daging pedas, dan Chanyeol makan seperti orang kelaparan satu minggu.

“Mana? Sudah.” Chanyeol menyeka mulutnya sembarang. Dia masih sibuk menjejalkan barang-barang ditasnya-dia membeli banyak gantungan kunci berbentuk gitar dan menyimpan barang itu didepan kantong tasnya yang sudah kelihatan penuh. Aku mendecak pelan lalu menyeka pelan tisu itu disudut kiri  bibir bawahnya. Astaga, tanpa sadar aku menahan napas begitu dia menatapku cukup lama setelah aku menyeka mulutnya dengan setengah berjinjit tadi.

“Aku baru sadar, aku belum tahu siapa namamu.” Chanyeol masih menatapku. Kali ini dengan sedikit nada bersalah dalam suaranya.

“N-namaku? panggil saja nona semangka seperti yang sering kau panggil dari kemarin.” Ujarku sedikit tergagap. Entah mengapa aku tidak ingin dia tahu namaku. Cukup seperti ini saja, dia akan mengingatku sebagai gadis penggemar yang menjadi  tour guide nya beberapa hari. Dan juga sebagai gadis semangka-itu karena tas dan pita rambutku bermotif semangka.

“Ayolah, aku perlu tahu namamu, jadi kalau aku tersesat di kota ini lagi aku bisa menghubungimu.” Chanyeol memprotes sambil mengerutkan dahi-yang membuat dia tampak berkali-kali kali lipat lebih cute.

“Haha, sejak kapan aku menjadi tour guide mu tuan Park ? ini kebetulan saja kau mendapat paket ditemani jalan-jalan gratis dariku.” Aku tertawa pelan lalu meneruskan langkah perlahan, membiarkan Chanyeol mengikutiku di belakang.

“Hei, tapi aku serius. Nanti aku ingin kesini lagi. Mungkin tahun depan. Sepertinya grupku punya jadwal tour ke sini tahun depan.” Kata Chanyeol sambil menyamakan langkahnya denganku.

Aku berhenti sejenak lalu menatapnya. Benarkah? lalu apa itu berarti aku bisa bertemu dan berjalan-jalan seperti ini dengannya? Dia secara tidak sadar membuatku berharap lebih lagi tentang pertemuan ini.

“Kau bisa menghubungiku. Ini nomorku.” Aku akhirnya menuliskan nomor ponselku di sebuah kertas dan menyerahkannya pada Chanyeol.

“Jadi kau mau kan jadi tour guide ku lagi tahun depan kalau aku tersesat?” Tanya Chanyeol dengan ceria.

“Aku tidak berharap kau akan tersesat, Chanyeol.” Ujarku pelan. Kalau dia tersesat lagi, nanti dia akan menemukan tour guide yang lain, dan itu berarti kita tidak akan bertemu seperti ini lagi. Hati kecilku bersuara tanpa bisa kuhentikan.

“Ahaha, ya, tapi aku berharap kau tetap menjadi tour guide ku. Kau gadis yang menyenangkan. Aku merasa beruntung bertemu denganmu.” Blusshh. Apa ? tadi dia bilang aku gadis yang menyenangkan? Dan dia merasa beruntung? Ya ampun, aku yakin wajahku kali ini semerah saus tomat yang dilumuri di burger yang kita beli tadi.

“Hei, kenapa diam saja? aku sedang memujimu sekarang.” Chanyeol menyenggol pelan bahuku sambil tersenyum jenaka.

“Ya, ya, terima kasih Park Chanyeol, tapi lain kali kau akan kumintai tarif.” Candaku sambil tertawa kecil.

“Ahaa, sebagai gantinya kau akan ku berikan tanda tanganku. Kau mau kan? atau album terbaru yang ada fotoku. Bagaimana?” ugh, rasanya aku ingin menjitak kepalanya, aku tahu itu memang hal yang ku inginkan tapi bisakah dia tidak se-percaya diri dan menyebalkan seperti itu? Chanyeol menampilkan cengiran khasnya.

“Terserah. Jadi sekarang apalagi? Kau mau kemana?” Tanyaku sambil meneruskan langkah. Tiba-tiba Chanyeol menarik lenganku perlahan. Aku tersentak dan mengikutinya. Dia membawaku ke sebuah taman bermain dan kami berhenti persis di depan sebuah bianglala.

“Sudah lama aku tidak naik bianglala. Apa kau mau mencoba ini?” Chanyeol menoleh padaku.

“Hmm, baiklah. Aku juga ingin naik bianglala.” Jawabku. Ia lalu menarik lenganku (lagi) kali ini dengan lebih antusias, ya ampun, dia tampak seperti anak kecil, matanya berbinar begitu bianglala yang cukup besar itu berputar dan membawa kami ke atas perlahan-lahan, semilir angin terasa hangat dan nyaman, wangi bunga yang entah dari mana terasa begitu menyenangkan. Aku menatap pemandangan sekitar taman yang tampak lebih indah dari atas bianglala.

“Wah. Menyenangkan sekali.” Ujar Chanyeol, kali ini dia melepas masker dan topinya.

“Bagaimana kalau kita mengambil beberapa foto?” Chanyeol mengeluarkan kameranya. Aku sedikit ragu.

“Bagaimana kalau fotonya nanti tersebar? Umm, maksudku kau kan-“

“Ah, ya. Aku paham maksudmu. Tapi, aku percaya kau tidak akan menyebarkan foto-foto ini. Aku yakin kau adalah penggemar yang baik.” Kata Chanyeol, ia menyalakan kameranya dan berpose dengan tangan membentuk V sign.

“Hei, ayo sini, kita  harus berfoto.” Chanyeol menarik lenganku lebih dekat ke arahnya.

“1, 2 , 3 kimchiiii” Kameranya berbunyi dan aku pastikan senyumku terlihat aneh di foto itu. karena aku sedang bersusah payah mengatur detak jantungku yang meloncat-loncat berlebihan karena posisi bahu Chanyeol yang bersentuhan dengan bahuku, lalu kepalanya yang dicondongkan kearahku, bisakah aku menganggap ini couple selca?

“Woah! Bagus! Kita terlihat keren.” Chanyeol tersenyum puas, dan aku mengangguk setuju karena ternyata di foto itu senyumku tidak seaneh yang kukira.

“Besok, apa kau ada waktu lagi?” Tanya Chanyeol. Aku mengangguk pelan. Ya, tentu saja aku punya waktu, sekarang aku sedang libur musim panas yang cukup panjang, dan aku tidak keberatan meninggalkan rencana liburan dengan teman-teman kelasku ke puncak dan memilih untuk menjadi guide pria ini.

“Bagaimana kalau besok ke pantai? Apa kau tahu pantai yang bagus dan cukup tenang?” Tanya  Chanyeol sambil kembali memasukkan kameranya ke dalam tas lalu memakai masker dan topinya, bianglala akan segera berhenti.

“Aku tahu beberapa pantai yang bagus dan cukup lengang. Baiklah, besok jam 9 pagi di tempat biasa.” Kataku sambil berdiri lalu keluar dari bianglala, Chanyeol keluar beberapa saat kemudian.

“Oke.” Chanyeol mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

“Kau tidak keberatan kan?” Tanya Chanyeol.

“hmm. Tidak.” Jawabku singkat sambil bergumam.

“Jadi apa jalan-jalan kali ini sampai disini dulu?” Chanyeol menatapku, dengan sedikit enggan aku mengangguk.

“Iya, kakakku akan menjemputku sebentar lagi. Ada beberapa keperluan yang harus aku lakukan hari ini dengannya.” Chanyeol mengangguk mengerti.

“Kau tahu kan bus yang harus kau naiki ke penginapanmu?” Tanyaku memastikan dia sudah menghapal beberapa tempat dan bus yang ku beri tahu padanya kemarin.

“Yeah. Kalau sedikit tersesat aku bisa bertanya pada supirnya atau aku akan langsung naik taksi untuk diantar langsung ke tampat penginapanku.” Ujar Chanyeol. Aku menggelengkan kepala.

“Seharusnya kau tidak perlu tersesat lagi. Buku panduan itu sebenarnya sudah bisa membantumu menemukan tempat penginapanmu dengan cukup mudah.” Aku menunjuk buku panduan yang dipegang Chanyeol.

“Hahaha, kau tahu, sebenarnya aku tidak terlalu mengerti membaca peta. Karena itu aku tersesat.” Ujar Chanyeol dengan polosnya.

“Haha. Ya ampun.” Aku tertawa sedikit meledeknya.

“Apa yang akan dilakukan penggemarmu kalau mereka tahu hal ini?” Aku masih terkikik geli. Tentu saja akan terkejut dan mengatakan kau sangat lucu lalu tertawa sepertiku tadi. Yeah, kurang lebih seperti itu.

“Hmm, sepertinya mereka akan semakin menyukaiku.” Chanyeol mengangkat alisnya lalu tersenyum bangga. Aku mendelik tapi tidak membantahnya. Itu benar. Aku justru semakin menyukainya.

Keesokan harinya, aku menunggu Chanyeol di bangku taman-tempat pertama kali kami bertemu. Matahari bersinar cerah, udara terasa sejuk. Cuaca hari ini cukup mendukung untuk pergi berjalan-jalan ke pantai. Aku mengenakan dress ungu muda dan sandal putih yang nyaman. Menikmati musim panas di pantai adalah paket jalan-jalan yang menyenangkan. Seharusnya begitu.

Tapi sampai jam 11 siang Chanyeol tidak kunjung datang. Aku masih duduk di bangku taman yang mulai ramai itu, matahari semakin terasa terik dan cukup menyengat. aku melirik jam tanganku sekali lagi. Apa dia tertidur di penginapannya? Aku baru menyadari kalau aku lupa menanyakan nomor ponselnya, setidaknya aku bisa memastikan dia sedang dimana sekarang dan apakah jalan-jalan ini dibatalkan atau tidak. Aku menghela napas pelan. Langit mulai berawan dan mendung. Oh, apa hujan akan turun? Ayolah, musim panas dan hujan bukan perpaduan yang bagus. Apalagi musim panas di hari hujan dan kehilangan jejak Park Chanyeol. Itu lebih dari menyebalkan dan menyedihkan untukku.

Aku melirik sekelilingku. Orang-orang sibuk dengan kegiatannya. Mereka bersepeda, memotret replika tom and jerry di pintu masuk taman, menikmati gulali, dan menaiki bianglala. Bianglala. Aku kembali memikirkan Chanyeol. Ternyata fakta kalau laki-laki itu senang ke amusement park dan naik bianglala adalah benar. Dia memang terlihat sangat menikmati bianglala itu kemarin. Aku tersenyum mengingatnya. Tapi, sekarang dimana laki-laki itu? aku mulai gelisah. Bagaimana kalau kemarin ternyata dia tersesat dan dia terdampar di tempat yang sama sekali asing? Bagaimana kalau dia tidak bisa-

“Hei, nona semangka!!” Suara itu membuyarkan pikiran-pikiranku. Chanyeol menghampiriku sambil terengah-engah.

“Kau menungguku selama dua jam?” Chanyeol menatapku tidak percaya. Aku hanya mengangguk. Tentu saja, aku akan menunggumu sampai kapanpun asal aku bisa bertemu denganmu. Aku menggumamkan hal itu dalam benakku.

“Maaf. Tidak menelponmu. Aku ditelpon manajer dan teman-temanku mengunjungi penginapanku. Aku bertemu mereka sewaktu turun dari bis, dan kami disuruh pulang besok pagi.” Jelas Chanyeol lalu duduk disampingku. Aku menatapnya maklum. Jauh dalam hati aku merasa sedih. Sedih karena ini akan menjadi jalan-jalan terakhir aku dan Chanyeol, pria menyenangkan yang aku sukai.

“Lalu, apa kau sudah mengemas barang dan bersiap pulang?” Tanyaku memastikan. Chanyeol mengangguk, sekilas gurat sedih tampak diwajahnya.

“Kita tetap ke pantai kan?” Tanya Chanyeol.

“Kalau kau masih punya mood untuk kesana. Sekarang cuaca mulai mendung, apa kau tertarik melihat pantai dengan cuaca mendung?” Aku balik bertanya.

“Aku suka pantai apapun cuacanya.” Jawab Chanyeol sambil tersenyum simpul. Aku akan mengabadikan senyum itu dengan kameraku nanti. Untuk terkahir kali. Aku menghela napas pelan.

“Baiklah kalau begitu. Ayo.” Kami berdiri lalu berjalan ke halte dan menaiki bis yang melewati pantai.

Hari itu kami habiskan bermain-main di pantai

Aku menggambar beberapa manga favoritku di pasir lalu memotretnya. Chanyeol memotret setiap sudut pantai dan sesekali mengambil foto gambarku di pasir. Aku mendekat ke arah pantai, membiarkan kakiku terkena sapuan buih ombak yang membuat kulitku meremang, efek yang ditimbulkannya sangat menyegarkan. Aku suka. Entah mengapa matahari kembali bersinar cerah di langit, seperti tetap berusaha muncul di balik awan-awan tebal  yang mulai berarak menutupinya.

Aku melihat Chanyeol masih mengambil beberapa foto. Dia lalu berjalan ke arahku, sambil tersenyum cerah, aku membidik wajahnya dengan kameraku lalu memotretnya. Perfect spot! Aku berhasil mengabadikan senyumnya yang menawan itu.

“Apa aku begitu mempesona sampai kau tidak berhenti mengambil fotoku?” Chanyeol berdiri disampingku sambil tersenyum. Aku tergagap, tidak berhasil menemukan kata-kata untuk membantahnya.

“Ayo, kita berfoto sekali lagi.” Chanyeol mengangkat kameranya lalu mulai memotret. Aku lalu mengangkat kameraku dan mengambil foto kami berdua.

“Hei, wajahku terpotong disitu.”  Protes Chanyeol.

“Tsk. Tidak apa.” Ujarku sambil mengatur kontras warna pada kameraku.

“Hei! Tidak mau, sekali lagi.” Chanyeol menarik kameraku, aku terkejut dan berusaha menggapai kamera itu.

“Hei, kemarikan dulu, kontras warnanya tidak begitu cocok.” Jelasku tapi dia malah berjalan menjauh dan mengotak atik kamera itu. Ini gawat! dia akan melihat berbagai fotonya yang ku ambil tadi.

“Hei, kembalikan dulu.” Aku berlari pelan ke arahnya. Chanyeol tertawa, ia mengangkat kamera itu ke samping, aku berusaha menggapainya dengan sedikit melompat tapi gagal. Astaga, ternyata dia benar-benar tinggi.

“Ya- Park Chan-“ aku tersentak begitu mendapati dia tiba-tiba menoleh dan menatapku lekat. Jarak kami hanya beberapa senti saja, bahkan aku bisa merasakan napasnya di permukaan kulit wajahku. Oh astaga ini seperti dalam khayalanku, aku akan menatap wajahnya dengan jarak sedekat ini lalu dia akan tersenyum dan mengatakan-

“Kau sangat menyukaiku ya?” oh bukan. Bukan seperti itu yang ada dalam skenario khayalanku. Ugh! tidak seperti itu. Mengapa dia sangat percaya diri seperti itu? aku mendelik.

“Apa maksudmu?”

“Ini, banyak sekali fotoku disini dan waw! nama filenya yeolover! Hoho! Aku tahu sekarang. ahahaha.” Chanyeol menampilkan cengirannya. Wajahku merah padam entah karena malu atau kesal atau apa lagi yang pasti sepertinya aku ingin membenamkan kepalaku ke dalam pasir.

“Mengapa kau tidak bilang dari awal? Kalau begitu aku bisa memberikan tanda tangan spesial untukmu karena kau sudah bersedia menjadi guideku beberapa hari ini.” Kata Chanyeol sambil tersenyum.

“Aku tidak mau. Tidak perlu.” Ujarku ketus. Aku berjalan membelakanginya.

“Hei,hei, mengapa kau tidak mau tanda tanganku?” Dia menyusulku sambil memainkan ranting di pasir.

“Karena aku tidak ingin pada akhirnya kau menganggap aku adalah penggemarmu dan aku begitu saja terlupakan seiring dengan jumlah penggemarmu yang semakin bertambah.” Aku menghentikan langkahku lalu berbalik dan menatapnya.

“Jadi maksudmu, kau menyukaiku seperti apa?” Chanyeol menatapku lekat.

“Entahlah, Chanyeol, aku menyukaimu. Sejak awal aku melihatmu tersenyum di depan kamera dan menampilkan lagumu yang pada awalnya cukup aneh menurutku, tapi akhirnya aku menyukai lagumu, dan aku mulai menyukaimu.” Oh, aku tidak menyangka pada akhirnya akan mengungkapkan ini padanya. Suaraku sedikit bergetar, lututku seperti kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhku, dan wajahku merona merah, sangat merah.

“Aku terkesan.” Chanyeol tersenyum padaku. Dia mengusap puncak kepalaku lembut. Lalu dalam hitungan detik ia menghilangkan jarak diantara kami lalu memelukku. Aku merasakan oksigen seperti perlahan-lahan terserap habis, darahku berdesir.

“Terima kasih sudah menyukaiku.” Chanyeol mengeratkan pelukannya, aku merasa sangat nyaman, jantungku berdetak keras, pelukannya hangat. Aku hampir kehilangan kesadaranku saking bahagianya karena dia memelukku seperti ini. Rasanya seperti melayang-layang,  kakiku tidak dapat memijak tanah, dan angin terasa seperti menerbangkanku. Baiklah, itu terlihat cukup berlebihan. Namun, Park Chanyeol membuatku benar-benar merasa seperti itu. Sungguh!

Aku mengangguk pelan dalam pelukannya, air mata menggenang di pelupuk mataku, aku tahu, kisah cinta idol-fan adalah hal yang hampir mustahil terjadi, tapi setidaknya aku masih bisa memilki kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Walau pada akhirnya aku tahu, Chanyeol adalah milik semua penggemarnya. Dia hadir untuk menjadi seorang idol yang digemari dan soraki oleh jutaan penggemarnya.

Aku melepaskan pelukannya perlahan lalu menatap Chanyeol lekat.

“Kau harus terus melakukan yang terbaik. Aku berharap kau tetap akan menjadi happy virus yang baik hati.” Ujarku pelan. Chanyeol mengagguk.

“Jadi apa itu adalah pesan perpisahan untukku?” Chanyeol bertanya lalu mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Aku tersenyum kecil.

“Sepertinya begitu.” Ujarku pelan.

“Aku pasti akan mengingatmu. Aku akan kesini lagi, soal tour tahun depan, itu sudah dijadwalkan, kau harus menontonku. Oke?” Kata Chanyeol.

“Akan ku pikirkan.” Kataku sambil mengangkat sandalku, berjalan tanpa alas lebih nyaman ternyata.

“Hei, kau hanya perlu menjawab iya.” Kata Chanyeol.

“Siapa tahu aku sudah berganti bias.” Sahutku cuek. Chanyeol melebarkan matanya.

“Ya! Tidak boleh. Kau hanya boleh menjadi penggemarku.” Sahut Chanyeol, wajahnya terlihat serius.

“Mengapa begitu?” Tanyaku sambil mengerutkan dahi.

“Kau kan menyukaiku.” Ujar Chanyeol cuek. Bluushh wajahku memerah malu. Hei mengapa jadi begini? Apa Chanyeol sedang meledekku. Ugh!

“Dan kurasa berpacaran dengan penggemar sepertinya menyenangkan. Kau tidak akan tersesat dan bisa menemukan tempat berlibur yang nyaman ketika mengunjungi tempatnya.” Kata Chanyeol, dia tersenyum lebar.

“Dan kau bisa mendapatkan guide gratis.” Tambahku, ia tertawa pelan.

“Dan tidak akan tersesat.” Chanyeol tersenyum menatapku. Oh, aku akan selalu mengingat senyum itu.

Musim panas dan Park Chanyeol adalah perpaduan yang sempurna. Aku menyukai musim panas, Chanyeol memiliki senyum yang sehangat matahari musim panas dan aku menyukainya. Aku yakin, ini adalah anugerah Tuhan yang paling indah.

—Summer’s note End—

Advertisements

16 thoughts on “Summer’s Note

  1. Omoo … Ini keren banget…feelnya dapet .. aku sampe senyum2 sendiri baca ini .. pokoknya keren bgtt … Keep Writing ya Author .. Semangat. Buat Ff yg keren2 Lg yaaa..

  2. Waaahhh ff nya keren,berharap itu terjadi sama aku…tapi kapan ya????kyknya mustahil deh T^T *eh malah curhat-_-* makasih ya Thor ff nya keren…

  3. huaaaaa…manis banget kisahnya !!! Serasa jadi OC dan kebetulan biasku emang Chanyeol juga,jadi kerasa banget feelnya :p mau dong jadi tokoh utamanya. Ketemu chanyeol,jalan bareng dll dsb dst. Nice ff,keep writing ^^

  4. manis sekaleeeee><
    coba kalo beneran huh lucky bgt tuh ama chanyeol pula 😀
    keep writing thor ditunggu karya selanjutnya yg lebih hebat ya^^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s