You’re The Apple of My Eye

poster you'e the apple of my eye

Annyeong~ Saya (upaphille) datang bawa fanfic titipan. Belum bisa update ff baru nih, mianhae {}
Happy reading kalian!!!

Title       : You’re The Apple of My Eye

Author  : hamhyori (@tinkerbbl)

Cast       : EXO’s Chanyeol – Shin Hyori (OC)

Genre   : Romance

Rating   : G

Length  : Oneshoot

Disclaimer: This fanfiction based on true story. Mengenai judulnya, saya ambil dari novel terjemahan Korea terbitan Penerbit Haru, mengingat tema novel tersebut sama dengan tema fanfiction ini. Untuk yang pernah membaca novel You’re The Apple of My Eye mungkin berpikir ceritanya agak mirip, namun cerita ini bukan terinspirasi dari novel ini, cerita ini adalah cerita nyata seseorang 7 tahun yang lalu ^^

Author’s Note:

[!!] Selagi belum ada tanda pindah ‘POV’, maka POV akan tetap sama seperti POV sebelumnya.

[!!] Tulisan dengan mode Italic/tulisan miring adalah Flashback.

 

 

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu – You’re The Apple of My Eye

 

Hyori POV

April 2014

 

Aku menutup novel yang baru saja selesai aku baca. You’re The Apple of My Eye. Sebuah novel terjemahan dari Taiwan yang ditulis oleh Giddens Ko. Aku menghela napas kasar, lalu tersenyum miris. Cinta pertama? Cerita ini benar-benar mempunyai akhir yang kalau dipikir-pikir cukup menyedihkan.

 

Aku beranjak dari dudukku dan memandang keluar jendela apartemenku. Hujan kembali mengguyur kota Seoul hari ini. Aku memandang ke jalan Apgujeong yang masih dipenuhi oleh orang lalu-lalang untuk pulang kerumah mereka setelah seharian bekerja. Aku sangat menyukai pemandangan ini. Berdiam di dalam apartemen sambil memandang rintik hujan yang jatuh tanpa ampun menerpa orang yang berada di bawahnya. Aku membalikkan badanku. Mataku tertumbuk kembali pada novel yang baru saja aku baca tadi.

 

Ingatanku kembali melayang ke masa 7 tahun silam. Masa yang kata orang masa paling indah selama hidup.

 

Flashback

Daegu, Juni 2007

Author POV

Hyori berjalan sambil tertawa bersama teman-temannya. Mereka baru saja selesai mengikuti acara orientasi yang diadakan oleh sekolah barunya. Ya, gadis itu baru saja memasuki high school dan hari ini terakhir orientasi akan berjalan.

 

Bruukk!!

 

Hyori hampir saja terjengkang ke belakang jika saja temannya tidak menahannya.

 

“Oh, maaf sunbaenim!,” Hyori langsung membungkuk ketika dilihatnya yang dia tabrak tadi adalah salah satu seniornya.

 

“Apa kau tidak apa-apa?,” Hyori langsung tertegun mendengar suara bass yang terasa aneh di telinganya. Dia mendongak. Matanya langsung terpaku pada mata lelaki di depannya.

 

“Maafkan aku, aku tidak sengaja,” laki-laki itu kembali bergumam.

 

“Hyori-ya…” seorang temannya menyenggol lengan Hyori pelan, membuat gadis itu kembali tersadar.

 

“Oh iya, tidak apa-apa sunbaenim. Seharusnya aku yang minta maaf,” Hyori kembali membungkuk, sampai dilihatnya sunbae-nya tadi menepuk bahunya pelan dan berlalu begitu saja.

 

Dia… tampan. Pikir Hyori

 

—–ooooo—–

 

“Namanya Chanyeol, Park Chanyeol,” seorang temannya berkata pada Hyori. “Dan dia ketua klub musik sekolah ini,” tambah temannya.

 

“Kalau begitu ayo kita masuk klub musik,” seru Hyori terlampau bersemangat. Teman-temannya memandangnya heran.

 

“Kau menyukai sunbae itu tapi kau terlihat seperti terobsesi dengannya,” cibir temannya, sementara Hyori hanya cengengesan.

 

—–ooooo—–

 

“Hyori-ya, kau menyukai Park Chanyeol kan?.”

 

Saat itu mereka sedang berkumpul di ruang klub musik, minus kehadiran Park Chanyeol. Hyori memandang salah satu seniornya yang baru saja mengatakan hal yang selama ini dia simpan.

 

“Bagaimana kalian tahu?,” gadis itu memandang tajam kearah teman-temannya. Dilihatnya teman-temannya hanya memamerkan gigi mereka.

 

“Kalian mengatakannya? Aisshh… jinjja!!,” Hyori merutuk sebal. Sementara teman-teman dan seniornya tertawa.

 

“Hyori-ya, kau mau aku bantu mendekatinya tidak?,” Baekhyun berbisik pelan ke Hyori.

 

“Jinjjayo?,” Hyori menganggukkan kepalanya.

 

“Ini nomor handphone-nya,” dan Hyori langsung memekik senang.

 

—–ooooo—–

 

Hyori terdiam di kamarnya. Walaupun gadis itu dalam keadaan duduk di meja belajar dan sedang membaca buku sambil memegang pena, nyatanya matanya dari tadi tidak berhenti memandang ponselnya. Dia mengembuskan napasnya pelan dan mengambil handphone-nya lalu mengetikkan pesan dengan cepat dan langsung mengirimnya.

 

To: Chanyeol sunbae

Halo, sunbae. Ini aku Hyori, kau tahu aku?

 

Bip! Bip!

 

Hyori terlonjak kaget saat mendengar nada pesan dari handphone-nya. buru-buru dibukanya dan dirinya langsung berteriak senang saat mendapat balasan dari Chanyeol.

 

From: Chanyeol sunbae

Oh, kau. Hyori anak klub musik kan? Tentu saja aku tahu. Tidak mungkin aku tidak tahu anggota klub ku sendiri.

 

Dan selanjutnya hari-hari mereka diisi dengan saling mengirim pesan teks tiap malam, tanpa benar-benar dekat di dunia nyata.

 

—–ooooo—–

 

Hyori sedang sibuk mengetik berkas untuk proposal acara klub musik mereka saat Chanyeol tiba-tiba saja membuka pintu ruang klub dengan agak keras. Hyori menghentikan aktivitasnya dan mendadak kaku saat yang dilihatnya masuk adalah Chanyeol.

 

“Oh, kau disini. Sedang apa?,” Chanyeol bertanya tanpa memandang Hyori dan terlihat membongkar lemari arsip seperti mencari sesuatu.

 

“Ne? Ah… Aku sedang mengetik proposal kita, sunbae,” jawab Hyori singkat dan berusaha kembali fokus dan menghiraukan kehadiran Chanyeol. Baru saja gadis itu akan mengetik paragraf baru, dia merasa seseorang berdiri di belakangnya. Dia menoleh ke belakang dan terkejut ketika melihat wajah Chanyeol sudah berada tepat disamping wajahnya, memandang lurus kearah komputer.

 

“Aaah… Proposal acara kemah kita. Coba kulihat,” Chanyeol menggerakkan tangannya hendak meraih mouse. Hyori yang melihat itu buru-buru menyingkirkan tangannya dari mouse dan membiarkan Chanyeol mengambil alih. Gadis itu menahan napasnya dan berusaha tetap relaks.

 

“Hyori-ya…,” pintu ruang klub musik terbuka dan Baekhyun masuk diikuti beberapa anggota klub musik lain.

 

“Oh, Chanyeollie, kau disini? Kami mencarimu tadi,” seru Suho sambil mendorong Baekhyun untuk masuk, sementara Baekhyun dan anggota klub musik lainnya memandang curiga kearah Hyori dan Chanyeol yang sudah berdiri tegap dengan tangan di saku celana. Bersikap seperti tidak ada terjadi apa-apa.

 

“Ya, Park Chanyeol, apa yang kau lakukan berdua di ruangan ini bersama Hyori, huh?,” Tanya Baekhyun langsung, membuat semua orang yang ada di ruangan itu memandang kearah Hyori dan Chanyeol.

 

“Aku? Cuma mengecek apakah sekretarisku bekerja dengan benar,” sahut Chanyeol santai.

 

“Sekretarismu? Dia bukan sekretarismu, Park Chanyeol, dia sekretaris klub musik. Kau ini berkata seolah-olah dia milikmu saja,” seru Baekhyun sambil tersenyum mengejek kearah Hyori. Sementara gadis itu berusaha menelan ludahnya dengan susah payah, menetralisir kegugupan dan rona merah di wajahnya.

 

“Klub musik ini punyaku, aku kan ketuanya. Dan bukankah tugas sekretaris itu membantu ketua? Secara tidak langsung dia adalah sekretarisku.”

 

“Aaaa… Jadi secara tidak langsung kau mengatakan bahwa ‘Hyori adalah milikku’, benar begitu?,” ejek Baekhyun, membuat Chanyeol dan Hyori langsung mendapat ejekan dan tatapan menggoda dari seluruh penghuni ruangan klub musik.

 

Hyori memandang kearah Chanyeol, dilihatnya sunbae-nya itu hanya tersenyum dan berjalan santai kearah Baekhyun lalu menepuk pundak Baekhyun pelan. “Kau jangan membuat gosip yang tidak-tidak, Baek,” setelah berkata seperti itu, Chanyeol langsung keluar dari ruang klub, menyisakan Hyori yang masih menahan nafasnya.

 

—–ooooo—–

 

Hyori POV

Semenjak kejadian di ruang klub musik itu, aku dan Chanyeol tetap berhubungan seperti biasa. Kau tahu maksudku seperti biasa? Kami tetap saling mengirim pesan tiap malam, tapi ketika bertemu langsung, kami bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diluar konteks sekolah.

 

Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran seorang Park Chanyeol. Berdasarkan info dari Baekhun sunbae, Chanyeol sunbae adalah orang yang baik dan ramah, hanya saja pembawaannya memang tenang. Selain badannya yang atletis dan wajahnya yang tampan, dia juga ahli memainkan gitar dan drum. Nilai plus itu yang membuat dia menjadi primadona di sekolah.

 

Hubungan kami – maksudku hubungan lewat pesan setiap malam – sudah berjalan kira-kira 3 bulan. Selama itulah hampir setiap malam aku dan Chanyeol saling bertukar ucapan ‘Selamat Malam’ atau ‘Semoga mimpi indah’ di akhir pesan kami. Namun, ketika keesokan harinya, kami bertemu seperti tidak terjadi apapun.

 

Kami masih bersikap layaknya sunbae-hoobae, ataukah seharusnya aku menyebut hubungan kami canggung? Tapi, aku bersyukur, setidaknya Chanyeol tidak tahu bahwa aku menyukainya. Benar-benar menyukainya.

 

Sampai hari itu datang.

 

—–ooooo—–

 

Author POV

 

To: Chanyeol sunbae

Aku baru selesai makan malam. Apa sunbae sudah makan malam?

 

From: Chanyeol sunbae

Sudah. Hyori-ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tapi, bisakah kau jawab dengan jujur?

 

Gadis itu terdiam. Tiba-tiba dia merasa gugup. Apakah Chanyeol tahu? Pikirnya.

 

To: Chanyeol sunbae

Silahkan. Sunbae ingin bertanya apa?

 

From: Chanyeol sunbae

Hyori-ya, apakah kau menyukaiku?

 

Hyori langsung terdiam. Dia hanya menatap nanar layar handphone-nya. Apa yang harus dia katakan? Haruskah dia berkata jujur? Bukankah kalau dia mengaku maka sama saja dia yang menyatakan cinta lebih dulu? Lalu jika Chanyeol menolaknya bagaimana? Apa setelah ini hubungan mereka akan canggung? Hyori masih sibuk berpikir sambil menggenggam ponselnya dengan erat.

 

To: Chanyeol sunbae

Iya. Tapi tenang saja, aku bukan menyatakan perasaanku pada sunbae. Aku juga tidak memaksa sunbae menerimaku. Aku hanya menyukai sunbae saja, bolehkah?

 

Hyori mendesah setelah mengirimkan pesan itu pada Chanyeol. Dia berharap Chanyeol akan membalas ‘Aku juga menyukaimu, Hyori-ya’, namun balasan yang didapatnya adalah…

 

‘Tenang saja. Aku Cuma bertanya ^^’

 

To: Chanyeol sunbae

Sunbae, aku harap setelah ini hubungan kita tidak menjadi canggung. Aku tidak akan bertingkah aneh-aneh kok

 

From: Chanyeol sunbae

Ne ^^

 

Dan setelah itu, semua perlahan berubah.

 

—–ooooo—–

 

Juni 2008

Hyori POV

 

Sudah setahun berlalu semenjak kejadian dia menanyakan perasaanku padanya. Sekarang aku baru mengerti kenapa di novel-novel kebanyakan penulis men-skip kejadian-kejadian yang dialami tokoh dalam novelnya hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Karena selama itu memang tidak ada kejadian penting yang harus diceritakan.

 

Begitu juga dengan hubunganku dengan Chanyeol. Selama setahun ini, kami masih tetap saling mengirim pesan. Bahkan Baekhyun sunbae sampai frustasi dan menanyakan seperti apa hubungan yang kami jalani, aku hanya bisa diam karena aku tidak tahu jawabannya, sementara Chanyeol sunbae hanya menjawab dengan jawaban klise “dia sekretarisku, wajar aku mengirim pesan padanya tiap malam, Cuma menanyakan kabar dan hasil laporan kita”.

 

Memang benar yang dikatakan Chanyeol, walaupun pada awalnya selalu aku yang terlebih dulu mengirimkan pesan padanya, tapi ujungnya kami akan membicarakan agenda kegiatan klub selanjutnya. Dan ya, selalu aku yang lebih dulu mengirim pesan padanya.

 

Pernah suatu ketika aku tidak mengiriminya pesan hingga 3 hari, setelah itu tiba-tiba dia mengirimku pesan terlebih dulu. Aku senang? Bukan senang lagi, aku bahkan tertawa seperti orang gila.

 

Aku tidak pernah tahu isi pikiran seorang Park Chanyeol. Apakah dia menyukaiku? Baekhyun sunbae bilang dia tidak tahu karena Chanyeol tidak pernah bercerita apapun tentangku padanya. Suatu ketika aku berpikir bahwa dia mungkin menyukaiku, tapi kemudian aku berpikir ulang ketika mendengar percakapan teman-temanku.

 

“Aku rasa dia menyukaimu, Hyori-ya. Kalau tidak, tidak mungkin dia masih mau membalas semua pesanmu. Bahkan ini sudah setahun, kau tahu?.”

 

“Tapi, kalau dia menyukaiku bukankah seharusnya dia mengatakannya?,” balasku.

 

“Mungkin dia takut ditolak.”

 

“Tidak mungkin. Dia sudah tahu bahwa aku menyukainya. Jadi, apa yang dia takutkan?,” perkataanku ini sukses membuat teman-temanku terdiam. See? Mereka saja bahkan tidak tahu jawabannya.

 

Tapi, ada masa ketika aku berpikir bahwa mungkin saja dia menyukaiku. Saat itu aku baru tahu bahwa Chanyeol juga bersekolah di sekolah yang sama denganku saat Junior High School. Ketika kami mengadakan event di sekolahku dulu, aku memutuskan untuk mengunjungi kelas yang aku tempati ketika duduk di bangku kelas 3. Saat aku masuk kesana, aku kaget melihat ternyata Chanyeol juga ada disana bersama Baekhyun dan sedang duduk di pojok kelas.

 

“Ada perlu apa kesini, Hyori-ya?,” Tanya Baekhyun sunbae.

 

“Aaahh… aku hanya ingin melihat kelasku dulu,” jawabku sekenanya, berusaha mengalihkan perhatianku dari Chanyeol.

 

“Jadi, kau dulu di kelas ini juga?,” pertanyaan Baekhyun sunbae membuatku kaget. Juga katanya?

 

“Sunbae dulu bersekolah disini juga? Kenapa aku tidak pernah melihat sunbae?,” tanyaku kaget.

 

Kulihat Baekhyun sunbae hanya tertawa. “Kami lebih sering di dalam kelas atau berkumpul dikantin C. Kalian kan tidak boleh masuk ke kantin C sebelum kelas 3, jadi wajar saja kalian tidak melihat kami.”

 

“Kami?.”

 

“Iya. Astaga, Hyori. Jangan bilang kau juga tidak tahu bahwa Chanyeol juga bersekolah disini? Bahkan dia belajar di kelas ini juga,” Baekhyun sunbae berseru kaget. Aku hanya membelalakkan mataku.

 

“Baekhyun-ah, lihat. Tulisan yang aku tulis di meja ini dulu sudah dicoret oleh seseorang,” aku dan Baekhyun sunbae mengalihkan pandangan kearah Chanyeol sunbae yang menunjuk sebuah tulisan di meja yang sedang di dudukinya. Itu, bukankah itu aku yang mencoretnya dulu? Karena aku pikir sangat kekanakan orang yang menulis seperti itu.

 

“Chanyeol sunbae, apa dulu sunbae duduk disitu?,” aku bertanya dengan hati-hati.

 

“Eo. Kenapa?.”

 

“Aku…. Dulu juga duduk disitu,” ucapku lirih. Kedua lelaki itu memandangku.

 

“Kau duduk di tempat Chanyeol?,” teriak Baekhyun sunbae. Aku hanya mengangguk.

 

“Waahh… berarti kita jodoh, Hyori-ya,” ucapan Chanyeol membuatku terdiam kaku. Apa dia bilang? Jodoh? Aku tersadar saat Chanyeol sudah berjalan keluar kelas dan Baekhyun sunbae yang menepuk pundakku pelan.

 

“Kurasa itu sinyal kecil darinya untukmu,” Baekhyun sunbae mengedipkan matanya padaku dan berjalan keluar kelas sambil bersenandung kecil.

 

Bolehkah aku sedikit…. Berharap?

 

—–ooooo—–

 

Agustus 2008

 

Hari ini ulang tahunku yang ke-17. Seumur hidup aku tidak pernah merayakan ulang tahunku, karena ulang tahunku biasanya bertepatan dengan libur panjang sekolah. Jadi, berhubung ini adalah ulang tahun ke-17, aku hanya meminta dirayakan kecil-kecilan. Aku hanya mengundang anggota klubku saja. Bukannya aku tidak punya teman di kelas atau tidak ingin mengundang mereka, hanya saja selama setahun aku bersekolah disini, aku memang lebih sering berkumpul dengan anggota klub musik ketimbang teman sekelasku.

 

“Hyori-ya, nanti malam acaranya jam berapa?,” Tanya Baekhyun sunbae.

 

“Jam 8.”

 

“Acara apa?,” tiba-tiba aku mendengar suara bass. Aku langsung memandang kearah Baekhyun sunbae, mengisyaratkan untuk tidak mengatakan apapun.

 

“Apa Hyori tidak mengatakannya padamu? Hari ini adalah hari ulang tahunnya, jadi dia mengundang seluruh anggota klub,” aku hanya mendesah mendengar jawaban Suho sunbae.

 

“Jinjja? Kenapa kau tidak mengundangku?,” Chanyeol bertanya heran sambil menatapku. Aku menundukkan kepalaku sambil berpikir keras. Alasan apa yang harus aku berikan padanya?

 

“Ah… itu, aku baru saja akan mengatakannya pada sunbae. Tentu saja aku mengundang sunbae,” aku tertawa garing. Kulihat dia hanya menganggukkan kepalanya dan kembali berkutat pada gitarnya. Aku hanya menghela napas. Apakah dia akan datang?

 

—–ooooo—–

 

Aku bersiap ingin meniup lilin di kue ulang tahunku saat Baekhyun sunbae menahannya dan berseru “Make a wish dulu”. Aku mengangguk dan memejamkan mataku sambil berdoa. Bolehkah aku berharap Chanyeol datang malam ini? Aku membuka mataku dan meniup lilin di kue ulang tahunku. Semua orang bergembira malam itu.

 

Dan sayangnya, sampai acara selesai, Chanyeol tidak juga muncul.

 

—–ooooo—–

 

Desember 2008

Author POV

 

Musim dingin telah menyapa kota Daegu. Hyori hanya berjalan pelan ke kelasnya sambil sesekali merapatkan mantelnya. Bahkan setelah berada di area dengan penghangat ruangan pun, baginya tetap saja dingin. Sudah beberapa hari gadis itu tidak melihat Chanyeol di sekolah. Bahkan dia setiap hari datang ke ruang klub, nyatanya ketuanya itu tetap tidak muncul. Dia benci musim dingin. Dan dia akan mengingat musim dingin kali ini, dimana dia tak kunjung melihat Chanyeol. Seperti kehilangan jejak lelaki tersebut.

 

Bertanya pada teman-teman Chanyeol? Maka dia akan mendapat ejekan, terutama dari Baekhyun. Tidak, dia tidak akan mengambil resiko itu. Berita tentang dia menyukai Chanyeol sudah agak menyebar. Buktinya beberapa teman sekelasnya bahkan tahu. Bahkan senior-senior lain juga ada yang tahu. Siapa lagi yang mengatakannya kalau bukan Baekhyun dan teman-temannya? Dia masih punya muka untuk tidak menanyakan keberadaan Chanyeol.

 

Gadis itu bahkan sudah mengirim pesan pada Chanyeol, sayangnya tidak satupun dari pesannya yang dibalas oleh Chanyeol hingga sekarang. Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta itu jika tidak melihat pujaan hatinya sehari saja seperti tidak mendapat oksigen, maka itulah yang terjadi pada gadis itu. Semenjak Chanyeol menghilang, Hyori seperti kehilangan semangat hidup. Bahkan, teman-temannya menawarkan untuk mencari tahu keberadaan Chanyeol. Tapi hasilnya, Chanyeol seperti hilang ditelang bumi.

 

—–ooooo—–

 

26 Desember 2008

 

Hari itu seluruh anggota klub berkumpul dirumah Hyori karena ruang klub mereka sedang direnovasi oleh pihak sekolah. Dan karena rumah Hyori berada di pusat kota, jadilah mereka berkumpul disana untuk membahas masalah agenda tahun baru mereka. Namun, rapat terhenti ketika salah seorang teman Hyori bertanya.

 

“Sunbae, akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat Chanyeol sunbae.”

 

“Eo. Aku juga. Bahkan dia tidak datang ke klub. Aku juga tidak pernah melihatnya di sekolah lagi. Bukankah ini sudah hampir 3 minggu?.”

 

Hyori hanya diam. Tidak berani bertanya. Hanya berani menunggu jawaban yang dilontarkan oleh teman-teman Chanyeol.

 

“Kalian tidak tahu? Chanyeol kecelakaan beberapa minggu lalu.” Seru Suho.

 

Hyori membelalakkan matanya. “Apa parah?.”

 

“Kelenjar di dagunya pecah. Dia terpaksa di bawa ke Seoul untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik disana. Lagi pula orang tuanya berada di Seoul, jadi mereka pikir memindahkannya ke Seoul lebih baik sehingga mereka bisa merawatnya,” ujar Baekhyun.

 

Hyori hanya terdiam. Berusaha mencerna perkataan yang dilontarkan oleh Baekhyun.

 

“Dia sudah pindah ke Seoul. Jadi, kalian tidak akan melihatnya lagi.”

 

“Hyori-ya, kau tidak apa-apa?,” salah satu teman Hyori mengusap lengan Hyori pelan. Sementara gadis itu berusaha untuk menahan agar air matanya tidak jatuh.

 

“Hyori-ya. Mungkin sebaiknya aku mengatakannya padamu. Sebenarnya, Chanyeol pernah mengatakan padaku bahwa dia juga menyukaimu, hanya saja…”

 

“Chanyeol sunbae menyukai Hyori? Baekhyun sunbae, kau jangan berbohong. Kalau Chanyeol sunbae menyukai Hyori, sudah pasti dia sudah membuat Hyori menjadi pacarnya, bukannya menarik ulur Hyori selama setahun,” cecar salah seorang teman Hyori.

 

Baekhyun hanya mengedikkan bahunya. “Dia mengatakannya padaku seperti itu. Tapi dia punya alasan tersendiri untuk tidak mengatakannya pada Hyori.”

 

Hyori menatap Baekhyun nanar. “Apa alasannya, sunbae?.”

 

Baekhyun kembali mengedikkan bahunya. “Dia tidak mengatakannya.”

 

Dan setelah itu cairan bening itu jatuh begitu saja disusul isakan pelan dari Hyori.

 

—–ooooo—–

 

Seoul, April 2014

Hyori POV

 

Sudah 6 tahun berlalu sejak Baekhyun sunbae mengatakan bahwa cinta pertamaku, Park Chanyeol, juga sebenarnya menyukaiku. Lalu aku harus bersikap seperti apa selain menangis? Mengejarnya ke Seoul? Bahkan sekarang aku sudah berada dalam satu kota dengannya, tapi tetap saja selama 4 tahun aku hidup dan kuliah di Seoul, aku tetap tidak bisa bertemu dengan Chanyeol.

 

Sampai sekarang aku masih belum melupakannya. Aku juga masih tidak percaya dengan yang Baekhyun sunbae katakan bahwa Chanyeol juga menyukaiku. Kalau dia menyukaiku bukankah seharusnya dia mengatakannya? Takut ditolak? Hey, dia bahkan tahu bahwa aku juga menyukainya. Yah, kecuali dia lelaki pengecut yang tidak tahu caranya menyatakan cinta pada perempuan.

 

Jika ada pepatah yang mengatakan bagi seorang perempuan, cinta pertama itu akan selalu tersimpan di hati, maka pepatah itu benar. Aku memang tidak menyukainya lagi. Oh oke, aku menyukainya, sedikit. Tapi tetap saja, setiap mendengar namanya disebut saat berkumpul dengan anggota klub-ku dulu, aku langsung memasang telingaku baik-baik.

 

Semenjak 6 tahun lalu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya. Takdir seperti mempermainkan kami. Suatu ketika anggota klub berkumpul di salah satu kafe dan aku datang, maka Chanyeol tidak akan datang. Lalu ketika dilain waktu aku yang tidak bisa datang, maka aku mendapat pesan dari temanku bahwa Chanyeol datang berkumpul bersama mereka.

 

Yang lebih parahnya lagi, ketika aku sudah dalam kereta pulang dari Daegu menuju Seoul bersama temanku, Baekhyun sunbae tiba-tiba mengirim pesan pada temanku bahwa dia dan Chanyeol sedang dalam kereta menuju Daegu. Permainan apa yang sedang kami jalani saat ini? Kami berpapasan, tanpa tahu yang sebenarnya. Ibarat adegan seperti di film-film dimana sepasang kekasih yang lama tidak bertemu berpapasan tanpa menyadari satu sama lain. Sayangnya, jika di film salah satu dari mereka menyadarinya. Aku? Bahkan kami seperti tidak peduli satu sama lain.

 

—–ooooo—–

 

Author POV

 

Hyori menutup pintu apartemennya menggunakan kakinya, sementara tangan kirinya sibuk memegang kantong belanja dan tangan kanannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinganya.

 

“Baiklah, ditempat biasa, kan? Aku akan datang. Tenang saja, malam ini aku bebas. Ne, sampai jumpa nanti malam.”

 

“Ah, Min Ji-ya, apa kalian juga menghubungi Chanyeol sunbae?,” ada nada berharap dalam suara gadis itu.

 

“Ah, baiklah. Tentu saja aku akan datang. Tidak, tidak apa-apa. Baiklah. Aku tutup. Bye,” Hyori meletakkan ponselnya begitu saja di meja dapur dan berlari ke kamarnya untuk segera bersiap-siap.

 

—–ooooo—–

 

“Hyori-ya, sudah lama tidak melihatmu. Kau semakin cantik saja,” Baekhyun menggoda Hyori yang baru saja datang. Sementara gadis itu hanya mencibir, tahu bahwa Baekhyun hanya menggodanya.

 

“Bualanmu sudah basi, sunbae. Memang sudah berapa lama kita tidak bertemu? Perasaan aku bertemu denganmu dua minggu yang lalu di Dongdaemun.”

 

Baekhyun hanya tertawa mendengar ucapan Hyori.

 

“Errr… sunbae, apa Chanyeol sunbae akan datang?,” gadis itu bertanya ragu sambil sedikit berbisik kearah Baekhyun. Namun, yang didapatnya adalah tatapan menggoda dari Baekhyun.

 

“Aku dengar tadi dia bilang akan datang. Kenapa? Kau merindukannya?,” Baekhyun terkekeh pelan. Hyori hanya diam sambil kembali membenarkan posisi duduknya.

 

Dua jam telah berlalu, Hyori telah berulang kali memandang kearah pintu masuk kafe, namun yang ditunggunya tidak juga muncul.

 

“Sepertinya dia tidak akan datang,” gumam Hyori pelan.

 

Baekhyun mendengar gumamannya dan terkekeh. “Kenapa? Apa kau ada acara setelah ini?.”

 

“Iya. Sepertinya aku tidak bisa lama-lama. Aku ada janji lain. Maafkan aku,” gadis itu beranjak dan pamit pada teman-temannya. Sudah dua jam dia menunggu, bisa dipastikan bahwa lelaki itu tidak akan datang ke acara mereka lagi kali ini. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

 

“Oh, Hyori-ya, kau sudah mau pulang? Tidak menunggu Chanyeol sunbae?,” Tanya Min Ji. Hyori hanya menggeleng.

 

“Aku duluan,” setelah membayar di kasir, gadis itu langsung menuju pintu kafe dan menghilang dibaliknya.

 

—–ooooo—–

 

Hyori POV

 

Aku duduk di halte sambil menunggu bus jurusan Apgujeong datang. Ini bahkan sudah jam 10 malam, tidak mungkin Chanyeol akan datang mengingat sudah terlalu malam untuk mulai hang out. Aku kembali melirik jam tanganku. Bus jurusanku ternyata sudah tiba.

 

Sudah terlalu larut untuk orang keluar malam. Penumpang bus juga hanya sedikit sehingga aku memilih untuk mengambil tempat di jendela, sambil memandang hiruk pikuk kota Seoul, kota yang tidak pernah tidur. Aku merasa ponsel-ku bergetar. Kulihat sebuah pesan Kakaotalk masuk. Dari Min Ji.

 

Hyori-ya, kau dimana? Balik lah lagi ke kafe, Chanyeol sunbae baru saja datang.

 

Aku kembali terpaku. Dia… benar-benar datang? Aku melihat keluar jendela, belum terlalu jauh. Haruskah aku meminta supir untuk berhenti? Aku sempat berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya mengetik pesan untuk Min Ji.

 

Aku sudah di dalam bus. Sudahlah, mungkin kami tidak berjodoh.

 

Setelahnya, tidak ada balasan dari Min Ji. Aku hanya menghela napas. Seharusnya aku berhenti mencari Chanyeol dan berharap padanya. Bukankah sudah jelas bahwa kami memang tidak ditakdirkan bersama?

 

Aku tersenyum sambil memandang jalanan. Sebentar lagi akan sampai di halte pemberhentianku. Mungkin, sudah saatnya aku benar-benar melepasnya. Aku bertekad, bahwa ketika bus ini berhenti di halte tempat aku turun, maka saat itu juga aku akan meninggalkan semuanya dalam bus ini, membawanya sejauh mungkin dariku.

 

Aku turun dari bus dan tetap berdiri di halte. Memandang bus menjauh dengan perlahan. Membawa semuanya. Aku memandang langit. Langit Seoul sangat indah malam ini. Aku berjalan pulang menuju apartemenku. Biarlah cerita aku dan Chanyeol menjadi kenangan untukku.

 

Aku teringat novel You’re The Apple of My Eye. Benar apa yang diucapkan oleh Ko Jing Teng, tokoh utama dalam novel itu, bahwa cinta pertama selamanya tidak akan pernah berhasil. Cinta pertamaku… juga tidak berhasil.

 

Tapi, aku berterima kasih pada Chanyeol karena telah membuat masa-masa remajaku indah, walaupun bukan dengan akhir yang bahagia.

 

Bukankah setiap jalan cerita memiliki akhirnya masing-masing?

 

Dan inilah akhir cerita cinta pertamaku. Aku menyesal? Tidak. Aku tidak pernah menyesal karena menjadikannya cinta pertamaku.

 

 

Jangan tanyakan ini kisah siapa, karena sekeras apapun kalian bertanya saya tidak akan menjawab. Silahkan menebak dan berdialek dengan pikiran kalian masing-masing. Atau adakah kisahnya mirip seperti ini? Memang kisah ini terlihat seperti kisah yang ada dalam cerita atau film, tapi sebenarnya kisah dalam film/cerita tesebut juga terinspirasi dari kisah nyata loh ^^

 

 

Menyatakan cinta, lalu ditolak itu pedih. Tapi lebih pedih kalau kalian berpisah tanpa pernah menyatakan cinta, padahal sebetulnya saling mencintai.

 

Jika dia mencintaimu, dia tidak akan membuatmu menunggunya tanpa ketidakpastian.

 

Kata orang, bagi seorang perempuan itu, cinta pertama sangat berarti. Karena itulah mereka menyimpannya dalam hati mereka, bukan mengingatnya di otak.

Advertisements

6 thoughts on “You’re The Apple of My Eye

  1. Ceritanya mengharukan ampe kebawa juga aq sampai pengen nangis. Mungkin nie kisah author sndiri ya? Cpa tau ja tu cow cuma mempermainkan kita stlah tau kita suka ma dya jdi di tarik ulur terus. Aq reader bru dsni slam kenal

  2. AKu sukaa XD kasihan Hyori, yang sabar yaaa. Kata orang paling nggak kita harus patah hati sekali dulu, baru bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Keep writing thor :))

  3. jleb jleb banget kisahnyaa
    author sukses bkin pmbcamengharu biru deh pokoknya..
    mantap thorr
    pas bacanya, aku suka ngebayangin hyori itu sulli, obsesibgt ama couple chanli soalnya.. kekekek

  4. sumpah ini hampir hampir mirip sm youre the apple of my eye.. y walau gak setragis film ituh.. ada sequelnya gak ini kak? this fanfiction need so much a sequel i think karena aku penganut happy ending story.. okay, aku gk maksa kok cuman aku jatuh cinta ama ni ff.. keep writing kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s