[Chapter 2] Nothing On You

Cover nothing on You

Author: Araiemei

Cast:

Park Chanyeol (EXO K) | Byun Baekhyun (EXO K) | Kim Seojung/ Avery Kim (OC)

Do Kyungsoo (EXO K) | Kim Suho (EXO K)

Rate: PG

Genre: Family, Romance, Sad, Fluff.

CHAPTER 2

Pintu lift terbuka, seorang gadis keluar dengan keadaan yang nampak letih. Handbag coklat ia biarkan tersampir di bahu kirinya. Gadis itu melangkah di koridor lantai empat, menuju pintu apartemen yang berada di urutan kedua terujung. Setelah memasukan beberapa sandi, pintu di depannya terbuka secara otomatis, ia masuk pun masih dengan gaya yang sama–seolah-olah tidak mendapat makan selama tiga hari – tiga malam.

Sejenak ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Saat itu jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Samseong dong tidak pernah terbebas dari yang namanya kemacetan.

Malam ini lebih menyebalkan dari malam-malam kemarin, pikirnya. Namun, sekelabat bayangan seseorang muncul dan tertangkap oleh matanya tengah mondar-mandir di belakang counter. Gadis itu menghentikan langkah, dan memilih memperhatikan sosok di depannya. Sosok yang beberapa waktu ini membuatnya bingung, dan terus mencari-cari keberadaannya, dan kini, terlihat tengah sibuk mengaduk-aduk masakannya di atas kompor.

Waktu itu, beberapa minggu yang lalu, dengan langkah pasti ia akan mendatangi sosok itu. Tidak peduli selelah apapun keadaannya. Dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja, ia akan setia menunggu sampai semangkuk ramyeon diletakan di depannya. Maka, pada saat itu pula kelelahan yang dirasakannya menguap ke udara. Bukan karena ramyeon yang masuk ke dalam perutnya, tapi lebih karena senyuman dari sosok bermata bulat tersebut.

Jika ia boleh jujur, keinginannya ialah melakukan hal yang sama seperti beberapa waktu yang lalu. Setelah beberapa minggu ini terkesan sibuk dengan urusan dan kehidupan masing-masing, ia ingin sekali berbicara berdua dan melepaskan rindu satu sama lain. Tapi, mengingat apa yang baru saja ditemuinya selagi di acara pertunangan tadi, gadis itu memilih untuk lebih baik melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia harus beristirahat, daripada melakukan hal yang akan menambah lelah perasaannya.

“Oh, wasseo!”

Bagi gadis yang saat itu tengah berusaha menjaga keseimbangan perasaanya saat melewati ruang tengah apartemen, suara berat seseorang yang menyapanya itu sungguh sangat familiar sekali. Ia ingin mengacuhkan sapaan itu begitu saja, tapi lagi-lagi, sebuah panggilan menginstrupsi langkahnya.

“Aku masak dua bungkus ramyeon. Ayo, kita makan!”

Sosok berkaus putih itu keluar dari counter dengan kedua tangan memegang sisi nampan yang berisi mangkuk ramyeon. Ia tersenyum ke arah Seojung yang masih berdiri di tempatnya, lantas meletakan mangkuk ramyeon itu ke atas meja makan.

“Aku sengaja masak malam-malam, karena aku tahu kau pasti pulang telat, Samseong dong telah membuat habis energimu untuk marah, kan? Maka dari itu, kau harus makan dulu, oke?”

Gadis itu kembali terpaku, saat sosok itu kembali masuk ke dalam counter untuk mengambil botol minum di dalam lemari pendingin. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya, sama halnya dengan ia yang tidak mengerti dengan sikap sosok itu. Sosok yang berhasil membuatnya bertanya-tanya sendiri.

Kenapa kau bisa bersikap baik kepadaku setelah kau memarahiku habis-habisan waktu itu? Kenapa kau mengajakku makan ramyeon bersama setelah kau mengacuhkanku begitu saja? Kau datang saat aku tidak bisa membukakan pintu untukmu, seperti kau pergi yang tidak pernah memberi tahuku mau kemana dan berapa lama. Kau bersikap seolah-olah aku tidak memikirkan keadaanmu, atau memang kau tidak menganggap keberadaanku. Tapi, di sisi lain, kau membuatku berpikir bahwa aku adalah satu-satunya orang yang kaumiliki. Yang kau bisa ajak bertukar pikiran dan berbagi semangkuk ramyeon.

Begitu sosok itu sudah kembali dengan sebotol air di tangannya, gadis itu hendak mengucapkan sesuatu, namun lagi-lagi gagal, karena sosok itu yang terlebih dahulu merebut kesempatannya berbicara.

“Sudah lama kita tidak makan ramyeon malam-malam, kau tidak kangen itu?” ucapnya saat menuangkan air dari botol di tangannya ke dalam gelas yang sudah ia letakan di atas meja.

“Hey! Apa yang kaulakukan di sana? Ayo, makan!” panggilnya lagi saat mendapati sosok tubuh yang masih tidak beranjak dari tempatnya sama sekali.

“YA! Ayo makaan…,”

Seojung berusaha mengelak saat orang itu berusaha menariknya mendekati meja makan, “Oppa, aku tidak lapar! Aku sudah kenyang!”

Sekitar tiga detik mereka berpandangan, “Kalau begitu kau temani aku makan,” ucap orang itu, lantas melanjutkan aksinya, mendorong tubuh Seojung secara paksa, dan mendudukannya di kursi.

Seojung tidak bisa melakukan apapun, selain hanya memandangi orang di depannya yang sudah sibuk mengaduk-aduk mangkuk ramyeon.

“Ayo, makan!”

Seojung menggeleng.

“Yakin?”

Seojung diam.

Laki-laki itu hanya bisa mengangguk-angguk kecil, lantas mengembalikan fokus ke arah mangkuknya, “Geurae!” ucapnya.

*

Beberapa menit duduk di berhadapan dalam diam. Seojung berusaha menutup-nutupi keadaan di dalam hatinya yang sebenarnya. Bersikap seolah-olah ia tidak peduli dengan Chanyeol yang dengan lahapnya menghabiskan dua bungkus ramyeon dalam satu mangkuk.

Ia menurunkan tengannya yang sedari tadi digunakannya untuk menopang dagu, lantas melipatnya di atas meja.

“Woah! I’m full!” ucap Chanyeol, meletakan gelas yang sudah tandas isinya itu ke atas meja.

“Kau tidak mungkin memaksaku menemanimu menghabiskan ramyeon itu tanpa ada yang harus kita bicarakan, kan?”

Chanyeol sejenak mengernyit, membalas menatap Seojung di hadapannya, “Apa? Kau ingin kita membahas apa?” ucapnya dengan senyum yang selama ini memang Seojung rindukan. Ia juga ikut melipat kedua tangannya di atas meja, membuat Seojung benar-benar galau dengan perasaannya sendiri. Ditatapnya wajah Seojung selagi menunggu gadis itu mengungkapkan isi kepalanya.

“Aku…,” gadis itu mulai bersuara, di tengah-tengah kebimbangannya antara harus diutarakan saja atau tidak. Ia ragu apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka berdua membicarakan prihal yang semenjak beberapa hari yang lalu telah mengganggu konsentrasinya saat sedang melakukan apapun, “sebelumnya aku mohon agar kau tidak marah, karena ini menyangkut privasimu yang seharusnya aku tidak perlu ikut campur di dalamnya. Maafkan aku, tapi, aku harus meminta kepastian yang sebenarnya darimu tentang hal yang beberapa hari ini mengganggu pikiranku,” ucap Seojung yang memilih menarik nafas sejenak, saat itu ia bisa melihat dengan jelas Chanyeol yang mengerutkan dahinya, dan hampir membuat kedua ujung alisnya bertemu, “sebenarnya, dua minggu yang lalu, saat kita berdua berkunjung ke sebuah cafe di Daechi dong, aku dengan sengaja membaca sesuatu di buku catatanmu.”

Demi Tuhan, Seojung berpikir untuk mengubur kepalanya dalam-dalam saat itu juga.

*

“Oxford University?” ucap Seojung lirih, berusaha menajamkan matanya begitu membaca ulang kalimat yang terbentang di pertengah kolom buku harian yang dipegangnya, sedetik kemudian, ia merasakan seperti meneguk batu ke krongkongannya, bukan air liur.

Cepat-cepat ia menutup buku harian di tangannya tersebut, meletakannya kembali menjadi dalam keadaan semula: tergeletak di samping cangkir espresso milik seseorang. Ia juga berusaha untuk menunjukkan keadaan batin dan wajahnya menjadi seolah-olah tidak telah mengalami apapun yang mengejutkan sekembali orang itu di hadapannya.

“Maaf jika lama. Tadi Profesor Jung yang menelpon,”

Seojung hanya mengangguk, melipat kedua tangannya di atas meja, lantas berusaha menampilkan senyum yang baik.

“Kau bahkan sudah menghabiskan setengah cangkir lattemu,” ucap orang itu lagi menunjuk cangkir minuman milik Seojung, “peminum latte juara,” laki-laki itu terkekeh, lantas menyeruput espressonya.

Seojung tidak menjawab pun tidak melanjutkan meminum lattenya. Ia hanya tersenyum menanggapinya. Sejenak melupakan tentang statusnya sebagai peminum latte yang handal. Karena saat itu yang ada dalam pikirannya adalah tentang hal yang bahkan tengah tidak dalam pengetahuannya sama sekali. Ya, Seojung merasa ada sesuatu yang memang masih ditutupi darinya.

*

Suho menikmati pemandangan langit malam di balkon kamarnya. Tuxedo yang membalut tubuhnya selama acara pertunangan tadi, sudah disalinnya menjadi kaus putih polos dan celana jeans selutut. Ia terlihat menerawang, sesuatu bergolak di dalam kepalanya semenjak tadi. Entah apa itu, yang pasti, hal itu membuatnya tidak fokus saat Yeowoon mengajaknya mengobrol tentang pesta pertunangan mereka selagi ia menyetir menuju salah satu area apartemen di Yeongdong dero.

Ia membuang nafas perlahan. Sesuatu bergetar di dalam saku celananya. Sebenarnya, ada keinginan di dalam hatinya untuk membuang handphone itu jauh-jauh, tanpa membuka pesan yang masuk ke dalamnya terlebih dahulu. Ia tidak ingin membahas apapun lagi dengan orang itu. Sudah cukup ia dibuat tidak begitu menikmati akhir dari acara pertunangannya.

Dengan berat hati, Suho pun memutuskan untuk membuka pesan tersebut, membaca beberapa kalimat yang tertera di layarnya.

‘Eobseoyo, semua sudah hampir selesai. Aku hanya perlu mengajukan permohonan visa, dan aku bisa menyelesaikannya besok. Gomawo atas tawarannya.’

Lagi-lagi Suho mendesah lemah, sebelum mengetikan sesuatu untuk membalas pesan tersebut.

‘Arraseo. Sepertinya, aku memang tidak punya kekuatan apapun lagi untuk menahanmu. Semoga ini adalah pilihan yang terbaik. Aku hanya meminta satu kepadamu, tolong jangan buat dia menangis.’

*

”Aku ke Korea! Aku akan menemui ayah!”

“AVERY!”

Wanita paruh baya, dan berambut pendek potongan laki-laki itu berteriak, matanya yang merah tampak berkilat begitu  menghujam dua boleh manik mata milik seorang gadis belia di depannya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mengajak anak perempuannya itu berbicara dengan nada baik-baik, dan pikiran yang tenang. Kesabarannya sudah habis, dan ia tidak tahan dengan segala sikap kekeras-kepalaan anak semata wayangnya itu.

“Jika Ibu ingin aku tetap di sini, tinggalkan pria itu!”

Anak gadis itu terus saja menghujat ibunya dengan segala kalimat yang menusuk. Dan, kali ini, ibu tidak bisa menyahut dengan gamblang perkataannya. Ia terlihat diam. Dalam jeda sepersekian detik anak-beranak itu hanya saling pandang satu sama lain.

“Tidak bisa, kan? Kenyataannya kau lebih memilih pria tua yang sudah beristri itu, kan, daripada aku?” ucap si anak memecah keheningan.

“Avery…,” Ibu melemahkan suara, lebih tepat apabila disebut mendesah lirih di tengah-tengah keputus-asaannya. Ditatapnya Averi kali ini dengan tatapan yang seakan-akan memohon kepada anaknya itu untuk berhenti mendebatnya terus menerus. Biarkan ia berpikir jernih tanpa harus bersitegang terlebih dahulu. Namun, Avery tetaplah Avery yang selama ini dikenalnya sebagai sosok anak satu-satunya yang ia miliki dan ia besarkan seorang diri…

“Sudahlah, Bu. Lagipula aku sudah besar. Aku tidak perlu tangan Ibu lagi untuk mengurusku. Aku bisa hidup mandiri, menentukan masa depanku, dan…”

Avery menarik nafas sebelum melanjutkan perkataannya, “aku memutuskan untuk menemui ayah ke Korea. Mulai besok, ibu tidak akan menemukanku lagi di sini. Semoga ibu berbahagia dengan pasangan baru ibu. Oh, ya! Terimakasih juga sudah merawatku selama dua puluh tahun.”

Setelah menyelesaikan ucapannya, Avery berlalu melewati Ibunya, berjalan menaiki anak tangga rumah mereka, dan masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Dengan gerak sigap ia membuka lemarinya dan mengemas barang-barangnya. Ia memutuskan untuk pergi malam itu juga.

Seolah-olah bengal dengan suara Ibunya yang memanggil-manggil namanya dan seakan-akan buta karena tidak menghiraukan Ibunya yang berusaha menghalang-halanginya saat mengambil bajunya satu persatu di dalam lemari untuk dikepak di dalam kopor yang sudah di taruhnya di atas tempat tidur.

“Avery, Ibu mohon dengarkan Ibu! Jangan lakukan ini Avery! Kau bahkan tidak tahu siapa dan di mana Ayahmu sebenarnya. Ibu takut terjadi sesuatu jika kau tetap nekat-“

“Permisi, aku harus pergi!” ucap Avery mencegat perkataan Ibunya. Tangannya telah memegang ganggang kopor, sementara di lengan kirinya tersampir mantel hijau kesayangannya. Ia sudah siap untuk keluar saat itu juga, tapi Ibunya masih berusaha menghalang-halangi langkahnya.

“Avery, Ibu mohon, Avery, Ibu mohon! Kau boleh memarahi Ibu, kau boleh memukuli Ibu! Ibu tau Ibu salah. Tapi, tolong, kali ini saja, biarkan Ibu-“

“Menikah dengan pria itu?”

Avery menatap dalam mata Ibunya, “Bu, aku tidak pernah menghalangi Ibu untuk berkencan dengan pria manapun. Ibu ingin menikah, silahkan! Tapi, aku tidak bisa menerima dia sebagai ayahku. Terlebih karena dia sudah mempunyai istri, dan… dia punya anak, Bu. Aku tidak bisa membayangkan jika seandainya aku berada pada posisi anak itu. Oh, tidak! Mungkin akan lebih baik jika berada di posisinya, bukan malah menjadi anak dari perempuan yang sudah menghancurkan rumah tangga orang lain!”

Tanpa ucapan selamat tinggal, Avery merangsak keluar dengan membawa kopor di tangannya. Setelah akhirnya ia berhasil membuat Ibunya terdiam oleh ucapannya, ia memutuskan untuk benar-benar pergi.

Setelah berhasil menggerek kopornya hingga di depan pagar rumah, gadis itu  menyetop sebuah taksi yang lewat. Dengan segera ia pun memasukan barang-barangnya dan melesak masuk ke dalam mobil tersebut.

Baru saja si sopir taksi itu hendak membuka mulut untuk bertanya kepada gadis yang menjadi penumpangnya itu prihal alamat yang akan dituju, saat itu pula Avery dengan cepat berkata, “Francis Assisi, sir!”

Sopir paruh baya itu hanya mengangguk, lantas membawa laju mobilnya menuju arah timur Hougang central, lantas berbelok ke kanan memasuki kawasan Upper Serangoon. Di tengah perjalanan tersebut, sesekali si sopir mencoba mencuri-curi pandang dari balik kaca spion. Malam ini, lagi-lagi ia harus mendapat penumpang yang terlihat mempunyai masalah besar dalam hidupnya. Karena ia bisa mendengar, bagaimana gadis itu menangis di belakang jok. Lalu beberapa menit kemudian terlihat mengeluarkan handphone, dan berbicara sendiri dengan benda persegi yang ditempelkannya ke telinga itu.

“Hallo. Byun, kau tidak sibuk, kan? Kita bertemu di gereja St. Francis Asisi.”

“-“

“Iya, malam ini. Sepuluh menit lagi aku sudah di sana. Bye!”

Gadis itu memutus sambungan teleponnya, lantas kembali memasukannya ke dalam saku mantel, perlahan ia menyeka wajahnya yang sembab dengan punggung tangannya. Ia menatap dari balik kaca jendela, saat itu ia tahu bahwa ia sudah berada di pertigaan. Sejenak ia menarik nafas cukup panjang, sementara taksi itu terus bergerak menyusuri PIE, menuju ke arah Jurong west.

Malam itu, ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang, di suatu tempat yang selama ini dianggapnya bersejarah. Sampai kapanpun ia akan beranggapan seperti itu, karena malam ini pun, ia memutuskan untuk menjadikan tempat itu menjadi tempat terakhirnya berkunjung sebelum ia benar-benar menginjakan kakinya ke bandara dan membiarkan tubuhnya di bawa terbang oleh burung besi itu ke suatu tempat—yang tiga belas tahun yang lalu—pernah ditinggalkannya.

*

Wanita paruh baya itu menggoyang sedikit gagang pintu yang berada dalam genggaman tangan kanannya tersebut, sedetik kemudian, pintu itu terbuka dengan celah yang masih sempit. Perlahan, wanita itu mendorongnya. Pintu itu menjadi lebar terbuka. Sejenak ia menoleh ke arah seorang laki-laki muda di belakangnya, “Ayo, masuk!” ucapnya dengan senyuman.

Orang di belakangnya itu hanya mengangguk dan tersenyum sekilas, kemudian mengikuti langkah wanita paruh baya di depannya itu.

“Sudah dua tahun, kamar ini sepi,” wanita itu menerawang. Menghentikan langkah kakinya di tengah-tengah kamar. Kamar luas bergaya minimalis dengan segala interior yang ditata secara rapi tersebut, pasti akan membuat siapapun nyaman berada di sana. Hampir seluruh bagian tembok berwarna putih, dan hanya sebagian yang dipernis dengan warna lain. Lantainya seolah-olah dari kayu jati yang kuat dan mengkilap. Di sayap kanan kamar, diletakan sebuah lemari besar yang menghadap ke arah tempat tidur yang berada di tengah-tengah ruangan. Sementara di sayap kiri, sebuah jendela kaca besar, terpampang ditutupi tirai yang tebal.

Laki-laki muda yang kini berdiri di samping wanita itu juga turut melakukan hal yang sama.

“Dulu, dia sering duduk di sofa bundar itu.” Mata laki-laki itu mengikuti jari telunjuk wanita berpotongan rambut pendek itu yang mengarah pada sebuah sofa kulit yang diletakan di belakang jendela kaca besar, “sambil memainkan biolanya.”

“Dokter!” Laki-laki muda itu memanggil dengan suara pelan. Membuat wanita di sampingnya itu menoleh dan memberikan fokus kepadanya. Sejenak laki-laki itu belum melanjutkan kata-katanya, karena sepasang bola mata di hadapannya seperti menguatarakan sesuatu yang bisa ditangkap dengan jelas olehnya: ‘Biarkan malam ini aku bercerita lebih banyak tentang anakku kepadamu. Biarkan seolah-olah hanya diriku yang mengetahui apapun tentangnya. Biarkan seolah-olah aku adalah ibu yang menghabiskan seluruh hidupku untuk merawat anakku. Malam ini saja’.

Maka dia tidak bisa mengelak. Laki-laki itu tidak bisa mengatakan bahwa wanita itu sudah terlalu sering menceritakan hal yang mendetil tentang seorang Avery Hwang. Wanita itu seakan-akan melupakan bahwa orang yang menjadi lawan bicaranya itu adalah sahabat karib anaknya. Yang dulu sering menghabiskan waktu bermain di rumah ini.

Lantas, ia bisa melihat sepasang alis di depannya mengerut, saat itu pun ia tersadar, “apa kau akan memberi izin jika aku berencana menyusulnya ke sana dan membawanya lagi kepadamu di sini? Aku berjanji untuk tidak akan mengecewakanmu.”

Mendengar penuturan anak laki-laki di hadapannya, wanita paruh baya itu tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana, selain hanya menundukan kepalanya, berusaha menahan air matanya yang pada saat itu mendesak untuk keluar. Hatinya tiba-tiba merasa begetar karena tersentuh dengan apa yang baru saja didengarnya tadi.

Dengan cepat ia kembali mengangkat wajahnya, menatap anak laki-laki di hadapannya itu dengan senyuman di bibirnya, “Terimakasih, Baekhyun,” ucapnya. Menghapus dengan segera pipinya begitu merasa ada sesuatu yang hangat mengalir di sana, “tapi, ibu tidak bisa memaksa jika dia memang bahagia dan menemukan kehidupannya di sana. Mungkin dia juga rindu dengan ayahnya.”

“Tapi, dia tidak bisa membiarkan ibunya di sini sendiri, seolah-olah telah memutus tuntas hubungan dengan seseorang secara mudah, tanpa memberi kabar apapun. Kau ibunya, dan kau tidak pantas diperlakukan seperti ini oleh anakmu sendiri.”

Lagi-lagi wanita itu menundukan wajahnya. Anak laki-laki itu telah berkata dengan menggebu, dan berhasil menusuk perasaannya yang terdalam. Ia tidak bisa memungkiri apa yang baru saja didengarnya itu benar. Kenyataannya selama ini ia harus hidup dalam perasaan bertanya-tanya tentang kabar anaknya yang bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Kali ini, ia tidak bisa menahan air matanya, dan perasaan terguncangnya.

“Dokter, maafkan aku,” ucap Baekhyun yang seketika dipotong oleh gelengan kepala wanita paruh baya itu. Ia sedikit merasa menyesal dengan apa yang baru saja diucapkannya tadi. Tidak seharunya ia berkata setinggi itu, dan… tidak seharusnya ia membuat wanita itu menangis.

“Tidak, kenyataannya kau memang benar,” kata wanita itu sengau, sembari menyeka pipinya kembali.

“Lalu, apa kau yakin dengan ucapanmu tadi?”

Baekhyun melihat tatapan mata itu berubah. Tatapan yang semula terkesan pasrah, dan seolah-olah berkata ‘ya sudahlah’ kini berubah menjadi seakan menuntut kepastian yang sungguh-sungguh.

“Ya,” Baekhyun menganggukan kepalanya mantap, “aku bersungguh-sungguh dengan apa yang sudah kukatakan. Aku akan membawanya kembali ke sini. Percaya padaku!”

Wanita itu membalik badan. Matanya menerawang ke arah luar jendela besar di depannya. Hougang yang tidak pernah senggang dari lalu lalang kendaraan. Dan di sana… di ufuk barat langit, seberkas cahaya jingga hampir sempurna masuk kembali ke peraduannya. Dengan tarikan panjang, ia menghela nafas.

Sampai sebuah benda yang sedari tadi berada digenggamannya berdering. Sejenak wanita itu menatap layar handphonennya, sebelum benar-benar menjawab telponan tersebut.

“Hallo… Ya, aku sudah memikirkannya dengan baik… Aku tidak peduli apapun, karena dia anakku… Apapun itu, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku… Dia akan kubawa kembali ke sini!”

Baekhyun yang sedari tadi memandangi punggung itu, sedikit menggeser posisinya. Melangkah menuju sebuah pigura yang dipajang di atas tempat tidur di depannya. Sejenak memandangi foto tersebut dengan senyum yang manis. Dalam hatinya bergumam, “Tunggulah. Jemput aku di Incheon!”

*

Mian,” Seojung berucap lirih, menyampaikan permintaan maafnya tanpa bisa mengangkat sedikit pun kepalanya. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani melihat bagaimana ekspresi orang di depannya itu setelah selesai mendengarkan ceritanya tadi.

Chanyeol nampak menghela nafas, “Sudahlah… Kau tidak ingin membahas hal lain selain topik ini?”

Seojung menggeleng. Setelah benar-benar memantapkan hatinya, ia pun mengangkat wajahnya, menatap orang di depannya tersebut dengan tatapan yang sulit sekali untuk dijabarkan.

“Kau boleh marah kepadaku. Kau boleh tidak menegurku lagi setelah ini, tapi tolong… jawab pertanyaanku.”

Gadis itu tidak bisa lagi menahan perasannya. Dan Chanyeol bisa melihat bagaimana sepasang mata dihadapannya perlahan-lahan memerah. “Apa tulisan di buku harianmu itu ada hubungannya dengan sikapmu akhir-akhir ini? Apa itu tandanya, kau akan pergi?”

Chanyeol terpaku di tempat. Sesuatu yang tajam seperti baru saja ditancapkan di hatinya begitu mendengar suara seseorang yang telah melemparkan pertanyaan sulit untuknya. Sangat sulit. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk mencegah gadis itu menuntut jawaban-jawaban yang belum sepenuhnya ia siapkan. Walaupun dia tahu, situasi seperti ini pasti akan terjadi jika ia tetap nekat melanjutkan rencananya. Tapi, masalahnya, saat ini dia belum siap. Benar-benar belum siap menjelaskan cerita panjang dibalik segala keputusan yang dia ambil. Dan, dia belum siap untuk melihat gadis itu menangis.

Oppa,” ucap Seojung memanggil setelah beberapa detik Chanyeol membuang pandangannya ke arah lain, “aku tidak menuntut yang lebih kepadamu. Cukup kau menjawabnya dengan jujur, sesederhana itu saja. Apa kau tidak bisa?”

“Seojung ah,”

“Oppa, tidak ada alasan untuk saling menutup-nutupi satu sama lain, kan, setelah setahun kita bersama? Kau selalu memintaku bersikap seperti itu. Dan selama ini, aku menjadi seseorang yang terbuka untuk setiap masalahku. Tapi, kenapa kau yang malah menutupi-nutupi sesuatu dariku? Kau tidak mempercayaiku?”

“Seojung ah, dengar!” Chanyeol menatap tepat di manik mata Seojung, “ini bukan masalah kecil yang bisa kugembor-gemborkan dengan leluasa. Dan, percayalah jika aku tidak bermaksud menutup-nutupi sesuatu darimu. Aku percaya denganmu, seperti aku mempercayai Yerim. Tapi, ini bukan waktu yang tepat untuk kau mengetahui semuanya. Aku akan menceritakannya kepadamu, jika aku benar-benar sudah siap. Jadi, jangan berpikiran seperti itu lagi. Arrachi?”

Seojung memilih memandangi wajah orang di depannya sejenak, “Lalu, apa kau akan memutuskan untuk pergi setelah itu? Setelah kau memberitahukan semuanya kepadaku?” tanya Seojung, membuat Chanyeol terpaku untuk beberapa detik, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya dengan pelan.

“Ya,” jawabnya, “tidak ada pilihan lain, kecuali aku memang harus pergi.”

Seojung membuang wajahnya yang penuh dengan raut kejengkelan. Di dalam benaknya terlintas keinginan untuk melemparkan mangkuk ramyeon itu ke kepala Chanyeol, lalu berteriak kepada laki-laki dengan keras, ‘YAK! Begitu pun kau tetap saja menyakiti hatiku! Kau bilang perlu waktu yang tepat untukmu memberitahuku tentang masalah ini. Masalah yang kau bilang berat. Lalu, setelah itu kau mau meninggalkanku?! Pergi begitu saja di waktu yang sungguh sangat tidak tepat untukku menerima kenyataan? Kau tetap mau pergi? Nappeun!”

“Maafkan aku,” suara Chanyeol merusak khayalan Seojung yang sudah berada di puncak klimaks, “aku pikir ini memang yang terbaik untuk kita. Aku tidak bisa membiarkanmu tetap hidup denganku tanpa ada hubungan apapun yang mengikat kita. Lagipula, akan lebih baik jika kau mau kembali ke keluargamu. Ayahmu, dan Suho sudah menunggu lama kesediaanmu hidup dengan mereka. Aku pun harus kembali ke tempatku. Ibuku juga menunggu kepulanganku di sana.”

Kali ini, Seojung yang dibuat bungkam setelah mendengar penuturan panjang Chanyeol di depannya. Seperti ada palu besar yang berhasil menghempas hatinya saat itu. Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu, saat itu ia menangis dan Chanyeol memarahinya habis-habisan, lalu, apakah keadaan yang sama akan terjadi di hari perpisahan mereka nanti? Apakah ia juga akan menangis seperti saat di Central Park satu tahun yang lalu?

Seojung benar-benar tidak bisa membendung air matanya lagi. Tangisnya pecah saat itu juga.

“Ada satu permintaanku kepadamu, sebelum aku benar-benar harus berangkat ke sana.”

*

Suho bergegas keluar dari kamarnya, berjalan menurun anak tangga dengan langkah cepat untuk menemui ayahnya yang sudah duduk dengan santainya di kursi meja makan. Pagi hari minggu adalah hari yang sering dihabiskannya untuk mengobrol berdua dengan ayahnya.

Morning, Daddy!” sapanya dengan cengiran lebar. Ayahnya menatap ke arahnya sejenak, lantas melipat koran yang semula di bacanya itu, dan meletakannya kembali ke atas meja.

Suho menarik salah satu kursi, dan mendudukan tubuhnya di sana, “Abeoji, kau belum makan? Kau menungguku?” tanyanya, berhasil membuat ayahnya melengos, “ayah yang baik, semoga kelak aku bisa sepertimu.”

“Kau mendapat telpon dari siapa kemarin?”

Suho yang saat itu tengah mengoleskan selai coklat ke roti tawarnya, nampak terdiam sejenak. Waktu seakan-akan dihentikan saat itu, dan Suho bungkam untuk beberapa detik.

“Oh, itu…,” ucapnya begitu sudah berhasil mengendalikan dirinya. Ia mencoba memasang ekspresi sebaik mungkin supaya tidak mengungkit kecurigaan yang mendalam dari ayahnya. Di tatapnya ayahnya, lantas tersenyum, “mantan pacar. Dia menelponku untuk mengucapkan selamat.”

“Jangan bertindak seperti anak kecil lagi, Suho! Kau sudah berhasil mengikat perempuan dalam suatu hubungan denganmu. Aku belum terlalu pikun untuk kau bohongi dengan cara seperti itu. Jawab pertanyaanku dengan baik, siapa yang menelponmu kemarin? Wanita itu? Apa yang dia katakan, eoh?”

Suho merutuk dalam hati. Demi Tuhan, ia tidak memiliki kekuatan apapun lagi untuk mengelak dari pertanyaan ayahnya. Suho meletakan roti di tangannya itu ke atas piring. Mengurungkan niatnya untuk melahap sarapan paginya saat itu. Diberikannya seluruh fokusnya ke arah sang ayah, “Ya. Kau benar. Dia menelponku kemarin. Dia bilang, dia akan menjemput Seojung, dan membawanya kembali ke Singpore.”

Ayahnya menggeretakan rahangnya dengan geram. Wajahnya tiba-tiba memerah. Suho yang melihat perubahan dari raut wajah ayahnya memalingkan muka, dan kembali mengambil rotinya. “Apa sebenarnya yang dia inginkan? Setelah membiarkan putriku hidup seperti itu setahun lamanya, dia ingin membawanya kembali?!”

Merasakan kemarahan yang sudah memenuhi diri ayahnya, Suho mencoba untuk menenangkan, “Sudahlah, Abeoji. Bahkan aku pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku oppanya, dan aku berjanji untuk menjaga adikku.”

Perlahan, ayahnya terlihat melunak setelah mendengar perkataan putranya. Di tatapnya sejenak wajah anaknya tersebut, seolah-olah mengatakan: ‘lakukanlah apa yang seharusnya kaulakukan!’. Lantas memalingkan wajahnya. Dari jendela kaca besar di ruangan rumah mereka, laki-laki tua itu bisa melihat pohon sakura yang mulai menggugurkan daunnya satu persatu. Sejenak ia menghela nafas dalam. Sesuatu kembali muncul di dalam benaknya. Kenangan berpuluh-puluh tahun yang lalu.

‘Oh, Tuhan… Semoga Kau tidak menghukumku karena kebodohanku,’ bisiknya dalam hati dengan penuh permohonan.

*

“Ke Inggris? Kau yakin? Lalu bagaimana dengan Seojung?—Apa?—Tidak! Aku tidak mau tahu! Kau harus memikirkannya lagi!”

Perempuan itu menaruh kembali handphonenya ke dalam tas dengan menggerutu. Suasana hatinya benar-benar menjadi tidak baik setelah berbincang dengan lawan bicaranya tadi. Di pagi hari ia sudah harus mendapat informasi yang tidak mengenakan.

Ia berbalik badan, dan tersentak begitu saja. Seolah-olah ia ditabrak oleh sebuah truk besar yang melemparkannya jauh berkilo-kilometer. Padahal kenyataannya, hanya ada seseorang yang berdiri di sana sedari tadi, yang tidak sengaja mendengar obrolannya lewat telpon. Tapi, perempuan itu benar-benar merasa jantungnya hampir lepas, dan karena saking terkejutnya, saat itu bola matanya terlihat nyaris keluar.

“Oh, Tuhan!” ucapnya dengan sebelah tangan memegang dada, “Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya kepada orang di depannya tersebut.

“Mendengarkan pembicaraanmu,” sahut laki-laki itu datar.

“Hei! Kau tidak boleh menguping pembicaraan orang sekenamu seperti itu! Bahkan anak kecil pun tahu adabnya!” Perempuan itu terdengar mulai kesal. Namun, orang di hadapannya malah menatapnya lebih tajam. Perempuan berpotongan rambut pendek sepundak itu memundurkan langkahnya teratur, begitu menyadari laki-laki di hadapannya semakin mengambil langkah mendekat ke arahnya. Hingga akhirnya, ia tidak bisa berkelit lagi, saat merasakan punggungnya sudah terbentur ke tembok, “Baekhyun! Byun Baekhyun!”

Ia membalas menatap ke arah Baekhyun dengan tajam, seolah-olah memberi peringatan laki-laki itu untuk jangan bertindak berlebihan untuk menakut-nakutinya hari ini.

GREP!!

Dua belah telapak tangan mencengkram kuat pundak perempuan itu, “Dan anak kecil pun tahu jika apa yang kaulakukan telah melanggar norma paling berat, kau tahu?!”

Sontak ia hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya setelah mendapat semprotan nyaring seorang Byun Baekhyun. Orang yang beberapa waktu ini benar-benar dihindarinya. Namun, nasib sial tetap harus ia dapatkan. Ia tidak bisa berkelit sama sekali saat Baekhyun menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.

“Dimana Avery? Dimana kau sembunyikan dia, hah?!”

“Aku tidak menyembunyikannya sama sekali,” ucap perempuan itu memungkas perkataan Baekhyun.

“Lalu apa? Membantunya melarikan diri?—Cepat beritahu aku! Dimana Avery sekarang?”

Perempuan itu meringis, begitu merasakan cengkraman yang semakin kuat di bahunya. Ia mendongakan kepalanya, untuk sejenak menatap mata Baekhyun yang saat itu sudah memerah menahan emosinya.

“Sakit? Kau kesakitan? Demi Tuhan! Kau akan merasakan yang lebih sakit daripada ini jika kau tetap mencoba untuk mengelabuhiku!”

“Apa yang kaulakukan jika aku memberitahumu? Kau akan menemuinya?” Perempuan itu mencoba untuk berbicara dengan suara normal. Meskipun sesekali ia harus merintih lemah karena rasa sakit yang ia rasakan pada pundaknya tidak terlepas sama sekali.

“Apa yang akan kulakukan bukan urusanmu. Kau hanya harus memberitahuku dimana sekarang Avery berada. Cepat katakan!”

“Apa kau yakin siap mendengar kenyatannya?”

Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan yang lebih terlihat ingin membunuh kepada manusia di hadapannya tersebut. Seolah-olah dari tatapannya siapapun bisa menangkap maksudnya: ‘Katakan yang sebenarnya atau kau akan kubunuh saat ini juga?’

“Baiklah. Tapi terlebih dahulu kau harus melepaskan tanganmu dari pundakku,” ucap gadis itu, berhasil membuat Baekhyun terlihat semakin geram dengannya. Mau tidak mau, dengan sentakan yang agak kasar, Baekhyun pun melepaskan cengkramannya.

Perempuan itu mengaduh sesaat setelah pundaknya terbentur tembok, lantas mengelusnya dengan perasaan jengkel yang luar biasa. Baekhyun benar-benar memperlakukannya bukan seperti memperlakukan perempuan.

“Cepat katakan sekarang juga!” ucap Baekhyun dingin.

“Dia sekarang di Seoul. Tinggal bersama sepupu laki-lakiku di kawasan Samseong dong. Mereka sudah tinggal bersama selama setahun.”

“APA?!”

*

“Brengsek!”

Baekhyun memukul keras-keras setiran mobilnya. Napasnya menggebu. Wajah dan matanya memerah sempurna. Benar-benar terlihat seperti kemasukan makhluk halus yang menyeramkan.

Sesaat ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah sebuah rumah berpagar di depannya, kemudian menatap ke arah jalan dengan kedua tangannya yang memegang setiran kuat-kuat, membuat urat-urat di tangannya bertimbulan.

“Kau… apa yang kaulakukan di sana, hah? Tinggal bersama laki-laki yang bukan siapa-siapamu, dan membiarkan ibumu hidup sendirian di sini dengan terus-terusan menangis mengkhawatirkanmu? Kau bukan Avery yang kukenal selama ini. Kau benar-benar membuatku kecewa.”

Baekhyun berbicara sendiri. Sejenak ia menghentikan kalimatnya untuk menarik nafas dalam-dalam. Mencoba untuk meredakan panas yang membakar isi di dalam dadanya.

“Dokter, jika bukan karenamu, aku tidak mungkin mengambil keputusan seperti ini. Jika bukan karena kau, aku tidak pernah menganggap anakmu itu masih hidup hingga hari ini.”

Baekhyun menghidupkan mobilnya, dan membawanya dengan segera keluar dari kawasan itu. Entah setan apa yang merasukinya, karena ia membawa mobilnya benar-benar dalam kecepatan yang luar biasa cepat.

*

A/N:

Hello, … aku menepati janji ya publishnya seminggu sekali. Semoga bisa jalan rutin terus 🙂

Oke, untuk chapter ini mungkin masih banyak kesalahan yang belum sepenuhnya bisa aku edit. Typo, salah ketik nama, dsbg, mohon dimaklumi. Karena sekarang aku lagi malas ngedit 😀 Banyak tugas sekolah, dan project-project tulisan lain yang menunggu *ceileh*

Untuk konfirmasi sebelumnya, soalnya di chapter sebelumnya ada yang nanya kenapa Suho dan Junmyun dimasukan kedua-duanya, padahal Junmyun itu nama aslinya Suho?

Well, di fanfiction aku ini, Suho dan Junmyun itu berbeda. Suho anaknya dan Junmyun ayahnya. Kenapa? Karena nama Suho cocok untuk karakter tokohnya dalam tulisanku ini. Aku pernah dengar kalau Suho itu berarti pelindung. Nggak tau bener apa nggaknya. Kalo salah mohon dibenerin 😀 Jadi itulah mengapa aku gunain nama itu untuk dua tokoh yang berbeda. Bisa diterima ya? hahaha…

Untuk nama tokoh, memang ada perombakan. Hwang Seojung aku ganti jadi Kim Seojung. Misal masih ada yang belum diedit, nanti kalau lagi mood aku betulin. *LOL*

So, berikan tanggapanmu untuk tulisan ini. Karena aku sangat menunggu masukan dan saran yang membangun. Setidaknya bisa jadi hiburan malam minggu, kan? 😀 kkekeke~

Gomawo ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s