[Chapter 1] Nothing On You

Cover nothing on YouAuthor: Araiemei

Cast:

Park Chanyeol (EXO K) | Byun Baekhyun (EXO K) | Kim Seojung/ Avery Kim (OC)

Do Kyungsoo (EXO K) | Kim Suho (EXO K)

Rate: PG

Genre: Family, Romance, Sad, Fluff.

Drrttt….

Seojung melepaskan kotak bedak di tangannya begitu saja, lalu dengan gerak cepat ia beranjak dari kursi hias menuju tempat tidur yang tidak berjarak begitu jauh darinya. Mengacak-acak bantal juga selimutnya, hingga akhirnya ia menemukan benda persegi berwarna putih yang dicarinya kini tengah berkedip-kedip dan bergetar-getar kecil. Tanpa melihat apa yang tertera lagi dilayarnya, Seojung langsung memencet tombol jawab.

Ne, yobeosaeyo! Neon eodiseo[1]?” cerocosnya begitu menempelkan handphone itu ke telinganya.

“Aku di toko.”

Seojung mengernyit, sejenak berpikir untuk beberapa detik. Toko? Sejak kapan Chanyeol berubah profesi menjadi penjaga toko? Lantas Seojung tersentak sendiri, lalu segera menurunkan handphonenya dan memeriksa ulang nama si penelpon.

‘Do Kyungsoo’

Seojung tersentak. Ternyata yang menelponnya bukanlah laki-laki yang beberapa hari ini banyak menyita pikirannya, tapi sosok lain yang selama ini juga cukup dekat dengannya sebagai seorang teman baik dari sahabat yang dimiliki oleh kakak laki-lakinya.

Ia terlihat benar-benar malu. Syukurnya ini bukan videocall. Jika iya, mungkin saat itu Kyungsoo akan dengan jelas melihat rona merah yang menjalar di pipi gadis yang sedang bertelponan dengannya tersebut.

Begitu sudah merasa berhasil menguasai dirinya, Seojung kembali menempelkan benda persegi itu ke telinganya, “Oh, Kyungsoo oppa[2]!” ucapnya lantas menggigit bibirnya sendiri, menahan gemetar yang tiba-tiba menguasainya. “Apa yang kaulakukan di toko?” tanyanya, dan sedetik kemudian malah memukul-mukul kecil dahinya sendiri. ‘Pertanyaan bodoh!’ rutuknya dalam hati.

“Aku punya part siang ini.”

“Ah!” Seojung menganggukan kepalanya, dan masih berusaha menetralisir keadaan hatinya yang kembang kempis karena malu. Ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, sampai pada akhirnya Kyungsoo yang kembali membuka suara untuk membuka pembicaraan lagi.

“Kau sedang apa? Bersiap-siap untuk menghadiri acara nanti malam?”

Nde[3],” jawab Seojung, “hanya perlu menyiapkan beberapa hal lagi, setelah itu langsung berangkat!”

“Bersama Chanyeol, ya?”

Entah kenapa, untuk pertanyaan Kyungsoo kali ini, Seojung nampak berpikir untuk beberapa detik.

Anni[4], sepertinya aku akan berangkat sendiri,”

“Kenapa?” ucap Kyungsoo bertanya lagi.

Seojung menghela nafas pendek sembari mendudukan tubuhnya di tepi tempat tidur, sebenarnya ia malas membahas ini, “Dia sedang sibuk, aku tidak ingin mengganggunya,” ucapnya pelan, “bagaimana denganmu? Kau menghadirinya, kan?” Seojung balas bertanya, alibi untuk tidak membahas orang yang bahkan tidak memberi kabar apapun kepadanya beberapa hari ini.

Geureomyo[5]!” sahut Kyungsoo dengan mantapnya.

Seojung tersenyum, “Geurae[6]? Lalu kenapa kau masih di toko sampai sekarang?”

“Ais, sebentar lagi aku akan pulang, persiapan pria itu jauh lebih simple daripada kaum hawa!” Kyungsoo mencoba berkilah, sukses mengundang gelak tawa Seojung yang mendengarnya.

“Jika perlu tumpangan, aku siap menjemputmu.”

Kali ini, Seojung terdiam. Tidak tahu harus merespon bagaimana perkataan Kyungsoo yang lebih tepat jika disebut dengan tawaran. Dalam hatinya mengatakan tidak. Tapi, di sisi yang lain, dia juga tidak siap menghadiri acara pertunangan itu sendiri.

Hampir satu menit waktu yang ia habiskan untuk menimbang-nimbang tawaran Kyungsoo.

“Tidak usah. Itu akan merepotkanmu,” ucap Seojung di antara kebimbangannya.

“Ini tidak merepotkan sama sekali, Seojung. Aku bisa menjemputmu,” Seojung menatap dirinya di cermin. Tubuhnya sudah dibalut dengan dress berbahan dan berwarna soft coklat muda, dipadan dengan tatanan rambut yang dibiarkan tergerai panjang, benar-benar penampilan paling perfect yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari. Jika seseorang datang menjemputnya, maka ia sudah siap untuk berangkat saat itu juga. Tapi, sekali lagi, haruskah ia menerima tawaran itu? Sementara di dalam hatinya, Seojung masih berharap Chanyeol-lah yang pergi bersamanya.

Sekalipun ia harus menunggu laki-laki itu beberapa jam lagi….

Eottae[7]?” tanya Kyungsoo meminta kepastian, berharap Seojung menjawabnya.

“Ah, ne. Aku menunggumu, Kyungsoo Oppa,”

FLIP!!!

Panggilan itu pun terputus. Seojung menghela nafasnya dalam. Sekali lagi ia melihat bayangannya pada cermin di depannya.

Dengan suara lemah, dia bergumam pada dirinya sendiri, “Mianhae[8], aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,”

*

Seojung lebih memilih memisahkan diri tanpa sepengetahuan Kyungsoo yang asik berbincang bersama empat orang sahabatnya sewaktu SMA. Ia tidak ingin seolah-olah menjadi seperti patung manekin yang sengaja diletakan di samping Kyungsoo, mengingat niat awalnya menghadiri pesta ini ialah semata untuk memenuhi undangan Suho, bukan untuk dijadikan pendengar dan penonton acara bincang reuni seorang Do Kyungsoo.

Well, walaupun memang ada faktor lain yang membuatnya tidak betah berada di antara lima orang pria itu.

Seojung bosan menjadi objek pertanyaan terus-menerus.

“Siapa dia? Kau tidak mengenalkannya kepada kami?” salah seorang laki-laki berjas krem bertanya, dan diikuti oleh tatapan mata teman-teman  Kyungsoo yang lain.

Do Kyungsoo hanya menatap ke arah Seojung sejenak. Dari mata Kyungsoo, gadis itu  terlampau tahu jika Kyungsoo bukanlah tipe lelaki yang menyebalkan. Persis seperti wajahnya yang kekanak-kanakan, apapun yang dikatakannya selalu jujur apa adanya.

“Oh, Kalian belum tahu, ya? Kalau begitu biar aku kenalkan,” Kyungsoo merangkul pundak Seojung, “Kim Seojung, pacarnya Park Chanyeol. Kalian masih ingat Chanyeol, kan?”

Serempak, begitu mendengar penuturan Kyungsoo, semua dari empat orang itu memfokuskan tatapannya ke arah Seojung. Sementara Seojung, nampak membulatkan matanya, menatap ke pada Kyungsoo seolah-olah berkata: ‘apa-apaan ini? kenapa kau mengatakan hal seperti itu?’Pemikirannya kini berubah drastis, Kyungsoo ternyata lebih menyebalkan dari apapun.

“Pacarnya Park Chanyeol?” satu orang kembali berkicau. Ia menatap Seojung dari atas ke bawah, lalu berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiga orang yang lain tertawa-tawa kecil. Seojung mengerutkan dahinya.

Kyungsoo lagi-lagi hanya tersenyum kepada Seojung sebelum akhirnya kembali merespon pertanyaan teman-temannya itu, “Ya, dia pacar Park Chanyeol!”

“Aku tidak menyangka seorang Park Chanyeol bisa kembali mendapatkan pacar setelah kejadian kelas 3 SMAnya,”

“Kyungsoo yya! Kau pasti ingat itu, kan?”

“Oh?” Do Kyungsoo terhenyak. Ia bisa merasakan pegangan tangan lain di lengan kirinya, dan ia tahu kalau itu tangan Seojung.

Namun, empat orang temannya itu malah terkekeh-kekeh kembali. Satu orang di antara mereka meneguk gelas wine yang di pegangnya, lalu kembali menatap ke arah Kyungsoo.

“Dia hampir saja menampar Park Hyena di halaman belakang sekolah, kau tidak ingat?”

Kyungsoo menepuk punggung tangan Seojung di lengannya, “Oh, itu masa lalu. Dan aku yakin dia memang memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya waktu itu. Ah, bukan melakukannya, dia hanya hampir melakukannya. Dia tidak sekasar itu, Kim Sinwoo.”

Laki-laki bernama Kim Sinwoo itu mendecih, meneguk kembali gelas wine di tangannya, lalu terkekeh pelan sebelum menyahut perkataan Kyungsoo, “Sialan! Dia menyia-nyiakan apa yang sudah kurelakan untuknya.”

“Ya, aku tahu kau begitu menyukai Hyena, tetapi Hyena ternyata mengacuhkanmu,” ucap Kyungsoo yang berhasil membuat orang yang diperkenalkannya sebagai kapten tim basket sekolah mereka dulu membulatkan matanya dengan sempurna.

“Musun[9]?”

“Oppa!” Seojung akhirnya tidak tahan dan memutuskan membuka suara. Kyungsoo menoleh dan mata mereka kembali bertemu. Kyungsoo bisa merasakan bagaimana risih yang sudah memenuhi otak dan hati gadis itu. Ia cukup merasa bersalah di dalam hatinya, tidak seharusnya ia mencoba untuk membuat lelucon seperti tadi, jika hanya akan memberatkan satu pihak yang bahkan tidak tahu apa-apa sama sekali.

“Kau haus?”

Seojung mengangguk, “Oh,” jawabnya, “sepertinya aku harus mencari minum sebentar,”

Kyungsoo mengangguk. Perlahan pegangan tangan di lengannya terlepas. Seojung hendak melangkahkan kakinya, namun sebuah suara menegurnya lagi, “Aku akan mengambilkan wine untukmu. Kau mau?”

“Tidak usah, aku tidak bisa minum wine.” jawab Seojung lantas melangkah pergi meninggalkan Kyungsoo dan empat orang temannya itu. Tidak peduli jika masih ada yang berani menegurnya, Seojung bersumpah tidak akan menghiraukannya lagi. Ia sudah terlampau muak dengan apa yang baru saja didengarnya tadi.

*

Alunan musik mengalun memenuhi aula besar tempat perhelatan acara pertunangan itu diadakan. Seojung berdiri di depan sebuah meja bundar besar yang di atasnya diletakan beberapa gelas minuman dan makanan kecil. Matanya masih mengikuti gerak Suho yang berada beberapa meter di hadapannya tengah berbincang dan bersalaman dengan beberapa tamu undangan. Sesekali lelaki itu tertawa, lalu berpelukan dengan lawan bicaranya. Melihatnya Seojung juga tidak bisa menyembunyikan senyum haru di wajahnya. Kebahagian Suho malam ini memancar dan bisa ikut ia rasakan.

Hi!”

Pendengaran Seojung tidak lepas dari suara yang saling sapa-menyapa, dan ia tidak menolehkan se-centipun lehernya, karena ia tahu sapaan itu bukan untuknya. Ia tidak mengenal siapapun di sini selain Suho, dan keluarganya yang tengah sibuk menerima tamu undangan.

“Kau Park Chanyeol, kan? Woah!”

Deg!

Seojung seolah-olah baru saja mendengar gelegar guntur yang membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik. Suara seseorang yang berhasil di tangkap telinganya itu telah dengan jelas dan fasih menyebut nama seseorang yang teramat sangat familiar di telinganya. Nama yang ia pikir tidak akan hadir malam ini.

Seojung menggerakan kepalanya mencari arah sumber suara, sampai akhirnya sepasang mata kecilny         a berhasil menemukan dua orang tengah berjabat tangan di samping meja bundar yang di letakan berdekatan dengan jendela besar bertirai hijau muda dan berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Perempuan yang mengenakan gaun pesta mewah berwarna ungu itu tersenyum sambil menatapi laki-laki di hadapannya dari atas hingga bawah, menepuk kedua belah pundaknya, lalu berdecak.

“Aku tidak menyangka tinggimu masih bertambah setelah SMA,”

Seojung tidak bisa melihat dengan persis bagaimana wajah laki-laki itu, karena posisinya yang membelakangi Seojung. Namun, itu bukan berarti Seojung tidak bisa mengenalinya, dia malah terlampau kenal. Ia tahu, bahwa orang yang ada dipikirannya sedari tadi adalah orang yang dilihatnya tengah bercakap-cakap dengan perempuan cantik berfostur model itu.

Jika ingin menuruti kata hatinya, seharusnya ia marah. Seharusnya ia mendatangi kedua orang itu dan menyiramkan segelas jus ke wajah salah seorang dari mereka. Tapi, jika dipikir-pikir lagi, apa yang menjadi alasan kuat untuk seorang Seojung bertindak seperti itu? Terlebih di tengah-tengah pesta pertunangan kakaknya.

“Avery?”

Seojung yang saat itu berniat beranjak menjauh, tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya. Nama yang tidak pernah ada orang memanggilnya seperti itu semenjak kepindahannya ke Korea.

“Kau Avery Kim, bukan?”

Demi Tuhan, dalam hatinya ia sangat berharap siapapun bisa menjemputnya dan membawanya lenyap dari tempat ini sekarang. Ia tidak pernah berpikir bahwa perempuan itu akan mengenalinya dan menyapanya seperti itu. Sungguh, ia tidak ingin mata itu mendapati dirinya tengah berada di sana.

“Iya, benar! kau Avery!”

Seojung berbalik badan, dan melihat kedua orang itu menatap ke arahnya. Ia tidak sanggup melihat salah satu di antara mereka, tapi sungguh, ia bisa merasakan bagaimana perubahan wajah di antara mereka masing-masing. Atmosfer aula mencekat Seojung. Ia merasa udara malam ini tidak bersahabat dengannya.

“Ah, ne,” sahutnya lemah.

“Kau tentu masih ingat, kan? Irene Lee, teman satu tingkatmu sewaktu di Nanyang?” gadis itu menunjuk dirinya sendiri.

Ge-geureomyo!” ucap Seojung.

Dan malam itu, ia merasakan hawa panas yang lebih ketimbang berada di ruang lab kampus saat pertengahan musim panas.

Ia bisa melihat sepasang mata itu mencoba terus lari dari tatapannya.

‘Park Chanyeol? Apa yang ada dipikiranmu sekarang?’

*

“Avery Kim!”

Seojung baru saja merasa dirinya berada pada puncak klimaks yang menyeramkan, saat di mana ia mendengar seseorang dengan fasih memanggil namanya yang tengah berusaha melarikan diri secara diam-diam. Dengan berat, ia pun memutar tubuhnya, mencoba memenuhi panggilan itu, sekalipun hatinya berteriak menyuruhnya untuk jangan mengindahkannya sama sekali, tapi otaknya benar-benar bekerja dalam keadaan tidak normal.

Ne,” sahutnya, orang yang memanggilnya tersenyum. Sementara sosok lain yang berdiri di samping orang yang memanggilnya hanya menatapnya sekilas, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke lain arah.

“Kau tentu masih ingat, kan? Irene Lee, teman satu tingkatmu sewaktu di Nanyang?”

Ge-geureomyo!” ucap Seojung. Dan tiba-tiba ia merasakan atmosfer menekan udara di sekelilingnya. Ia hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya saat itu, sampai sebuah suara memanggil namanya dari arah belakang.

“Seojung ie,”

Seojung menolehkan kepalanya ke belakang, dan melihat Suho berdiri melambaikan tangan ke arahnya.

“Ke sini!” panggil Suho lagi.

Seojung merasa, ia baru saja berhasil keluar dari lubang sempit yang telah seperti meremas paru-parunya untuk tidak bisa bernafas.

“Oh!”

Seojung segera menapakan kakinya, melangkah menuju ke arah Suho. Meninggalkan dua orang yang semula berhadapan dengannya. Lagi-lagi, Suho seolah-olah menjelma menjadi malaikat pelindung untuk seorang Kim Seojung.

*

“Iya, dia baru satu tahun di sini. Asalnya dia dari Hougang. Mahasiswa Nanyang,” ucap Kyungsoo, mencoba menceritakan riwayat hidup seseorang kepada empat orang teman SMAnya.

“Sejak kapan kau mengenalnya?” tanya salah seorang teman Kyungsoo.

“Belum terlalu lama. Kami berkenalan tiga bulan yang lalu, saat sama-sama menjadi tim panitia dari pameran lukisan-lukisannya Suho hyung[10].”

“Baik! Sebelumnya saya ingin memperkenalkan nae yeodongsaeng[11] kepada undangan yang telah datang malam ini.”

Kyungsoo dan empat orang temannya menghentikan obrolan mereka. Di belakang podium kecil, tempat di mana Tn. Kim Jun Myun menyampaikan pidatonya beberapa saat yang lalu, berdiri seorang laki-laki berjas hitam merangkul seorang gadis di sampingnya, dan Kyungsoo terlampau mengenali dua orang itu, Kim Suho dan Kim Seojung, dua bersaudara yang terlihat lebih kompak daripada pasangan saudara kandung lain yang ada di belahan bumi ini. Well, setidaknya begitulah yang ada dipikiran seorang Do Kyungsoo selama ini tentang mereka berdua.

“Namanya Kim Seojung! Dia Violinist[12]berbakat. Dan malam ini, dia akan mempersembahkan satu pertunjukannya khusus untuk acara pertunangan kami.”

Seojung sontak membulatkan kedua matanya dengan sempurna mendengar penuturan Suho, ia menatap ke arah laki-laki di sampingnya dengan raut wajah tidak percaya, “Oppa!” panggilnya sambil menyikut lengan Suho yang telah turun dari pundaknya.

“Kau tidak keberatan, kan?” tanya Suho, namun belum sempat Seojung menyahut, ia meneruskan ucapannya, “Oh, ayolah! Demi oppamu tercinta ini. Geurae?”

Seojung mengerucutkan bibirnya. Dalam hatinya berontak atas permintaan Suho. Oh, bukan! Ini bukan permintaan, tapi pemaksaan. Bagaimanapun ini keinginan Suho yang tidak diiringi dengan persetujuan Seojung.

Namun, senyuman manis seorang Suho selalu membuatnya tidak bisa berbuat apapun lagi untuk menggagalkan permintaan konyol ini, terlebih begitu ia melihat Yeowoon memanggil namanya dari arah lain, dan menunjuk case biola yang ada di tangannya.

Tidak bisa menolak sama sekali, Seojung pun melangkahkan kakinya menuju ke arah Yeowoon yang sudah siap menyambutnya di atas panggung, seolah-olah presenter kondang acara pertunangan, padahal malam ini seharusnya menjadi malam mendebarkan untuk perempuan itu, terlebih saat dimana Suho menyematkan cincin platinum ke jari manisnya sebagai simbol pengikat keseriusan hubungan mereka, setidaknya begitu yang ada di benak Seojung tentang seorang Ahn Yeowoon.

Seojung menerima case biola dari tangan Yeowoon dengan perasaan yang bergetar. Bagaimanapun, ia sudah lama tidak bersentuhan dengan alat musik ini semenjak satu tahun yang lalu. Semenjak ia memutuskan untuk pergi dan membuang kenangannya selama hidup di tanah tempat ia dibesarkan itu. Namun, Seojung berusaha untuk tetap tenang, dan mendudukan tubuhnya pada sebuah kursi yang sudah dipersiapkan untuknya di atas panggung. Ia berusaha mencoba menguasai dirinya untuk memberikan penampilan terbaik malam ini, walaupun tanpa latihan karena permintaan mendadak seorang Kim Suho. Setelah mengeluarkan sebuah biola yang terbuat dari kayu mapel untuk papan jarinya yang dipernis dengan kayu eobni, Seojung menyangga alat musik yang sudah dipelajarinya sejak berumur enam tahun itu di pundak kirinya dan mengapitnya dengan dagu. Perlahan, ia mengangkat busur di tangan kanannya, menggesekannya di permukaan dawai, dan menghasilkan nada lembut Magic Castle[13]The Classic.

Ia mencoba menghayati setiap bunyi yang dihasilkan oleh gesekan busur dan dawai biolanya. Memejamkan matanya, dan mengikuti setiap ritme dari kelincahan jari jemarinya yang terus bergerak. Saat itu juga bayangan belasan tahun yang lalu seolah-olah terpampang lebar di hadapannya. Sepasang kaki kecil yang berlari menuruni tangga sebuah tempat kursus musik di Hougang, suara cempreng yang mengaduh saat case biola yang berhasil menggetok bagian belakang kepalanya, dan senyum ibu yang turut terkembang saat sepasang mata di hadapannya berbinar menyampaikan keberhasilannya memainkan lagu kesukannya dengan baik. Ia juga masih ingat bagaimana ibu menceritakan tentang ayah yang pasti menunggunya memainkan potongan nada itu di hadapannya suatu saat.

Seojung tersenyum kepada dirinya sendiri, lalu membuka matanya dan menyadari saat itu hampir seluruh tamu undangan bertepuk tangan menyambut permainan biolanya yang rapi. Sekali lagi ia tersenyum, kali ini untuk para tamu undangan yang telah merespon hangat dirinya, merundukan sedikit tubuhnya sebelum beranjak turun dari atas panggung.

Suho serta merta menyambutnya dengan pelukan.

“Kalian lihat! Dia adikku, Kim Seojung!”

*

Seojung masuk ke dalam mobil dengan bibir sedikit mengerucut. Kyungsoo baru saja memperlakukannya tidak kalah berlebihan dengan apa yang telah dilakukan Suho kepadanya di ujung acara. Kyungsoo yang sudah masuk dan duduk di depan kemudi, hanya terkekeh seraya memasang seatbelt pada tubuhnya. Ia menatap ke arah Seojung sejenak, sebelum akhirnya menghidupkan mobilnya dan membawanya keluar dari area parkir.

Wae[14]? Ada yang salah?” tanya Kyungsoo.

“Banyak,” jawab Seojung. Tidak berniat balas menatap ke arah Kyungsoo.

“Oh? Apanya yang salah? Kau memang benar-benar luar biasa Seojung ah! Aku bahkan dibuat luar biasa terkejut begitu mengetahui bahwa adik seorang Kim Suho ini adalah pemain biola hebat!”

“Sudahlah. Malam ini siapapun rasanya menyebalkan.”

“Karena tidak bersama Chanyeol?” ucap Kyungsoo yang hanya berniat menggoda Seojung. Tapi, orang di sebelahnya malah terlihat seperti dicabut nyawanya dengan cara tiba-tiba. Bahunya semakin merongsot ke bawah.

Semenjak Suho yang gempar memperkenalkan dirinya kepada para tamu undangan dibandingkan memperkenalkan tunangannya sendiri, Seojung tidak melihat laki-laki itu lagi. Irene Lee, perempuan yang menyapanya sebagai ‘Avery Kim’ itu pun terlihat berbincangan dengan lawan bicaranya yang lain. Sementara Chanyeol, ia tidak menemukannya di sana. Ia terus mencoba menajamkan pandangannya dan pendengarannya, sesekali menjenjangkan lehernya saat Tn. Jun Myun membawanya berkeliling dan diperkenalkan sebagai putri tunggal keluarga mereka, namun tetap saja, ia tidak bisa menangkap di mana keberadaan seorang Park Chanyeol. Ia datang dan pergi selalu dengan cara yang sama: tiba-tiba. Dan itu terasa hanya pada akhir-akhir ini. Ya, Seojung memang berada pada puncak kebingungan yang besar akhir-akhir ini tentang kepribadian Chanyeol.

“Apa kau melihatnya tadi di pesta?” tanya Seojung begitu membuka suaranya setelah bungkam beberapa menit.

“Tidak, sih,” sahut Kyungsoo, “Aku tidak melihatnya sama sekali,”

Seojung diam lagi.

Kyungsoo mencoba menatap Seojung kembali, gadis itu menyandarkan kepalanya di kaca pintu mobil.

“Kau tidak mendapat kabar apapun tentangnya?” kali ini Kyungsoo bertanya dengan nada yang sedikit rendah. Takut mengganggu perasaan Seojung.

Seojung menggeleng, “Dia sibuk. Nomor handphone yang selalu tidak aktif saat dihubungi, itu berarti dia dalam situasi tidak ingin diganggu, kan?”

Kyungsoo memahami hal yang tersirat dari nada perkataan Seojung: gadis itu tidak ingin berbicara apapun lagi, terlebih menyangkut satu nama itu. Maka Kyungsoo memutuskan untuk lebih baik diam, mengunci mulutnya, menutup rasa penasarannya, dan menambah kecepatan mobilnya.

Seojung ingin istirahat dan, ia harus mengantarkan gadis itu segera ke rumahnya.

*

A/N: Hello, salam kenal dari author yang masih amatiran ini. Oke, aku menerima masukan dan saran apapun dari kalian tentang tulisan ini.Terutama yang berisi masukan dan saran yang membangun, karena tujuan aku menulis setiap harinya adalah untuk belajar memperbaiki bagian mana yang sekiranya masih kurang. So, give your opinion about this story 😀

Fanfiction ini emang udah pernah aku publish, tapi hanya di akun pribadi aku. Seperti di FB atau di wordpress. Buat kalian yang pengen say “hello” or “hi” sama aku *apadeh* bisa ngehubunin lewat twitter aku: @araiemei

Atau kalau mau baca cerita-cerita lain bisa berkunjung di sini.

Terimakasih sudah membaca dan meninggalkan komentarnya. Hope you enjoyed with my story. See you next chapter. Aku usahain untuk ngepost ini setiap minggu. ^^

*

[1] Ya, halo! Kau di mana?

[2] Panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari perempuan yang lebih muda

[3] Iya

[4] Tidak

[5] Tentu

[6] Benarkah?

[7] Bagaimana?

[8] Maaf

[9] Maksudnya?

[10] Panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dari laki-laki yang lebih muda

[11] Adik perempuanku

[12] Pemain biola

[13] Lagu klasik yang pernah popular di Korea dan di bawakan oleh The Classic pada era 80-an, serta sempat menjadi OST K-Drama yang berjudul Missing You

[14] Kenapa

Please, leave your coment yaah…

Saya lagi perlu kritik, saran, serta masukan yang membangun…

Gomawo ^^

10 thoughts on “[Chapter 1] Nothing On You

  1. Halo! Sebelum aku berbagi ilmu sedikit *ceilah* aku mau ngenalin diri dulu yaaa. Aku Rida 97liner, kalau kakak siapa? 😀

    Oke, seperti kata kakak kalau kakak butuh beberapa saran dan aku mau memberi sedikit ilmu yang aku punya. Here we go:

    handphone, simple, dress, soft, perfect, presenter itu kata2 asing kan? jadi itu penggunaannya harus di italic kak 🙂

    tapi sosok lain yang selama ini juga cukup dekat dengannya sebagai seorang teman baik dari sahabat yang dimiliki oleh kakak laki-lakinya ‘kan

    apapun, siapapun itu di spasi kak

    “Ya, aku tahu kau begitu menyukai Hyena, tetapi Hyena ternyata mengacuhkanmu,” <

    Violinist, aku rasa v-nya enggak perlu huruf besar

    nah kayu eobni itu kayu apa kak? aku ga tau 😦

    Seojung ah itu harusnya Seojung-ah kak, begitu juga dengan 'ya'

    mungkin maksud merongsot itu merosot ya? hehe

    'sih' itu ada di kbbi kak, jadi ga usah di italic 🙂

    nah, mungkin segitu aja kak. maaf banget cuma segitu yang bisa aku komentarin
    oh ya, aku suka cara kakak membawa cerita ini, ngalir dan aku suka dengan diksi yang sederhana tapi mampu bercerita 😀
    aku tunggu chapter duanya kak!
    see you next time! 😀

    1. duh ada yang kepotong! 😥

      tapi sosok lain yang selama ini juga cukup dekat dengannya sebagai seorang teman baik dari sahabat yang dimiliki oleh kakak laki-lakinya ‘kan

      Ya, aku tahu kau begitu menyukai Hyena, tetapi Hyena ternyata mengacuhkanmu,” <

      oh iya, baekhyun belum keluar ya? 😀

      1. ya Allah masih kepotong T_T

        kan itu kependekan dari bukan, nah karena itu semacam dipotong jadinya pake tanda petik –> ‘kan

        nafas itu yang bener napas, risih itu risi, fostur itu postur
        pas bagian flashback, wine-nya nggak perlu di italic
        centi itu bahasa inggris kan? kenapa enggak pakai senti aja? 😀

        n. Kim Jun Myun. nah kenapa enggak ‘Tuan’ aja kak? terus sebenernya nama suho itu Kim Jun Myun atau Kim Suho? aku sebagai pembaca merasa bingung ><

      2. *lanjutan*
        tapi sosok lain yang selama ini juga cukup dekat dengannya sebagai seorang teman baik dari sahabat yang dimiliki oleh kakak laki-lakinya <– aku kurang sreg sama kata2 itu, semacam bertele2 :/ itu maksudnya kyungsoo itu sahabatnya suho, kan? kenapa enggak gini aja: tapi sosok lain yang selama ini juga cukup dekat dengannya sebagai teman baiknya dan sahabat kakak laki-lakinya. yah cuma saran sih, tapi aku lebih prefer ini soalnya lebih 'menghemat' hoho

        Ya, aku tahu kau begitu menyukai Hyena, tetapi Hyena ternyata mengacuhkanmu,” <– acuh itu artinya peduli lho, jadi kalau 'Hyena ternyata mengacuhkanmu' berarti 'Hyena ternyata memedulikanmu' 😀

        duh, kepotong banyak banget 😥 😥 😥 maaf ya kak

      3. Baekhyun belum, tapi sebentar lagi… 😀

        Btw, kamu bisa berkunjung ke blog pribadi aku? Siapa tahu bisa ngasih masukan di tulisan-tulisan lainnya. ^^

    2. Hallo, Rida… ^^

      Aku Rima, 96’s line. Beda satu tahun kita. Kamu bisa panggil aku dengan nama itu, atau mau tambah pake kakak juga nggak papa 😀 hahaha…

      Wah, terimakasih ya. Masukannya berarti banget nih. Aku perlu banyak masukan yang membangun seperti ini emang.
      Sekali lagi terimakasih ya.. aku akan berusaha memperbaiki di tulisan-tulisan selanjutnya.

      Untuk kayu eobni aku sempat baca beberapa artikel tentang biola. Jadi, aku dapat di sana.

      Salam kenal… ^^

      1. Halo kak Rima! Aku panggil kakak aja ya? 😀
        Sama2 kak! Aku juga masih perlu belajar jadi ayo kita belajar sama2 😀

        Oh, oke, nanti aku cari deh infonya

        Salam kenal juga kak Rima! 😀

      2. Aku sih ga bosen, soalnya aku juga seneng kalau dapet komentar yang membangun hehe 😀

        Ditunggu aja kak, nanti aku mau meninggalkan jejak di wp kakak 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s