[Freelance]Goodbye My First Love

good-bye-my-firstloveTitle : Goodbye My First Love
Author/twitter : Kae Min Rei/@MnicaWindy
Cast :

-Park Chanyeol “Exo”

-Kim You Jung “Actris”
Genre : Sad,Romance,Hurt
Rating : PG +15
Poster by : Hyunji at HSG

Length : One Shoot
Disclaimer : This My Real Story, Don’t bash, Don’t Copas and Don’t be a SIDERSS!! CAUSE I HATE SIDERSS!!! (Tinggalkan jejakmu, karena itu sangat berharga buat author) and Sorry for typo’s

*******

“Goodbye my first love, thank you for all the memories that onceyou cut in my life scenario’s”


“Apa kau yakin?” tanya seorang malaikat cantik yang ada dihadapan seorang lelaki bernama Park Chan Yeol.
“ya” jawab Chanyeol dengan yakin.
Tiba-tiba sebuah cahaya yang amat berkilau menyinari ruangan rumah sakit itu. Chanyeol memicingkan matanya dan berusaha menangkalnya dengan menutup matanya dengan tangannya. Tak lama, cahaya itu menghilang. Juga malaikat cantik yang bersamanya tadi. Entah kemana perginya. Chanyeol mencari di sekitar kamar rumah sakitnya. Tetap tidak ada. Chanyeol meraba-raba wajah dan tangannya. Ia menatap seluruh badannya. Hidup kembali? Bukan.
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke ranjang rumah sakit.

Terbaring seorang ‘Chanyeol’ diatasnya. Chanyeol adalah seorang korban kecelakaan beruntun. dia memang masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Dengan selang infus di tangan, tabung oksigen, dan entahlah apalagi. Lalu siapa Chanyeol sekarang? Chanyeol yang berdiri tegak kini adalah jiwanya. Sedangkan yang terbaring? Itu hanya raganya.
Chanyeol merasa seperti mimpi. Ia bertemu dengan seorang malaikat cantik. Dan malaikat cantik itu memberikannya satu kesempatan untuk menyatakan perasaannya kepada gadis yang dicintainya. Jika gadis itu mengatakan ‘Iya’ atau kata semacamnya, Chanyeol akan terbangun dari komanya. Jika tidak? Chanyeol akan kembali koma atau bahkan lebih dari itu. Gadis itu harus menjawabnya dengan tulus, bukan karena kasihan akan kondisi Chanyeol. Dan, hanya gadis yang dicintai Chanyeol yang bisa melihat jiwa Chanyeol.

Waktu yang diberikan malaikat cantik itu hanya 24 jam sejak ia pergi. Malaikat itu sudah pergi. Jadi? Chanyeol harus cepat.
Chanyeol berlari ke luar rumah sakit, masih mengenakan seragam rumah sakit. Untunglah tak ada yang bisa melihatnya. Chanyeol menuju rumah gadis yang dicintainya. Kim You Jung. Yojung adalah sahabat Chanyeol. Mereka sangat dekat, dan mengatahui rahasia satu sama lain.

Chanyeol menunggu kedatangan bus di halte. Konyol memang. Tapi Chanyeol tak peduli. Toh, tak ada orang yang melihatnya. Sebuah bus datang, Chanyeol langsung memasukinya. Ia melihat orang-orang yang membayar tarif bus. Chanyeol sempat panik, tapi Chanyeol tiba-tiba ingat bahwa tak ada yang bisa melihatnya kecuali Yojung. Jam 3 sore, seharusnya Yojung sudah berada di rumah sekarang.
Chanyeol berada di jalanan dekat rumah Yojung. Ia melihat seorang gadis memasuki rumah Yojung. Itu pasti Yojung, Chanyeol pun berlari dan mengikuti Yojung dari belakang sampai berada di kamarnya.
Yojung meletakkan tasnya diatas meja belajarnya. Ia melempar badannya di tempat tidurnya yang empuk.
“AAAA!!” Yojung berteriak keras.
“Ssshh” suruh Chanyeol sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir Yojung.
Jantung Yojung berdetak cepat, nafasnya memburu, matanya terbelalak karena melihat sosok Park Chanyeol dihadapannya. Ya, Park Chanyeol tepat berada dihadapannya. Terkejut? Pasti. Padahal semua orang tau kalau dia tengah koma.
“Yeo..Yeolli?” tanya Yojung. Chanyeol hanya mengangguk lemah.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Youjung bingung.
Chanyeol menjelaskan semua yang terjadi. Terkecuali ia diberikan kesempatan untuk menyatakan cintanya pada Yojung. Tapi Yojung tidak percaya dan menganggap itu semua sangatlah konyol. Namun Yojung mencoba berpikir lagi, ia memikirkan perasaan Chanyeol sekarang. Chanyeol pasti lelah harus berbicara panjang lebar. Yojung harus berpikir berpuluh-puluh kali untuk mengerti. Karena tidak pernah ada sejarah seperti ini. Seperti sebuah fiksi. Pikir Yojung

Chanyeol tak peduli Yojung menganggapnya bodoh, aneh, khayalan, atau apapun itu. Tapi itu semua terjadi pada Chanyeol ataupun Yojung sekarang.
“Arra. Aku mencoba untuk mengerti, tetapi?..” kalimat Yojung terputus.
“Mwo?” tanya Chanyeol.
“kenapa kau datang kepadaku?” tanya Yojung.
Bingung. Itulah yang dipikirkan Chanyeol sekarang. Ia tak mungkin menceritakan bahwa ia harus menyatakan perasaannya pada seorang gadis, dan gadis tersebut harus menerimanya, kemudian sembuh. Chanyeol terdiam. Yojung hanya menatapnya.
“Baiklah jika kau tidak mau menceritakannya kepadaku” kata Yojung.
Chanyeol sedikit lega. Perasaan Chanyeol belum tenang sepenuhnya. Chanyeol harus berpikir bagaimana caranya untuk mengatakan perasaannya. Ia melihat jam dinding di kamar Yojung. Waktu terus berjalan. Tapi pikiran Chanyeol tak berjalan. Chanyeol mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Ia menatap Yojung sedang menggunakan earphone dan membaca novelnya. Rambut panjang ikal alami yang berwarna Hitam tergerai indah bersamaaan dengan parasnya yang manis. Chanyeol tersenyum melihatnya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat jantungnya bergetar, sesuatu yang mampu mengubah dunianya terlihat lebih indah hanya dengan melihat seorang gadis bernama Yojung.

***

“Apa kau tidak ingin pergi ke sekolah?” tanya Yojung pada Chanyeol. Chanyeol berpikir sebentar.
“Tidak” jawabnya.
“wae? semua merindukanmu, apalagi Baekhyun. dan semua pastinya” kata Yojung sambil menyisir rambutnya.
“tidak ada yang bisa melihatku kecuali dirimu” balas Chanyeol sambil memerhatikan Yojung.
“Ha? tetapi kau bisa melihat mereka? apa kau tidak merindukan mereka?” tanya Yojung
Chanyeol hanya diam.

Chanyeol sangat merindukan sahabat-sahabatnya. Tapi ia lebih memikirkan tentang Yojung Tentang bagaimana agar ia bisa menyatakan perasaannya pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.
“baiklah jika kau ingin tetap tinggal, aku akan pergi. pai” kata Yojung sambil meraih tasnya dan mengenakannya.

***

Pada siang hari, Chanyeol hanya sendirian di rumah Yojung. Rumah ini kosong. Sehingga Chanyeol bisa bebas berkeliaran di rumah Yojung. Ia menghampiri semua tempat di rumah Yojung. Ia melihat sebuah gitar. Ia memperhatikan gitar tersebut. Senyumnya mengembang. Ia terpikirkan dengan sesuatu. Ia mendapat sebuah ide untuk menyatakan perasaannya pada Yojung.  kemudian berlari ke kamar Yojung. Ia mengambil sebuah tape recorder. Setelah mengambilnya, ia kembali ke tempat gitar tersebut berada.
Ia memainkan gitar tersebut. Terdengar aneh membayangkan sebuah jiwa yang memainkan gitar. Tapi memang begitulah keadaannya sekarang. Ia teringat dengan keahliaannya dalam bermain alat music itu . Chanyeol memainkannya dan membuatnya menjadi sebuah melodi yang indah. Tak hanya bermain gitar, Chanyeol juga bernyanyi. Suara bass yang merdu mengalun indah. Siapapun yang mendengarnya pasti luluh.

***

Yojung sudah sampai di rumahnya. Dan sekarang ia berada di kamarnya bersama Chanyeol.
“melelahkan bukan?” tanya Chanyeol.
“ne, semuanya sangat melelahkan” kata Yojung.
“apa itu?”
“dia memberiku ini” kata Yojung sambil memberikan sebuah kertas berisikan angka-angka. Yojung sangat membenci matematika dan Songsaenim Park tentunya.
“kenapa bisa?”
“aku tidak menyelesaikan tugasku, sehingga dia memberiku sebuah peringatan dan tugas lagi” jawab Yojung malas. “Huuuhh” Yojung  menghela nafas panjang. Chanyeol melihat soal yang diberikan kepada Yojung
“Ini sangat sulit” kata Chanyeol
“Yah” sahut Yojung.

***

Lima menit lagi. Ya, lima menit lagi penentuan nasib Chanyeol. Chanyeol semakin panik. Ia menggoyang-goyangkan kakinya. Berharap itu bisa mengurangi kepanikannya. Berkali Chanyeol mengambil nafas dalam-dalam. Percuma. Tetap saja ia dihantui kepanikan. Sedangkan Yojung hanya diam dengan novel yang dipegangnya. Chanyeol  menutup matanya. Ia memantapkan dirinya.
“Yojung-aa” panggil Chanyeol.
“ne?” sahutnya.
“A….A” Chanyeol terbata. Ia terlalu takut dengan resikonya. Ia menggenggam tape recorder Yojung tapi disembunyikannya dibalik punggung. Yojung masih menatapnya bingung.
“ini untukmu” kata Chanyeol sambil memberikan tape recorder milik Yojung kepada Yojung.
“Hey! ini milikku, dari mana kau mendapatkannya Chanyeol-ssi?” tanya Yojung sambil mengambil tape recordernya.
“itu tidak penting.  aku merekam sesuatu di dalam recordermu, kau dapat mendengarkannya setelah aku pergi.” kata Chanyeol.
“Pergi? kemana kau akan pergi?” tanya Yojung.
“Molla, tetapi tolong dengarkan aku”
Yojung mencoba menyimak. Chanyeol masih ketakutan. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia mengambil nafas dalam lagi. Tiga menit lagi. Tiga menit waktu tersisa bagi sebuah jiwa Park Chanyeol dan kesempatannya untuk kembali normal.
“Saranghae Kim You Jung” kata Chanyeol. Dua kata yang sudah lama terpendam di hati Chanyeol pun akhirnya terlontarkan.
DEG! Jantung Chanyeol dan Yojung sama-sama berdegup kencang.
“Mwo?” tanya Yojung seolah tak percaya.
“ne, aku mencintaimu. aku sudah lama memendamnya, karena aku takut jika kau mengbaikannya. aku takut jika kau meninggalkanku, dan kita tidak akan bisa berteman lagi. tetapi, aku siap menerima itu, jadi? maukah kau menjadi yeojachinguku?” Tanya Chanyeol gugup

Yojung bingung. Ia tak percaya. Setelah beberapa kejadian aneh terjadi dengannya sejak kemarin. Dan sekarang, seorang Park Chanyeol mengatakan hal yang tak pernah diduganya. Tapi Yojung juga tak bisa bohong dengan perasaannya. Ia juga mencintai Chanyeol. Tapi entah apa yang bisa membuat bibir sangatlah sulit untuk dibuka.
Chanyeol mendekati Yojung. Chanyeol menatap Yojung dalam. Sangat dalam. Yojung  mencoba mencari kebohongan dalam tatapannya. Nihil. Chanyeol sangat tulus mengatakannya. Tiba-tiba sebuah cahaya kembali datang. Cahaya yang sangat terang itu membuat Yojung  memicingkan matanya. Chanyeol tersenyum penuh arti pada Yojung. Tak lama, Chanyeol menghilang. Tanpa jejak. Entah kemana. Ia melihat tape recordernya. Dan kemudian menyalakan rekaman terakhir yang dibuat Chanyeol
“Yojung, aku siap meninggalkanmu. jadi dengarkan suaraku untuk yang terakhir” kata Chanyeol
Suara alunan gitar mulai terdengar. Chanyeol menyanyikan sebuah lagu. Lagu berjudulkan

*Gone

Uri hamkke issdeon gue gong-gan-e

Naega neol dalm-agadeon geu sungan-e

Bis-sog-eul geunyang geol-eodo neomu joh-assdeon

Niga oebsda niga eobda

Eottheoghe na hanjaseo neol jiugo sal-a

Cairan bening dari mata indah Yojung tak bisa tertahan lagi. Air matanya tumpah. Isakannya tak bisa disembunyikan lagi. Ia menangis sejadi-jadinya.
Kenapa Chanyeol memilih lagu itu. Karena memang begitulah keadaannya sekarang.
“Yojung-aa, kita pernah mengetahui suatu hal lain. tetapi kau tidak pernah tahu apa yang selama ini aku rasakan ketika melihatmu. jantungku berdetak kencang ketika aku melihatmu, menatap wajahmu, mencari kekosongan dalam pandangan matamu. aku rasa itu adalah sebuah kenyamanan untuk diriku, aku merasa tenang, merasa damai serta yang lainnya. ketika kau memelukku, aku hanya ingin melihatmu nyaman oleh kehangattan pelukanku. ketika aku melihatmu menangis, aku ingin menjadi orang yang bisa membuatmu tertawa lagi. aku ingin melihatmu setiap hari, aku ingin mendengar tawamu setiap saat, dan mendengarkan cerita-cerita khonyolmu setiap hari. aku berjanji, aku akan menjagamu, aku akan berada disampingmu, aku akan menjadi yang terbaik untukmu. aku akan selalu mencintaimu, aku ingin melihatmu memakai gaun pengantin dan aku menggunakan tuxedo, lalu kita berdiri diatas altar bersama. dapatkah kau berjanji?  untuk menjadi milikku selamanya?” Rekaman suara Chanyeol terdengar begitu parau. Mungkin ia menangis. Chanyeol belum bisa menenangkan perasaannya. Ia hanya bisa menangis. Ia merasa sangat bodoh.
“jika aku pergi, aku berharap kau menemukan yang terbaik dari diriku. dan kau dapat bahagia bersama namja yang kau cintai. saranghae Kim Yojung. oh aku hampir lupa, ini suara rekaman terakhirku sebelum pergi. dan jika suatu saat nanti kau merindukanku, putarlah tape recorder ini. Selamat Tinggal” Rekaman Chanyeol terakhir

“Nado Saranghae Chanyeol! Saranghae! apa kau bisa mendengarku? aku ingin bersamamu selamanya! aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu Yeolli, aku ingin bahagia bersamamu! aku hanya ingin kau yang menjadi pendampingku di altar suatu saat nanti! Chanyeol, kau dimana?” Yojung berteriak-teriak memanggil nama Chanyeol. Tapi naas, Chanyeol  tak bisa mendengarnya. Jiwanya telah melayang entah kemana.
Yojung berlari ke luar rumah. Ia menuju rumah sakit tempat Chanyeol dirawat. Selama perjalanan, ia mengutuk dirinya. Air mata pun tak habis-habisnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Berkali ia menyeka dengan punggung tangannya, air mata itu tetap mengalir. Satu harapan Yojung. Ia bisa bersama dengan Park Chanyeol selamanya.

***

Yojung sampai di kamar tempat Chanyeol dirawat.
“Mianhae ahjumma, bisakah kau tinggalkan aku sendirian disini?” pinta Yojung pada Eomma Chanyeol.
“ne” jawabnya.
“Gomawo”

Eomma Chanyeol pun keluar dari kamar Chanyeol. Yojung memegang tangan Chanyeol erat. Tangannya sangat dingin.  Chanyeol terlihat lemah. Dengan selang infus yang terhubung dengan tubuhnya. Padahal baru saja tadi ia melihat Chanyeol tersenyum. Melihat Chanyeol begerak lincah. Melihat Chanyeol tertawa lepas. Tapi sekarang keadaan berubah total. Yojung hanya melihat Chanyeol tergeletak lemas.
“Apa ini khayalan? ataukah sebuah mimpi? tetapi kenapa begitu indah? dan terlihat seperti nyata? apakah ini nyata? aku pikir begitu. apakah kau bisa mendengar suaraku oppa? apakah kau tau apa isi hatiku. ne, aku mencintaimu oppa. sangat mencintaimu, ironna oppa. ironna” Yojung  berbicara pada Chanyeol yang tengah tidur panjang. “jangan membuatku bersedih tentang hal ini, dan menyembunyikan semua rasa ini kepada yang lainnya. saranghae oppa” bisik Yojung pada telinga Chanyeol.
Yojung berharap Tuhan bisa mendengar permintaannya, dan Chanyeol bangun dari komanya. Yojung semakin menggenggam tangan Chanyeol. Dilihatnya jari telunjuk Chanyeol yang bergerak. Mata Yojung membulat. Chanyeol mulai membuka matanya, Yojung terkejut. Ia segera keluar dan memanggil Eomma Chanyeol.

“Panggil Dokter!” seru Eomma Chanyeol. Aku mencari dokter untuk datang ke tempat Chanyeol, Dokter itu memeriksa keadaan Chanyeol.
“Sungguh diluar dugaan nyonya, kondisinya mulai membaik. Jika semua berangsur sampai tiga hari ia bisa pulang” kata dokter.
“Gomawo” kata Eomma Chanyeol.
“Eom…ma?” panggil Chanyeol dengan suara serak.
“Ne?” sahut eomma Chanyeol sambil membelai rambut putranya tersebut.
“Yojung? Kau disini” tanya Chanyeol.
“ne, aku hanya ingin melihatmu. lihatlah kau sadar, chukkae” kata Yojung dengan senyuman
***
2 Minggu Kemudian
Chanyeol memberikan jaketnya kepada
”waeyo? pakailah, ini sangat dingin” kata Yojung.
“karena ini dingin aku ingin kau yang memakainya, aku tidak mau jika yeojachinguku sakit” kata Chanyeol
“aku juga tidak mau melihat namjachinguku sakit, jadi pakailah!” pinta Yojung.
“kau sangat menghawatirkanku, gunakanlah chagi” Chanyeol berusaha menolak dan tersenyum manis.
Angin musim semi menusuk tulang mereka. Rambut Yojung berkibas bebas dan berantakan. Chanyeol merapikan rambut Yojung. Terlihat semburat merah di pipi Yojung. Chanyeol terkekeh pelan.
“lihatlah wajahmu memerah” kata Chanyeol sambil mengusap pipi Yojung dengan punggung tangannya. Yojung menundukkan wajahnya. Ia malu dengan wajahnya yang pasti memerah.
“Hey kau kenapa? jangn sembunyikan wajahmu” Chanyeol mengangkat dagu Yojung. Ia mendaratkan bibirnya tepat di bibir pink soft milik Yojung. Chanyeol melakukannya dengan lembut. Yojung dapat merasakan bibir Chanyeol yang dingin. Pohon-pohon, langit, dan taman ini menjadi saksi bisu kebahagiaan Chanyeol dan Yojung. Dan mereka harap, kebahagiaan ini akan berlaku sampai kapanpun.

***

Orang-orang yang datang di pemakaman itu menangis. Tak menerima kejadian ini menimpa mereka. Sangat berat. Terlalu sulit untuk merelakan kepergiannya. Park Chanyeol menangis. Menangis dan marah. Ia marah kepada kenyataan. Kenyataan mengatakan bahwa orang yang sangat dicintainya itu harus pergi. Kim You Jung. Meninggal karena kecelakaan. Kejadian yang pernah terjadi juga pada Chanyeol. Tapi dewi fortuna tak berpihak pada Yojung. Takdir berkata lain. Yojung kehabisan darahnya dan tak bisa diselamatkan. Tak pernah terpikirkan olehnya gadis yang dicintainya pergi begitu saja dan meninggalkan sejuta kenangan. Chanyeol masih sangat jelas mengingat wajah Yojung, masih sangat jelas mengingat kejadian-kejadian bersama Yojung. Ia tak percaya Yeojachingu-nya harus pergi selamanya.
“dia akan menangis jika kau menangis” kata Suho mencoba menenangkan Chanyeol.
“tidak hyung, dia tidk bisa meninggalkanku sendiri! aku mencintainya, sangat mencintainya! kau tidak tau apa yang aku rasakan” bentak

Para sahabatnya itu mencoba untuk mengerti perasaan Chanyeol. Mengapa cinta itu kejam? Chanyeol rela menggantikan posisi Yojung sekarang. Chanyeol rela mendapatkan sakit yang dirasakan Yojung. Chanyeol hanya ingin bisa melihat malaikatnya itu tersenyum kembali. Over. It’s over. Chanyeol hanya bisa melihat nisan bertuliskan nama Yojung, dan tumpukan tanah yang menutupi jasad Gadis-nya.

Flashback

“Kemana kita akan pergi oppa?” tanya Yojung pada Chanyeol
“kemana pun, hanya sekedar jalan-jalan” jawab Chanyeol
Yojung hanya bisa tersenyum mendengar kekasihnya. Chanyeol memang orang yang penuh dengan kejutan. Di malam itu, Yojung mengenakan gaun biru selutut yang membuat semakin terlihat cantik. Sedangkan Chanyeol mengenakan jas yang membuatnya terlihat formal dan tampan. Mereka sampai di sebuah restoran yang sangat kental dengan suasana Prancis.
“Wow” kata Yojung kagum saat masuk melihat bangunan yang klasik.
“apakah kau menyukainya?” tanya Chanyeol
“ne oppa” jawab Yojung
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang sudah di booking oleh Chanyeol. Seorang pelayan masuk dan membawakan nampan dengan penutupnya yang berisikan makanan.
Di tengah romantisme candlelight dinner mereka, Chanyeol bangkit dari duduknya. Yojung menatapnya bingung. Chanyeol mendekati Yojung. Ia berjongkok seperti layaknya lelaki yang ingin meminang wanita. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia membukanya, sebuah cincin cantik berkilau di dalamnya.
“Would you be my future?” pinta Chanyeol
Yojung terkejut. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tak percaya dengan perkataan Chanyeol barusan.
“oppa?” panggil Yojung. “Are you sure?” lanjut Yojung.
“I’m sure my life will complete with you. And I sure, we’ll be a happy family” kata Chanyeol mantap.
“I do Oppa. I do” kata Yojung
“Really?” Chanyeol bertanya lagi. Yojung mengangguk. Chanyeol memeluk Yojung erat. Yojung merasakan hangatnya di dalam pelukan Chanyeol. “gomawo, aku berjanji. aku akan membuatmu bahagia! selalu” janji Chanyeol.

Mereka berdua pulang dengan perasaan yang sangat bahagia. Chanyeol tak henti tersenyum karena bahagia. Jalanan pada malam itu sangat sepi. Karena memang sudah jam 11 malam.
“Oppa, bisakah kau mengendarai lebih cepat lagi. ini sudah terlalu larut” kata Yojung.
“baiklah” jawab Chanyeol.
Chanyeol mengendarai mobilnya lebih cepat. Tak ada halangan sama sekali, sehingga ia bisa mengendarai dengan cepat. Tiba-tiba sebuah truk besar ingin menyalip mobil Chanyeol. Chanyeol hilang kendali. Ia panik. Cepat-cepat Chanyeol membanting stirnya. Yojung panik.

“tenangkan dirimu oppa!” perintah Yojung. mobil Chanyeol oleng. Ia tak bisa mengendalikannya lagi. Kepalanya terngiang-ngiang.
“BRAK!” mobil Chanyeol menabrak pembatas jalan di sebelah kiri. Chanyeol hanya sedikit mengeluarkan darah di pelipisnya. Sedangkan Yojung? Sangat parah. Darah segar mengalir dari berbagai tubuhnya. Chanyeol yang masih sedikit pusing itu kaget melihat keadaan Yojung. Matanya sedikit terbuka. Ia lemah. Bahkan untuk membuka mulutnya pun sangat sulit. “Saranghae oppa” kata Yojung lemah. Matanya tertutup. Chanyeol terkejut bukan main.
“Changi bangun! Changi aku mohon bangun! buka matamu” teriak Chanyeol pada Yojung.

Yojung tak menjawab. Yojung hanya diam. Chanyeol mengambil tangannya. Denyut nadinya melemah. Panik melanda Chanyeol. Ia mencoba menelepon 911. Tidak ada yang bisa dilakukan Chanyeol kecuali menunggu dan mencari pertolongan. Ia merasa sangat tak berguna sekarang. Andai saja Chanyeol bisa menggantikan sakit yang diderita Yojung sekarang, ia pasti sudah menggantikannya. Chanyeol membawa Yojung keluar. Ia menggendong Yojung. Berteriak meminta pertolongan. Percuma, tak ada seorang pun yang mendengar teriakannya. Ia kembali menatap Yojung. Gaunnya penuh dengan bercak merah karena darahnya.
“Jebal bertahanlah changi. jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpamu chagi” pinta  Chanyeol memelas pada Yojung.
Kemudian sebuah ambulance datang untuk menyelamatkan mereka. Tapi telambat. Kenyataan begitu untuk diteriam Chanyeol. Padahal baru saja tadi ia melihat senyum Yojung, melihat tawa Young. Dan Yojung sudah dipastikan tak bernafas lagi. Chanyeol menunduk. Menitikkan air matanya. Ia terpuruk. Masih tak percaya dengan kenyataan yang begitu kejam padanya. Tapi ia mencoba berpikir realistis. Ia harus rela.
End of flashback

Tapi kenapa? Kenapa harus Yojung kekasihnya ? Kenapa harus ia yang harus menerimanya? Chanyeol terpaku melihat nisan Yojung. Ia teringat dengan dirinya yang bangkit hanya dengan sebuah jiwa. Jika saja Yojung tidak menjawabnya, seharusnya Chanyeol sudah berada di tempat Yojung sekarang. Seharusnya Chanyeol yang menerima semua ini. Semuanya berbalik tanpa disangka.
“tunggu aku di surga” kata Chanyeol pada batu nisan Yojung. Air mata Chanyeol jatuh di makam Yojung . “Saranghae Kim You Jung”

‘Damai-lah bersama Tuhan di Surga You Jung, tunggu hingga saat-nya aku bisa kembali menemani-mu. Saranghae Kim You Jung’ – Park Chanyeol

 

‘Hidup-lah secara normal disana kekasih-ku, dari sini aku akan selalu mengawasi serta menjaga-mu. Aku akan menunggu-mu hingga saat itu tiba, Nado Saranghae Park Chanyeol’ – Kim You Jung

The End

3 thoughts on “[Freelance]Goodbye My First Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s