[Freelance] For You My Boy

BcaPYB8CcAA5t5d

Title : For You, My Boy!

Author : Fha Arifah

Main Cast : Park Chanyeol (EXO), Han Hyojae (OC)

Additional Cast : Cho Kyuhyun (SJ)

Length : Ficlet

Genre : Romance

Rating : PG-17

Disclaimer : dengan serakah, saya katakan bahwa seluruh Cast milik saya apalagi Happy Viruz ‘Park Chanyeol’. Don’t be Plagiat and Silent Reader. Jadilah pendukung karya anak bangsa! *kampanye lagi -__-

Note :Halo lagi! Ketemu lagi sama aku si author amatiran. *lambai sok kenal. Ini FF keduaku yang aku kirim kesini. Maaf jika Typo menimbulkan bengkak perih pada mata anda, jika sakit berlanjut hubungi dokter *lho?.

FF ini juga di publish di blog pribadi milik Author : http://defhayeppo.wordpress.com. Kapan-kapan, maen yah. Follow juga twitter @elfha27.

Yasudahlah.. Happy Reading ^^

.

.

Tuk!

Aku meringis. Aku tahu ulah siapa ini. Siapa lagi yang selalu mengetukan sesuatu ke kepalaku ini kecuali namja menyebalkan itu.

“Ya! Oppa! bisakah kau tidak melakukannya?” aku merengut tidak terima. Dan dengan wajah innocentnya, ia cengengesan duduk di depanku, sambil menyodorkan secangkir cokelat panas.

“Bagaimana perjalanannya, Han Hyojae-ssi?” Ia memasang puppy eyesnya, menyodorkan jari-jarinya yang dikepal dan ia anggap sebagai Mic. Rupanya ia beracting sebagai wartawan.

Aku membulatkan mataku kesal.

“Kau tau oppa? Satu jam aku terdiam di ruang tamu ini, menunggu penghuninya datang. Dan oppa malah menyambutku dengan ini?” Sikap egoisku masih tetap muncul meskipun sudah 1 tahun yang lalu aku menyelesaikan pendidikan fashion ku di universitas di Paris sana. Tanganku menunjuk bagian kepala yang terkena serangan tangannya tadi.

“Oo.. Tidak baik, uri Hyojae datang dengan marah-marah seperti itu..”

Aku tidak peduli. Tanganku memegang cangkir berisi cokelat yang masih panas itu. Menghangatkan buku-buku jariku yang terlihat hampir membeku akibat salju diluar sana.

“Oppa benar-benar sibuk Hyojae-ya, rumah sakit yang dimiliki keluarga oppa sedang dalam masa kritis. Jadi oppa benar-benar  harus full  bekerja. Bahkan Chanyeol-mu itu terpaksa dipindahkan abeoji dari rumah sakit cabang ke pusat. Jadi maafkan oppa tidak bisa menyambutmu.”

Aku hampir tersedak mendengar Namja yang bernama lengkap Cho Kyuhyun itu mengatakan ‘Chanyeol-mu’.

‘Uhuk-uhuk’ akhirnya aku tersedak juga. -_-

“Ah wae geurae Hyojae-ya?” Kyuhyun kini mulai panik melihat wajahku yang memerah karena tersedak.

Aniyoo.. Gwaenchana oppa..” Aku berusaha menormalkan suaraku. Kyuhyun menyodorkan segelas air hangat yang langsung disambut olehku.

“Lalu, dimana dia sekarang?” tanyaku setelah dirasa baik-baik saja.

“Dia siapa?” Kyuhyun bertanya seolah tidak tahu apa maksudku. Isshh.. Namja ini.. Pura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti.

“Oppa, sejak kapan kau bodoh? Yang kutau, dulu waktu di kampus kau selalu mendapat IPK tertinggi.”

Kyuhyun mengernyitkan dahinya mendengar ucapanku. “Ya! oppa tidak bodoh!” teriaknya tidak terima.

“Ooohh.. Maksudmu Chanyeol?” mulut Kyuhyun ber ‘O’ ria setelah melihat ekspresiku.

Geussee..  Mungkin sekarang ia sedang bersenang-senang dengan suster-suster cantik di Rumah sakit sana.” ucapnya datar. Dan karena nada datarnya itu membuatku membelalakan mata indahku (-__-).

“MWO?”

Kyuhyun dengan sigap mengambil langkah seribu, menghindari serangan gadis yang telah ia anggap seperti adiknya sendiri.

***

Aku merentangkan tanganku di permukaan seprei yang membalut kasur empukku ini. mereflekkan otot-otot yang mengkerut akibat perjalanan selama semalam di pesawat tujuan Paris-Seoul.

Mataku memandang langit-langit kamar. Kaca jendelaku tertutup rapat. Sepertinya salju yang turun diluar sana semakin banyak, menimbulkan uap dingin yang menempel di kaca jendela.

Aku tersenyum. Sudah lama sekali tidak menikmati suasana kamarku ini. 3 tahun yang lalu, aku dengan berat hati meninggalkan kamarku yang penuh kenangan ini demi menggapai cita-cita untuk menjadi seorang designer.

Masih ku ingat ekspresi Kyuhyun yang sedih tak ingin melepasku. Ia sudah menganggapku seperti adiknya sendiri, dan apartemen ini sebenarnya apartemen milik Kyuhyun oppa.

Saat aku berumur 9 tahun, orang tuaku meninggal karena kecelakaan mobil. Kisah tragis bagi gadis berumur 9 tahun. Dan karena ayahnya Kyuhyun Oppa adalah relasi kerja ayahku, ia pun mengambil alih perusahaan milik ayahku dan membawaku ke dalam keluarga mereka. akupun dianggap benar-benar seperti anggota keluarga.

Bagaimana dengan Park Chanyeol?

Ngomong-ngomong tentang dia. Dia itu sepupu Kyuhyun oppa yang juga bernasib sebatang kara sepertiku. Tapi ia ditinggal orang tuanya ketika masih berumur 5 tahun. Dan marga ‘Park’nya itu tidak dihilangkan oleh keluarga Cho. Katanya untuk menghormati almarhum ayahnya Chanyeol.

Dan saat Kyuhyun Oppa mulai bekerja di rumah sakit, ia memutuskan untuk hidup mandiri. Kemudian serta merta membopongku dan Chanyeol ikut ke apartemennya. Katanya ia tidak terbiasa jika hidup tanpa aku dan Chanyeol.

“Nal annae haejwo

geudaega salgo inneun gose nado hamkke deryeoga jwo

oh sesange kkeuchirado dwit taragal teni

budi nae siya-eseo beoseonaji marajwo

kkumeul kkuneun georeum

geudaen namane areumdaun nabi”

Alunan lirik ‘Don’t go’ milik EXO melantun dari smartphoneku yang tergeletak di nakas samping ranjang. Menandakan sebuah panggilan masuk.

“Eoh..” Bahasa banmal ku langsung saja keluar begitu mendengar suara manly disana.

“Ya! Han Hyojae! 3 tahun kau meninggalkanku dan sapaan pertamamu hanya ‘eoh’?”

Aku menjauhkan telingaku dari speaker smartphone. Suara Chanyeol jika sedang marah begini ya? Menyakitkan. *so tau banget nih author

“Mwo? Kau ingin aku bagaimana? ‘Bogoshipposo oppa, saranghae’ kau ingin aku mengatakan itu?” aku tak kalah berteriak membalas teriakannnya tadi dan lengkap dengan ekspresinya, seolah namja itu memang sedang ada dihadapanku.

Neo eodiga?” suaranya kembali normal.

Ahaha. Aku tau ia bahagia mengetahui aku telah kembali ke Seoul. Tapi beginilah cara berpacaran kami, tak ada kesan romantis dan kata-kata puitis. Karena aku terlalu geli jika mendengar kata-kata puitis darinya yang ditujukan untukku.

Aku tau, dia seseorang yang romantis, tapi aku sering tidak menganggap keromantisannya. kadang ekspresiku biasa saja atau malah mengajaknya bercanda, mengabaikan sikap romantis yang telah susah payah ia buat. Membuatnya mendengus kesal.

“Di kamar, wae?”

“Ahh.. Ya sudah, istirahatlah. Pasti perjalananmu melelahkan. Aku mungkin pulang telat, jadi jangan tunggu aku.”

Aku mengerutkan kening mendengar kata-katanya. mulutku tertawa tak bersuara. Geli mendengarnya mengucapkan itu.

“Aku tau, kau sekarang pasti sedang memegang perutmu karena geli mendengar kata-kataku. tapi sungguh, aku merindukanmu, jeongmal bogosiposoo” *aa. author ga sanggup bayangin -_-

Aku terhenyak mendengar kata-kata terakhir yang ia ucapkan. Mataku membulat. Kurasa kata-katanya kali ini penuh dengan kekuatan sehingga mampu membuat saraf tubuhku terdiam.

“Ne?” dan bodohnya aku malah mengatakan itu.

“Ya sudah, Jaljaa..” dan ia pun menutup telpon tanpa menunggu jawaban dariku.

“Ya! Park Chanyeol! Kau membuatku gilaa!!!” aku berteriak histeris.

***

Mataku tak mau terpejam dari sejak 2 jam lalu. Kulirik beker digital disampingku. 23:55.

“Haisshh.. Chanyeol, kapan kau pulang?” aku mengacak-ngacak rambutku. Aku jadi merasa tidak enak hati kepadanya. Memikirkan nada bicaranya saat ditelpon tadi. Sepertinya kali ini dia begitu serius.

‘jeongmal bogoshiposoo’

Kata-kata itu terus saja berputa-putar diotakku.

Kuraih smartphoneku, mencari kontaknya. Tapi saat akan kutekan tombol hijau, aku ragu. Yah, kenapa sikap egoisku muncul disaat seperti ini?.

Aku malah iseng buka browser dan mencari resep dobukki. Aku berencana menyambut Chanyeol dengan makan malam. Dan sepertinya aku memang harus bergadang untuk menunggunya.

Beberapa menit berikutnya dapur di apartemen ini sedikit gaduh karena ulahku.

***

Author POV

Chanyeol melepas jas putihnya. Matanya sudah tak kuat lagi membendung kantuk yang melanda hebat. Mulutnya kembali menguap. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan rumah sakit yang mulai sepi, hanya ada beberapa pegawai yang bertugas menjaga pasien yang menginap.

Dengan langkah gontai, ia memasuki apartemen yang ia tinggali bersama hyungnya. meskipun dengan mata yang mengantuk, tapi pendengarannya tetap tajam.

“Seperti suara degkuran..” pikirnya. Ia mencari asal suara itu. Kakinya akhirnya melangkah ke arah dapur. Dan matanya terbelalak mendapati pantry di dapur yang sudah dihiasi lilin berbentuk hati. Di mejanya terdapat sepiring dobukki yang mulai dingin. Dan yang lebih menarik perhatiannya adalah gadis manisnya dengan tenang tertidur di pinggiran meja. Di jarinya terdapat secarik kertas yang telah dilipat. Chanyeol meraihnya.

 

‘Annyeong Chanyeol oppa! Bogosipposo..’

Chanyeol tersenyum membaca salam pembuka dari pesan di surat itu.

 

Mungkin itu kata-kata yang seharusnya aku ucapkan di telpon pertama darimu saat aku tiba di sini.

“Babo!” umpatnya, namun Chanyeol masih memasang senyumnya.

 

Aku sadar, aku terlalu beruntung mendapatkan perhatian yang begitu besar darimu. menerima pesan singkat disetiap paginya yang dikirim dari seoul dan demi hanya mengatakan “Hyojae, jangan lupa makan, Saranghae”.

Aku mengakui bahwa aku sangat bahagia setiap kali membaca pesanmu itu setiap pagi. Tapi kau tau?, Sifat egois yang melekat erat pada diriku, membuatku merasa malu dan beralasan ‘geli’ untuk mengatakannya. Dan hanya mampu membalas pesan itu dengan “Babo, mana mungkin aku lupa makan!”

Dan begitulah yang terjadi disetiap harinya selama tiga tahun aku berada di Paris.

Aku terlalu datar menjadi pasanganmu. Tidak mengerti apa yang kamu inginkan. Entahlah, jika itu bukan kau, mungkin laki-laki lain diluar sana sudah tidak tahan denganku.

Tapi untungnya itu kau!

Kau yang dengan sabarnya menungguku dan memahamiku. Aku terlalu egois. Dan karena keegoisanku itu, aku tak ingin kehilanganmu.

Nado bogosipposo, saranghae Park Chanyeol. *inimah beneran kata-kata author :V

Chanyeol menatap Hyojae yang tengah tertidur lelap. Sepertinya sangat lelah menyiapkan makan malam dengan suasana romantis seperti ini, sehingga Hyojae langsung tertidur begitu saja di meja makan.

Chanyeol merendahkan badannya, berjongkok dihadapan Hyojae yang terduduk. tangannya menelusuri garis wajah Hyojae, menyingkirkan setiap helai rambut yang berjatuhan menutupi sebagian wajahnya. Chanyeol menatap wajah itu, wajah yang selalu ia rindukan setiap harinya.

Chanyeol memajukan wajahnya hingga nafas teratur Hyojae menerpa lembut philtrum miliknya. Dan akhirnya chanyeol menempelkan bibirnya ke bibir lembut milik Hyojae. sSdikit melumatnya tanpa membangunkan Hyojae. Tak lama, ia pun melepasnya.

Jaljayo.. Na saranga..” lirih Chanyeol membopong Hyojae menuju kamarnya.

END

Advertisements

7 thoughts on “[Freelance] For You My Boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s