Baby, We Miss You

lilgirlwithyeol

Title:  Baby, we miss you.

Main Cast : Park Chanyeol (EXO), Kang Ha In (OC), Park Chanmi (OC)

Length: ficlet

Genre: romance, family

Author: Isshikisaika

 =-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

 

 

 

Aku menghempaskan diri di kursi ruangan kerjaku. Tumpukkan kertas dan beberapa file lain kembali memenuhi mejaku. Seharusnya aku sudah bisa pulang sekarang, tapi  manajerku mendadak memintaku untuk menyelesaikan proses input data-data penjualan  malam ini juga. Katanya besok perusahaan akan di audit. Jadi, dengan sedikit kesal dan menggerutu aku kembali ke ruanganku dan menyalakan kembali komputer yang sudah terlanjur di shut down.

 

Aku meneguk kopi hangat yang baru di letakkan dimejaku oleh Soyeon-rekanku. Berharap  cairan berkafein itu masih bisa menjaga konsentrasiku untuk kembali bekerja. Setengah jam berlalu dan ku rasa persendianku mulai berkedut nyeri. Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali, berusaha menghalau kantuk yang mulai terasa, masih ada beberapa lembar lagi dan rasanya aku begitu lelah. Aku menengok ponselku, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Chanyeol-suamiku dan sebuah pesan.

 

From: Hubby Chanyeol

 

Apa kau lembur malam ini?

 

Aku menarik napas, lalu membalas pesannya.

 

From : Wifey Ha In

 

Sepertinya begitu, apa Chanmi sudah tidur?

 

Aku meneruskan pekerjaanku, lalu beberapa menit kemudian ponselku bergetar.

 

From: Hubby Chanyeol

 

Dia belum mau tidur, dia menunggumu membacakan Ice white dan kurcaci untuknya.

 

Aku mendecakkan lidah, sejak kapan ada dongeng macam itu? oh, Chanyeol memang tidak hapal dongeng snow white atau dongeng apapun. Dia lebih memilih pororo sebagai brand kartun favoritnya untuk Chanmi.  Aku mengecek jam, pukul sembilan malam, aku memutuskan menelpon Chanyeol.

 

“Yeoboseyeo?” Seruku pelan begitu nada sambung awal diangkat.

 

“Yeobooo, kau mau pulang jam berapa? Aku dan Chanmi menunggumu, kami sudah memasak omelet spesial untukmu.”  Suara Chanyeol terdengar memelas.

 

“Pekerjaanku masih cukup banyak, Chanyeol-ah, mungkin satu jam lagi aku pulang, kau dan Chanmi makan malam duluan saja, oh, satu lagi, tolong bacakan dongeng itu sebelum Chanmi tidur, pastikan dia sudah menyikat gigi dan mengganti baju dengan piama, arasseo?” Chanyeol  menghela napas, dia hanya bergumam  sebagai balasan.

 

“Kau sudah seminggu ini pulang larut malam Ha In, kami merindukanmu.” Ujar Chanyeol lirih.

 

“Aku rindu sup buatanmu ketika aku pulang kerja, aku ingin kau bersama kami ketika pororo ditayangkan, dan Chanmi ingin kau yang membacakan dongeng sebelum tidur untuknya. Dia baru saja mengatakan itu tadi.”

 

Aku terhenyak, perasaan bersalah mulai menghinggapiku. Untuk beberapa menit aku tidak bisa berkata apa-apa.

 

“Aku tahu ini konsekuensi mengizinkan kau bekerja di perusahaan skala besar, tapi aku tidak menyangka kau akan sesibuk ini. Kau bahkan terlihat lebih kurus dan kelelahan. Aku hanya khawatir-“

 

“Chanyeol-ah,” Aku memotong perkataannya yang mulai terdengar seperti ceracauan. Aku memejamkan mata, berusaha membendung perasaan sesak yang memenuhi dadaku.

 

“Aku baik-baik saja, dan aku minta maaf.” Suaraku bergetar di udara. Aku menghembuskan napas perlahan.

 

“Kau tidak perlu bekerja sekeras ini, sungguh, aku bisa membiayai kehidupan kita walaupun kau tidak bekerja.Satu-satunya yang menjadi alasanku mengizinkanmu berkarir karena kau menyenangi bidang itu, kau ingin menyalurkan passion-mu dan aku menyetujuinya. Tapi yang terlihat sekarang kau seperti terbebani, kau tertekan dengan berbagai tuntutan  yang ada. Kau harus memikirkan kembali hal ini.” Chanyeol menekankan perkataan terakhir.

 

Aku tidak membantah atau menyanggah apapun dari perkataannya. Mungkin kali ini dia sepenuhnya benar. Chanyeol benar.

 

“Baiklah, aku akan memikirkannya lagi. tapi untuk malam ini, biarkan aku menuntaskan pekerjaanku. Dan kau yang menemani Chanmi tidur.” Ujarku pelan. memastikan Chanyeol tetap melakukan yang ada di pesanku tadi.

 

“Hmm, tentu.” Gumam Chanyeol. Lalu beberapa detik kemudian aku mengakhiri telepon.

 

Aku memandang layar komputer dengan pandangan mengambang. Percakapan tadi masih berputar di benakku. Apa aku terlalu memaksakan diri sekarang? apa aku mulai menghiraukan tugas pada keluarga kecilku? Apa sekarang  aku sedang begitu terobsesi untuk berkarir  ? Dan apakah aku menginginkan semua ini?

 

Setelah memaksakan diri untuk kembali fokus dari percakapan tadi, akhirnya aku menyelesaikan pekerjaanku satu jam kemudian.

 

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

 

Aku memasuki rumah kami, melepaskan sepatu dan meletakkan tas di meja. Pandanganku beredar kesekeliling. Lampu di beberapa ruangan telah padam, menyisakan ruang makan yang masih terang. Aku melangkah ke ruang makan dan pandanganku terantuk pada meja makan. Seketika itu pandanganku berubah nanar. Disana ada sepiring omelet yang masih utuh dan diatasnya terdapat olesan saus dengan bentuk hati. Mereka benar-benar memasak omelet untukku.

 

Aku kembali berjalan ke arah kamar Chanmi, memutar gagang pintu dengan sangat pelan sehingga tidak membangunkannya. Aku melihat putriku itu sudah tertidur pulas dan Chanyeol berada disampingnya-dengan buku dongeng di tangannya. Pemandangan inilah yang hampir selalu kudapati selama seminggu ini. Aku menarik napas. Dengan perlahan aku mendekati tempat tidur Chanmi, wajahnya tampak begitu pulas dengan napas yang naik turun teratur. Aku mengusap puncak kepalanya dengan sangat pelan, lalu mengecup dahinya.

 

Maafkan eomma karna tidak sempat membacakan dongeng untukmu sayang.

 

Lalu tatapanku beralih pada sosok Chanyeol yang berbaring disebelahnya, aku mengambil buku dongeng dari genggaman tangannya lalu meletakkan benda itu di nakas. Chanyeol bergerak pelan, ia membuka mata dan sedikit terperangah melihatku.

 

“Kau sudah pulang? sudah makan?” Tanya Chanyeol pelan. Dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arahku.

 

“Temani aku mencicipi omelet buatan kalian, ya?” Pintaku sambil tersenyum kecil. Chanyeol mengangguk lalu kami keluar dari kamar Chanmi.

 

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

 

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Aku bertanya sambil menyendokkan omelet ke mulutku.

 

“Aku mendapat tawaran untuk mengikuti pelatihan leadership di Jepang bulan depan.” Chanyeol menatapku serius.

 

Leadership?” Ulangku heran. Chanyeol masih beberapa bulan menjadi staff di perusahaan asuransi dan sekarang dia sudah ditawari mengikuti leadershp training? Terkadang aku lupa bahwa suamiku adalah lulusan yang cukup cerdas untuk melejitkan karirnya. Tentu saja aku sering lupa, dia bahkan tidak mengingat merk susu dan  judul dongeng kesukaan Chanmi dengan baik.

 

“Aku mendapat promosi menjadi manajer sumber daya.” Jelas Chanyeol.

 

“Benarkah? wah, chukhae!” Ujarku senang, dia mengangguk lalu ikut tersenyum.

 

“Lalu bagaimana dengan perkerjaanmu?” Chanyeol balik bertanya.

 

“Chanyeol-ah..” panggilku pelan, aku meneguk air minum yang diberikan Chanyeol.

 

“eum.. Aku sudah memikirkan untuk resign dari tempat kerjaku.” Aku menatap ke arah Chanyeol yang kini membulatkan matanya-terkejut.

 

“Kau yakin? Aku tidak memintamu untuk berhenti bekerja, Ha In-ah, maksud perkataanku ditelpon tadi bukan seperti itu.aku-” Aku menghentikan Chanyeol yang masih berusaha menjelaskan.

 

“Aku tahu maksudmu. Tapi aku sudah memutuskan untuk tetap resign. Kalau aku tetap bekerja, mau tidak mau aku akan selalu dikejar deadline, belum lagi jika aku menerima tawaran untuk promosi, aku pasti tidak punya waktu untuk kalian. Aku tahu, aku harus merelakan passion-ku tapi sekarang kau dan Chanmi adalah bagian terpenting bagiku. Jadi, kurasa ini adalah keputusan terbaik yang bisa ku ambil.“ Aku mengakhiri penjelasanku sambil beranjak dari kursi lalu mendekat ke arah Chanyeol.

 

“Dengan begini aku tidak akan berada di rumah saat larut, kita akan menyaksikan pororo bersama-sama dan aku akan kembali membacakan dongeng untuk Chanmi.” Ucapku sambil tersenyum puas.

 

“Oh, satu lagi, aku bisa memperbaiki pakaian kantormu yang akhir-akhir ini semakin aneh. Apa yang kau pikirkan ketika memadukan kemeja kuning dengan jas bergaris ditambah dasi  hijau motif polkadot, Chanyeol?” aku mengernyit heran padanya, sementara itu Chanyeol hanya menampakkan cengiran lebar.

 

“Aku memang berharap kau memerhatikan itu dan memperbaikinya, yeobo.” Ujar Chanyeol lalu mendekatkan tubuhnya ke arahku. Aku sedikit kaget. Ia menarik pinggangku lalu semakin mempersempit jarak diantara kami.

 

“Aku senang.” Chanyeol menyunggingkan senyum, yang entah mengapa membuatku sedikit bergidik.

 

“Ne?” Sahutku dengan suara yang mengecil, bagaimana tidak, sekarang pria itu menempelkan dahinya denganku lalu menangkup pipiku dengan kedua tangannya. Hawa panas serta merta menjalari tubuhku.

 

“Kau akan selalu berada di rumah, dan itu berarti..” Chanyeol menggantungkan kalimatnya sambil tersenyum jahil menatapku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali.

 

“Kita bisa merencanakan untuk membuat Chanmi memiliki adik.” Bisik Chanyeol dengan sangat pelan. Aku mematung. Lalu beberapa detik kemudian aku menyikut pinggangnya. Ia mengaduh pelan.

 

“Ha! Sudah kuduga kau akan berpikiran begitu.” Timpalku sambil berdecak lalu menjauhkan diri.

 

“Tentu saja, kita harus memikirkannya sekarang, yeobo..” Balas Chanyeol dengan wajah penuh cengiran. Chanyeol kembali mendekat dan mengunciku.

 

“Kau harus tahu, aku ingin adik laki-laki untuk Chanmi.” Tambah Chanyeol,

 

“Ya! Kau-“

 

Sebelum aku melanjutkan omelanku dia menghapus jarak bibirnya yang tinggal beberapa centi dariku, aku reflek memejamkan mata  dan kemudian satu kecupan mendarat di bibirku.

 

“Saranghae, Ha In.” aku membuka mata dan mendapati sepasang maniknya yang menatapku. Untuk kesekian kalinya jantungku berdetak keras karena tatapan itu. Aku berusaha mengatur napasku yang tiba-tiba tercekat.

 

“Eomma, appa,” suara gadis kecil yang tidak lain adalah Chanmi terdengar. Aku segera memalingkan wajahku dan mendapati Chanmi sedang menatapku dengan Chanyeol yang sedang memelukku, oh astaga!

 

“Omo! Chanmi-ya kau belum tidur??!” Seru Chanyeol.

 

“Aku mau pipis.” Ujar Chanmi pelan sambil mengucek matanya.

 

“Park Chanyeol! Jangan bilang kau belum menyuruh Chanmi ke kamar mandi sebelum tidur dan dia belum menyikat gigi!”

 

Dan malam itu aku kembali mengomeli Chanyeol yang hanya tersenyum kikuk.

 

Baiklah, sepertinya ada banyak tugas rumah tangga yang memang harus aku lakukan kedepannya, termasuk membuat Park Chanyeol tidak menjadi tulalit dan pelupa seperti itu. aku tidak menjamin untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka, tapi aku akan berusaha. Ya, tentu saja aku harus berusaha. Mereka adalah hidupku saat ini.  Dan selama mereka berada disisiku, kurasa untuk merasakan kebahagiaan tidaklah sulit bagiku.

 

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

 

 

 

Holla~~

 

Eumm.. okay, jadi ini ff tercipta karna saya terpesona sma  foto ituu/tunjuk poster/

 

Dan taraa~ ff failed ini saya seret dari draft untuk di post  T^T

 

Sorry for typo(s) and etc

 

Just enjoy the fic ^^

 

 

 

Advertisements

15 thoughts on “Baby, We Miss You

  1. i was like oh my god nc? lol kkkk~ ternyata gitu aja, duh chanyeol tipe suami yang emang harus di perhatiin terus yak kkk~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s