He Was The First Love

Hey pcy poster

Title |He Was the First Love|

Main cast |Park Chanyeol (EXO)| Wu Hana (OC)|

Other Cast: Wu Yi Fan (EXO)

Length |Oneshoot|

Genre |Romance|

Rating |PG 13|

Author |IsshikiSaika|

Summary:

Dia adalah cinta pertama, yang mungkin akan terpendam selamanya dalam memoriku.

~-~-~-~-~-~-~-~-

 

Terkadang ada hal-hal yang hampir selalu terngiang-ngiang di benakku. Berputar cepat seperti potongan-potongan film yang membawaku pada nostalgia. Aku tidak dapat mengelak begitu saja, karena kepingan-kepingan itu adalah memori masa kecilku yang cukup indah untuk dikenang.

Aku memainkan tuts-tuts piano di depanku dengan tidak beraturan, dentingannya menggema di seluruh ruangan apartemenku. Pikiranku sedang melayang ke masa tiga tahun lalu. Masa sewaktu aku pertama kali bertemu dengan laki-laki itu.

He was the first love.

Aku belum begitu mengerti perasaan apa yang membuncah dalam dadaku ketika sosoknya hadir dan beredar disisiku. Aku masih merupakan gadis berumur 15 tahun saat dia datang dan menatapku untuk pertama kali.

Flashback

Aku memandangi halaman bermain tempat lesku dengan lesu. Sudah jam lima sore, seharusnya Kris-kakakku menjemputku. Dia pasti akan dimarahi mom kalau lama menjemputku dari tempat les piano. Aku memainkan pasir yang berada di bawah tapak sepatuku, menggoyangkan kakiku yang mulai pegal karena berdiri. Aku bosan menaiki ayunan, semua teman-temanku sudah pulang dan tinggal aku dan beberapa guru les yang berada di tempat ini.

            Langit mulai berubah menjadi jingga, matahari mulai terbenam. Ugh, sebenarnya dimana kakakku itu berada? Apa dia lupa kalau aku sedang menunggu dengan perut kosong di tempat ini? dan aku tidak bersama siapapun sekarang. Aku tidak henti-hentinya menggerutu dalam beberapa menit.

            Rasa suntuk sudah mencapai batas maksimal pada diriku, aku memutuskan berjalan keluar halaman dan menelusuri jalan setapak yang lengang. Ternyata daerah ini cukup sejuk, dan indah. Aku merasakan semilir angin sore yang lembut memainkan anak rambutku, pemandangan pohon maple di sisi jalan dan telaga kecil yang dikelilingi dandelion cukup membuatku melupakan rasa kesalku. Aku memutuskan duduk di pinggir telaga dan menikmati pemandangan matahari terbenam. Rasanya menyenangkan. Aku hampir-hampir tertidur saking nyamannya suasana disekitarku.

            Namun rasa senang itu hanya bertahan beberapa menit, aku tidak tahu kalau tidak jauh dari telaga tempatku duduk ada seekor anjing yang sedang menyalak dengan cukup garang ke arahku. Aku terlonjak kaget, mataku mengerjap. Aku segera berdiri dan berjalan menjauh dari telaga itu. tanpa kuduga, anjing itu mulai bersiap berlari ke arahku. Seketika panik menyerangku. Aku gemetar hebat, kurasakan kakiku bergetar ketika meneruskan langkah. Anjing itu benar-benar lari mengejarku, aku hampir berteriak histeris namun sebuah tangan entah dari arah mana menarikku lalu membuatku berlari sangat kencang bersama orang itu.

            Kami berlari. Terus menyeret langkah menghindari anjing galak itu, hingga rasanya nafasku terputus-putus dan dadaku sesak saat menyamai langkah laki-laki di depanku. Dia masih memegang tanganku dengan cukup erat.

            “Belok sini!!! Cepat!” Teriaknya dengan kencang, aku mengikuti arahnya, kami sampai disebuah gedung sekolah lalu berlari menaiki tangga dan bersembunyi di balik tembok yang cukup lebar. Kami tersengal. Rasanya aku ingin menangis. Aku hampir di serang anjing dan Kris tidak tahu apa-apa soal ini. Ugh! Kali ini aku benar-benar ingin melaporkannya pada mom.

            “Hey, kau baik-baik saja?” Suara laki-laki itu membuatku mengadahkan kepala ke arahnya. Aku sedang berjongkok dan menekuk kakiku, tubuhku masih gemetar.

Aku mengangguk pelan.

“Kau tidak perlu khawatir, anjing itu sudah pergi, dia kehilangan jejak kita.” Laki-laki itu tersenyum sambil menepuk pelan pundakku.

Aku menatapnya ragu-ragu, manik matanya menelusuri wajahku dengan lekat-cukup mebuatku sedikit risih.

“Kau siapa? mengapa kau bisa berada di tempatku tadi?” Tanyaku dengan suara pelan.

“Aku Park Chanyeol, kau pasti adik Kris kan?” Dia balik bertanya dengan senyum lebih lebar tersungging di wajahnya.

“Iya, tapi dari mana kau tahu?” Aku tidak pernah bertemu dengan teman Kris bernama Chanyeol, jadi dia pasti teman barunya.

“Aku temannya sewaktu di California dulu, waktu itu kau berada di Cina.”  Jelasnya. Aku mengangguk paham. Ternyata dia cukup kenal tentang kami. Kris jarang menceritakan pada orang-orang tentang latar belakang keluarga kami. Orang tua kami bercerai ketika umurku tiga tahun, Kris di bawa oleh dad ke California dan aku tinggal berasama mom di China. Terkadang aku merindukan dad, dan Kris juga merindukan mom, tapi kami tidak bisa melakukan apapun karena mereka tidak akan pernah bersama lagi, dad sudah menikah dengan wanita lain. Bagi Kris itu bukanlah sesuatu yang bagus untuk diceritakan pada orang-orang, jadi dia merahasiakannya.

Tapi laki-laki bernama Chanyeol ini mengetahui rahasia itu. itu membuatku menganggap dia cukup dekat dengan Kris.

“Tapi aku tidak tahu namamu, jadi bolehkah aku berkenalan?” Suara Chanyeol kembali terdengar, dia mengulurkan tangannya ke hadapanku sambil tersenyum ramah.

“Aku Hana. Wu Hana.” Sahutku sambil menyambut uluran tangannya.

Chanyeol kembali tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, Hana, kurasa sekarang waktunya untuk pulang. Rumahku berdekatan dengan rumah kalian. Aku tetangga baru. Jadi kita bisa pulang sama-sama sekarang.” Ungkap Chanyeol antusias. Aku mengangguk paham, lalu beranjak dari tempatku dan berjalan disamping Chanyeol. Tubuhnya lebih tinggi dariku, dia hampir menyamai tinggi Kris.

Sore itu adalah kali pertama kami bertemu dari sekian pertemuan setelahnya. Chanyeol sering berkunjung ke rumahku, entah untuk bermain basket dengan Kris di halaman belakang rumah, bermain play station, atau sekedar ikut mencicipi cupcake-cupcake buatan mom.

Chanyeol sudah seperti bagian dari keluarga kami. Mom menyambutnya dengan hangat ketika dia tahu Chanyeol berteman cukup dekat dengan Kris dulu, Kris terlihat lebih gembira begitu mengetahui Chanyeol kembali ke Seoul setelah beberapa tahun di Jepang. Dan aku sangat senang bisa kembali melihat Chanyeol setelah kejadian sore itu.

Perlahan-lahan, aku mulai ikut bermain bersama Chanyeol dan Kris, setiap sore hari kami menghabiskan waktu dengan mencoba berbagai permainan yang ditawarkan Chanyeol, aku selalu ikut bermain bersama mereka walaupun terkadang itu hanya diperuntukkan bagi anak laki-laki.

“Kau tidak bisa bergabung kali ini, Hana-ya.” Kris membujukku sewaktu aku memaksa ingin ikut bermain sepak bola dengan Chanyeol dan teman-temannya yang lain.

“Ini khusus untuk anak laki-laki, nanti kalau play station, catur atau monopoli kami pasti akan mengajakmu.” Timpal Chanyeol sambil tersenyum menenangkan, aku menghela napas, lalu membiarkan mereka pergi bermain.

Chanyeol seumuran denganku, kami sekelas ketika junior high. Aku menjadi lebih sering bersamanya dibanding Kris. Di sekolah, dia duduk sebangku denganku, di rumah dia akan datang dan kembali bermain bersama Kris dan aku. Dalam beberapa bulan kami menjadi dekat, hingga rasanya aku mulai terbiasa dengan keberadaan Chanyeol disekitarku.

Chanyeol memberikan efek ceria bagiku. Sejauh aku mengenalnya, dia benar-benar orang yang menyenangkan. Dia akan mengajakku membeli beberapa cone es krim ketika nilai ujianku menurun. Dia juga mengajariku menaiki sepeda setelah beberapa kali aku gagal mengendarainya dengan benar dan Kris sudah capek mengajariku. Chanyeol juga beberapa kali mengajakku melihat pertandingan basketnya dan aku dengan senang hati menyemangatinya dari bangku penonton, meskipun beberapa kali timnya kalah, aku tetap menyorakinya dengan riang.

Lalu bulan berikutnya Chanyeol menghiburku dengan pergi ke taman bermain ketika aku tidak berhasil memenangkan kompitisi menyanyi di sekolah. Aku merasa sangat sedih dan mataku bengkak karena berjam-jam menangis. Sore itu cuaca cerah dan angin terasa sejuk ketika aku dan Chanyeol menaiki roller coster yang cukup membuatku gemetar. Chanyeol menoleh ke arahku, menatapku dengan dahi berkerut lalu tertawa jahil.

“Jangan bilang kau takut menaiki ini karena kau takut ketinggian.” Katanya sambil terkekeh. Aku mendengus pelan, dalam hati membenarkan. Aku benar-benar takut ketinggian, dan alasanku tidak menolak ketika Chanyeol mengajakku menaiki wahana ini karena aku tidak ingin dia meremehkanku.

Aku memejamkan mata, berusaha tidak menengok ke bawah. Ketika roller coster itu mulai bergerak dengan tempo yang semakin lama semakin kencang aku memekik pelan, jantungku benar-benar berpacu tidak karuan. Aku merasakan sebuah tangan menggenggam tanganku dengan erat. Hangat dan nyaman. Aku membuka mata perlahan dan menemukan wajah Chanyeol yang berjarak cukup dekat denganku dan dia sedang tersenyum.

“Tenanglah, kau akan baik-baik saja bersamaku.” Aku mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha meresap kata-katanya barusan. Ia mengeratkan genggaman tangannya padaku.

Chanyeol masih terus menggenggam tanganku ketika kami berjalan pulang.  Mengapa jantungku masih berdetak tidak karuan padahal roller coster sudah berhenti? alasannya adalah Park Chanyeol.

 Sepertinya aku menyukai laki-laki itu.

Tapi kemudian rasa suka itu berubah.

Aku kesal.

Aku kecewa.

Aku benci.

Setelah sore itu Park Chanyeol menghilang. Park Chanyeol tidak terlihat dimanapun.

Aku mencarinya ke rumahnya, ke lapangan basket, ke telaga, dan ke semua sudut yang pernah ku tahu sebagai tempat Park Chanyeol berada, namun nihil. Aku bertanya pada Kris dengan suara panik dan menyiratkan jelas nada khawatir sekaligus bingung.

Kris menghela napas, lalu menepuk pundakku.

Mianhae Hana, dia mendadak kembali ke Jepang. Ada beberapa hal yang harus dilakukannya disana.” Ujar Kris, aku tertegun.

“Mengapa dia tidak mengatakan apapun?” Tanyaku serak, suaraku tertelan entah kemana.

“Dia sudah mencoba memberitahumu, tapi kemarin-kemarin kau sedang tidak dalam mood yang baik, jadi dia hanya menitipkan ini untukmu.” Kris menyodorkan sepucuk surat.

Jadi dia benar-benar pergi. Kembali ke Jepang? Mengapa sepertinya hanya aku orang yang tidak megetahui ini? aku tampak seperti orang bodoh sekarang. Aku berdiri mematung di depan jendela kamarku.

 To: Hana

Maaf aku tidak memberitahukan soal ini padamu. Aku hanya sebentar di Jepang, jadi kau tidak perlu sedih, oke? Akan akan segera kembali lagi ke Seoul jika semua urusan di Jepang sudah tuntas.

Sampai jumpa.

Park Chanyeol.

Dan beberapa tahun setelahnya Park Chanyeol tetap tidak kembali. Aku mencoba meyakinkan diriku beberapa kali, namun pada akhirnya aku menyerah. Mungkin dia tidak akan kembali, mungkin aku hanya ditakdirkan bertemu sekali saja dengannya. Mungkin saat ini aku harus merelakannya.

Flashback end

He Was the first love.

Aku memandang jendela kaca disampingku, langit sore perlahan menampakkan semburat jingga, awan berarak pelan dan matahari bergerak lambat ke ufuk barat.

Suasana tiga tahun lalu terbayang jelas dalam benakku. Sore ini, untuk ke sekian kali aku mengenangnya.

Park Chanyeol, he was the first love.

~-~-~-~-~-~-~-~-

Hello everyone^^

Ini fic pertama yang aku post khusus di blog ini ^^

sorry for the typo(s) and random story ‘/\’

Untuk kedepannya, aku berencana bikin sequel fic ini jadi ficlet series dengan tagline “Hey, Park Chanyeol”

Tapi ini masih rencana sih, aku liat respon readers dulu kayak gimana. Hoho 😀

Well please enjoy ^^

Xoxo

Advertisements

12 thoughts on “He Was The First Love

  1. Baca’y agk gmana gt,.emg nh bgus’y d’ksh sequel biar nymbg&ga gantung gnee.tp fighting yah thor^^

  2. makin cinta sama Chanyeol deh, tetep Happy Virus yang jadi pesona utamanya.. tapi, gabilang-bilang itu yang bikin kesell *ishh *Rempong bingits -,-

    sequel yaaa.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s